Es Krim

"Kau bisa mengajakku ke tempat yang lebih mewah dari ini." "Benar, tapi kau lebih suka begini, makan es krim di rooftop, waktu jam kerja." "Ha! Cuma karena kau yang mengajak, tahu. Etos kerjaku bagus, aku hampir tidak pernah membolos." "Ya, ya, aku percaya. Bagaimana mungkin pemilik dan pemimpin perusahaan membolos? Apa kata pegawaimu nanti?" "Tepat … Continue reading Es Krim

Kenangan

Hubunganku dengan Tessa adalah sesuatu di antara kata rumit dan sederhana. Aku pertama kali melihatnya ketika sedang magang di sebuah klinik yang dikepalai oleh dosen pembimbing tugas akhirku. Seperti kebanyakan mahasiswa jurusan psikologi lainnya, aku sedang berada di persimpangan jalan: apakah harus melanjutkan pendidikan ke profesi psikologi atau bekerja di ranah lain. Dosenku yang sangat … Continue reading Kenangan

Pertemuan Pertama

Sinar yang membutakan menyergapku begitu aku melewati pintu masuk kafe itu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali sebelum aku menyadari apa yang kuhadapi. Ah, sebuah cermin besar berbentuk matahari yang memantulkan cahaya dari luar. Entah siapa yang memiliki ide konyol menempatkan matahari di dalam kafe yang temaram ini. Bukankah itu sebuah kontras yang tidak pada tempatnya? … Continue reading Pertemuan Pertama

Pembunuhan di Rumah Nomor 27

Pagi ini aku bangun dengan perasaan terkejut. Suara ambulans, atau mobil polisi entahlah, bertalu-talu memekakkan telinga. Aku bergegas menuju ke pintu depan dan mendorong pintu kawat yang membatasi ruang tamu tempatku berdiri dan teras rumah yang kini dipenuhi oleh banyak orang. Di depanku berdiri ibu tetangga, penghuni rumah nomor 27 kalau tidak salah. Selama belasan … Continue reading Pembunuhan di Rumah Nomor 27