Siapa yang Lebih Pantas Menjadi Lara Croft?

Menilik rentang usia orang-orang yang berada dalam teater bersama saya kemarin, kalau boleh saya ingin menebak: setengah dari penonton adalah orang-orang muda yang belum pernah main game atau menonton film Tomb Raider yang terdahulu, dan setengah lagi adalah penonton Lara Croft – Tom Raider yang diperankan dua kali oleh Angelina Jolie (2001 dan 2003) dan penasaran dengan Tomb Raider yang diperankan oleh Alicia Vikander (2018).

Ya, di benak generasi 90’an yang menginjak usia remaja di permulaan milenium baru, Lara Croft adalah Angelina Jolie dan Angelina Jolie adalah Lara Croft.

Angelina Jolie sudah bermain film sejak tahun 1982, namun film Lara Croft yang pertama lah yang menaikkan namanya sebagai artis yang mumpuni jika berperan di dalam film laga. Image Angelina Jolie sebagai seorang jagoan dan petualang kembali terulang di dalam banyak film setelah Lara Croft – Tomb Raider. Sebut saja:

  1. Lara Croft – Tomb Raider: The Cradle of Life (2003), bersama Gerard Buttler
  2. Mr. and Mrs. Smith (2005), bersama Brad Pitt
  3. Wanted (2008), bersama James McAvoy
  4. Salt (2010), bersama Liev Schreiber
  5. The Tourist (2010), bersama Johny Depp

Film-film aksi tersebut dia bintangi dengan aktor-aktor ternama, dengan hasil penjualan tiket yang rata-rata sukses walaupun mendapat penilaian/review yang beragam dari para kritikus.

Jadi reboot film Tomb Raider mengandung resiko besar, bukan karena urusan jalan cerita (kita tidak pernah bisa berharap banyak pada film aksi yang diangkat dari video game), tapi karena ada keraguan akan kemampuan Alicia Vikander merepresentasikan karakter Lara Croft yang berasal dari game.

Dari sisi fisik, Angelia Jolie lebih cocok karena dia memiliki recognizable shape seperti Lara Croft. Dari sisi latar belakang cerita mengapa Lara Croft terlibat dalam berbagai petulangan, masih ada beberapa kemiripan. Dua karakter Lara Croft yang terpaut 17 tahun ini sama-sama mulai bertualang karena mencari ayah mereka yang menghilang karena terobsesi oleh hal supranatural. Mereka juga sama-sama berhadapan dengan organisasi rahasia: Illuminati untuk dua film terdahulu dan Trinity untuk film tahun ini.

Akan tetapi …, Alicia Vikander lebih bisa menunjukkan kerapuhan anak yatim-piatu yang menunggu kabar dari ayahnya selama tujuh tahun, yang lebih memilih menyelamatkan ayahnya daripada menyelamatkan dunia dengan cara -yada, yada- menutup akses ke kuburan Ratu Himiko. Dari segi aksi berkelahi dia memang masih kalah dari Angelina yang kelihatan sangat natural memegang senjata, tapi dari situ terlihat kalau karakternya memang tidak begitu siap dicemplungkan ke dalam perjalanan untuk -yada, yada- menyelamatkan dunia. Tujuan utama karakter Lara di dalam film ini, yang dijaga dengan apik sampai akhir film, hanyalah menginginkan kepastian apakah ayahnya masih hidup, atau tidak.

Film Tomb Raider (2018) ini sebenarnya dibuka dengan cukup menarik. Alkisah Lara adalah seorang kurir sepeda yang menyembunyikan latar belakangnya dari keluarga kaya. Sebuah perlombaan sepeda dimana dia menjadi “rubah” yang dikejar kurir-kurir sepeda lain untuk mendapatkan uang sebesar 600 Pounds, membuat dia berurusan dengan polisi dan harus bertemu kembali dengan Ana Miller, pegawai ayahnya yang ditugaskan mengawasi Lara selama ayahnya menghilang.

Adegan kejar-kejaran dengan sepeda mengingatkan saya pada film Premium Rush (2012) yang dibintangi Joseph Gordon-Levitt. Film ini sangat bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk pecinta film aksi-thriller. Ceritanya sederhana, tapi eksekusinya brilian dan pace-nya tepat, dengan ending yang membuat senang semua orang.

Kembali ke Lara. Ana membujuknya untuk menandatangani surat yang menyatakan Richard Croft sudah meninggal, supaya semua kekayaan dan aset perusahaan Croft tidak dijual dan bisa dialihkan ke Lara. Waktu bertemu dengan pengacara perusahaan, Lara menerima sebuah benda seperti teka-teki dan berhasil mengambil foto keluarga dan petunjuk yang ditinggalkan oleh ayahnya di dalam benda itu. Lara kemudian pergi ke kompleks pemakaman keluarga di mana dia menemukan ruang kerja rahasia ayahnya dan semua dokumen lengkap tentang Ratu Himiko dari Jepang yang kabarnya memiliki kekuatan atas kehidupan dan kematian. Richard ingin mencari makam Ratu Himiko karena dia ingin mencari cara supaya tetap bisa merasakan kehadiran istrinya yang telah meninggal. Pada akhirnya Richard meminta Lara membakar semua dokumen itu karena takut jatuh ke tangan Trinity, tapi Lara penasaran. Dia tidak membakar apa pun dan memutuskan untuk mencari ayahnya.

Oke, mulai dari sini cerita menjadi sangat mudah ditebak dan membosankan. Lara kemudian pergi ke Hong Kong untuk menemui Lu Ren yang memiliki ayah yang hilang bersama dengan Richard tujuh tahun yang lalu. Lu Ren bersedia membantu Lara mencari pulau Yamatai yang ditunjuk oleh dokumen/peta yang dibuat ayah Lara. Badai besar membuat mereka akhirnya sampai di pulau itu dan ditangkap oleh Vogel yang mengaku telah membunuh Richard. Lara, Lu Ren, dan banyak orang lainnya yang katanya nelayan yang terdampar (sebuah fakta yang sungguh tidak meyakinkan), kemudian dipekerjakan paksa oleh Vogel untuk mencari makam Ratu Himiko.

Saya percepat saja ya. Ternyata Richard belum mati. Dia senang bisa bertemu kembali dengan Lara. Vogel bisa menemukan makam Ratu Himiko karena membaca dokumen Richard yang dia ambil dari tas Lara waktu Lara terdampar. Dan Vogel, anak buahnya, Richard, dan Lara akhirnya masuk ke dalam makam Ratu Himiko.

Film baru setengah jalan dan saya sudah ngantuk berat. Pertama, setting kuburan Ratu Himiko terlalu mirip dengan kuburan Ahmanet di film The Mummy (2017). Kedalamannya di bawah tanah, gua-gua, tengkorak manusia berserakan, jebakan-jebakannya, semua terlalu mirip. Tidak ada hal khusus yang membedakan di film situ yang dikubur adalah orang Mesir lho, dan di film sini yang dikubur adalah orang Jepang. Kedua, tanda kerasukannya juga bagai pinang tak dibelah: di The Mummy urat-urat di tubuh muncul karena kerasukan roh Ahmanet, di Tomb Raider urat-urat yang kurang lebih sama muncul karena virus (atau apalah) yang berdiam di dalam tubuh Ratu Himiko. Ah, terkadang Hollywood itu kehabisan kreativitas.

Pikiran saya waktu menonton adegan-adegan yang seharusnya seru di dalam makam dan berlalu begitu saja cuma ada tiga: 1) berapa lama waktu yang diperlukan, 2) apa yang terjadi dengan orang-orang yang membangun (mereka harus menjaga kerahasiaan, kan?), dan 3) berapa banyak uang dan uang siapa yang dipakai untuk membangun makam penuh jebakan yang katanya terkutuk? Itu pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap kali saya memikirkan Batman dengan Batcave-nya, hehe.

Akhir cerita dari film ini bisa di-google sendiri ya. Yang jelas, menjelang akhir film saya menguap berulang kali karena BOSAN, BOSAN, dan BOSAN. Perkelahian dengan tangan kosong di film ini cenderung sadis, bahkan beberapa kali saya sempat menutup mata karena tidak tega melihat Lara yang badannya kecil itu seperti disiksa oleh para tentara bayaran segede gaban. Lara yang mencoba melawan penjahat dengan senjata panah juga terlihat absurd. Senapan mesin tetap lebih efektif dan efisien, kan? Angelina Jolie sungguh terlihat lebih tangguh sebagai Lara Croft dengan kepiawaiannya menggunakan senjata.

Satu-satunya hal menarik yang saya ingat dari film ini adalah waktu Lu Ren mau membajak helikopter yang datang ke Yamatai untuk mengangkut kuburan Ratu Himiko. Waktu helikopter itu mendarat, Lu Ren menodongkan pistol ke arah pilot dan berkata, “You’re going to take us home, ya?”

Tunggu dulu. Katanya Lu Ren ini orang Hongkong, kok pakai kata ‘ya’ seperti orang Indonesia saja? Hahaha, saya dan teman saya cuma bisa bertatapan dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Ah sudahlah, karakter Lu Ren ini memang hanya pelengkap yang kalau dihilangkan dari dalam film pun takkan jadi masalah. Apalagi tidak ada chemistry sama sekali antara karakternya dan karakter Lara.

Jadi, siapakah yang lebih pantas memerankan Lara Croft? Saya masih berpihak pada Angelina Jolie, dan melihat Alicia Vikander seperti seorang impersonator, seorang peniru yang tidak ulung. Dan parahnya, yang muncul di benak saya jika ingat Alicia Vikander sekarang adalah sosok seorang Lara Croft tanpa (maaf) dada.

 

PS: yada, yada itu ungkapan seperti bla bla bla untuk menunjukkan betapa tidak pentingnya suatu hal.

 

 

Advertisements

Black Panther: Sebuah Perkenalan Pada Afrika

Setelah film animasi Coco yang membahas ritual Hari Orang Mati di Meksiko, dan film animasi Ferdinand yang membahas kebudayaan Matador di Spanyol di penghujung 2017 lalu, Hollywood kembali menawarkan angin segar tema film dengan Black Panther yang dibesut oleh Marvel. Sebagai sebuah film, Black Panther adalah spin-off dari film Marvel yang berjudul Captain America: Civil War di tahun 2016. Dikisahkan di dalam film tersebut T’Chaka sebagai Raja Wakanda, sebuah negara dunia ke-3 di benua Afrika, terbunuh dalam serangan teroris di markas PBB. Putranya, T’Challa, mendapat warisan kekuatan Black Panther dari ayahnya dan bersumpah untuk mengejar penjahat yang mendalangi aksi terorisme. Dalam film ini Black Panther sudah ditampilkan utuh sebagai sebuah karakter yang punya latar belakang dan tujuan, yaitu untuk membalas dendam. Penampilannya dengan kostum superheronya dan aksi berkelahinya pun sudah lengkap, sehingga saya sangat mengantisipasi menonton film Black Panther yang baru tayang ini.

Menurut saya Black Panther lebih dari film tentang superhero yang berkulit hitam, karena film ini mewakili pengetahuan dan persepsi kita tentang ras negroid di muka bumi, yaitu:

  1. Mereka yang bermukim di Amerika Serikat, yang disebut sebagai African-American, dan terpapar kepada kita lewat berita dan film. Informasi general tentang mereka sudah cukup terpatri: sebagai bekas budak di dunia Barat, sebagai kelompok yang termarginalkan bahkan sampai sekarang, sebagai kelompok yang berusaha memperbaiki diri lewat jalur pendidikan, dan sebagai kelompok yang ditekan dan dijajah (seperti kata Erik Killmonger, tokoh antagonis di film ini).
  2. Mereka yang berasal dan bermukim di benua Afrika, yang sering diberitakan mengalami perang saudara berkepanjangan dan kelaparan. Informasi seperti kontur alam mereka yang indah dengan gunung-gunung dan padang rumput, suku-suku bangsa yang ada di benua ini dengan pekerjaan masing-masing sebagai orang gunung/penggembala/petani/dll, kebudayaan mereka lewat bahasa, tarian, nyanyian , dan ritual lainnya, bukanlah sesuatu yang terekspos dengan mudah selayaknya informasi tentang negar-negara Barat.

Jadi saya sangat gembira karena selama lebih dari 2 jam film ini terus mengungkapkan keunikan dan keindahan sebagian kecil dari Afrika yang diwakil negara fiktif bernama Wakanda. Eksotisme Afrika sudah dimulai sejak T’Challa akan dinobatkan sebagai Raja Wakanda menggantikan ayahnya T’Chaka yang sudah meninggal. Adegan eye-catching pertama adalah saat penobatan T’Challa dimana dia berdiri di pinggir tebing air terjun. Di tebing gunung di hadapannya berdiri orang-orang yang mewakili empat suku yang mendukung pemerintahan Wakanda; mereka tampil dengan pakaian terbaik, menyanyi, menari, dan bersahut-sahutan untuk menyambut raja mereka yang baru. Keempat suku yang memakai pakaian tradisional dengan berbagai bentuk dan beraneka-warna dan mewakili mata pencaharian orang-orang di benua Afrika adalah sebuah gambaran yang gamblang tentang keragaman di benua Afrika.

Pada saat upacara penobatan itu hak T’Challa atas tahta ditantang oleh M’Baku, pemimpin suku Jabari yang tinggal di pegunungan dan mengasingkan diri dari orang Wakanda lainnya. Adegan perkelahian yang sangat manly dan raw antara T’Challa dan M’Baku adalah adegan eye-catching yang kedua, Tidak sulit membayangkan orang-orang Afrika pada jaman dahulu memang bertarung dengan pedang, tombak, dan tangan kosong untuk memperebutkan kekuasaan. T’Challa menang dan akhirnya duduk sebagai Raja Wakanda yang baru. Setelah itu ada adegan eye-catching ketiga dimana T’Challa meminum suatu ramuan dan dikubur supaya dia bisa bertemu leluhurnya di alam yang lain. Sebuah penggambaran yang tepat tentang Afrika, tata-cara spiritualisme di sana, dan rasa hormat dan kedekatan mereka terhadap arwah leluhur.

Setelah naik tahta T’Challa berusaha untuk menangkap dan mengadili Ulysses Klaue yang membunuh keluarga W’Kabi, teman terdekatnya. Usahanya ini membawa T’Challa, Nakia (kekasihnya), dan Okoye (pengawalnya) ke kota Busan di Korea Selatan, karena mereka dengar di sana Klaue akan menjual mata kapak yang terbuat dari vibranium yang dia curi dari display kebudayaan Afrika di sebuah museum di kota London kepada seorang Amerika. Transaksi jual-beli kapak itu sebenarnya adalah jebakan yang diatur oleh CIA, namun sayangnya rencana itu gagal karena T’Challa, Nakia, dan Okoye ikut campur. Klaue tetap tertangkap dan diinterogasi oleh Agen Ross dari CIA, walaupun T’Challa sudah ngotot mau membawa Klaue ke Wakanda untuk diadili.

Plot lain yang sudah dikembangkan dengan baik sejak awal film adalah tentang Pangeran N’Jobu, adik Raja T’Chaka, yang menyelundupkan vibranium waktu dia tinggal di Amerika Serikat. Pangeran N’Jobu berpikir vibranium jika dijual bisa memberi akses kepada uang dan kekuasaan untuk membantu orang-orang kulit hitam lain yang tertindas di berbagai belahan dunia, sedangkan Raja T’Chaka bersikeras Wakanda harus tetap menjaga kerahasiaan lokasi dan keterbatasan aksesnya dari dunia luar. Akhir dari plot ini adalah Raja T’Chaka yang tak sengaja membunuh adiknya yang saat itu hendak membunuh Zuri, mata-mata yang dikirim Raja T’Chaka untuk menangkap basah kejahatan Pangeran N’Jobu.

Memang Wakanda yang digambarkan di film ini bukanlah tipikal negara Afrika yang miskin dan terbelakang. Diceritakan bahwa di balik rakyatnya yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, Wakanda adalah negara yang sangat maju sains dan teknologinya, dengan kota futuristik yang memakai vibranium sebagai bahan dasar untuk hampir semua barang. Sebuah kontras yang dibangun dengan sangat apik melalui adegan kapal canggih milik T’Challa yang melewati padang gersang dimana ada beberapa penggembala untuk menuju Wakanda yang tersembunyi dari penglihatan manusia biasa. Kalau saya jadi Raja T’Chaka yang memiliki vibranium, saya juga akan memiliki kekhawatiran yang sama. Bahkan satu suku bangsa yang memiliki warna kulit yang sama terdiri dari berbagai macam orang dengan tujuan dan pemikirannya masing-masing. Membuka akses terhadap vibranium itu seperti memberikan pedang bermata dua. Bukan karena pedangnya yang memiliki potensi membahayakan orang lain, tapi karena pemegang pedang bisa dibagi menjadi dua jenis: orang baik dan orang brengsek, orang bertanggung jawab dan orang tidak bertanggung jawab, orang tulus dan orang licik, dan seterusnya.

Saat diinterogasi di Busan, Klaue akhirnya diselamatkan oleh anak buahnya, dimana salah satunya adalah Erik Killmonger. Profesi resmi Killmonger adalah agen CIA yang bertugas menginfiltrasi negara-negara yang sedang terguncang pemerintahannya. Pernyataan Agen Ross di film ini membuat saya teringat pada konflik di Timur Tengah saat pemimpin-pemimpin karismatik banyak negara Arab terguling satu-persatu. Memang benar ada “tangan” yang lebih besar yang memainkan dinamika politik dan membentuk pendapat dengan cara menyetir konten media mainstream. Oleh karena itu sebelum pendapat kita terbelah, bangsa kita terbelah, ada baiknya kita pilah informasi yang kita terima. Ini adalah pelajaran yang saya dapat dari latar belakang seorang Erik Killmonger.

Selain sebagai agen CIA, Killmonger sebenarnya adalah anak dari Pangeran N’Jobu. Raja T’Chaka dan Zuri meninggalkan Erik di Oakland dan hal ini mengakibatkan anak itu menaruh dendam kesumat untuk membalas kematian ayahnya. Kedatangan dia di Wakanda dengan membawa jasad Kalue mendapat simpati dari W’Kabi, dan dengan dukungannya Killmonger menantang tahta yang diduduki T’Challa. T’Challa menerima tantangan itu karena dia baru tahu tentang sepupunya yang terbuang itu dari Zuri, dan dia ingin memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat ayahnya.

Pelajaran lain yang saya ambil dari sini, dendam bisa menjadi nahkoda hidup seseorang. Sebagai tokoh yang muncul sekilas di awal dan tampil sangat signifikan di paruh terakhir film, Michael B. Jordan bisa menyampaikan perasaan dendam itu dengan sangat baik melalui mimik wajah dan tindak-tanduknya. Di awal film dia menantang petugas museum di London dengan mengatakan bangsa Inggris mencuri artefak orang-orang Afrika. Sebuah pernyataan sederhana yang menyimpulkan perasaan kemungkinan banyak orang Afrika. Orang kulit putih datang ke benua ini, memecah belah suku bangsa, menjadikan mereka daerah kolonial, mengambil artefak kebudayaan Afrika tanpa ijin dan tanpa membeli, menguasai sumber daya alam, menjadikan orang Afrika budak di benua Eropa dan Amerika Utara, dan seterusnya. Sikap Killmonger yang langsung menempatkan diri sebagai bagian dari orang tertindas dan ingin melepaskan quote unquote 2 milyar orang kulit hitam lain dari penindasan adalah motif yang tepat dan masuk akal untuknya menguasai Wakanda dan vibranium.

Akhir dari film ini cukup klise dengan T’Challa membunuh Killmonger dalam pertaruangan satu lawan satu. Adegan dua Black Panther yang bertarung cukup lama namun tidak membosankan menurut saya sangat eksotis, karena seperti menyaksikan dua panther sungguhan berkelahi. Menjelang akhir film T’Challa membawa Erik menyaksikan matahari terbit, sebuah pemandangan paling indah di dunia yang sangat dirindukan oleh ayah Erik. Saya sempat berharap Erik mau disembuhkan dari lukanya dan akan bahu-membahu dengan sepupunya T’Challa memimpin Wakanda, namun ternyata tidak. Mungkin karena ada pepatah people don’t change; they just adapt, jadi sulit membayangkan karakter Erik yang tiba-tiba bertobat dan jadi orang baik setelah dia berusaha membalas dendam dengan begitu brutal.

Di penghujung film ada adegan pertarungan di padang rumput antara suku perbatasan yang dipimpin W’Kabi dan mendukung Erik dan suku Jabari yang dipimpin M’Baku dan mendukung T’Challa. Tentara kerajaan yang dipimpin Okoye pun akhirnya kembali mendukung T’Challa dan bahu-membahu melawan suku perbatasan. Terlihat ya kalau manusia itu makhluk yang setia. Hanya karena ketaatan dan ketundukan pada satu figur pemimpin mereka rela terluka, sakit, dan berdarah-darah. Apakah pernah terlintas di benak pemimpin yang mengajak rakyatnya berperang kalau rakyat mereka punya kehidupan sendiri dan lebih perlu dilindungi daripada dipakai untuk mewujudkan ambisi si pemimpin? Saya penasaran saja.

Pada akhirnya Wakanda di bawah kepemimpinan T’Challa berniat membuka diri terhadap dunia luar, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Pidato T’Challa di depan anggota PBB menurut saya sangat berkesan.

In the time of crisis, the wise builds bridge, but the fool builds barriers.

Dia juga mengajak mereka yang hadir di rapat itu untuk membenahi dunia dengan mengambil posisi sebagai sebuah suku bangsa, one tribe, alih-alih melihat penduduk bumi sebagai manusia yang sangat beragam warna kulit, suku, dan lain-lainnya.

Catatan terakhir buat film ini dari saya adalah sebagai berikut:

  1. Para pengawal T’Challa yaitu pasukan khusus wanita Dora Milaje benar-benar menarik di mata. Walaupun semua wanita botak dan kekar, mereka tetap tampil feminin dengan seragam merah dan teknik bertarung yang tidak terlalu macho. Diana Prince/Wonderwoman dan para wanita Amazon mah lewat. Saya jauh lebih suka pasukan elit Dora Milaje dari Wakanda.
  2. Percakapan antara orang-orang Wakanda dilakukan dalam bahasa Inggris dan bahasa Wakanda, dimana pergantian bahasa dilakukan secara halus dan sesuai konteks. Misalnya: saat Agen Ross ngotot tidak mau melepas Klaue, T’Challa bicara dalam bahasa Wakanda dengan Okoye, sebuah hal yang masuk akal karena kita sering menggunakan bahasa yang orang lain tidak mengerti untuk menjaga kerahasiaan isi percakapan kita. Walaupun mereka berbahasa Inggris, tapi aksen Afrika-nya sangat kental dan enak didengar. Akhiran -er seperti father, brother diganti dengan bunyi yang lebih terdengar seperti -ah, jadi father, brother terdengar seperti fathah, brothah. Sebuah kebiasaan yang masih dipakai oleh keturunan orang Afrika di Amerika Serikat sana yang seperti membentuk bahasa Inggris mereka sendiri. Jadi tidak usah malu jika berbicara bahasa Inggris dengan aksen Sunda, Jawa, dll. Saya malah heran dengan Youtube Channel seorang Amerika yang meledek orang Indonesia yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen bahasa daerah. Bahasa Inggris memang bukan bahasa ibu kita kok, dan tuntutan untuk bertutur di dalamnya dengan cara persis sama dengan orang di benua Amerika atau Eropa sana menurut saya konyol. Orang Afrika di film ini berbicara Inggris dengan lancar, walaupun dengan logika kalimat yang sepertinya terjemahan langsung dari kalimat dalam bahasa mereka, dan tetap terdengar indah.
  3. Saya menonton film ini dengan seorang teman orang Korea yang sedang belajar bahasa Indonesia. Pengalaman ini sangat berkesan bagi dia karena dia jadi belajar membaca subtitle dalam bahasa Indonesia, dan kami mengakhiri acara menonton kami dengan makan martabak telor. Ini kali pertama teman saya makan martabak telor dan dia suka sekali, sampai-sampai menandai tempat abang martabak di Google Maps di HP-nya. Hahaha. Oya, kami juga cukup bahagia saat lokasi film berpindah dari Wakanda ke Busan. Sebagai orang Korea, teman saya cukup merasa nostalgia mendengar orang-orang berbicara bahasa Korea di dalam film dan melihat setting pasar tradisional dan pertokoan di Busan. Sedangkan buat saya yang sudah sering ke Busan, mengenali tempat-tempat yang saya pernah kunjungi (terutama Gwangan Bridge) sungguh membuat hati saya hangat.Dua Ajumma

Di akhir kata, bahkan jika Black Panther bukan bagian dari Marvel Cinematic Universe, film ini sangat layak ditonton karena keunikan setting dan pesan yang hendak ia sampaikan. Saya tidak akan ikut berkomentar tentang film ini sebagai film orang kulit hitam karena sutradara dan aktor-aktornya yang dari ras negroid. Bagi saya film itu bagus karena ide cerita, visualisasi, dan pesan yang saya bisa dapat dari film itu; saya tidak mengindahkan warna kulit dari mereka yang membuat film tersebut.

Film Black Panther adalah awal yang sungguh baik untuk tahun 2018 dimana Marvel Cinematic Universes memperingati sepuluh tahun dia berkarya.

 

Jumanji dan “Kutukan” Dwayne Johnson

Waktu berlibur di Taipei bulan Desember lalu saya dan suami sempat menonton film yang berjudul Central Intelligence (2016) di saluran HBO di hotel. Film ini berkisah tentang seorang anak SMA culun yang saat dewasa berubah menjadi seorang agen CIA yang berotot besar. Anak SMA culun tersebut diperankan oleh tak lain dan tak bukan Dwayne Johnson (DJ). Sedangkan co-star-nya adalah Kevin Hart yang berperan sebagai seorang atlet SMA yang saat dewasa berubah menjadi seorang akuntan culun. Ceritanya panjang banget (bisa dilihat di Wikipedia) tapi pada akhirnya si agen CIA super kekar bahu-membahu dengan si akuntan culun untuk menyelamatkan dunia dari teroris yang mencoba mencuri kode satelit. Film ini diakhiri dengan reuni SMA yang didatangi oleh DJ dan di dalam reuni itu DJ membuka semua bajunya DI DEPAN SEMUA PESERTA REUNI sebelum dia nyosor cewek yang dia pernah taksir waktu SMA.

Absurd banget ga sih? Pada akhir film saya dan suami sama-sama melempar remote TV karena KZL. Omayga, film apaan itu? Tujuan ceritanya klise (menyelamatkan dunia yada yada yada), alurnya ketebak (banyak tembak-tembak dan tinju-tinju, ga ada yang baru dari seorang Dwayne Johnson), dan ending-nya bikin pengen muntah (buka baju di depan umum itu cuma menimbulkan cibiran, Mas Bro, bukan pujian).

DJ_Central Intelligence

Sebelum menonton film CI ini saya sempat menonton film lain yang dibintangi oleh Dwayne Johnson yaitu: G. I. Joe Retaliation (2013)Fast and Furious 8 (2017), dan Baywatch (2017), dan saya bilang ke suami kalau Dwayne Johnson seperti membawa “kutukan” ke film yang SEHARUSNYA bagus. Bayangin aja, G.I. Joe 2, sebuah film sekuel yang udah saya tunggu-tunggu karena G. I. Joe 1 itu keren abis, ternyata dengan tega mematikan karakter yang diperankan oleh Channing Tatum dan menggantinya dengan karakter standar bin biasa ala Dwayne Johnson. Masih untung film ini punya Bruce Willis sehingga ceritanya masih bisalah dinikmati sampai akhir.

DJ_GI Joe.jpg

Di film Fast and Furious 8 saya malah kadang siwer, ga bisa membedakan antara Dwayne Johnson dan Vin Diesel. Aduh, habis dua-duanya sama-sama kekar, gempal, berkepala kecil, dan ga bisa akting sih. Bak pinang ga pake dibelah. Jalan ceritanya ga usah dibahas lah ya, udah untung F8 ini katanya film terakhir dari franchise yang lama-lama terasa seperti sinetron Tersanjung di Indosiar pada jaman baheula.

DJ_Fast and Furious 8

Dan film terakhir Baywatch … (tarik nafas – hela nafas), ga usah direview ya. Menonton film ini benar-benar membuang waktu dan energi. Satu-satunya hal yang terlintas di kepala saya waktu berhenti menonton film ini di menit ke-45 adalah … Zac Efron udah gedeeee. Hahaha. Sebagai penggemar film High School Musical 1 sampai 3 dari tahun 2006 sampai 2008, saya masih melihat Zac Efron sebagai cowok SMA yang suka menyanyi, menari, dan terlalu mempesona, wkwk.

DJ_Baywatch

Nah, kembali ke film Jumanji: Welcome To The Jungle. Duluuuu banget saya pernah nonton film Jumanji yang pertama (1995) di DVD yang dibintangi oleh almarhum Robin Williams. Saya lupa jalan ceritanya tapi saya ingat kalau saya suka filmnya. Waktu saya tahu ada film Jumanji 2 yang dibintangi Dwayne Johnson, saya males nonton. Alasan utamanya sudah saya jabarkan di atas: takut filmnya jadi jelek karena kena “kutukan” Dwayne Johnson.

Selasa lalu saya pergi menonton bioskop dengan mama saya dan tidak ada pilihan film yang bagus dengan waktu tayang yang pas (antara pukul 10.00 sampai 15.00), kecuali Jumanji. Mama saya tidak masalah menonton film apapun asalkan bukan film Indonesia dan bukan film superhero (karena beliau merasa sangat capek setelah menonton film Justice League bersama saya tahun lalu). Saat hendak membeli tiket kami mengalami sesuatu yang unik. Jadi saya lihat di website Cinemaxx kalau Jumanji tayang pukul 12.30. Kami datang pukul 12.31 dan waktu hendak membeli tiket mbak kasir bilang kalau pertunjukan dibatalkan karena tidak ada penonton. Mama saya tetap ingin menonton karena kami sudah berkendara cukup jauh ke bioskop itu, jadi kami minta film tetap ditayangkan walaupun dengan dua orang penonton saja.

Tak disangka, permintaan kami dikabulkan, haha. Mbak kasir langsung teriak ke temannya, “Teater 3 jalan ya!”. Kami berdua agak ga percaya tapi senang juga karena serasa memiliki teater pribadi. Jadi waktu kami masuk ke Teater 3, AC baru saja dinyalakan, layar masih gelap, dan iklan sebelum film dimulai baru ditayangkan 15 menit setelah kami duduk nyaman tepat di tengah-tengah bioskop, haha.

Mama nonton Jumanji

Jalan cerita Jumanji 2 sangat sederhana. Film ini dimulai dengan seorang pria yang menemukan board game berjudul Jumanji ketika dia sedang jogging suatu waktu di tahun 1996. Pria itu memberikan board game tersebut kepada anak laki-lakinya, tapi diacuhkan karena si anak sibuk bermain nintendo. Pada malam hari kotak Jumanji bergerak-gerak, mengeluarkan suara tambur, dan membuat si anak penasaran membukanya. Kamera kemudian menyoroti ledakan cahaya berwarna hijau di dalam rumah yang didiami oleh anak laki-laki itu dan keluarganya.

Cerita kemudian berpindah ke sebuah daerah pinggiran kota di tahun 2016. Empat orang siswa SMA mendapatkan hukuman dari kepala sekolah mereka karena berbuat kesalahan yang berbeda-beda. Mereka disuruh membersihkan sebuah gudang yang akan diubah menjadi pusat komputer. Salah seorang dari mereka yang bernama Fridge (seorang atlet football) menemukan video game dan kartu memori bertuliskan ‘Jumanji’. Karena bosan bersih-bersih, mereka memutuskan untuk bermain game sebentar. Setelah memilih avatar masing-masing, mereka berempat terisap ke dalam permainan video game itu dan terbangun di hutan yang dikutuk karena ada orang serakah yang mencuri permata Jaguar’s Eyes supaya dia bisa mengendalikan hewan-hewan di dalam hutan Jumanji.

Avatar keempat orang ini sangat berbeda dari fisik mereka di dunia nyata. Spencer yang cungkring menjadi kekar dan berotot (Dwayne Johnson), Fridge yang tinggi besar menjadi pendek (Kevin Hart. Film Jumanji adalah film reuni mereka setelah film Central Intelligence), Martha yang kutu buku menjadi cewek jagoan ala Lara Croft – Tomb Rider (Karen Gillan), dan yang terakhir Bethany yang seksi dan modis berubah menjadi seorang pria gendut setengah-baya (Jack Black).

Tak disangka, petulangan mereka untuk merebut kembali permata Jaguar’s Eyes dari orang jahat dan mengembalikannya ke Jaguar Statue supaya kutukan atas Jumanji berakhir ditampilkan dengan menarik. Setiap avatar punya kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan daftar kekuatan/kelemahan itu ditampilkan lewat layar yang mengambang di udara (persis seperti display di adventure game) dan harus digunakan selama petualangan mereka untuk mencapai Jaguar Statue. Setiap karakter diberikan tiga nyawa sampai mereka bisa menamatkan game. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Kapten Seaplane (Nick Jonas) yang ternyata adalah anak laki-laki yang terisap masuk ke dalam game Jumanji pada tahun 1996 (Alex Vreeke). Akhir cerita, permata bisa dipasang kembali di Jaguar Statue, orang jahat dikalahkan, kutukan atas hutan Jumanji berakhir, dan keempat anak SMA kembali ke gudang tempat mereka dihukum.

Film Jumanji 2 ini ringan. Konfliknya ga serius, alur ceritanya yang persis seperti sebuah game cukup menimbulkan perasaan nostalgia buat saya yang tumbuh bersama game console Nintendo, Sega, dan Playstation 1. Saat karakter kehilangan nyawa dan muncul kembali di dalam game dengan cara jatuh dari langit menggambarkan dengan tepat apa yang kira-kira dilihat seorang avatar yang berada dalam game saat melihat avatar lain “hidup kembali” setelah “nyawanya menghilang”.

Yang saya paling tidak sangka dari film ini adalah akting Dwayne Johnson yang cocok sebagai remaja yang super galau seperti Spencer di dunia nyata. Selama ini kan dia selalu memerankan jagoan tiada tanding-tiada banding-tiada takut-tiada mati. Namun di Jumanji Dwayne Johnson terlihat punya ketakutan, keraguan, ketidakpercayaan diri, dll. yang sebenarnya wajar dimiliki oleh seorang pria bertubuh terlalu besar seperti dirinya. Jalan cerita Jumanji yang cukup sederhana juga tidak menuntut kemampuan akting yang tinggi dari seorang Dwayne Johnson. Dialog yang pendek-pendek dan cara bicara yang persis sama dengan semua film lain yang dia pernah bintangi (termasuk saat jadi pengisi suara untuk film Moana) membuat Dwayne Johnson teramat cocok untuk memerankan karakter anak remaja seperti Spencer.

Kevin Hart sebagai Fridge lucu dengan cara bicara, gerak tubuh, banyolan yang khas aktor Afrika-Amerika. Saya jauh lebih suka Kevin Hart di film ini daripada di film Central Intelligence. Karen Gillan sebagai Martha terlalu mirip dengan Lara Croft sehingga dia tidak terlihat istimewa di mata saya. Jack Black berakting sangat tepat sebagai Bethany, wanita muda yang singset yang terperangkap di dalam tubuh pria tua yang gendut. Banyak kelucuan yang muncul di dalam film ini karena Jack Black yang kikuk dengan tubuh barunya.

Adegan yang saya tidak suka adalah saat Spencer dan Fridge mengajari Bethany pipis ala cowok; adegan ini dibuat terlalu panjang dan bertele-tele. Pipis ya pipis, terlepas dari bagaimana bentuk saluran ekskresinya. Dan hal kedua yang saya tidak suka dari film ini adalah homosexual innuendo yang muncul sejak Spencer dan kawan-kawan bertemu dengan Kapten Seaplane/Alex Vreeke. Bethany yang aslinya perempuan tertarik pada Kapten Seaplane, seorang laki-laki yang ganteng (ternyata Nick Jonas bisa jadi dewasa juga #sigh). Wajar kan? Jadi ga wajar karena di dalam game Bethany memakai avatar seorang laki-laki dan semua gerak-geriknya untuk mendekati Kapten Seaplane sedikit banyak mengingatkan saya pada Si Emon yang naksir Si Boy di dalam film Catatan Si Boy (ya elah ketauan banget saya ini generasi tahun berapa, wkwk).

Terlepas dari dua hal tersebut, menurut saya film Jumanji punya porsi komedi, petualangan, nilai persahabatan yang cukup seimbang, dan menurut saya Dwayne Johnson sangat cocok memerankan karakter yang bukan superhero. Walaupun di dalam game Jumanji avatar dari Spencer adalah Dr. Smolder Bravestone yang tidak punya kekurangan apa pun (catetttt …), akan tetapi sebagai Spencer si Dwayne Johnson ini jadi ga sempurna. Oya hal terakhir yang saya tidak suka adalah alur percintaan yang disisipkan di dalam film ini antara Spencer dan Martha. Sebagai anak SMA mungkin usia mereka tidak terpaut jauh, tapi sebagai avatar Dr. Bravestone dan Ruby Roundhouse fisik mereka menunjukkan usia seorang paman dan keponakannya. Saya jadi agak gimana gitu.

Akhir kata, film ini cukup menarik untuk ditonton cukup sekali saja dan film ini tidak kena “kutukan” Dwayne Johnson. Yang paling saya dan mama saya ingat dari film ini tentu saja teater yang hanya diisi oleh kami selama 30 menit pertama. Di tengah-tengah film datang sepasang kekasih yang mengambil tempat duduk di pojok belakang banget dari bioskop yang hanya berisikan empat orang manusia. Harapan kami, semoga mereka juga menikmati film Jumanji sama seperti kami.

Bond – The Novel

Menulis fiksi adalah sebuah terapi yang menyenangkan untuk saya yang berprofesi utama sebagai ibu rumah tangga. Di tengah-tengah kehidupan yang tidak bisa saya kendalikan laju dan kejadian-kejadian di dalamnya, menulis fiksi, di mana saya bisa menciptakan dan mengatur kehidupan dan peran-peran di dalam suatu cerita, adalah angin yang menyegarkan di tengah rutinitas sehari-hari mengurus keluarga dan rumah.

Mampu menulis cerita adalah satu hal, dan memberanikan diri untuk membuatnya menjadi buku dan menjualnya kepada orang lain adalah hal yang lain. Setelah 16 tahun istirahat dari menulis fiksi, pada bulan Maret 2016 saya menulis cerita pendek yang mengawali terbentuknya buku pertama saya: Randomness Inside My Head, sebuah kumpulan 12 cerita pendek dalam bahasa Inggris yang terbit bulan Oktober 2016.

IMG_5742

Cetakan pertama hanya dijual kepada keluarga, kerabat, dan teman-teman dekat, namun cetakan kedua dijual di toko buku besar di Indonesia, seperti: Gramedia, Periplus, dan Kinokuniya. Tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk men-display buku seorang penulis indie seperti saya di toko buku, namun saya bisa melakukannya berkat dukungan para mitra bisnis yang tak pernah lelah membantu mewujudkan mimpi saya.

Perjalanan menjadi seorang penulis (fiksi dalam bentuk buku, dan non-fiksi di media sosial) bukanlah perjalanan yang mudah. Perjalanan ini butuh:

  1. komitmen dan disiplin: saya yang mengatur apa yang saya mau tulis dan kapan tulisan itu harus tayang,
  2. terkadang sepi: karena banyak melibatkan kontemplasi dan saya berurusan dengan karakter-karakter di dalam kepala saya, dan
  3. menantang karena saya dituntut untuk selalu belajar.

Dunia menulis dan bercerita selalu dinamis, bergerak mengikuti perkembangan jaman, dan saya harus mengimbangi antara mempertahankan idealisme diri dan memberikan inspirasi pada mereka yang membaca tulisan saya. Terlebih lagi, menulis adalah proses merekam sebagian diri dan dan pemikiran saya untuk orang lain, tapi terutama untuk anak-anak saya di masa mendatang. Menulis adalah proses menyelidiki nilai-nilai yang saya anut dan mengoreksi prinsip dan kepribadian saya secara menyeluruh.

Di penghujung tahun ini saya kembali dengan buku kedua saya, sebuah novel roman dalam bahasa Inggris yang berjudul BOND.

Kisah dalam BOND terinspirasi oleh cerita pertama dalam buku pertama saya. BOND menceritakan apa yang terjadi lima tahun setelah Kayla kehilangan pria yang dicintainya dalam cerita Bid You Farewell. Mari bergabung dengan saya dalam perjalanan Kayla dan Adam, suaminya, untuk mencari jati diri, kebahagiaan, dan arti dari mencintai orang lain dan jujur pada diri sendiri.

Novel BOND tersedia untuk pre-order mulai tanggal 18 Desember 2017 sampai 14 Februari 2018. Novel BOND adalah hadiah yang pas untuk momen romantis di bulan Februari mendatang. Nikmati diskon khusus 20% dari harga normal Rp 150.000,00 untuk pembelian lewat http://www.tokopedia.com/skybooks.

Terima kasih untuk dukungannya dan selamat membaca!

 

Mempertanyakan Kelogisan Cerita Drama Korea

Drama Korea pertama yang saya tonton adalah ‘Endless Love’ (2001) yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Won Bin. Drama ini begitu menyedihkan, getir, melankolis, dan bikin patah hati, tapi saya tetap menontonnya karena tampang para pemainnya yang cakep dan cantik (waktu itu Won Bin belum operasi plastik dan Song Hye Kyo sudah terlihat kinclong seperti sekarang), dan kemampuan akting mereka yang sangat meyakinkan. Teman-teman kuliah saya pada waktu itu sudah memperingatkan kalau menonton drama Korea itu bikin ketagihan. Nasihat itu membuat saya menahan diri untuk tidak selalu mengikuti setiap episode yang ditayangkan, walaupun saya selalu mendapat spoiler dari teman-teman yang juga mengidolakan Won Bin, hehe.

Setelah drama tersebut saya secara kebetulan menonton drama ‘Full House’ (2004) yang dibintangi oleh (lagi-lagi) Song Hye Kyo dan Rain, karena teman-teman saya di lab di kampus berulang-ulang memutar lagu-lagu Original Sound Track (OST) dari drama ini. Terkadang saya menontonnya kalau saya ada waktu, tapi saya tidak suka dengan plot ceritanya. Permulaan cerita dari drama ini sudah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang (karakter yang bernama Han Ji Eun (Song Hye Kyo)) membiarkan rumahnya dijual oleh temannya tanpa sepengetahuan dirinya, dan dia tidak begitu marah pada temannya itu? Teman sih teman, tapi kalau hal ini terjadi pada saya pasti saya sudah melibatkan polisi! Lalu, bagaimana mungkin dua orang jatuh cinta hanya karena mereka tinggal di dalam satu rumah walaupun mereka selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu? Kata teman saya, mungkin perasaan cinta itu tumbuh karena mereka sudah terbiasa dengan keberadaan masing-masing karena mereka tinggal di bawah satu atap, jadi perasaan cinta tumbuh karena adanya teman yang secara konstan berada di sekelilingmu. Komentar saya pada waktu itu adalah, perasaan yang tumbuh dengan cara seperti itu patut dicurigai sebagai cinta. Mungkin saja karakter dramanya hanya merasa kesepian dan kemudian jadi jatuh cinta karena sudah terbiasa berinteraksi dengan orang yang sama. Kalau kata orang Jawa: witing tresno jalaran soko kulino, yang artinya cinta tumbuh karena terbiasa.

Dua belas tahun berlalu dan saya mulai menonton lagi drama Korea tahun lalu karena dibujuk oleh teman saya. Drama yang saya tonton adalah ‘Descendants of The Sun’ yang dibintangi oleh Song Joong Ki dan (lagi-lagi) Song Hye Kyo. Saya langsung jatuh cinta pada plot cerita dan pada aktor-aktornya (terutama aktor utama, haha), dan saya ikut bahagia waktu Song Joong Ki dan Song Hye Kyo menikah pada bulan Oktober lalu. Setelah menonton DOTS saya mulai menonton drama-drama dari tahun-tahun sebelumnya untuk menemani kegiatan rutin saya menyetrika baju. Waktu itu saya sudah tidak mengikuti industri film/drama di Korea jadi saya tidak tahu drama mana yang layak ditonton dan aktor mana yang aktingnya bagus. Saya juga tidak membaca review-review yang beredar di internet supaya saya punya pandangan objektif terhadap suatu drama. Akhirnya saya mulai dengan menonton drama-drama yang dibintangi oleh Lee Min Ho, hanya karena saya melihat wajah dia terpampang di iklan sebuah produk kopi instan dari  Indonesia.

Drama-drama pertama yang dibintangi Lee Min Ho (LMH) yang saya tonton adalah ‘Personal Taste’ (2010) dan ‘City Hunter’ (2011), dan seusai menontonnya perasaan dan pendapat saya campur-aduk. Drama yang berjudul ‘Personal Taste’ didasari oleh cerita yang ringan dan sederhana, tentang LMH yang berpura-pura menjadi gay supaya diperbolehkan tinggal di dalam sebuah rumah tradisional Korea yang dimiliki dan didiami oleh seorang wanita muda dan single. Pada akhirnya karakter yang diperankan LMH jatuh cinta pada induk semangnya.

Perhatikan ide utamanya ya; karakter-karakter dalam drama ini tinggal di bawah satu atap pada satu periode waktu untuk memungkinkan mereka saling jatuh cinta. Sayangnya ide utama ini diulang di dalam drama LMH yang berikutnya yaitu ‘City Hunter’, tapi dengan pelintiran plot yang lebih absurd. Di drama ini LMH membeli rumah dari rekan kerjanya yang miskin-tapi-cantik-banget untuk membantu si rekan kerja membayar tagihan rumah sakit ayahnya yang sedang mengalami koma. Akan tetapiiiiii …, berhubung si rekan kerja yang miskin-tapi-cantik-banget itu tidak punya tempat tinggal lain selain rumah yang dia baru jual, akhirnya LMH mengajak si rekan kerja untuk tinggal bersama saja (walaupun sebenarnya LMH sudah punya rumah sendiri). Akhir dari plot seperti ini sudah bisa ditebak ya, LMH jatuh cinta pada teman serumahnya. Dan ide cerita beserta plotnya diulang kembali tanpa malu oleh drama terakhir yang dibintangi LMH sebelum dia pergi wajib militer pada tahun 2016 yang berjudul ‘The Legend of The Blue Sea’.

Saya mengamati dan merenungkan kelogisan cerita drama Korea baru dari tiga drama yang dibintangi Lee Min Ho, seorang bintang Korea (film, drama, iklan) yang katanya sangat terkenal. Kalau saya menonton lebih banyak lagi drama yang dibintangi oleh aktor-aktor lain, mungkin akan ada pengulangan ide dan plot cerita seperti di dalam drama-drama yang dibintangi Lee Min Ho.

Pada akhirnya saya jadi bertanya-tanya:

  1. Kenapa orang berpikir kalau cara tercepat untuk jatuh cinta adalah dengan cara tinggal di bawah satu atap?

Beneran deh, KENAPA? Waktu sedang mengobrol ngalor-ngidul tentang topik ini, seorang teman saya berkata, bagaimana mungkin tidak jatuh cinta kalau teman serumah kita seganteng Lee Min Ho? Saya tertawa lebar sambil bilang, bisa jadi, tapi sering kali kita tidak bisa memilih tampang orang-orang yang harus/memilih tinggal satu rumah dengan kita. Tinggal bersama orang lain di dalam suatu ruang dan waktu perlu trik tersendiri; bentrokan kepribadian dan kebiasaan kemungkinan besar akan terjadi tanpa memandang jenis kelamin maupun kecakepan/kecantikan teman serumah. Kita lebih bisa mentolerir bentrokan kalau kita tinggal dengan anggota keluarga karena ada hubungan darah dan keterbatasan pilihan, tapi tinggal dengan anggota keluarga besar atau bahkan orang asing tentunya lebih rumit dan lebih menantang. Contohnya saya, saya seorang penyendiri dan perlu ruang privat. Sebisa mungkin saya tidak berbagi kamar tidur dengan orang lain, dan saya tidak terlalu suka kalau ada orang-orang selain anggota keluarga inti berkeliaran di rumah saya.

Tiga belas tahun lalu saya tinggal dalam satu apartemen dengan seorang teman kuliah selama enam bulan dan rasanya seperti neraka. Kami datang dari latar belakang yang berbeda dan memiliki karakter dan kebiasaan yang juga berbeda jauh. Teman itu berasal dari keluarga kaya-raya pemilik ladang minyak di Iran. Dia selalu punya seorang asisten pribadi yang menemani dan mengurus kebutuhannya. Dia tidak pernah membersihkan apa pun seumur hidupnya sebelum dia tinggal di apartemen yang sama dengan saya. Sedangkan saya sudah terbiasa membersihkan dan membereskan rumah karena keluarga saya berhenti mempekerjakan pembantu begitu saya beranjak usia delapan tahun.

Saya dan dia berdebat soal banyak hal kecil, seperti: 1) pembalut wanita bekas pakai yang “ketinggalan” di kamar mandi (tebak deh itu punya siapa), 2) remah-remah roti atau makanan apa pun yang selalu “ketinggalan” di meja setiap kali dia selesai makan (dan tidak pernah dibersihkan walaupun saya sudah berulang kali minta tolong), dan banyak hal lainnya.

Tinggal bersama orang lain itu seperti berjudi. Kalau kita menemukan teman serumah yang bisa selaras dengan kita, rasanya seperti dapat jackpot dan kita semua bisa hidup bahagia selamanya. Tapi kalau karakter dan kebiasaan kita sering bentrok, lama-kelamaan kita akan lelah untuk selalu bersikap toleran dan pengertian. Bahkan tampang cakep/cantik teman serumahmu tidak bisa mencegahmu untuk muntah jika melihat wajahnya karena banyak hal dari dirinya yang membuat kamu sebal!

Memang benar, tinggal serumah dengan pria cakep (seperti di dalam drama-drama Korea) bisa membuat hati bergetar dan akhirnya jatuh cinta. Namun akankah degup itu tetap ada kalau si pria cakep suka mengupil di meja makan, tidak pernah mau mencuci piring yang dia pakai, selalu menyalakan AC padahal dia sudah meninggalkan rumah dan membuat tagihan listrik membengkak tak karuan? Kalau saya sih, mustahil untuk menyukai atau jatuh cinta pada teman serumah seperti itu, SECAKEP APAPUN DIA. Jatuh cinta pada teman serumah adalah ide yang kelewat romantis dan tidak masuk akal yang hanya cocok untuk cerita dongeng, yah seperti cerita drama Korea.

 

  1. Waktu karakter-karakter drama berciuman untuk pertama kalinya.

Mereka yang sering menonton drama Korea pasti bisa menebak klimaks dari jumlah episode yang umumnya dimiliki oleh sebuah drama (16 atau 20 episode). Jika drama itu memiliki 16 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-7 dan ke-8. Jika drama itu memiliki 20 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-9 dan ke-10. Nah, bicara tentang ciuman pertama, mungkin tidak dalam kehidupan nyata untuk mencium atau dicium oleh gebetan walaupun belum resmi berpacaran?

Dalam cerita drama Korea, karakter-karakternya sedang dalam tahap pendekatan untuk mengenal satu sama lain lebih jauh dan belum resmi berpacaran. Pantaskah mencium untuk menunjukkan rasa sayang tapi tidak (atau belum) ada kepastian hubungan apa yang sedang dijalani? Pertemanan kah atau pacaran kah? Apa si pria kira semua wanita gampangan?

Tapi eh tapi, ciuman pertama seperti di dalam drama-drama Korea kan romantis, bikin hati bergetar dan berbunga-bunga, kata teman saya. Kalau itu terjadi pada kamu apakah kamu akan diam saja, saya tanya balik. Ciumannya mungkin terasa mendebarkan, tapi coba bayangkan pria itu secara serampangan melakukan hal yang sama pada wanita-wanita lain, termasuk dirimu, karena dia tidak menjanjikan atau berkomitmen apapun pada wanita manapun.

Saya memang masih kolot; menurut saya menunjukkan kasih sayang, entah itu lewat pelukan atau ciuman, harus diawali dengan deklarasi komitmen dari kedua belah pihak. Tanpa komitmen, hubungan yang lebih dari pertemanan tapi belum mencapai pacaran itu akan terlihat seperti main-main tanpa keseriusan dan kesetiaan.

 

Sampai saat ini saya masih menonton drama-drama Korea yang sedang tayang atau yang sudah tayang beberapa tahun lalu sebagai hiburan saat menyetrika baju. Terkadang memang jalan ceritanya (yang tidak melibatkan romansa) sangat menarik, membuat berpikir, dan yang pasti tidak seperti cerita di sinetron-sinetron Indonesia.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingin tahu pendapat lain dari sesama pecinta drama Korea, hehe.

 

Justice League dan Film Superhero yang Basi

Hobi mama saya adalah menonton film di bioskop dan hobi itu dijalankan dengan tekun sewaktu beliau mengandung saya. Seumur hidup saya jadi suka menonton film, di televisi maupun di bioskop, dan hobi itu saya tuaikan sepenuh hati juga waktu mengandung anak pertama dan kedua. Mama saya sudah mengajak menonton sejak akhir pekan lalu, dan kemarin saya cek film Justice League tayang perdana jam 11.30 di Cinemaxx terdekat (pas dengan jam anak-anak sekolah), jadi kami pun cuss meluncur ke sana.

Film ini sudah saya tunggu-tunggu sejak tahun lalu karena ada 3 tokoh baru: The Flash, Cyborg, dan Aquaman. Tapi sejak saya menonton Wonder Woman di pertengahan tahun ini saya jadi pesimis apakah filmnya akan sebagus dan segelap Batmas vs. Superman yang notabene lebih menyegarkan untuk penonton dewasa dibandingkan film-film superhero standar buatan Marvel. Sebelum menonton film ini saya sudah menebak: banyak tokoh = banyak plot cerita = kemungkinan besar satu plot tidak digarap secara detail = perasaan tidak puas seusai menonton; dan ternyata tebakan saya ini bener banget.

Seperti saya tulis di post sebelumnya setiap cerita fiksi punya tujuan akhir/pertanyaan besar yang harus dijawab, dan saya sungguh bingung dengan tujuan akhir/pertanyaan besar dari film ini. Apakah untuk:

  1. memusnahkan Steppenwolf?
  2. menjaga 3 kotak supaya tetap terpisah?
  3. menghidupkan Superman kembali?

Lagi-lagi saya dibikin terkesima dengan ketidaklogisan ide cerita dan cara berpikir hampir semua film superhero. Mengenai tiga kotak yang harus dipisahkan supaya bumi tetap aman-tenteram, bah ide itu tidak baru sama sekali dan sudah dipakai oleh banyak sekali film pendahulunya, seperti Transformers: The Last Knight dan The Mummy versi Tom Cruise dari tahun ini saja. Dan setiap kali selesai menonton film-film yang memakai ide/tema ini, kening saya berkerut seribu kali lebih banyak karena saya jadi bertanya-tanya: yang sebenarnya dewa yang punya sifat ketuhanan yang tidak terbatas itu siapa sih? Karena di dalam semua film itu ada manusia-manusia yang berjuang supaya si dewa-dewa jahat itu tidak merusak bumi, dengan cara memisahkan kotak, menyembunyikan pedang, dll. dsb. Kalau memang yang disebut dewa itu begitu kuat dan berkuasa, pasti semua usaha manusia untuk memberantas dewa dan niat jahat mereka bisa digagalkan dengan mudah, bukan? Nyatanya, seperti di dalam film Transformers dewi pencipta planet Cybertron pun bisa dikalahkan oleh Optimus Prime dan gengnya. Jadi sifat kedewian dan ketuhanannya ada di mana? Dewa-dewa di film superhero sama saja levelnya dengan manusia biasa. Ide basi dan membosankan begini kok digarap berkali-kali?

Dan pertanyaan kedua adalah: apakah bumi hanya berpusat di Amerika Serikat dan ras kaukasia (dan sedikit ras negroid untuk mewakili orang Afrika-Amerika yang berdiam di U.S.A.)? Karena setiap kali superhero bilang ‘We have to save the world’ saya jadi sebel. Huh, dunia? Dunia yang mana? Dunia yang isinya cuma U.S.A.? Terus, kamu superhero ge-er banget berasa diangkat jadi polisi untuk menjaga perdamaian dunia (persis kelakuan U.S.A. di dunia nyata)? Bahkan selipan lokasi selain U.S.A. seperti Rusia di akhir film ‘Justice League’ ini tidak memberikan kesan bahwa yang terancam bukan cuma U.S.A. Dunia superhero memang cuma sebesar daun kelor yang bertempat di benua Amerika bagian utara.

Karakter-karakter baru di film Justice League sebenarnya menarik semua. Sebut saja Aquaman yang katanya berayah manusia dan beribu Ratu Atlanta. Walaupun dia kelihatan keren, gagah, khas superhero material, tapi latar belakang kehidupannya sebelum dia ditemukan oleh Bruce Wayne tidak dikupas mendalam. Adegan yang menurut saya menggantung banget adalah waktu dia kembali ke Atlantis dan meminta sesuatu dari penghuni Atlantis yang baru dikalahkan oleh Steppenwolf. Ternyata dia minta trisula, yang tidak dijelaskan apa fungsinya, dan bikin Aquaman tampil seperti Poseidon. Karakter The Flash/Barry Allen terlalu mengingatkan saya pada Spiderman/Peter Parker di dalam film ‘Spiderman: Homecoming’. Kemunculan Bruce Wayne di dalam hidup Barry Allen sama persis dengan kemunculan Tony Stark di dalam hidup Peter Parker: seorang kaya yang mengangkat seorang superhero muda dan belum berpengalaman untuk menjadi anggota tim dan anak didiknya. Banyaknya komentar aneh dan banyolan dari The Flash  (dan karakter lain) membuat saya bingung, ini film Marvel atau DC ya? Yah, inilah akibat dari pergantian sutradara di tengah proses pembuatan film, dari Zack Snyder yang sukses menggarap film-film DC yang gelap ke Joss Whedon yang sangat tipikal dengan film-film Marvel semacam The Avengers yang bisa ditonton tanpa perlu berpikir. Dialog dan leluconnya terlalu khas superhero Marvel: terlalu ringan, terlalu random, tanpa tujuan, dan selesai begitu saja.

Batman, Wonder Woman, Superman. Apa yang baru dari mereka? Walaupun sempat tersirat kalau Bruce/Batman naksir Diana/Wonder Woman, tapi “kemungkinan” itu tidak dieksplorasi lebih lanjut. Superman yang bangkit dari kubur pun tidak menunjukkan dendam yang gimana gitu sama Batman, angkara murkanya ditunjukkan sama ke semua anggota kelompok Batman. Kesedihan Lois Lane karena ditinggal mati Clark ditunjukkan sebentar banget, apalagi kegembiraan dan kelegaannya setelah dia mendapati Clark hidup kembali. Aghh … me want some romance there. Wonder Woman tetap jadi wanita yang cool dan sesekali bercanda dengan Cyborg dan menjadi penengah waktu Cyborg dan Aquaman bersitegang. Yang paling aneh adalah scene dimana Aquaman tiba-tiba curcol tentang perasaan dia yang sesungguhnya setelah bergabung dengan Justice League. Ternyata dia bisa curhat dengan jujur setelah ditali diam-diam oleh Wonder Woman. Ya elah, adegan apa sih itu? Tempelan banget. Tapi tidak ada yang mengalahkan kekonyolan scene paling paling akhir sebelum closing credits, dimana Superman dan The Flash berlomba lari (?) dengan taruhan mentraktir brunch untuk semua anggota Justice League. PENTING BANGET YA? Di situ saya berharap saya punya bazoka untuk melempar tomat ke layar.

Walaupun superhero-superhero itu punya senjata masing-masing, di tiga puluh menit terakhir kelihatan kalau senjata yang paling ampuh dan paling sering digunakan adalah tangan kosong. Yap, mulai dari Wonder Woman yang katanya sakti sampai Batman yang manusia biasa ujung-ujungnya pake bogem mentah. Mama saya terlalu lelah dengan semua adegan pertarungan itu sampai dia memutuskan untuk meninggalkan bioskop sejenak. Setelah film selesai saya tanya beliau apa menurutnya film ini bagus, kata mama saya dia bosan dengan film yang terlalu bergantung pada efek komputer dan CGI. Mama saya pengen menonton film yang layak ditonton karena ceritanya yang bagus dan bermakna. Ah, saya juga pengen menonton film seperti itu. Justice League menurut saya adalah penyia-nyiaan bakat dari seorang Ben Affleck. Saya tarik omongan saya kalau Affleck cocok jadi Batman; Affleck clueless sebagai Batman. Sayang sekali kemampuan akting dia yang bagus seperti di film Pearl Harbor dan Argo harus go down the drain gara-gara Batman. Saya belum pernah menonton film yang dibintangi Gal Gadot, tapi saya yakin dia cuma cocok sebagai Wonder Woman. Film lain yang dibintangi Henry Cavill (Superman) yang saya tonton adalah Man from U.N.C.L.E. (2015), sebuah film spionase dimana karakter Henry Cavill kelihatan sangat berkiblat pada James Bond (mungkin dia sedang mempersiapkan diri menjadi pengganti Daniel Craig, haha). Dan dalam film ini saya baru pertama kali melihat aktor-aktor yang memainkan karakter The Flash, Aquaman, dan Cyborg, jadi saya tidak bisa mengomentari kemampuan akting mereka.

Di perjalanan pulang mama saya bertanya apa yang berkesan dari film ini buat saya. Saya bilang: kok Batman gendut? Kok Superman punya bulu dada?

Jawaban saya kontan membuat mama saya terpingkal-pingkal; sebuah akhir yang menyenangkan dari kencan menonton film dadakan saya dan mama.

 

 

 

 

Masih Tentang Lee Jong Suk dan While You Were Sleeping

Setiap cerita fiksi pasti punya tujuan akhir yang harus dicapai atau pertanyaan besar yang harus dijawab di akhir cerita.

Setelah menonton 16 episode pertama dari total 32 episode drama Korea ‘While You Were Sleeping’ (review-nya bisa dilihat di sini), saya kira tujuan akhir/pertanyaan besar dari drama ini adalah Jae Chan dan Hong Joo yang bertemu kembali setelah satu hari yang tragis 13 tahun lalu yang merenggut nyawa kedua ayah mereka.

Saya kira saya salah.

Menurut saya tujuan akhir/pertanyaan besarnya terletak pada diri karakter Lee Yoo Beom, mantan jaksa yang menjadi pengacara dan banyak bersinggungan jalan dengan karakter Jae Chan yang diperankan Lee Jong Suk. Tapi … sebelum kita masuk ke bagian yang serius, kita bahas Lee Jong Suk dulu yuk.

Seperti yang saya tulis sebelumnya WYWS adalah drama pertama Lee Jong Suk yang saya tonton. Nah, karena saya cukup suka dengan aktingnya, akhirnya saya memutuskan untuk menonton drama lain yang dia bintangi. Pilihannya ada banyak, mulai dari ‘W: Two Worlds’ (2016), ‘Pinocchio’ (2014), ‘Doctor Stranger’ (2014), dan drama-drama lain sebelum 2014. Setelah membaca beberapa review di internet, saya akhirnya memilih menonton ‘W: Two Worlds’ dulu yang dibintangi Lee Jong Suk dan Han Hyo Joo.

Ide cerita drama ini menurut saya keren banget. Alkisah Kang Cheul (Lee Jong Suk) adalah tokoh dalam cerita webtoon yang berjudul ‘W’ yang digemari seantero Korea selama 10 tahun. Kang Cheul di dalam manghwa (komik) adalah seorang atlet tembak yang memenangkan medali emas di Olimpiade di usia 17 tahun. Nasibnya berubah setelah ayah, ibu, dan kedua adiknya dibunuh bersamaan di rumah mereka oleh seorang penembak misterius. Kang Cheul yang saat itu tidak berada di rumah pun ditangkap dan dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Kang Cheul bersikeras kalau dia bukan pelakunya, namun jaksa penuntut yang ambisius dan suka perhatian publik pun bersikeras kalau Kang Cheul adalah dalang di balik semua tragedi itu. Kang Cheul dijebloskan ke penjara selama 1 tahun, dan setelah mengajukan banding dia akhirnya dinyatakan tidak bersalah. Hukum mengampuni dia, tapi tidak dengan masyarakat di sekitarnya. Kang Cheul kembali ke masyarakat dengan menyandang cap pembunuh, dan menghabiskan hari-harinya sendirian dan berusaha untuk menghindari orang lain. Pada satu malam, Kang Cheul memutuskan untuk bunuh diri dengan cara melompat dari Hangang Bridge, namun akhirnya dia berubah pikiran. Dia bertekad untuk hidup, menemukan pembunuh keluarganya, dan memastikan pembunuh yang sebenarnya mendapatkan hukuman yang setimpal.

Alur yang saya tulis di atas adalah setup yang diatur oleh penulis komik ‘W’ yang bernama Oh Sung Moo. Suatu hari, Oh Sung Moo menghilang padahal deadline untuk episode terbaru ‘W’ sudah di depan mata. Akhirnya asisten si komikus menghubungi Oh Yeon Joo, anak perempuan Oh Sung Moo yang berprofesi sebagai dokter, supaya dia bisa membantu menemukan ayahnya dan menyelesaikan komiknya. Oh Yeon Joo (Han Hyo Joo) datang ke rumah ayahnya, dan waktu dia sedang sendirian di ruang kerja ayahnya dia ditarik oleh tangan Kang Cheul yang secara ajaib keluar dari tablet yang dipakai oleh Oh Sung Moo untuk menggambar komik. Oh Yeon Joo pun “masuk” ke dalam manghwa dan mendapati Kang Cheul yang sedang sekarat karena ditusuk di atap sebuah hotel. Saat Kang Cheul mengalami pneumotoraks Oh Yeon Joo menyelamatkannya dengan cara menusuk dada Kang Cheul dengan pulpen. Kang Cheul sempat bertukar pandang dengan Oh Yeon Joo sebelum akhirnya dia pingsan dan diselamatkan oleh staf hotel dan paramediks. Saat hendak dimintai keterangan oleh polisi, tiba-tiba ada tulisan “Bersambung” muncul di dekat Oh Yeon Joo, seperti lazimnya episode sebuah komik yang ceritanya habis dan akan dilanjutkan di episode berikutnya. Sesudah itu Oh Yeon Joo secara misterius kembali ke dunianya di kota Seoul.

Akankah Kang Cheul bertemu kembali dengan Oh Yeon Joo? Bagaimana Oh Yeon Joo mengatasi dirinya yang bolak-balik terseret masuk ke dalam dunia komik yang didiami Kang Cheul? Kalau mau tahu lengkapnya, bisa tonton ‘W: Two Worlds’ di kissasian.ch dengan total 16 episode. Dijamin kamu akan suka dan sering bilang ‘daebak’ (bahasa Inggris: awesome – red) di tengah-tengah episode. Hehe.

Kembali ke WWYS (tapi belum membahas Lee Yoo Beom). Ada dua hal yang bikin ga sreg dari drama ini, yaitu:

  1. Lee Jong Suk dan Suzy tidak ada chemistry-nya.

Blas. Nada. Nihil. Asli ga keliatan rasa tertarik, deg-degan, dan jatuh cinta antara kedua karakter utama ini. Ga ada sama sekali. Mereka kan banyak mengalami peristiwa yang melibatkan pekerjaan Jae Chan sebagai jaksa, Hong Joo sebagai reporter, dan kadang-kadang juga Woo Tak sebagai polisi. Di situ mereka saling memperhatikan, saling mengkhawatirkan, dll, tapi tetep aja ga ada rasa ser-ser-nya. Hubungan mereka berdua itu lebih seperti sahabat yang jadi pacar, tapi tidak punya romansa. Padahal adegan kecup-kecupnya bisa dibilang banyak ya dibandingkan drama lain, cuma ekspresi wajah LJS dan Suzy tuh sama-sama ga meyakinkan. Dan setelah episode ke-16 Suzy tambah sering pasang tampang polos, gemesin, yang ujung-ujungnya jadi nyebelin. Ah, karakter wanita di drama yang paling oke menurut saya masih Kang Mo Yeon (diperankan oleh Song Hye Kyo di ‘Descendants of The Sun’). Kecup-kecup Jae Chan dan Hong Joo di bawah hujan setelah Hong Joo mengakui kalau dia ingat Jae Chan dari 13 tahun lalu pun tidak menggetarkan hati. Kayaknya salah banget LJS dipasangkan dengan Suzy. Saya bandingkan dengan chemistry LJS dengan HHJ di ‘W’, wah jauh banget. Sepanjang 16 episode saya tuh diseret dengan senang hati untuk merasakan perkembangan hubungan mereka dari sesama orang asing, penyelamat hidup, sempat saling membenci karena ada masalah dengan Oh Sung Moo (penulis komik ‘W’), sampai jatuh cinta, dan pura-pura menikah. Perasaan-perasaan mereka dipaparkan secara ekplisit dan implisit, dan konflik antara dunia nyata Oh Yeon Joo dan dunia komik Kang Cheul membuat perasaan-perasaan antara kedua tokoh utama ini jadi lebih gamblang dan lebih romantis. Karena LJS ga ada chemistry sama Suzy, untuk masalah pemeran wanita saya jadi lebih menyukai ‘W’ dibanding ‘WYWS’. Malahan yang lebih terasa deg-degannya adalah Woo Tak yang suka sebelah tangan pada Hong Joo. Adegan di mana Woo Tak memfoto bayangan dia dan Hong Joo cukup membuat hati saya sedih dan kasihan pada Woo Tak, karena saya lebih setuju Hong Joo sama Woo Tak daripada sama Jae Chan.

  1. Mr. Choi yang diselamatkan oleh Jae Chan dan Hong Joo 13 tahun lalu telat munculnya.

Telat banget-banget. Masak di enam episode terakhir baru ada petunjuk kalau Mr. Choi, investigator yang bekerja untuk Jae Chan, adalah kakak dari tentara yang membuat ayah Jae Chan dan Hong Joo terbunuh? Momen pengungkapan identitas Mr.Choi yang sebenarnya adalah saat dia datang menyelamatkan Jae Chan dan Hong Joo yang terperangkap api di rumah seorang tersangka yang mereka datangi. Saya jadi teringat teori Woo Tak tentang Jae Chan yang sering memimpikan Hong Joo dan dirinya sendiri yang sering memimpikan Jae Chan; orang yang hidupnya pernah diselamatkan oleh orang lain akan memimpikan penyelamat hidupnya itu. Karena Mr. Choi tidak bisa menjelaskan kenapa dia bisa tahu Jae Chan dan Hong Joo ada di rumah yang terbakar itu, saya langsung ngeh kalau Mr. Choi ada hubungannya dengan peristiwa 13 tahun lalu. Saya sangat suka dengan kemunculan Mr. Choi di semua kasus yang ditangani Jae Chan, jadi sayang banget kalau peran krusialnya cuma sedikit menjelang drama berakhir. Salah satu adegan yang sukses bikin saya menangis dan melibatkan Mr. Choi adalah saat Mr. Choi ditabrak oleh mobil Lee Yoo Beom. Di situ Jae Chan berlari dengan sekuat tenaga ke tempat kecelakaan dan menangis sesenggukan dengan sepenuh hati supaya Mr. Choi jangan mati. Akting Lee Jong Suk di situ bagus banget deh; saya pun jadi ikut menangis bersama dia, hehehe.

Sekarang tentang Lee Yoo Beom yang diperankan oleh Lee Sang Yeob. Di drama ini Lee Yoo Beom diceritakan sebagai seorang mantan jaksa yang beralih profesi menjadi seorang pengacara terkenal dengan bayaran mahal. Kepribadian Lee Yoo Beom yang licik dan tidak punya integritas sudah diceritakan sedikit demi sedikit, mulai dari kecelakan mobil yang membuat dia menjebak Hong Joo, masa lalunya yang pernah menipu Jae Chan dan keluarganya, dan tipikal klien yang dia tangani (semua kliennya di drama ini adalah orang-orang jahat dengan pelanggaran berat). Ada beberapa adegan di mana hati nurani Lee Yoo Beom terusik, misalnya: dia mencuci tangan sampai tangannya berdarah setelah dia bersalaman dengan seorang pembunuh saudara kandung untuk mendapatkan klaim asuransi. Jadi di sepanjang drama ada kelebatan petunjuk bahwa Lee Yoo Beom sebenarnya masih punya hati nurani. Namun hati nurani itu tidak bekerja lagi ketika kasus lama yang dia tangani kembali dibuka. Dalam kasus itu Lee Yoo Beom memalsukan barang bukti untuk menangkap seorang dokter yang bukan pembunuh sebenarnya. Kasus itu membuat dia diberi penghargaan sebagai jaksa berprestasi dan dokter itu divonis bersalah (di kemudian hari dokter itu memilih untuk bunuh diri di penjara). Anak si dokter adalah teman sekolah dari adik Jae Chan (kalau lihat drama Korea, kota Seoul yang gede itu kesannya cuma satu RT deh, semua muter di situ-situ aja, haha). Jae Chan pun berjanji untuk mengungkap kebenaran kasus itu walaupun ada kemungkinan Mr. Choi yang dia sangat sukai akan tersangkut masalah hukum. Lee Yoo Beom yang terdesak mulai kehilangan akal sehat dan melakukan serangkaian tindakan jahat. Dia membunuh pembunuh berantai sebenarnya dan terakhir dia menabrak Mr. Choi sampai meninggal. Waktu diinterogasi, Lee Yoo Beom bersikeras bahwa dia hanya sial makanya tertangkap, tapi Jae Chan bilang kalau pada dasarnya Lee Yoo Beom sudah berubah menjadi jahat dan menghalalkan segala cara untuk melindungi dirinya sendiri.

Saya kira itulah tujuan akhir/pertanyaan besar drama ini yaitu untuk menggambarkan jiwa Lee Yoo Beom yang terkorupsi oleh pamor, oleh jabatan, dan oleh uang. Entah kenapa melihat Lee Yoo Beom seperti melihat si om yang baru-baru ini menabrak tiang listrik. Apa si om pernah punya hati nurani dan rasa bersalah atas semua kejahatannya? Atau si om sudah mengabaikan hati nuraninya dan memakai semua cara supaya dirinya tetap aman? Semoga pengadilan bisa memberikan jawaban dalam waktu dekat.

Eh kok jadi curhat politik sih? Maaf, maaf, hehe.

PS: Kenapa saya pasang foto di atas? Karena menurut saya Lee Jong Suk sangat keren berperan sebagai jaksa dibandingkan sebagai profesi lain, haha.