Mempertanyakan Kelogisan Cerita Drama Korea

Drama Korea pertama yang saya tonton adalah ‘Endless Love’ (2001) yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Won Bin. Drama ini begitu menyedihkan, getir, melankolis, dan bikin patah hati, tapi saya tetap menontonnya karena tampang para pemainnya yang cakep dan cantik (waktu itu Won Bin belum operasi plastik dan Song Hye Kyo sudah terlihat kinclong seperti sekarang), dan kemampuan akting mereka yang sangat meyakinkan. Teman-teman kuliah saya pada waktu itu sudah memperingatkan kalau menonton drama Korea itu bikin ketagihan. Nasihat itu membuat saya menahan diri untuk tidak selalu mengikuti setiap episode yang ditayangkan, walaupun saya selalu mendapat spoiler dari teman-teman yang juga mengidolakan Won Bin, hehe.

Setelah drama tersebut saya secara kebetulan menonton drama ‘Full House’ (2004) yang dibintangi oleh (lagi-lagi) Song Hye Kyo dan Rain, karena teman-teman saya di lab di kampus berulang-ulang memutar lagu-lagu Original Sound Track (OST) dari drama ini. Terkadang saya menontonnya kalau saya ada waktu, tapi saya tidak suka dengan plot ceritanya. Permulaan cerita dari drama ini sudah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang (karakter yang bernama Han Ji Eun (Song Hye Kyo)) membiarkan rumahnya dijual oleh temannya tanpa sepengetahuan dirinya, dan dia tidak begitu marah pada temannya itu? Teman sih teman, tapi kalau hal ini terjadi pada saya pasti saya sudah melibatkan polisi! Lalu, bagaimana mungkin dua orang jatuh cinta hanya karena mereka tinggal di dalam satu rumah walaupun mereka selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu? Kata teman saya, mungkin perasaan cinta itu tumbuh karena mereka sudah terbiasa dengan keberadaan masing-masing karena mereka tinggal di bawah satu atap, jadi perasaan cinta tumbuh karena adanya teman yang secara konstan berada di sekelilingmu. Komentar saya pada waktu itu adalah, perasaan yang tumbuh dengan cara seperti itu patut dicurigai sebagai cinta. Mungkin saja karakter dramanya hanya merasa kesepian dan kemudian jadi jatuh cinta karena sudah terbiasa berinteraksi dengan orang yang sama. Kalau kata orang Jawa: witing tresno jalaran soko kulino, yang artinya cinta tumbuh karena terbiasa.

Dua belas tahun berlalu dan saya mulai menonton lagi drama Korea tahun lalu karena dibujuk oleh teman saya. Drama yang saya tonton adalah ‘Descendants of The Sun’ yang dibintangi oleh Song Joong Ki dan (lagi-lagi) Song Hye Kyo. Saya langsung jatuh cinta pada plot cerita dan pada aktor-aktornya (terutama aktor utama, haha), dan saya ikut bahagia waktu Song Joong Ki dan Song Hye Kyo menikah pada bulan Oktober lalu. Setelah menonton DOTS saya mulai menonton drama-drama dari tahun-tahun sebelumnya untuk menemani kegiatan rutin saya menyetrika baju. Waktu itu saya sudah tidak mengikuti industri film/drama di Korea jadi saya tidak tahu drama mana yang layak ditonton dan aktor mana yang aktingnya bagus. Saya juga tidak membaca review-review yang beredar di internet supaya saya punya pandangan objektif terhadap suatu drama. Akhirnya saya mulai dengan menonton drama-drama yang dibintangi oleh Lee Min Ho, hanya karena saya melihat wajah dia terpampang di iklan sebuah produk kopi instan dari  Indonesia.

Drama-drama pertama yang dibintangi Lee Min Ho (LMH) yang saya tonton adalah ‘Personal Taste’ (2010) dan ‘City Hunter’ (2011), dan seusai menontonnya perasaan dan pendapat saya campur-aduk. Drama yang berjudul ‘Personal Taste’ didasari oleh cerita yang ringan dan sederhana, tentang LMH yang berpura-pura menjadi gay supaya diperbolehkan tinggal di dalam sebuah rumah tradisional Korea yang dimiliki dan didiami oleh seorang wanita muda dan single. Pada akhirnya karakter yang diperankan LMH jatuh cinta pada induk semangnya.

Perhatikan ide utamanya ya; karakter-karakter dalam drama ini tinggal di bawah satu atap pada satu periode waktu untuk memungkinkan mereka saling jatuh cinta. Sayangnya ide utama ini diulang di dalam drama LMH yang berikutnya yaitu ‘City Hunter’, tapi dengan pelintiran plot yang lebih absurd. Di drama ini LMH membeli rumah dari rekan kerjanya yang miskin-tapi-cantik-banget untuk membantu si rekan kerja membayar tagihan rumah sakit ayahnya yang sedang mengalami koma. Akan tetapiiiiii …, berhubung si rekan kerja yang miskin-tapi-cantik-banget itu tidak punya tempat tinggal lain selain rumah yang dia baru jual, akhirnya LMH mengajak si rekan kerja untuk tinggal bersama saja (walaupun sebenarnya LMH sudah punya rumah sendiri). Akhir dari plot seperti ini sudah bisa ditebak ya, LMH jatuh cinta pada teman serumahnya. Dan ide cerita beserta plotnya diulang kembali tanpa malu oleh drama terakhir yang dibintangi LMH sebelum dia pergi wajib militer pada tahun 2016 yang berjudul ‘The Legend of The Blue Sea’.

Saya mengamati dan merenungkan kelogisan cerita drama Korea baru dari tiga drama yang dibintangi Lee Min Ho, seorang bintang Korea (film, drama, iklan) yang katanya sangat terkenal. Kalau saya menonton lebih banyak lagi drama yang dibintangi oleh aktor-aktor lain, mungkin akan ada pengulangan ide dan plot cerita seperti di dalam drama-drama yang dibintangi Lee Min Ho.

Pada akhirnya saya jadi bertanya-tanya:

  1. Kenapa orang berpikir kalau cara tercepat untuk jatuh cinta adalah dengan cara tinggal di bawah satu atap?

Beneran deh, KENAPA? Waktu sedang mengobrol ngalor-ngidul tentang topik ini, seorang teman saya berkata, bagaimana mungkin tidak jatuh cinta kalau teman serumah kita seganteng Lee Min Ho? Saya tertawa lebar sambil bilang, bisa jadi, tapi sering kali kita tidak bisa memilih tampang orang-orang yang harus/memilih tinggal satu rumah dengan kita. Tinggal bersama orang lain di dalam suatu ruang dan waktu perlu trik tersendiri; bentrokan kepribadian dan kebiasaan kemungkinan besar akan terjadi tanpa memandang jenis kelamin maupun kecakepan/kecantikan teman serumah. Kita lebih bisa mentolerir bentrokan kalau kita tinggal dengan anggota keluarga karena ada hubungan darah dan keterbatasan pilihan, tapi tinggal dengan anggota keluarga besar atau bahkan orang asing tentunya lebih rumit dan lebih menantang. Contohnya saya, saya seorang penyendiri dan perlu ruang privat. Sebisa mungkin saya tidak berbagi kamar tidur dengan orang lain, dan saya tidak terlalu suka kalau ada orang-orang selain anggota keluarga inti berkeliaran di rumah saya.

Tiga belas tahun lalu saya tinggal dalam satu apartemen dengan seorang teman kuliah selama enam bulan dan rasanya seperti neraka. Kami datang dari latar belakang yang berbeda dan memiliki karakter dan kebiasaan yang juga berbeda jauh. Teman itu berasal dari keluarga kaya-raya pemilik ladang minyak di Iran. Dia selalu punya seorang asisten pribadi yang menemani dan mengurus kebutuhannya. Dia tidak pernah membersihkan apa pun seumur hidupnya sebelum dia tinggal di apartemen yang sama dengan saya. Sedangkan saya sudah terbiasa membersihkan dan membereskan rumah karena keluarga saya berhenti mempekerjakan pembantu begitu saya beranjak usia delapan tahun.

Saya dan dia berdebat soal banyak hal kecil, seperti: 1) pembalut wanita bekas pakai yang “ketinggalan” di kamar mandi (tebak deh itu punya siapa), 2) remah-remah roti atau makanan apa pun yang selalu “ketinggalan” di meja setiap kali dia selesai makan (dan tidak pernah dibersihkan walaupun saya sudah berulang kali minta tolong), dan banyak hal lainnya.

Tinggal bersama orang lain itu seperti berjudi. Kalau kita menemukan teman serumah yang bisa selaras dengan kita, rasanya seperti dapat jackpot dan kita semua bisa hidup bahagia selamanya. Tapi kalau karakter dan kebiasaan kita sering bentrok, lama-kelamaan kita akan lelah untuk selalu bersikap toleran dan pengertian. Bahkan tampang cakep/cantik teman serumahmu tidak bisa mencegahmu untuk muntah jika melihat wajahnya karena banyak hal dari dirinya yang membuat kamu sebal!

Memang benar, tinggal serumah dengan pria cakep (seperti di dalam drama-drama Korea) bisa membuat hati bergetar dan akhirnya jatuh cinta. Namun akankah degup itu tetap ada kalau si pria cakep suka mengupil di meja makan, tidak pernah mau mencuci piring yang dia pakai, selalu menyalakan AC padahal dia sudah meninggalkan rumah dan membuat tagihan listrik membengkak tak karuan? Kalau saya sih, mustahil untuk menyukai atau jatuh cinta pada teman serumah seperti itu, SECAKEP APAPUN DIA. Jatuh cinta pada teman serumah adalah ide yang kelewat romantis dan tidak masuk akal yang hanya cocok untuk cerita dongeng, yah seperti cerita drama Korea.

 

  1. Waktu karakter-karakter drama berciuman untuk pertama kalinya.

Mereka yang sering menonton drama Korea pasti bisa menebak klimaks dari jumlah episode yang umumnya dimiliki oleh sebuah drama (16 atau 20 episode). Jika drama itu memiliki 16 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-7 dan ke-8. Jika drama itu memiliki 20 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-9 dan ke-10. Nah, bicara tentang ciuman pertama, mungkin tidak dalam kehidupan nyata untuk mencium atau dicium oleh gebetan walaupun belum resmi berpacaran?

Dalam cerita drama Korea, karakter-karakternya sedang dalam tahap pendekatan untuk mengenal satu sama lain lebih jauh dan belum resmi berpacaran. Pantaskah mencium untuk menunjukkan rasa sayang tapi tidak (atau belum) ada kepastian hubungan apa yang sedang dijalani? Pertemanan kah atau pacaran kah? Apa si pria kira semua wanita gampangan?

Tapi eh tapi, ciuman pertama seperti di dalam drama-drama Korea kan romantis, bikin hati bergetar dan berbunga-bunga, kata teman saya. Kalau itu terjadi pada kamu apakah kamu akan diam saja, saya tanya balik. Ciumannya mungkin terasa mendebarkan, tapi coba bayangkan pria itu secara serampangan melakukan hal yang sama pada wanita-wanita lain, termasuk dirimu, karena dia tidak menjanjikan atau berkomitmen apapun pada wanita manapun.

Saya memang masih kolot; menurut saya menunjukkan kasih sayang, entah itu lewat pelukan atau ciuman, harus diawali dengan deklarasi komitmen dari kedua belah pihak. Tanpa komitmen, hubungan yang lebih dari pertemanan tapi belum mencapai pacaran itu akan terlihat seperti main-main tanpa keseriusan dan kesetiaan.

 

Sampai saat ini saya masih menonton drama-drama Korea yang sedang tayang atau yang sudah tayang beberapa tahun lalu sebagai hiburan saat menyetrika baju. Terkadang memang jalan ceritanya (yang tidak melibatkan romansa) sangat menarik, membuat berpikir, dan yang pasti tidak seperti cerita di sinetron-sinetron Indonesia.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingin tahu pendapat lain dari sesama pecinta drama Korea, hehe.

 

Advertisements

Justice League dan Film Superhero yang Basi

Hobi mama saya adalah menonton film di bioskop dan hobi itu dijalankan dengan tekun sewaktu beliau mengandung saya. Seumur hidup saya jadi suka menonton film, di televisi maupun di bioskop, dan hobi itu saya tuaikan sepenuh hati juga waktu mengandung anak pertama dan kedua. Mama saya sudah mengajak menonton sejak akhir pekan lalu, dan kemarin saya cek film Justice League tayang perdana jam 11.30 di Cinemaxx terdekat (pas dengan jam anak-anak sekolah), jadi kami pun cuss meluncur ke sana.

Film ini sudah saya tunggu-tunggu sejak tahun lalu karena ada 3 tokoh baru: The Flash, Cyborg, dan Aquaman. Tapi sejak saya menonton Wonder Woman di pertengahan tahun ini saya jadi pesimis apakah filmnya akan sebagus dan segelap Batmas vs. Superman yang notabene lebih menyegarkan untuk penonton dewasa dibandingkan film-film superhero standar buatan Marvel. Sebelum menonton film ini saya sudah menebak: banyak tokoh = banyak plot cerita = kemungkinan besar satu plot tidak digarap secara detail = perasaan tidak puas seusai menonton; dan ternyata tebakan saya ini bener banget.

Seperti saya tulis di post sebelumnya setiap cerita fiksi punya tujuan akhir/pertanyaan besar yang harus dijawab, dan saya sungguh bingung dengan tujuan akhir/pertanyaan besar dari film ini. Apakah untuk:

  1. memusnahkan Steppenwolf?
  2. menjaga 3 kotak supaya tetap terpisah?
  3. menghidupkan Superman kembali?

Lagi-lagi saya dibikin terkesima dengan ketidaklogisan ide cerita dan cara berpikir hampir semua film superhero. Mengenai tiga kotak yang harus dipisahkan supaya bumi tetap aman-tenteram, bah ide itu tidak baru sama sekali dan sudah dipakai oleh banyak sekali film pendahulunya, seperti Transformers: The Last Knight dan The Mummy versi Tom Cruise dari tahun ini saja. Dan setiap kali selesai menonton film-film yang memakai ide/tema ini, kening saya berkerut seribu kali lebih banyak karena saya jadi bertanya-tanya: yang sebenarnya dewa yang punya sifat ketuhanan yang tidak terbatas itu siapa sih? Karena di dalam semua film itu ada manusia-manusia yang berjuang supaya si dewa-dewa jahat itu tidak merusak bumi, dengan cara memisahkan kotak, menyembunyikan pedang, dll. dsb. Kalau memang yang disebut dewa itu begitu kuat dan berkuasa, pasti semua usaha manusia untuk memberantas dewa dan niat jahat mereka bisa digagalkan dengan mudah, bukan? Nyatanya, seperti di dalam film Transformers dewi pencipta planet Cybertron pun bisa dikalahkan oleh Optimus Prime dan gengnya. Jadi sifat kedewian dan ketuhanannya ada di mana? Dewa-dewa di film superhero sama saja levelnya dengan manusia biasa. Ide basi dan membosankan begini kok digarap berkali-kali?

Dan pertanyaan kedua adalah: apakah bumi hanya berpusat di Amerika Serikat dan ras kaukasia (dan sedikit ras negroid untuk mewakili orang Afrika-Amerika yang berdiam di U.S.A.)? Karena setiap kali superhero bilang ‘We have to save the world’ saya jadi sebel. Huh, dunia? Dunia yang mana? Dunia yang isinya cuma U.S.A.? Terus, kamu superhero ge-er banget berasa diangkat jadi polisi untuk menjaga perdamaian dunia (persis kelakuan U.S.A. di dunia nyata)? Bahkan selipan lokasi selain U.S.A. seperti Rusia di akhir film ‘Justice League’ ini tidak memberikan kesan bahwa yang terancam bukan cuma U.S.A. Dunia superhero memang cuma sebesar daun kelor yang bertempat di benua Amerika bagian utara.

Karakter-karakter baru di film Justice League sebenarnya menarik semua. Sebut saja Aquaman yang katanya berayah manusia dan beribu Ratu Atlanta. Walaupun dia kelihatan keren, gagah, khas superhero material, tapi latar belakang kehidupannya sebelum dia ditemukan oleh Bruce Wayne tidak dikupas mendalam. Adegan yang menurut saya menggantung banget adalah waktu dia kembali ke Atlantis dan meminta sesuatu dari penghuni Atlantis yang baru dikalahkan oleh Steppenwolf. Ternyata dia minta trisula, yang tidak dijelaskan apa fungsinya, dan bikin Aquaman tampil seperti Poseidon. Karakter The Flash/Barry Allen terlalu mengingatkan saya pada Spiderman/Peter Parker di dalam film ‘Spiderman: Homecoming’. Kemunculan Bruce Wayne di dalam hidup Barry Allen sama persis dengan kemunculan Tony Stark di dalam hidup Peter Parker: seorang kaya yang mengangkat seorang superhero muda dan belum berpengalaman untuk menjadi anggota tim dan anak didiknya. Banyaknya komentar aneh dan banyolan dari The Flash  (dan karakter lain) membuat saya bingung, ini film Marvel atau DC ya? Yah, inilah akibat dari pergantian sutradara di tengah proses pembuatan film, dari Zack Snyder yang sukses menggarap film-film DC yang gelap ke Joss Whedon yang sangat tipikal dengan film-film Marvel semacam The Avengers yang bisa ditonton tanpa perlu berpikir. Dialog dan leluconnya terlalu khas superhero Marvel: terlalu ringan, terlalu random, tanpa tujuan, dan selesai begitu saja.

Batman, Wonder Woman, Superman. Apa yang baru dari mereka? Walaupun sempat tersirat kalau Bruce/Batman naksir Diana/Wonder Woman, tapi “kemungkinan” itu tidak dieksplorasi lebih lanjut. Superman yang bangkit dari kubur pun tidak menunjukkan dendam yang gimana gitu sama Batman, angkara murkanya ditunjukkan sama ke semua anggota kelompok Batman. Kesedihan Lois Lane karena ditinggal mati Clark ditunjukkan sebentar banget, apalagi kegembiraan dan kelegaannya setelah dia mendapati Clark hidup kembali. Aghh … me want some romance there. Wonder Woman tetap jadi wanita yang cool dan sesekali bercanda dengan Cyborg dan menjadi penengah waktu Cyborg dan Aquaman bersitegang. Yang paling aneh adalah scene dimana Aquaman tiba-tiba curcol tentang perasaan dia yang sesungguhnya setelah bergabung dengan Justice League. Ternyata dia bisa curhat dengan jujur setelah ditali diam-diam oleh Wonder Woman. Ya elah, adegan apa sih itu? Tempelan banget. Tapi tidak ada yang mengalahkan kekonyolan scene paling paling akhir sebelum closing credits, dimana Superman dan The Flash berlomba lari (?) dengan taruhan mentraktir brunch untuk semua anggota Justice League. PENTING BANGET YA? Di situ saya berharap saya punya bazoka untuk melempar tomat ke layar.

Walaupun superhero-superhero itu punya senjata masing-masing, di tiga puluh menit terakhir kelihatan kalau senjata yang paling ampuh dan paling sering digunakan adalah tangan kosong. Yap, mulai dari Wonder Woman yang katanya sakti sampai Batman yang manusia biasa ujung-ujungnya pake bogem mentah. Mama saya terlalu lelah dengan semua adegan pertarungan itu sampai dia memutuskan untuk meninggalkan bioskop sejenak. Setelah film selesai saya tanya beliau apa menurutnya film ini bagus, kata mama saya dia bosan dengan film yang terlalu bergantung pada efek komputer dan CGI. Mama saya pengen menonton film yang layak ditonton karena ceritanya yang bagus dan bermakna. Ah, saya juga pengen menonton film seperti itu. Justice League menurut saya adalah penyia-nyiaan bakat dari seorang Ben Affleck. Saya tarik omongan saya kalau Affleck cocok jadi Batman; Affleck clueless sebagai Batman. Sayang sekali kemampuan akting dia yang bagus seperti di film Pearl Harbor dan Argo harus go down the drain gara-gara Batman. Saya belum pernah menonton film yang dibintangi Gal Gadot, tapi saya yakin dia cuma cocok sebagai Wonder Woman. Film lain yang dibintangi Henry Cavill (Superman) yang saya tonton adalah Man from U.N.C.L.E. (2015), sebuah film spionase dimana karakter Henry Cavill kelihatan sangat berkiblat pada James Bond (mungkin dia sedang mempersiapkan diri menjadi pengganti Daniel Craig, haha). Dan dalam film ini saya baru pertama kali melihat aktor-aktor yang memainkan karakter The Flash, Aquaman, dan Cyborg, jadi saya tidak bisa mengomentari kemampuan akting mereka.

Di perjalanan pulang mama saya bertanya apa yang berkesan dari film ini buat saya. Saya bilang: kok Batman gendut? Kok Superman punya bulu dada?

Jawaban saya kontan membuat mama saya terpingkal-pingkal; sebuah akhir yang menyenangkan dari kencan menonton film dadakan saya dan mama.

 

 

 

 

Masih Tentang Lee Jong Suk dan While You Were Sleeping

Setiap cerita fiksi pasti punya tujuan akhir yang harus dicapai atau pertanyaan besar yang harus dijawab di akhir cerita.

Setelah menonton 16 episode pertama dari total 32 episode drama Korea ‘While You Were Sleeping’ (review-nya bisa dilihat di sini), saya kira tujuan akhir/pertanyaan besar dari drama ini adalah Jae Chan dan Hong Joo yang bertemu kembali setelah satu hari yang tragis 13 tahun lalu yang merenggut nyawa kedua ayah mereka.

Saya kira saya salah.

Menurut saya tujuan akhir/pertanyaan besarnya terletak pada diri karakter Lee Yoo Beom, mantan jaksa yang menjadi pengacara dan banyak bersinggungan jalan dengan karakter Jae Chan yang diperankan Lee Jong Suk. Tapi … sebelum kita masuk ke bagian yang serius, kita bahas Lee Jong Suk dulu yuk.

Seperti yang saya tulis sebelumnya WYWS adalah drama pertama Lee Jong Suk yang saya tonton. Nah, karena saya cukup suka dengan aktingnya, akhirnya saya memutuskan untuk menonton drama lain yang dia bintangi. Pilihannya ada banyak, mulai dari ‘W: Two Worlds’ (2016), ‘Pinocchio’ (2014), ‘Doctor Stranger’ (2014), dan drama-drama lain sebelum 2014. Setelah membaca beberapa review di internet, saya akhirnya memilih menonton ‘W: Two Worlds’ dulu yang dibintangi Lee Jong Suk dan Han Hyo Joo.

Ide cerita drama ini menurut saya keren banget. Alkisah Kang Cheul (Lee Jong Suk) adalah tokoh dalam cerita webtoon yang berjudul ‘W’ yang digemari seantero Korea selama 10 tahun. Kang Cheul di dalam manghwa (komik) adalah seorang atlet tembak yang memenangkan medali emas di Olimpiade di usia 17 tahun. Nasibnya berubah setelah ayah, ibu, dan kedua adiknya dibunuh bersamaan di rumah mereka oleh seorang penembak misterius. Kang Cheul yang saat itu tidak berada di rumah pun ditangkap dan dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Kang Cheul bersikeras kalau dia bukan pelakunya, namun jaksa penuntut yang ambisius dan suka perhatian publik pun bersikeras kalau Kang Cheul adalah dalang di balik semua tragedi itu. Kang Cheul dijebloskan ke penjara selama 1 tahun, dan setelah mengajukan banding dia akhirnya dinyatakan tidak bersalah. Hukum mengampuni dia, tapi tidak dengan masyarakat di sekitarnya. Kang Cheul kembali ke masyarakat dengan menyandang cap pembunuh, dan menghabiskan hari-harinya sendirian dan berusaha untuk menghindari orang lain. Pada satu malam, Kang Cheul memutuskan untuk bunuh diri dengan cara melompat dari Hangang Bridge, namun akhirnya dia berubah pikiran. Dia bertekad untuk hidup, menemukan pembunuh keluarganya, dan memastikan pembunuh yang sebenarnya mendapatkan hukuman yang setimpal.

Alur yang saya tulis di atas adalah setup yang diatur oleh penulis komik ‘W’ yang bernama Oh Sung Moo. Suatu hari, Oh Sung Moo menghilang padahal deadline untuk episode terbaru ‘W’ sudah di depan mata. Akhirnya asisten si komikus menghubungi Oh Yeon Joo, anak perempuan Oh Sung Moo yang berprofesi sebagai dokter, supaya dia bisa membantu menemukan ayahnya dan menyelesaikan komiknya. Oh Yeon Joo (Han Hyo Joo) datang ke rumah ayahnya, dan waktu dia sedang sendirian di ruang kerja ayahnya dia ditarik oleh tangan Kang Cheul yang secara ajaib keluar dari tablet yang dipakai oleh Oh Sung Moo untuk menggambar komik. Oh Yeon Joo pun “masuk” ke dalam manghwa dan mendapati Kang Cheul yang sedang sekarat karena ditusuk di atap sebuah hotel. Saat Kang Cheul mengalami pneumotoraks Oh Yeon Joo menyelamatkannya dengan cara menusuk dada Kang Cheul dengan pulpen. Kang Cheul sempat bertukar pandang dengan Oh Yeon Joo sebelum akhirnya dia pingsan dan diselamatkan oleh staf hotel dan paramediks. Saat hendak dimintai keterangan oleh polisi, tiba-tiba ada tulisan “Bersambung” muncul di dekat Oh Yeon Joo, seperti lazimnya episode sebuah komik yang ceritanya habis dan akan dilanjutkan di episode berikutnya. Sesudah itu Oh Yeon Joo secara misterius kembali ke dunianya di kota Seoul.

Akankah Kang Cheul bertemu kembali dengan Oh Yeon Joo? Bagaimana Oh Yeon Joo mengatasi dirinya yang bolak-balik terseret masuk ke dalam dunia komik yang didiami Kang Cheul? Kalau mau tahu lengkapnya, bisa tonton ‘W: Two Worlds’ di kissasian.ch dengan total 16 episode. Dijamin kamu akan suka dan sering bilang ‘daebak’ (bahasa Inggris: awesome – red) di tengah-tengah episode. Hehe.

Kembali ke WWYS (tapi belum membahas Lee Yoo Beom). Ada dua hal yang bikin ga sreg dari drama ini, yaitu:

  1. Lee Jong Suk dan Suzy tidak ada chemistry-nya.

Blas. Nada. Nihil. Asli ga keliatan rasa tertarik, deg-degan, dan jatuh cinta antara kedua karakter utama ini. Ga ada sama sekali. Mereka kan banyak mengalami peristiwa yang melibatkan pekerjaan Jae Chan sebagai jaksa, Hong Joo sebagai reporter, dan kadang-kadang juga Woo Tak sebagai polisi. Di situ mereka saling memperhatikan, saling mengkhawatirkan, dll, tapi tetep aja ga ada rasa ser-ser-nya. Hubungan mereka berdua itu lebih seperti sahabat yang jadi pacar, tapi tidak punya romansa. Padahal adegan kecup-kecupnya bisa dibilang banyak ya dibandingkan drama lain, cuma ekspresi wajah LJS dan Suzy tuh sama-sama ga meyakinkan. Dan setelah episode ke-16 Suzy tambah sering pasang tampang polos, gemesin, yang ujung-ujungnya jadi nyebelin. Ah, karakter wanita di drama yang paling oke menurut saya masih Kang Mo Yeon (diperankan oleh Song Hye Kyo di ‘Descendants of The Sun’). Kecup-kecup Jae Chan dan Hong Joo di bawah hujan setelah Hong Joo mengakui kalau dia ingat Jae Chan dari 13 tahun lalu pun tidak menggetarkan hati. Kayaknya salah banget LJS dipasangkan dengan Suzy. Saya bandingkan dengan chemistry LJS dengan HHJ di ‘W’, wah jauh banget. Sepanjang 16 episode saya tuh diseret dengan senang hati untuk merasakan perkembangan hubungan mereka dari sesama orang asing, penyelamat hidup, sempat saling membenci karena ada masalah dengan Oh Sung Moo (penulis komik ‘W’), sampai jatuh cinta, dan pura-pura menikah. Perasaan-perasaan mereka dipaparkan secara ekplisit dan implisit, dan konflik antara dunia nyata Oh Yeon Joo dan dunia komik Kang Cheul membuat perasaan-perasaan antara kedua tokoh utama ini jadi lebih gamblang dan lebih romantis. Karena LJS ga ada chemistry sama Suzy, untuk masalah pemeran wanita saya jadi lebih menyukai ‘W’ dibanding ‘WYWS’. Malahan yang lebih terasa deg-degannya adalah Woo Tak yang suka sebelah tangan pada Hong Joo. Adegan di mana Woo Tak memfoto bayangan dia dan Hong Joo cukup membuat hati saya sedih dan kasihan pada Woo Tak, karena saya lebih setuju Hong Joo sama Woo Tak daripada sama Jae Chan.

  1. Mr. Choi yang diselamatkan oleh Jae Chan dan Hong Joo 13 tahun lalu telat munculnya.

Telat banget-banget. Masak di enam episode terakhir baru ada petunjuk kalau Mr. Choi, investigator yang bekerja untuk Jae Chan, adalah kakak dari tentara yang membuat ayah Jae Chan dan Hong Joo terbunuh? Momen pengungkapan identitas Mr.Choi yang sebenarnya adalah saat dia datang menyelamatkan Jae Chan dan Hong Joo yang terperangkap api di rumah seorang tersangka yang mereka datangi. Saya jadi teringat teori Woo Tak tentang Jae Chan yang sering memimpikan Hong Joo dan dirinya sendiri yang sering memimpikan Jae Chan; orang yang hidupnya pernah diselamatkan oleh orang lain akan memimpikan penyelamat hidupnya itu. Karena Mr. Choi tidak bisa menjelaskan kenapa dia bisa tahu Jae Chan dan Hong Joo ada di rumah yang terbakar itu, saya langsung ngeh kalau Mr. Choi ada hubungannya dengan peristiwa 13 tahun lalu. Saya sangat suka dengan kemunculan Mr. Choi di semua kasus yang ditangani Jae Chan, jadi sayang banget kalau peran krusialnya cuma sedikit menjelang drama berakhir. Salah satu adegan yang sukses bikin saya menangis dan melibatkan Mr. Choi adalah saat Mr. Choi ditabrak oleh mobil Lee Yoo Beom. Di situ Jae Chan berlari dengan sekuat tenaga ke tempat kecelakaan dan menangis sesenggukan dengan sepenuh hati supaya Mr. Choi jangan mati. Akting Lee Jong Suk di situ bagus banget deh; saya pun jadi ikut menangis bersama dia, hehehe.

Sekarang tentang Lee Yoo Beom yang diperankan oleh Lee Sang Yeob. Di drama ini Lee Yoo Beom diceritakan sebagai seorang mantan jaksa yang beralih profesi menjadi seorang pengacara terkenal dengan bayaran mahal. Kepribadian Lee Yoo Beom yang licik dan tidak punya integritas sudah diceritakan sedikit demi sedikit, mulai dari kecelakan mobil yang membuat dia menjebak Hong Joo, masa lalunya yang pernah menipu Jae Chan dan keluarganya, dan tipikal klien yang dia tangani (semua kliennya di drama ini adalah orang-orang jahat dengan pelanggaran berat). Ada beberapa adegan di mana hati nurani Lee Yoo Beom terusik, misalnya: dia mencuci tangan sampai tangannya berdarah setelah dia bersalaman dengan seorang pembunuh saudara kandung untuk mendapatkan klaim asuransi. Jadi di sepanjang drama ada kelebatan petunjuk bahwa Lee Yoo Beom sebenarnya masih punya hati nurani. Namun hati nurani itu tidak bekerja lagi ketika kasus lama yang dia tangani kembali dibuka. Dalam kasus itu Lee Yoo Beom memalsukan barang bukti untuk menangkap seorang dokter yang bukan pembunuh sebenarnya. Kasus itu membuat dia diberi penghargaan sebagai jaksa berprestasi dan dokter itu divonis bersalah (di kemudian hari dokter itu memilih untuk bunuh diri di penjara). Anak si dokter adalah teman sekolah dari adik Jae Chan (kalau lihat drama Korea, kota Seoul yang gede itu kesannya cuma satu RT deh, semua muter di situ-situ aja, haha). Jae Chan pun berjanji untuk mengungkap kebenaran kasus itu walaupun ada kemungkinan Mr. Choi yang dia sangat sukai akan tersangkut masalah hukum. Lee Yoo Beom yang terdesak mulai kehilangan akal sehat dan melakukan serangkaian tindakan jahat. Dia membunuh pembunuh berantai sebenarnya dan terakhir dia menabrak Mr. Choi sampai meninggal. Waktu diinterogasi, Lee Yoo Beom bersikeras bahwa dia hanya sial makanya tertangkap, tapi Jae Chan bilang kalau pada dasarnya Lee Yoo Beom sudah berubah menjadi jahat dan menghalalkan segala cara untuk melindungi dirinya sendiri.

Saya kira itulah tujuan akhir/pertanyaan besar drama ini yaitu untuk menggambarkan jiwa Lee Yoo Beom yang terkorupsi oleh pamor, oleh jabatan, dan oleh uang. Entah kenapa melihat Lee Yoo Beom seperti melihat si om yang baru-baru ini menabrak tiang listrik. Apa si om pernah punya hati nurani dan rasa bersalah atas semua kejahatannya? Atau si om sudah mengabaikan hati nuraninya dan memakai semua cara supaya dirinya tetap aman? Semoga pengadilan bisa memberikan jawaban dalam waktu dekat.

Eh kok jadi curhat politik sih? Maaf, maaf, hehe.

PS: Kenapa saya pasang foto di atas? Karena menurut saya Lee Jong Suk sangat keren berperan sebagai jaksa dibandingkan sebagai profesi lain, haha.

Review Drama Korea: While You Were Sleeping

Yak, kita kembali lagi dengan review drama Korea.

Setelah mendedikasikan banyak waktu dan tenaga untuk menonton dan mereview My Secret Romance dan Bride of The Water God beberapa bulan lalu, akhirnya saya kembali dengan review drama While You Were Sleeping yang dibintangi Lee Jong Suk dan Bae Suzy. Saya belum pernah menonton drama yang dibintangi Lee Jong Suk jadi saya agak penasaran dengan akting dia. Tahun lalu saya menonton dengan setia drama Uncontrollably Fond yang dibintangi Bae Suzy dan Kim Woo Bin. Drama ini sungguh bikin baper dan ironis karena Kim Woo Bin ternyata beneran sakit (kanker) seperti yang dialami tokoh yang diperankannya dan sekarang sedang menjalani kemoterapi dan perawatan lainnya (semoga Oppa cepat sembuh ya!). Nah di drama ini Suzy berperan sebagai Noh Eul, seorang wanita yang tabah tapi sering sedih dan sering banget ditindas sama orang-orang yang lebih kaya, lebih berkuasa, lebih dll. dibanding dirinya. Jadi waktu saya tahu kalau karakter Suzy di WYWS akan sangat berbeda dibandingkan tahun lalu, saya cukup penasaran dan menantikan drama ini supaya segera tayang.

Dari judulnya mungkin banyak orang yang besar di tahun 90-an seperti saya jadi teringat pada film layar lebar While You Were Sleeping (1995) yang dibintangi oleh Sandra Bullock. Film ini termasuk genre romantis yang bikin termehek-mehek ditambah setting-nya yang shaydu di bulan Desember yang bertabur salju, sedangkan dramanya termasuk genre fantasi, kriminal, dan komedi (cerita romantisnya tidak terlalu ditonjolkan). Jadi ceritanya karakter Suzy (Hong Joo) mempunyai kekuatan supranatural di mana dia sering bermimpi hal-hal yang akan menjadi kenyataan. Mimpi-mimpinya cukup jelas dan setelah dia bangun dia akan menuliskan hal-hal yang dia lihat di serangkaian post it. Jika dia bisa, dia akan berusaha menghentikan/mengubah hal-hal buruk yang dia lihat di dalam mimpinya. Tidak dijelaskan apa yang menyebabkan Hong Joo memiliki kekuatan itu, tapi ayahnya sendiri meninggal karena mengabaikan mimpi anaknya.

Jalan hidup Hong Joo bersinggungan dengan Jae Chan (Lee Jong Suk), seorang jaksa muda, waktu Jae Chan menjadi tetangga baru Hong Joo. Tidak hanya itu, pria yang sedang dekat dengan Hong Joo yaitu Yoo Beom, seorang jaksa yang telah berganti profesi menjadi pengacara kriminal, ternyata adalah mantan guru les Jae Chan waktu dia masih duduk di bangku sekolah. Mereka bertiga bertemu dan baru menyadari kalau ternyata mereka semua saling mengenal di malam Valentine. Hong Joo dan Yoo Beom pergi makan malam dan setelahnya mereka mengalami kecelakaan mobil yang seharusnya menyebabkan seorang polisi bernama Woo Tak (Jung Hae In) meninggal. Yoo Beom yang egois menukar posisi dia di kursi supir dengan Hong Joo yang tidak sadarkan diri. Hong Joo koma selama hampir satu tahun dan ketika dia bangun dia kaget karena ibunya telah meninggal dan dia dituduh sebagai pembunuh karena dia kedapatan duduk di kursi supir waktu polisi datang ke TKP. Ibu Hong Joo harus bekerja keras untuk membayar uang kompensasi kepada keluarga korban dan biaya rumah sakit Hong Joo sehingga suatu hari dia kelelahan dan meninggal.

Jae Chan adalah jaksa yang ditugaskan untuk menangani kasus Hong Joo. Hong Joo berusaha meyakinkannya bahwa dia dijebak, bahwa yang mengemudi dan menabrak adalah Yoo Beom, tapi semua bukti forensik berkata lain. Akhirnya Hong Joo terjun dari atap rumah sakit untuk bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban hidupnya. Jae Chan berusaha menangkapnya tapi gagal, dan saat itu juga Jae Chan terbangun dari mimpinya.

Jadi … ternyata Jae Chan memimpikan semua kejadian yang dialami oleh Hong Joo mulai dari makan malam pada hari Valentine sampai saat dia mau bunuh diri. Karena dia tahu Hong Joo dan dia kenal kelicikan Yoo Beom, dia mengikuti mereka keluar dari restoran dan sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil Hong Joo supaya mobil itu tidak menabrak Woo Tak yang saat itu hendak menyeberang jalan. Cerita selanjutnya adalah seputar Jae Chan yang berusaha menyangkal bahwa dia memiliki kekuatan supranatural yang berkaitan dengan Hong Joo, dan Hong Joo yang berusaha menarik hati Jae Chan. Mereka berdua bertemu kembali dengan Woo Tak waktu Woo Tak menjadi polisi yang menahan seorang tersangka pelaku kekerasan rumah tangga. Kasus itu ditangani oleh Jae Chan sebagai jaksa dan juga melibatkan adiknya yang bernama Seung Won. Woo Tak juga mengalami mimpi-mimpi yang berkaitan dengan Jae Chan dan dia berteori bahwa hal itu terjadi karena Jae Chan adalah orang yang menyelamatkan hidupnya. Jae Chan menyangkal teori itu karena bagaimana mungkin dia memimpikan Hong Joo padahal mereka baru saja bertemu. Dia tidak ingat kalau Hong Joo pernah menyelamatkan hidupnya waktu mereka berdua masih remaja.

Drama ini sangat seru. Dalam 16 episode (dari total 32 episode) ada 2 kasus yang ditangani dengan tempo yang pas dan tidak bertele-tele. Para aktor pendukung terlihat sangat meyakinkan, mulai dari pelaku kekerasan rumah tangga sampai dengan pelaku pembunuhan saudara kandung untuk mendapatkan klaim asuransi jiwa. Ketegangan yang dibangun oleh kasus kriminal, perkembangan romantisme dalam hubungan Jae Chan dan Hong Joo, rivalitas antara Jae Chan dan Yoo Beom karena kecelakaan motor yang terjadi di masa lalu mereka, dan dinamika pergosipan dan senioritas di kantor berpadu dengan sempurna. Yang paling fenomenal menurut saya adalah pengibaratan para jaksa yang bertugas di ruang pengadilan seperti para anggota paduan suara dengan jubah mereka. Asli kocak banget!

Lee Jong Suk sebagai Jae Chan berhasil menampilkan karakter yang alay, suka selfie ga jelas, slebor waktu di rumah, kontradiktif, tapi memegang janji. Melihat sikapnya yang berubah-ubah jauh lebih menyenangkan daripada melihat cowok yang pendiam dan dingin. Suzy sebagai Hong Joo juga sangat ekspresif, kocak, polos, dan peduli pada orang lain. Saya malah menduga karakter dia di sini sangat mendekati karakter aslinya di kehidupan nyata. Yang paling bikin ngiler adalah Jung Hae In sebagai Woo Tak. Sebagai polisi muda dengan body yang jadi, baby face walaupun dia berusia 29 tahun, dan manner yang baik, dia adalah second male lead paling kece yang saya lihat sepanjang tahun ini. Woo Tak pakai baju bebas = kece. Woo Tak pakai seragam polisi = WOW, KECE BADAI! Jung Hae In adalah eye candy baru dan semoga dia bisa dapat peran yang lebih signifikan di drama-drama berikutnya ya. Melihat dia seperti melihat Oppa-oppa generasi baru sesudah generasi Lee Min Ho dan Lee Joon Gi.

Kali ini SBS mengambil format yang cukup unik dengan memotong durasi 1 episode dari yang biasanya 60 menit menjadi hanya 30 menit saja. Saya rasa ini cocok untuk drama yang ada unsur kriminal supaya kita bisa sedikit bernafas di fase antiklimaks, dan juga cocok untuk menemani waktu saya menyetrika. Setiap kali saya menyetrika pakaian saya menghabiskan waktu antara 1.5 -2 jam. Kalau menyetrika sambil menonton drama yang 1 episode 60 menit biasanya saya harus menambah waktu 30 menit untuk menyelesaikan episode berikutnya yang sudah terlanjur dimulai. Jadi secara pribadi saya lebih suka drama dengan durasi pendek seperti ini. Oya, saya juga suka tema drama ini karena saya sendiri sering bermimpi tentang orang lain. Tidak, saya tidak punya kekuatan supranatural. Setiap kali saya memimpikan seseorang biasanya saya akan kontak orang itu untuk menanyakan kabar, karena sering kali orang yang saya mimpikan sedang mengalami suatu hal besar dalam hidupnya (detailnya ada di post ini).

Masih ada sisa enam belas episode lagi dan saya sungguh berharap Woo Tak akan muncul lebih banyak (makanya saya pasang foto dia untuk post ini, wkwk). ‘While Were You Sleeping’ bisa disaksikan di kissasian.ch dengan subtitle bahasa Inggris.

PS: review final drama ini bisa dilihat di sini ya.

Book Review: RANDOMNESS INSIDE MY HEAD

My dear third cousin went to the same university with me, but we never really got connected with each other until a few years ago when I visited her and her family abroad.

She has been a great supporter, a comforter, and an honest critic for my works. It’s been a tremendous joy to answer her questions regarding the backgrounds and the plots in my first book, because those questions make me think more, contemplate more, and write better.

Today I am deeply humbled to have her reviewing “Randomness Inside My Head” (2016).

Enjoy!

http://blog.compactbyte.com/2017/09/01/review-buku-randomness-in-my-head/

Masih Tentang Nam Joo Hyuk dan Bride of The Water God

Mengapa saya menaruh foto dari manhwa Bride of The Water God karya Yoon Mi Kyung di awal post ini? Karena menurut saya cerita manhwa BOTWG jauh lebih bagus dari versi dramanya yang baru tamat di tvN tanggal 22 Agustus lalu.

Saya sudah pernah mereview drama ini setelah selesai menonton 7 episode pertama . Dalam review tersebut saya optimis versi drama akan memiliki jalan cerita yang tidak kalah menarik dari versi manhwa. Perbedaan mendasar antara drama dan manhwa sudah terlihat sejak episode pertama, di mana So Ah aslinya adalah gadis yang dikorbankan untuk membuat Dewa Air, Habaek, menurunkan hujan di suatu desa yang sedang kekeringan. Di dalam drama, So Ah adalah seorang psikiater keturunan dari keluarga yang sudah berjanji akan melayani para dewa seumur hidup mereka. Episode ke-8 dibuka dengan Habaek yang baru sadar kalau koordinat yang dia cari ternyata terpatri di peta Vanuatu yang selalu dibawa So Ah di sakunya. Setelah itu Habaek bertemu dengan Dewa Bumi yang sempat kehilangan ingatan (kota Seoul begitu luas, tapi bisa ya mereka bertemu di satu titik di taman itu). Setelah ingatannya kembali, Dewa Bumi memberikan batu dewa miliknya kepada Habaek sehingga tidak ada lagi alasan buat Habaek untuk tetap tinggal di dunia manusia. Adegan yang meluluhkan hati di episode ini adalah saat So Ah memeluk Habaek dari belakang sambil menangis karena dia tidak ingin Habaek kembali ke Negeri Air.

Jalan ceritanya masih bagus ya?

Yuk, kita lanjut. Setelah itu mulailah tarik-ulur perasaan antara So Ah dan Habaek. So Ah ga berani mengakui perasaannya pada Habaek, dia tahu Habaek akan segera meninggalkannya, dia tidak ingin bergantung pada Habaek dan kemudian dikecewakan (seperti ayahnya dulu mengecewakan dia), dia berulang-ulang bilang ingin ada perpisahan yang indah antara mereka berdua, tapi … semua tindak-tanduknya tidak menunjukkan kerelaan hati yang sebenarnya. Lain di mulut, lain di sikap gitu lho. Gemes kan? Habaek juga sama aja. Ga berani menyatakan perasaan secara langsung, cuma nanya: bolehkah aku memulainya? Habis itu dia mabuk-mabukan ditemani Bi Ryeom dan meracau sampai meluk So Ah segala. Drama Korea ya, mau tokoh utama ceritanya adalah dewa atau manusia pasti ada satu adegan frustasi-mabuk-mengakui perasaan. Betapa membosankan. Setelah itu banyak adegan di mana mereka seperti pacaran: membersihkan rumah sama-sama, ketemuan di cafe, punya mug couple (#eaaaa), bikin gimbap sama-sama untuk rencana piknik di tepi pantai. Apa daya sebelum mereka pergi ke pantai Moo Ra datang dan menculik So Ah. Di atas sebuah gedung sangat tinggi yang sering jadi lokasi syuting drama ini (saya penasaran dengan nama gedungnya), Moo Ra memberitahu So Ah tentang Nak Bin.

Siapakah Nak Bin?

Nak Bin di manhwa adalah istri pertama Habaek. Latar belakangnya sama dengan di drama: seorang gadis yang dikorbankan untuk Habaek dan ternyata Habaek malah jatuh cinta padanya. Di drama dijelaskan kalau Nak Bin mengkhianati Habaek dengan cara bersekongkol dengan Raja dari Negeri Langit. Raja itu menjanjikan hidup abadi pada Nak Bin asalkan dia membantunya untuk merebut kekuasaan dari Habaek yang sudah ditakdirkan untuk menjadi kaisar negeri para dewa. Di manhwa Nak Bin tidak mati; dia hidup sebagai zombie dan tidak bisa meninggalkan Negeri Langit karena jiwanya ditahan oleh Raja Negeri Langit. Di drama, Habaek tidak memaafkan Nak Bin walaupun Nak Bin beralasan dia ingin hidup abadi supaya dia bisa terus bersama Habaek, dan Nak Bin pun dibunuh dengan cara ditenggelamkan di laut. Tidak hanya itu, Sri Ratu negeri para dewa (ga jelas apakah ini ibunya Habaek) memaksa kakak laki-laki dari Nak Bin dan semua keturunannya untuk bersumpah menjadi pelayan para dewa. Nah, So Ah adalah keturunan dari kakak laki-laki Nak Bin itu. Apakah So Ah cemburu dengan kisah cinta pertama Habaek? Sepertinya iya. Yang jelas dia menyuruh Habaek untuk segera kembali ke Negeri Air dan dia berpura-pura kalau dia baik-baik saja. Yeah, right. Di sini akting So Ah bagus deh; dia benar-benar keliatan sekuat tenaga menyembunyikan kesedihannya. Entah karena make-up atau akting yang kuat, yang jelas wajahnya memang keliatan jadi lebih kusam dan kurus selama masa dia ditinggal Habaek.

Oya, Habaek kembali lagi ke dunia manusia, lho.

Wait, what? Bukankah dia ke dunia manusia untuk mengambil tiga batu dewa terus harus kembali ke Negeri Air untuk pengukuhan tahtanya?

Ternyata oh ternyata Habaek dikasih tugas lagi sama pendeta tertinggi untuk mencari jawaban kenapa ketiga batu dewa sengaja diletakkan di dunia manusia. Apakah Habaek berhasil menemukan jawabannya? ENGGAK TUH. Sejak Habaek kembali ke rumah So Ah, kerjaannya pacaraaannnn melulu. Dan konyolnya saat dia datang untuk kedua kali dia tetap menjadi seorang dewa tanpa kekuatan supranatural. Kekuatan dia yang menciptakan perisai air untuk melindungi So Ah waktu So Ah terancam bahaya hanya ditunjukkan dua kali di episode-episode awal. Sesudah itu Habaek cuma duduk di belakang setir, ga jelas sehari-harinya ngapain. So Ah juga begitu, ga jelas kerja atau enggak di kliniknya. Tiba-tiba udah malam aja dan mereka bertemu di gang yang menuju rumah So Ah (adegan Habaek menunggu So Ah di bawah lampu jalan memang sangat romantis sih. Hati saya aja bergetarrrr).

Udah mulai bosan?

Sama. Karena perpindahan antar adegannya ga halus dan tarik-ulur antara Habaek dan So Ah terlalu lama. Saya udah pengen teriak ke HP saya: putuskan dong, mereka bisa bersama atau enggak. Fakta #1: Habaek itu dewa, dia hidup abadi dan tidak akan pernah menua dan mati, dia harus kembali ke Negeri Air karena tanpa Negeri Air dia akan mati (begitu pula sebaliknya). Fakta #2: So Ah itu manusia, dia menua dan suatu saat dia akan mati, dia tidak bisa ikut Habaek ke Negeri Air. Kalau begitu jelas kan kesimpulannya, pisahkan saja mereka berdua. Eh tapi eng-ing-eng di episode 15 dan 16 mulai keliatan titik terang solusi jalan tengah yang dipikirkan oleh So Ah.

Apakah itu?

Begini, Habaek hanya bisa mengabulkan satu keinginan So Ah yang paling-paling dia inginkan. Dan So Ah tahu kalaupun dia hidup lama dia hanya akan hidup 40 – 50 tahun lagi (usianya sekarang 30 tahun). Jadi …, dia mengusulkan supaya pengokohan Habaek sebagai kaisar negeri para dewa ditunda sampai dia meninggal. Selama 40 – 50 tahun ke depan dia minta Habaek tinggal bersama dia di dunia manusia, karena apalah artinya sekian tahun itu dibandingkan umur Habaek yang sudah 3.000 tahun?

I was like … WHAT???

Solusinya segitu simple? Benarkah? Apa ga terpikir oleh PD-nim untuk memberikan jawaban terhadap hal-hal yang mungkin terjadi jika mereka berdua ini bersama?

  1. Oleh karena Habaek tidak menua, kebayang ga gimana penampilan pasangan ini waktu So Ah jadi nenek-nenek dan Habaek tetap muda dan singset?
  2. Terus, gimana dengan anak? Bukankah demigod seperti CEO Shin dilarang keberadaannya. Jadi So Ah dan Habaek ga boleh punya anak dong, kalau ya anak itu akan dinamai So Chi (disgrace) seperti nama CEO Shin waktu kecil.
  3. Udah gitu kebayang ga apa yang akan terjadi dengan Habaek setelah So Ah meninggal? Dia akan melupakan So Ah dan jatuh cinta dengan wanita baru yang kemungkinan besar masih ada hubungan keluarga dengan Nak Bin (lihat saja Habaek yang dua kali jatuh cinta dengan dua wanita dimana wanita pertama adalah nenek moyang yang hidup 1.200 tahun sebelum wanita kedua). IYUH! Menyedihkan ya hidup jadi dewa, fisiknya selama beribu-ribu tahun tidak mengalami perubahan tapi cinta yang diberikan harus berubah sesuai dengan wanita yang tersedia pada saat itu.

Aku benar-benar kecewa dengan penutup dari drama ini. Dan juga kecewa dengan Habaek yang sangat mengumbar nafsu seksualnya. Tidak seperti kebanyakan drama korea yang minim adegan ranjang dan adegan-adegan ciumannya pun bisa dibilang indah dan romantis, NJH di BOTWG mah sangat nyosor. Sebel liatnya. Yang cukup menghibur hati adalah kemajuan hubungan antara Moo Ra dan Bi Ryeom. Wow, Krystal dan Gong Myung cakep deh; aku jadi fans baru mereka (*wink*). CEO Shin sayang sekali sampai episode akhir tetap jadi karakter yang ga kuat. Saya kira dia benar-benar akan jadi saingan Habaek untuk memperebutkan So Ah, tapi ternyata tidak begitu. Walaupun dia sudah didorong-dorong supaya jadi jahat beneran oleh Bi Ryeom, CEO Shin tetap jadi orang baik. Ah, karakter dia sama sekali tidak meninggalkan kesan yang mendalam.

Drama yang idenya mungkin bagus (spin-off dari manhwa), tapi sayangnya script-nya lemah, karakterisasi tokoh-tokohnya lemah, dialognya lemah, dan akting bintang-bintangnya pun lemah. Ditambah dengan product placement yang terlalu sering, jadilah drama ini penuh gangguan dan kurang fokus. Kopi instant merk Kanu dan Maxim BERKALI-KALI di-close up di 8 episode terakhir. Terus, di dalam drama ini banyak sekali kalimat “Apa yang kamu bicarakan?”, “Apa yang kamu maksud?”, seakan-akan semua pemeran drama ini memiliki masalah pendengaran sehingga suatu pernyataan/pertanyaan harus diulang berkali-kali. Rating drama ini terbilang sangat rendah dibandingkan drama NJH sebelumnya (Weighlifting Fairy: Kim Bok Joo) dengan angka maksimal di 3.5% untuk episode ke-6 (saya harus akui, episode 6 itu memang paling bagus: ceritanya padat, pace-nya tepat, aktingnya kuat), dan minimal di angka 2.3% untuk episode ke-15 (wah, ini saya sangat setuju. Nonton episode 15 bikin saya ga sabar supaya drama ini cepat berakhir. Bukan karena saya penasaran dengan kesimpulan ceritanya, tapi karena saya harus menyelesaikan apa yang saya sudah mulai tonton).

Demikianlah review dari saya. Hal positif yang saya dapat: melihat Krystal dan Gong Myungyang seperti bintang yang mulai bersinar. Hal negatif: akting dan penampilan Nam Joo Hyuk yang seperti terjun bebas dari drama sebelumnya. Lalu bagaimana dengan Shin Se Kyung yang memerankan So Ah? Apakah saya terkesan dengannya?

Shin Se who?

Movie Review: Cars 3

“Cars 3” is a typical Disney family movie with good vs. evil/bad/bully and a happy ending for everyone. The difference this movie had was the happy ending came with an unexpected twist. Do you still remember the movie “Cars” back in 2006? I watched it on Netflix 10 years after the first installment was out, and I was still very much entertained. Until now I can’t say that I’m familiar with the movie characters and story lines. All I know that whenever my kids get invited to birthday parties, they often come home with the face of Lightning McQueen, the Rust-eze race car number 95, on their goodie bags.

In 2017, Lightning McQueen was not as fast, as heroic, as amazing as he was. The movie opened with McQueen meditating before a race, joking around with his fellow veteran racers, and getting ready to take on the 500 laps. He was leading until right before the finish line a rookie racer, a new car dubbed Jackson Storm, went faster than McQueen did and won the race. McQueen was taken aback by the fact that a rookie beat him and he didn’t see it coming. Storm, being arrogant and such, bragged to the reporters about looking up to McQueen as his childhood hero and he suggested McQueen to just retire, because the race track now belonged to the newer and more modern cars.

Storm’s statement got me thinking: how old was Lightning McQueen actually? In one scene, it was stated that he was a childhood hero of a car-kid. In another scene, the soon-to-be his trainer, Cruz Ramirez, said that she had seen him racing on TV since her grandfather’s days. Was McQueen that old? Well, I guessed car age was supposed to be different than human age. After the shocking result of the race, McQueen went back to his hometown and tried to think through about the meaning of being old and needing to retire. His friend, Sally, encouraged him to go back to Rust-eze, which he did, only to find that Rust-eze was already sold to Sterling. Sterling as the new owner wanted McQueen to train like the rookies, with simulators and a dedicated trainer. There came the role of Cruz Ramirez, a female (although the name suggested it’s a male) racing car trainer who was responsible to increase McQueen’s speed to match Storm’s.

It’s interesting to see how McQueen training under Cruz, and to see Cruz exercising her claimed competences as a trainer. First of all, she’s not a racer herself, and that made her, I think, lacking the credibility to teach other cars to race. She might be good in theories, but I could tell that she lacked the intuitions and she couldn’t embrace the unknown factors in racing. That was shown when she accompanied McQueen practicing racing on the beach. Seeing her reminded me of the teachers I had back in school, who were never involved in any kind of industry but were supposed to teach us about industry and its complexities. McQueen and Cruz started to get to know each other and she admitted to him that she wanted to be a race car. She participated in a race once and right there she knew that she couldn’t do it. She asked McQueen how he knew that he was meant to be a race car. McQueen’s answer was a total gem: “I never thought that I couldn’t.” And that, people, was one of the best motivational quotes I’d ever heard coming from a cartoon character.

McQueen underwent several peculiar ways to gain back his confidence, including taking part in some village’s phenomenal race in the mud, and finding Smokey who was once a mentor to Doc, McQueen’s mentor. I particularly liked how Smokey and the other veteran cars encouraged McQueen to get his head back in the game by providing him with the basic training, i.e. driving in the middle of the woods without any headlamps on (they only relied on the moonbeam to show them the way), and driving through a herd of car-cows (I must say that it’s hilarious to see cars in the shape of cows. My kids and I rolled out with laughter all through this scene). During McQueen’s training with Smokey, Cruz was appointed to be his training partner and in doing so I believed she found again her long-forgotten passion for racing. Cruz unintentionally got a firsthand training on how to become a racer; a trainer who got trained by a real racer to be a real racer and not merely a teacher. That’s interesting.

The day of the racing arrived; McQueen, Cruz, and the rest went to Florida to participate in the racing which would determine what McQueen would be doing next. Would he lose and be forced into retirement, and have to spend the rest of his car life selling car-related cleaning products? Or would he win and be given other opportunities by Sterling as his new sponsor? Even right before the race started, McQueen hadn’t gotten back his confidence. He didn’t race wholeheartedly, was very much influenced by what Storm had been saying to him during the race to mess up with his head. The funny thing was, he suddenly decided that it was his time to step back and let someone who’s actually been prepared for the race to take his place. On the pit stop McQueen told his team to prepare Cruz to race for him. They quickly painted the number “95” on her, ignoring the protests and discouragement from Sterling, her boss, who kept saying that she’s supposed to be a trainer and not a racer. Second moral lesson here; don’t let anyone put you and your dreams down. We can do much more things than we can think of as long as we have the confidence.

So, to the end of the movie Cruz was racing in McQueen’s place. Before the finish line, she went body to body with Storm. She tried hard to ignore Storm’s mocking her as just a girl in the custom (kind of reminded me of the “Wonder Woman” movie), drifted with him, flipped over him, and won the race. McQueen and Cruz won the trophy and he confirmed himself as her trainer from now on, just like the late Doc did for him. Third moral of the story, know yourself and know when to let it go. I had expected the movie to end with McQueen winning the race and claiming back his long profound glory, but the twist went unexpectedly with Cruz shining as a rookie racer and McQueen volunteering to train her.

The plot holes were only when Rust-eze was suddenly sold to Sterling, and when it suddenly dawned on McQueen that he had unintentionally trained Cruz to be a racing car and not the other way around. I had suspected that Sterling also sponsored Storm and he just wanted money from both racers. I guessed I forgot that “Cars 3” was a children movie after all, and an ulterior motive would be hard to understand by children. And I didn’t expect McQueen’s realization would come so suddenly in the middle of the race when he was supposed to focus more on winning. Oh well, just like I said, the happy ending came with an unexpected twist. It was an okay movie for me, a wonderful movie for the kids. After accompanying the kids watching “Cars 3” and accompanying my husband watching a horror movie “Annabelle: Creation” yesterday, I’m determined to go back to my original taste of movie.

“Battleship Island” starring Song Joong Ki, I’m coming for you tomorrow!