Bond – The Novel

Bukan Kampret, Apalagi Cebong

Mamak dongkol.

Menjelang debat Pilpres putaran kedua timeline di medsos mamak mulai penuh dengan orang kelahi. Sudah banyak yang ku-unfollow waktu Pilpres 2014, ada juga yang ujung-ujungnya ku-unfriend karena sudah terlalu menyebalkan. Bayangkanlah, pagi-siang-malam, politik terus bahasannya. Isi medsos-nya penuh dengan sanjungan buat capres pilihannya, tapi lucunya ga ada opini dia yang orisinil. Semuanya hasil copas dari timeline orang lain atau comot dari situs berita online, entah gimana kredibilitas situs-situs itu.

Kupikir waktu itu, dan kupikir juga sekarang, enak kalilah hidup kawan ini ya. Ga diselesaikannya kah kuliahnya? Ga dicarinya kah makannya? Ga ditegur bosnya kah waktu dia pegang HP terus? Macam betul aja orang mau fokus kerja kalau sehari bisa lebih dari tiga kali ganti status soal Pilpres.

Mamak kira bersih-bersih lima tahun lalu sudah cukuplah untuk menjaga kewarasanku, seperti prinsip hidupku bahwa bukan orang waras yang ngalah, tapi orang waras yang harus bisa mempertahankan kewarasannya. Ternyata aku salah besar. Walau sudah banyak akun yang ku-unfollow, ku-unfriend, bahkan ku-block karena koar-koarnya sudah keterlaluan soal Pilpres/hidup/mati/surga/neraka, eh bocor juga di newsfeed-ku tulisan-tulisan mereka yang menyebut diri pegiat media sosial.

Pegiat media sosial? Profesi baru nya itu? Kutengok sikit fanpage mereka dan kusimpulkan bahwa kawan ini adalah komentator buat semua peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Pekerjaan sehari-hari? Ga ada kejelasan.

Darah Mamak sedikit mendidih waktu si pegiat ini sok-sokan membandingkan pemilihan presiden dengan pemilihan calon suami/menantu/mertua, dan seterusnya. Perlu kurasa kawan ini google banyak-banyak biar dia ngerti sikit pemilihan presiden itu pemilihan administrator pemerintahan. Asal kau tahu, kawan, administrator itu orang yang mengatur, mengurus, menjalankan; ibaratnya manajer lah di suatu perusahaan.

Bangsa ini perlu administrator, supaya negeri yang (kata orang) kaya raya tapi orang-orangnya suka kali berkelahi ini bisa punya hidup yang layak, yang cukup untuk generasi sekarang dan seterusnya. Ga ada itu kita pilih calon presiden kayak kita pilih calon suami/menantu/mertua dan seterusnya, wong Pilpres ini cuma jalan setiap lima tahun sekali.

Kandidat datang dan pergi, partai politik musuhan dan baikan, semuanya tergantung kepentingan. Kalau rakyat suka sama satu orang presiden, dia bisa terpilih untuk lima tahun lagi. Kalau tak suka, ada orang lain yang akan terpilih. Emangnya kau mau pilih itu suami/menantu/mertua untuk jangka waktu lima, maksimal sepuluh tahun? Macam betul aja kau ini.

Oleh karena yang kau cari adalah administrator negara yang job specification dan job description-nya sudah ada di dalam UUD dan UU, maka kau turutilah aturan-aturan itu. Bukan urusanmu kalau si calon saat ini single, cuma rujuk sama mantan istrinya kalau mau Pemilu. Ga ada disebutkan di UUD/UU seorang presiden harus punya istri, anak-mantu yang tidak luntang-lantung, dan cucu yang lucu-lucu. Dan bukan urusanmu pula kalau anak si calon tinggal dan berkarir di luar negeri dengan segala gaya hidupnya; yang kau mau pilih kan bapaknya bukan anaknya.

Ada kawan yang tanya, “Tapi, Mak, kalau dia ga becus urus keluarga, gimana pula dia mau urus negara?” Hei, kawan, kukasih tahu kau ya apa yang kupelajari waktu aku masih kerja di HRD. Waktu rekrutmen karyawan baru hanya ada dua hal yang kami cari: orang yang sudah berpengalaman atau fresh graduate.

Kalau posisi yang kosong itu perlu orang yang sudah berpengalaman, wajarlah kalau kami tanya-tanya gimana pekerjaannya di tempat yang lama, apa situasi/tugas yang dia hadapi/terima, apa yang dia lakukan untuk mencapai hasil maksimal. Dari jawabannya kami bisa nilai, kira-kira orang ini cocok atau tidak untuk kerja sama kami. Nah, untuk fresh graduate kami modifikasi sikit pertanyaannya karena pengalaman kerja dia pun tak punya. Kami tanya-tanya, dulu dia ikut organisasi apa, kepanitiaan apa, mendapat tugas apa, pernah berhasil melakukan apa, gitu-gitulah. Dari situ kami nilai mentalitasnya, bisa ga orang ini kerja keras untuk menguntungkan perusahaan.

Mamak kira ga cocok kalau kemampuan seorang capres membina rumah tangga kau jadikan acuan untuk memimpin negara. Jabatan presiden perlu pengalaman kerja bukan pengalaman berkeluarga, dan dari sharing-ku di atas, paling masuk di akalku kalau kita pilih calon yang sudah punya pengalaman jadi presiden.

Orang itu sudah tahu sistem, punya visi-misi, punya tim yang bisa dipimpin dan dituntut hasil kerjanya, kenapa pula tak kita kasih dia kesempatan untuk menyelesaikan apa yang dia sudah mulai selama masih ada waktu? Kalau orang yang menduduki kursi presiden diganti tahun ini, aku hanya khawatir banyak pekerjaan yang akan berhenti di tengah-tengah.

Pilpres itu seperti re-organisasi di suatu perusahaan, dan dari pengalamanku, re-organisasi itu ibarat mengguncang satu pohon besar yang dahan-dahannya diduduki ratusan burung. Setelah diguncang, pohon dan dahan-dahannya tidak berubah, tapi posisi burung-burung semuanya berubah. Kenapa pula kita mencari disrupsi kalau kita masih bisa hidup dengan stabilitas?

Jadi jelas ya kalian orang yang suka kali melabeli diri, berkumpul dalam kubu, berani kalau ramai-ramai saja; jangan kau buat Pilpres ini jadi pemisah antara kau dan keluargamu, tetanggamu, sahabatmu, temanmu, kenalanmu. Ga usah kau paksa-paksa orang pilih si A, si B, karena kata oppung Mamak, “Lover’s gonna love, hater’s gonna hate, bro.”

Setiap orang sudah punya pilihan masing-masing dengan sejuta alasan di belakangnya dan mereka ga punya kewajiban menjelaskan alasan-alasan itu padamu. Lagipula, siapa yang tahu siapa yang dipilih setiap orang di dalam bilik suara itu? Yang dihitung KPU adalah data rekapitulasi, bukan pilihan setiap individu.

Semua deklarasi mendukung si A, si B tak ada poinnya di mata Mamak, karena tak ada yang bisa memverifikasi apakah orang itu benar-benar pilih calon yang dipromosikannya. Kukira ada baiknya asas LUBER saat Pemilu diteruskan ke orde Reformasi, karena pilihan politik itu wilayah privat. Bukan urusanku siapa yang kau pilih, bukan urusanmu siapa yang kupilih.

Jadi kawan-kawan yang masih bangga bersalin rupa menjadi kampret dan cebong, sadarlah. Bubarlah. Stop lihat dirimu dan orang lain sebagai ‘aku’ dan ‘kamu’, dan mulailah melihat ‘kita’. Kita ini satu bangsa, lahir dan besar di sini, menjalani hidup dan mencari nafkah di sini; mulailah kita pikirkan kebaikan bersama.

Mamak punya pilihan politik, tapi aku tak sudi dilabeli sebagai kampret, apalagi cebong. Kenapa pula aku disandingkan dengan kampret yang hidupnya terbolak-balik? Aku masih manusia normal, kakiku menginjak bumi, malam aku tidur bukannya mencari mangsa. Apalagi disandingkan dengan cebong! Organnya tak lengkap, cuma sebentuk massa seperti kepala yang tersambung dengan ekor, sedangkan aku manusia dengan panca indera yang semuanya bekerja dengan baik.

Pikirkanlah baik-baik ocehan Mamak ini ya. Demi kewarasanmu, demi hubunganmu dengan orang lain. Pada waktunya nanti, pergilah kau ke bilik suara itu, cobloslah sesuai dengan pertimbangan akal sehatmu, dan berhentilah sampai di situ. Tak usah kau rundung saudaramu yang berbeda pilihan.

Para politikus itu kalau ketemu asyik-masyuk swafoto kok, ngapain pula kau di akar rumput sibuk kelahi, berantem sama keluarga, hilang saudara, putus sama pacar gara-gara kau pilih si nomor 1, dan bukan si nomor 2?

Advertisements

Why ‘Crazy Rich Asians’ Is Driving Me Crazy

If you’re looking for a positive review about the movie, I suggest you to move along because you will not find it here.

I decided to watch ‘Crazy Rich Asians’ (CRA in short) just because everybody I know had watched it. Were they entertained? Some yes, others no. Was it a good movie, I asked. Define what you mean by good, was the answer. My acquaintances’ reception of this movie was mostly lukewarm, so the parade of accolades this movie had received in the past months was what finally piqued my curiosity.

The movie can be concluded by one premise, if I may:
a naive American-Born-Chinese professor doesn’t know that her boyfriend is filthy rich, and when she does, she’s trying to get his mother’s approval because she has less money than him.

Why do I say that the female lead is naive? Because if she’s a professor, which implies that she’s pretty smart and not just pretty, and they have reached that meet-the-family stage of their dating life, she should have observed that her boyfriend is above average, appearance-wise. Just look at his clothes, his slick hair, his larger-than-life wristwatch, Girl. Just look at how polished he looks, sitting at the bar where you two are sharing dessert, or you’re stealing his food, or whatever. If he’s asking her to come with him to Singapore from where he originates, they must have been together for a while, no? And all this time doesn’t she get the hints that he’s super rich, or does she just not care at all about his background and what he does for a living? I suppose the moment she steps into that first class of their flight to Singapore is the first time she realizes: wow, have I accidentally struck gold? Naive? Checked. Wait, I haven’t even commented on the way she reacts after she finds out from Nick’s family that she was born out of wedlock and her mother fled her legitimate husband. For a person who has been told lies about her origins, doesn’t she forgive her mother too easily? Ugh, the long list of Constance’s failures to make her character believable just keeps on going. I find her acting much better when she’s in ‘Fresh Off the Boat’.

Let’s move on to Peik Lin, Rachel’s friend from college who comes from new money in Singapore. Fashion-wise she looks eclectic and eccentric, totally displeasing to the eye. I prefer the Awkwafina in ‘Ocean’s 8’ who was stealing from people and speaking almost nothing, than this clichéd socialite who forces her way into (or accidentally included in?) Nick Young’s circle just because Nick is dating her friend. She provides safe haven when Rachel weeps over her broken heart. A perfect wingwoman in a country foreign to an American-Born-Chinese? Checked.

How about the male lead? Oh, don’t get me started. CRA gets so much hype because it claims its cast to be all Asians. Well, almost. Henry Golding’s father is British and as I recall, Britain has never been a part of Asia. The fact that Henry Golding is biracial is many times overseen by the media. It won’t bother me much either, if only he can act. He doesn’t present himself as a man who is crazy rich. The fancy suits, shirts, khakis he’s wearing don’t really show that he’s born with silver spoon in his mouth. I can’t feel his chemistry with Rachel. I can’t see a man who is in love. I can’t believe he is head over heels for a common girl, all ready to give up his family business and defy the orders from his grandmother, the family matriarch. He’s just not acting it out. And if you think I’m looking down on his acting ability, I suggest you to watch ‘A Simple Favor’ (2018) where he plays opposite Anna Kendrick and Blake Lively, and you’ll know what I mean.

The only thing which keeps me watching is Michelle Yeoh. Less impressive than when she was in ‘Crouching Tiger, Hidden Dragon’ or acting as one of Bond girls, her performance is still very much superior to the other actors’. I haven’t read the book so I have hoped she will not approve Rachel until the end, due to Rachel’s questionable family background and social-economy gap between the love birds. The scene where Nick proposes to Rachel with Eleanor’s emerald ring is very disappointing.

In conclusion, I don’t think CRA is that good of a movie. Is it funny for a comedy? I can’t remember laughing within its 120 minute duration. Is it romantic? I’ve seen more romantic scenes in Korean dramas. Is it touching? Indeed, no. Rachel should be angrier when her family background is investigated behind her back. She should be more disappointed in her mother for lying to her all this time. Is it grand in terms of sets and costumes? I think the Young mansion looks old and outdated instead of classic and regal like how it is meant to. And when Nick’s bestfriend’s bride walks along the watered alley, making notable splish splash sound with the skirt of her wedding dress, I’m suddenly reminded of Peppa Pig playing in the muddy puddle with her brother, George. And boy, how will standing at the altar with a wet dress make a bride look flattering on her big day?

To close this review of complaints I will make an educated guess of why CRA receives so many nominations. It is riding on the momentum that Hollywood is enforcing for the last couple of years, changing an “all white” industry to a more ethnically diverse one. The momentum gives Kevin Kwan the chance to make a motion picture based on a book about Asians (Chinese). It opens up further opportunities for American-Born-Asians who at past would never be considered for lead roles in a major production movie. Constance Wu, Henry Golding, and the rest of the casts can be more exposed to the public and get more work opportunities, just like the casts of ‘Black Panther’ because the movie is considered some kind of movement by the black people.

Last but not least, it’s funny how Hollywood seems to be determined to accomodate more ethnicities, but its related media and press are writing news about this ‘all black’ movie, that ‘all Asians’ movie, and so forth, creating hypes when those movies receive accolades. Movie industry in America is still encouraging racial-based segregation and pride by labelling the types of nomination and win in various kinds of awards, when it claims to change in order to reach global audiences.

Hmm, paradox at its finest.

The Job Offer

This morning, a message I read on my phone threw me off balance. It was from a passing acquaintance, offering a job as Head of HR in a growing company. Without thinking, I declined the offer, citing having just given birth as the main excuse. But of course it wasn’t the only reason.

To a homemaker such as I, who has resigned from the corporate world for nearly a decade, being offered a job is as flattering as it is excruciating. The world out there is changing; it’s moving forward. Even though I still have interests in the fields I was working in, my job experience belongs to the past. To be offered a job when I’m no longer relevant to the field/industry is flattering because it feels good to be remembered, and considered among other candidates. It is excruciating because I have only one answer to that kind of offer.

No, I cannot work in an office for the time being. Who will take care of my family if I do?

The fact that women have to choose once they start a family is upsetting in many ways. It’s either the job or the kids. It’s either the office or the family. It seems hard to have both and it is unfair when men do not have to make the difficult choices.

Although the gender roles and responsibilities are slowly shifting in recent years, most men never have to answer the following questions once they have children:

If the children are still babies or relatively young ~
1. Who will watch the children when you work?
2. Who will feed/bath/play with them?
Additional questions once the children start attending school ~
1. Who will take them to and pick them up from school or other extra lessons?
2. Who will help them with their homework/school assignment/study?
And so on ….

Mothers are demanded to answer those questions, to provide solutions, more than fathers are. As if raising children and ensuring their well-being is a solo job, not a product of a partnership between spouses. We all know that for every logistic-related matter, there’s always a possibility of delegation. We can hire a housekeeper to handle the household chores. We can have a nanny for each child, if we like. We can have a driver, always on standby, to drive our kids to whatever place they need to be at. We can afford the delegation as long as it is within our means.

I have spent more years being a homemaker than being a career woman that I’m enlighted of the main difference between these two. Working in an office is not merely about getting the job handed to my desk done. It’s about achieving a goal through a myriad of human relations and connections by exercising competent and effective communications. Meanwhile, working at home gets me down to the core of a chore. If my family wants to eat, I cook for them. If the house is dirty, I clean it. The non-stop routines leave no room for pretense and small talk; if I want something done, I will start rolling. I don’t have the privilege to point my finger at somebody else and say, “You should do it because it’s not a part of MY job description.”

If I agree to work in an office again and delegate the tasks of a homemaker to external parties, there will be possibilities of instructions wrongly carried out, expectations unmet, and disappointments occuring every now and then.

I don’t want to face that kind of situation. I choose not to. Because as I get older, I know myself better. I know that I would rather do something I’m able of by myself than instruct someone else to do it for me. Especially when it comes to my kids and my home.

Will I restart my career someday?

I’m determined to do so. When my kids get older, when they all have left for school, or when my family and I are ready for it. Even if people say that it’s hard to find a job after a career break, it’s not impossible. My knowledge and skills might be obsolete, but my attitude and aptitude to work hard are the same throughout the years. Besides, working outside the house doesn’t always mean working in an office, although I admit the idea is still very much appealing to me. Currently I’m doing pretty well with furniture designing, and by writing this note I’m trying to break free from a writing hiatus that has lasted for almost a year.

So, whatever restarting a career might mean to me in the future and whatever hindrances I stumble upon to accomplish it, I think I’ll be fine.
:
:
:
:
:
I have to be.

Wajibkah Pemerintah Menyediakan Lapangan Kerja?

Perdebatan tentang isu kedatangan (atau keberadaan?) TKA buruh kasar dari China menghiasi timeline media sosial saya (terutama Facebook) selama dua pekan terakhir. Sebagai mantan pekerja korporasi yang bergelut di bidang Human Resources sangatlah menarik untuk mengamati sudut pandang dan standpoint dari para bekas kolega, dan juga komentar-komentar yang dilontarkan oleh teman-teman mereka terhadap status-status di medsos yang berkaitan dengan isu ini.

 

Saya tidak akan membahas tentang Perpres yang kontroversial itu, data perbandingan TKA terhadap TKI di Indonesia, data TKI yang bekerja sebagai buruh kasar di luar negeri dan sumbangsih mereka terhadap devisa negara, dan hal lain yang berkaitan, karena sudah terlampau banyak artikel yang ditulis oleh orang-orang dengan sejuta latar belakang dan bahkan semiliar pendapat pribadi, dengan atau tanpa didukung oleh data yang valid.

 

Yang saya ingin soroti kali ini adalah suatu pernyataan yang saya lihat muncul berulang kali secara acak di kolom komentar suatu status. Pernyataan itu muncul pada status beberapa orang yang bukan mutual friends dan dilontarkan oleh kenalan-kenalan mereka yang sejauh yang saya tahu tidak punya kesamaan komunitas yang memungkinkan mereka untuk menyuarakan (atau mengulang-ulang) satu pendapat yang sama. Pernyataan itu berbunyi, “Pemerintah seharusnya menyediakan/melindungi lapangan kerja untuk rakyatnya.”

 

Haruskah? Wajibkah?

 

Coba kita tarik ke belakang ke bagaimana suatu pemerintah bisa terbentuk. Ada sekumpulan orang yang mendiami suatu wilayah. Mereka bisa jadi satu ras, bisa juga tidak, intinya mereka sepakat untuk mendirikan suatu entitas yang bernama negara dengan seperangkat aturan untuk mengatur dirinya sendiri dan mengatur hubungan antara negaranya dengan negara-negara lain. Jumlah rakyat dalam satu negara hitungannya bukan puluhan atau ratusan, tapi lebih dari itu yang mengharuskan munculnya administrator untuk mengatur kehidupan sehari-hari rakyatnya supaya tetap aman, tenteram, sejahtera, dan sederet kualitas baik lainnya.

 

Administrator itu yang disebut pemerintah. Ada yang dipilih dari antara rakyat dan disebut sebagai wakil rakyat dengan masa kekuasaan terbatas. Itulah sistem demokrasi yang banyak dipakai negara di dunia saat ini. Ada juga yang berupa keluarga dan keturunan yang merupakan penghuni mula-mula dari suatu wilayah. Keluarga ini beranak-cucu, bertambah banyak, dan akhirnya punya cukup rakyat untuk mendeklarasikan diri sebagai suatu negara. Masa kekuasaan pemerintah tidak terbatas selama keluarga itu masih menghasilkan penerus, dan tentu saja selama rakyat negaranya tidak ingin menghentikan sistem monarki tersebut. Sistem monarki dewasa ini biasanya sudah dipadankan dengan sistem demokrasi, dengan monarki dipertahankan sebagai lambang negara dan kabinet yang dipilih oleh demokrasi sebagai pelaksana pemerintahan.

 

Oke, cukup sudah gambaran singkat tentang terbentuknya pemerintah dan apa yang mereka lakukan. Salah satu bekas kolega saya mempertanyakan komentar temannya tentang kewajiban pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Teman dari bekas kolega saya itu menjawab, “Pemerintah kan sudah dibayar dari pajak rakyat, jadi mereka harus kreatif dong menciptakan lapangan kerja. Mereka juga harus pasang badan untuk melindungi buruh kita dari serbuan buruh asing.”

 

Iya, memang betul pemerintah dan seluruh aparaturnya digaji dengan pajak rakyat, uang saya dan Anda yang kita setor untuk memastikan hidup bernegara kita berlangsung teratur. Tapi apa benar pemerintah wajib menciptakan lapangan kerja untuk saya dan Anda?

 

Penyelenggaraan administrasi suatu negara melibatkan berbagai macam jenis pekerjaan dengan beragam job description. Jika negara perlu militer untuk melindungi wilayahnya, maka pemerintah memerlukan tentara. Orang-orang direkrut, diberikan pendidikan dan pelatihan supaya memenuhi job specification seorang tentara. Jika negara perlu orang-orang untuk mengawasi perlintasan barang antar negara, maka pemerintah merekrut orang-orang untuk bekerja di bea cukai. Pemerintah bahkan merasa perlu mendirikan sekolah khusus untuk menghasilkan lulusan yang langsung siap dan sigap bekerja di bidang bea cukai. Jika menilik aktivitas pemerintah sekarang yang sedang giat membangun infrastruktur, maka wajar ada banyak lapangan kerja yang tercipta, mulai dari supplier yang menyediakan material sampai dengan pekerja konstruksi di lapangan.

 

Lapangan kerja yang sudah saya contohkan di atas, mulai dari tentara, petugas bea cukai, supplier dan pekerja infrastruktur dibuat karena ada kebutuhan, bukan karena pemerintah mencari-cari cara untuk membuat lapangan kerja. Lapangan kerja adalah suatu akibat dari sebab yang jelas, bahwa pemerintah menjalankan amanat yang diembannya untuk memfasilitasi kehidupan rakyat di wilayahnya. Lapangan kerja muncul bukan karena pemerintah wajib menyediakannya; dia adalah suatu akibat dari tindak-tanduk pemerintah untuk menyediakan kebutuhan rakyatnya.

 

Pertanyaan lanjutannya adalah, siapakah yang wajib menyediakan lapangan kerja? Pemerintah atau rakyat? Ada pekerjaan-pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah karena ada kebutuhan akan pekerja untuk melangsungkan administrasi negara, namun rakyat perlu berpikir dan bertindak kreatif dalam mencari penghidupannya. Dalam hal lapangan kerja yang diciptakan oleh pemerintah atau rakyat, pemerintah bertindak sebagai regulator yang membuat Undang-undang, Peraturan, dan Keputusan-keputusan lain sebagainya yang mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif dan menyatakan kewajiban dan melindungi hak pekerja.

 

Sulitkah berpikir dan bertindak kreatif untuk menciptakan lapangan kerja?

 

Saya lahir di tahun 80-an dengan orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta. Lingkungan bertetangga saat itu di Bandung bisa dikatakan homogen, kelas menengah-cukup dengan suami-istri yang bekerja sebagai pegawai negeri atau pegawai swasta. Saat itu adalah masa pemerintahan Orde Baru dimana kebebasan berserikat dan berpendapat sangat dikekang oleh pemerintah. Satu-satunya serikat pekerja yang ada di berbagai pabrik adalah SPSI, yang tentu saja merupakan bentukan pemerintah. Demo buruh menuntut perbaikan kesejahteraan bisa dibilang tidak ada, apalagi pernyataan bahwa pemerintah wajib menyediakan lapangan kerja.

 

Yang saya lihat dari angkatan orang tua saya adalah kemauan dan kemampuan mereka untuk menciptakan lapangan kerja mereka sendiri. Ayah saya adalah seorang pengacara. Di saat tidak ada klien, yang artinya tidak ada pemasukan, dia memberi les bahasa Inggris pada anak SMA. Ketika itu tidak ada serikat pengacara yang bisa menuntut pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja; satu-satunya jalan untuk menambah penghasilan adalah dengan melakukan pekerjaan lain. Ibu saya adalah seorang dosen bahasa asing di sebuah perguruan tinggi negeri dengan take home pay yang sangat bergantung pada golongan pegawai negeri (mengurus kenaikan golongan pegawai negeri bukanlah hal yang mudah). Di saat kebutuhan hidup bertambah karena biaya sekolah anak-anak yang bertambah, beliau rela bekerja ekstra memberikan les bahasa Jerman mulai pukul lima sore sampai pukul sembilan malam dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu supaya bisa mengirimkan kami ke sekolah swasta yang bermutu.

 

Tetangga kami adalah seorang pegawai di PT Dirgantara Indonesia (dulu dikenal sebagai Nurtanio) yang hidup sangat berkecukupan. Mereka adalah orang pertama yang memiliki mobil di kompleks perumahan kami. Saat Nurtanio bangkrut dan terjadi pemecatan massal, bapak itu menggunakan uang pesangonnya yang tidak seberapa untuk membeli angkot dan membuka warung kelontong. Awalnya dia menarik sendiri angkotnya sampai lama-lama dia bisa mempekerjakan sopir dan menambah armada angkot, dan tentu saja jumlah sopir. Posisi terakhir bapak itu di Nurtanio adalah manager, tapi beliau tidak ngotot pemerintah harus mencarikan pekerjaan lain untuknya, memberikan solusi keuangan supaya dia bisa tetap membiayai sekolah ketiga anaknya dan mempertahankan gaya hidup yang sudah terlanjur tinggi. Bapak itu bergerak maju dengan apa yang ada, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Hidupnya mungkin tidak senyaman dulu, tapi rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap keluarga membuat dia berpikir dan bertindak kreatif. Bahkan di usianya yang kepala enam, seperti kedua orang tua saya sekarang, bapak itu dan istrinya tetap tekun berwirausaha karena mereka ingin mandiri secara finansial di masa tua mereka.

 

Kedua orang tua saya dan tetangga mereka hanyalah sedikit contoh dari sebuah sikap mental yang mungkin tidak akan terbentuk jika saja kelas pekerja pada jaman Orde Baru memiliki suara dan merasa berhak mengajukan tuntutan. Sebuah sikap mental yang tidak mudah menyerah pada keadaan, yang mau berjuang dan bekerja keras untuk masa depan yang lebih baik. Sebuah sikap mental yang percaya bahwa nasib bisa diubah oleh orang-orang yang berusaha dan berdoa.

 

Menurut hemat saya sikap mental seperti itu perlu dipertahankan oleh kita, bangsa Indonesia, kalau kita mau menjadi bangsa yang maju. Siapapun presidennya, siapapun menterinya, kalau kita percaya kita bisa mengubah nasib dengan bekerja keras kita akan jeli untuk mencari peluang kerja, atau bahkan menciptakan lapangan kerja.

 

Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak-anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah, masukan dan kritikan saya pada pemerintah akan saya batasi pada visi dan misi pemerintah untuk dunia pendidikan, yang mereka tuangkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan tinggi.

 

Kurikulum yang ada saat ini mempersiapkan orang untuk bekerja sebagai spesialis, tapi tidak mempersiapkan orang untuk memiliki life skills. Akan tetapi, walaupun kurikulum dari pemerintah saya lihat kurang memadai untuk memperlengkapi anak-anak saya menghadapi kompetisi di masa depan, saya tidak akan hanya menudingkan jari dan menyalahkan pemerintah. Saya sebagai orang tua, sebagai pendidik utama anak-anak, akan mengupayakan sendiri hal-hal yang saya rasa tidak bisa dicapai/dikuasai dengan pembelajaran yang memakai kurikulum dari pemerintah. Saya akan mencari sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler lain yang bisa menjadi mitra saya untuk mendidik anak-anak supaya tidak hanya pintar secara kognitif, namun juga cerdas dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan.

 

Pemerintah memang perlu mendapatkan kritik yang membangun, namun terkadang kita harus membatasi diri memberikan kritik supaya kita punya lebih banyak waktu untuk bersikap mandiri, berinisiatif, dan berusaha sendiri.

 

Kalau kita sekarang merasa tidak menjalani pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, keahlian, minat, atau apalah, selalu ada pilihan untuk mencari pekerjaan baru. Selalu ada pilihan untuk mencari lapangan kerja yang baru, menguasai keahlian baru, bahkan mencari lokasi kerja di luar Indonesia. Tidak ada hal yang mustahil di era globalisasi dengan kemudahan arus informasi seperti saat ini. Kuncinya hanya dua: 1) selalu mau belajar, dan 2) jangan gengsi.

 

Saya tahu seorang lulusan teknik komputer yang banting-setir membuka butik kebaya karena mendapat warisan dari orang tuanya. Sikapnya yang mau belajar hal baru (belajar macam-macam bahan, belajar menjahit, belajar mensupervisi penjahit, dan sebagainya) dan jeli melihat pasar yang memerlukan produknya membuat usahanya cepat berkembang, bahkan lebih sukses dari waktu masih dipegang oleh orang tuanya. Mengubah profesi paling banter mempengaruhi diri dan keluarga kita; tidak usah pusingkan apa kata orang lain.

 

Ini hanyalah two cents saya, pendapat seorang ibu rumah tangga di antara milyaran ibu rumah tangga di muka bumi, menanggapi isu pemerintah dan lapangan kerja. Mungkin terlihat sepele, seperti remah-remah rengginang di dasar kaleng bekas Khong Guan, tapi ibu-ibu rumah tangga yang saya tahu, kenal, dan akrabi punya bekal yang kurang-lebih sama untuk putra-putrinya jika menyangkut masa depan dan pekerjaan.

 

“Nak, belajarlah giat. Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Perlengkapi dirimu supaya siap menghadapi kehidupan yang berat. Jangan menggantungkan nasibmu pada siapa pun, termasuk pada orang tua. Masa depanmu akan cerah jika kamu bekerja keras dan berdoa.”

Menyoal EBY yang Membela Dokter Terawan

Saya pertama kali mendengar nama dokter Terawan tahun lalu, sesaat setelah ibu saya mendapat serangan stroke yang pertama. Ibu saya orang yang aktif dan relatif sehat, jadi tidak ada yang menduga serangan stroke ini akan terjadi. Waktu tetangga saya tahu tentang kondisi ibu saya, dia langsung menyarankan kami untuk berobat ke dokter Terawan di RSPAD Gatot Subroto. Ibu dari tetangga saya ini pernah diperiksa oleh dokter tersebut karena pernah lumpuh seluruh badan yang dikira akibat stroke, walaupun akhirnya ketahuan bahwa beliau menderita penyakit autoimun yang tidak ada obatnya.

Dari percakapan singkat dengan tetangga saya, saya mendapat gambaran tentang seorang dokter yang “pasti” bisa menyembuhkan kelumpuhan akibat stroke (tetangga saya ini orang yang sangat optimis) dengan cara menyuntikkan obat ke dalam otak pasien. Saya tidak menggali informasi lebih lanjut tentang sosok dokter Terawan dan metode pengobatannya karena kami tidak berencana berobat ke rumah sakit tempat beliau praktek. Ibu saya hanya mengalami kelumpuhan parsial dan semangatnya untuk pulih sangat tinggi. Dengan pengobatan dan terapi yang teratur dia bisa kembali berjalan dan menggunakan kedua tangannya dua bulan setelah mengalami serangan.

Sejak berita tentang pemecatan dokter Terawan oleh IDI merebak pekan lalu, tanpa sadar saya jadi mengikuti perkembangannya karena saya teringat percakapan dengan tetangga saya itu. Dari sekian banyak berita (dan informasi simpang-siur) yang saya baca, artikel yang ditulis oleh seorang dokter ini paling membantu saya sebagai orang awam untuk lebih memahami kontroversi dari metode pengobatan yang dijalankan oleh dokter Terawan.

Pagi ini saya membaca berita di kompas.com bahwa Kemenkes akan menguji metode cuci darah (atau cuci otak) dokter Terawan. Baiklah, campur tangan pihak yang berwenang dan berkompetensi dalam mengatur praktek kesehatan di Indonesia bisa mengarah kepada akhir dari pro dan kontra seputar metode tersebut, karena kesimpulan dan keputusan dari Kemenkes pasti mempunyai kekuatan hukum.

Nah, selain membaca berita itu pagi ini saya juga mampir di beberapa akun Instagram politisi muda Indonesia, yang salah satunya adalah Ibas Yudhoyono atau EBY. Enam hari lalu EBY mem-post pendapatnya mengenai kasus dokter Terawan sebagai berikut:

Screenshot IG EBY

Di dalam post-nya terlihat EBY menanggapi berita yang diturunkan oleh senayanpost.com (saya baru tahu kalau media ini eksis) yang berjudul: “Dipecat IDI, Dokter Terawan Dikenal Tak Doyan Duit dan Tangani 40 Ribu Pasien Stroke”. EBY menuliskan pendapatnya terhadap berita tersebut dengan kalimat berikut (quote unquote):

“Jika benar seperti ini, sungguh menyedihkan & TERLALU! Semestinya Dokter Terawan mendapatkan gelar tanda jasa bukan justeru sebaliknya malah dipecat. Aneh bin ajaib persaingan masa kini!”. #SaveDokterTerawan – Rakyat Beraspirasi, Negara Menjawab @jokowi @kemenkes_ri @dpr_ri

Posting ini mendapat 16.742 likes dan 211 komentar yang terbagi ke dalam dua kutub: 1) kutub yang menyetujui keputusan IDI untuk memecat dokter Terawan karena belum ada uji klinik terhadap metode pengobatannya, dan 2) kutub yang menyetujui kritik EBY dan menyalahkan rezim ini, pokoknya semua salah Jokowi.

Ijinkanlah saya menghela nafas panjang sebelum saya menggaruk aspal di depan rumah dan mengemukakan beberapa concern saya.

  1. Sumber Berita

Sumber berita yang dikutip oleh EBY adalah sebuah artikel yang diturunkan oleh senayanpost.com enam hari lalu. Judul artikel boleh catchy, namun isi tidak mencerminkan judul. Sepanjang artikel yang terdiri dari 282 kata tersebut tidak ada bukti tentang: 1) klaim dokter Terawan yang dikenal tidak doyan duit, dan 2) bahwa dokter Terawan telah menangani 40 ribu orang pasien stroke.

Yang ada hanya wawancara dengan seorang bekas pasien dokter Terawan yang disebut bernama Bambang Kuncoro. Bapak Bambang ini katanya warga Jakarta – tanpa informasi lain mengenai latar-belakangnya (usia, pekerjaan, riwayat stroke) – dan katanya sudah mengalami stroke sebanyak tiga kali, sudah berobat ke Singapura tanpa hasil, dan malah berhasil disembuhkan oleh dokter Terawan (tidak ada informasi tahun beliau berobat) yang tidak doyan duit (Apakah Pak Bambang memiliki kesulitan keuangan saat berobat? Apakah biaya pengobatan Pak Bambang dibebaskan oleh dokter Terawan? Tidak ada informasi tentang hal ini). Pada akhir artikel sosok Pak Bambang ini menyayangkan (quote unquote) “orang baik seperti dr Terawan harus dianiaya seperti itu.”

Dengan modal logika sederhana yang saya miliki, seratus persen saya akan meragukan validitas isi artikel itu, karena: 1) judul dan isi artikel yang tidak nyambung, 2) karakter bekas pasien yang saya pikir lebih menjurus ke fiktif daripada real akibat minimnya informasi tentang pasien yang bisa membantu kita menyetujui judul dan isi artikel, dan terakhir 3) kalimat penutup artikel dari “katanya” bekas pasien yang menyimpulkan sepihak tentang telah terjadinya sebuah penganiayaan. Sebelum mengambil kesimpulan gegabah, tidak ada salahnya mencari tahu langsung tentang IDI, peraturan mereka, dasar pengambilan keputusan mereka, dan informasi lain seputar kasus dokter Terawan di situs resmi IDI, lho.

Jadi kalau sumber beritanya saja sudah meragukan, buat apa ditanggapi?

Baca juga: Tips Menggunakan Grup Whatsapp untuk Ibu-ibu di kompasiana.com

 

  1. Posisi Penanggap dan Isi Tanggapan yang Tidak Nyambung

Penanggap artikel ini adalah salah seorang anak dari mantan presiden Republik Indonesia, seorang politisi muda yang saat ini menjadi wakil rakyat di DPR dari Partai Demokrat. Reputasi berdasarkan latar belakang keluarga dan pribadinya sendiri tidak diragukan lagi. Beliau aktif di media sosial, terutama Instagram dan Twitter, dengan jumlah follower yang fantastis (555.000 dan 653.000). Apapun yang di-post, positif dan negatif, di media sosial beliau pasti disimak oleh dan bisa mempengaruhi pikiran dan pendapat banyak orang.

Saya terheran-heran dengan kalimat beliau “Aneh bin ajaib persaingan masa kini”. Mohon pembaca budiman memberikan pencerahan jika pernah ada berita di media manapun yang mengungkapkan pemecatan dokter Terawan adalah akibat persaingan (dalam mendapatkan pasien) dengan dokter lain, karena terus-terang saya tidak pernah membaca atau mendengar tentang hal ini sejak berita tersebut bergulir.

Sejauh yang saya tahu dokter Terawan dipecat sementara selama 1 tahun dari IDI, bukan dari RSPAD, karena pelanggaran kode etik, yang ditenggarai berkaitan dengan metode pengobatan stroke yang membuat nama dokter ini melambung. Metode tersebut belum melalui uji klinik, sedangkan kita tahu secara garis-besar bahwa sebuah obat dan metode pengobatan harus melalui uji pre-klinik dan uji klinik sebelum menjadi solusi pengobatan untuk pasien. Uji klinik bicara tentang perlindungan terhadap dokter sebagai praktisi kesehatan dan pasien sebagai pihak yang diobati. Tanpa uji klinik, tidak ada yang memegang akuntabilitas jika pasien mengalami efek samping yang tidak diinginkan.

Kesimpulan saya, posisi komentar EBY kurang tepat – mulai dari mengutip artikel yang kurang valid sampai menyiratkan sebuah “persaingan” yang entah ada atau tiada – mengingat posisi beliau sebagai wakil rakyat yang tindak-tanduk dan perkataannya disorot dan diikuti orang.

 

  1. Tindakan (Seolah-olah) Membela Rakyat

Penutup dari posting EBY adalah berupa sebuah ajakan untuk menyelamatkan dokter Terawan.

#SaveDokterTerawan – Rakyat Beraspirasi, Negara Menjawab @jokowi @kemenkes_ri @dpr_ri

Kelihatan heroik ya? Menyelamatkan dari apa sebetulnya? Dari “penganiayaan” IDI? Masalah pemecatan dokter Terawan sebenarnya adalah masalah internal IDI yang menjadi heboh karena surat pemecatan tersebut bocor (atau dibocorkan?) ke publik. Dokter adalah praktisi kesehatan yang bertanggung jawab pada masyarakat sebagai pasien, dan dokter di Indonesia adalah anggota dari asosiasi dokter yang beroperasi di wilayah NKRI (IDI untuk dokter umum dan dokter spesialis, PDGI untuk dokter gigi).

Jika asosiasi dokter menenggarai ada pelanggaran, kita serahkan saja mekanisme pengkoreksian pelanggaran itu pada asosiasi yang bersangkutan yang: 1) memang tahu betul ranah keilmuan yang dipermasalahkan, dan 2) menuntut loyalitas dari dokter-dokter anggotanya. Gerakan “save …” seperti ini membawa masalah yang spesifik tentang profesionalisme menjadi masalah yang melibatkan emosi (dan pendapat) yang tidak perlu, terlihat dari komentar-komentar terhadap berita ini yang kebanyakan melipir kepada ketidakbecusan penguasa (yaelah, kayak ga ada topik lain aja).

Entah kenapa melihat kalimat EBY itu saya jadi teringat setiap superhero di film/buku komik yang dengan gagahnya berkata, “We have to save the world.” Huh, dunia yang mana? Dunia yang isinya cuma USA?

Atau dalam hal ini, EBY mau membela rakyat yang mana? Rakyat yang merupakan pasien stroke dan perlu bertemu dokter yang tidak mata duitan? Atau rakyat yang perlu dilindungi dari efek samping obat/metode pengobatan dengan cara dipaparkan terhadap obat/metode pengobatan yang memang sudah melalui uji pre-klinik dan uji klinik?

Eta terangkanlah.

 

I Wish You Courage

I wish you courage
To face the vast ocean
To cope with endless rolling waves
To sail to the unknown
To be steadfast in every turn

And when you get lost, you just need to look up
I am there in the rising sun
I am there as the bright evening star
I am there with the wind guiding your ship
I am there on the land you plant your feet

I wish you courage
I wish you wisdom
I wish you strength
With all my love, I wish you those all

Siapa yang Lebih Pantas Menjadi Lara Croft?

Menilik rentang usia orang-orang yang berada dalam teater bersama saya kemarin, kalau boleh saya ingin menebak: setengah dari penonton adalah orang-orang muda yang belum pernah main game atau menonton film Tomb Raider yang terdahulu, dan setengah lagi adalah penonton Lara Croft – Tom Raider yang diperankan dua kali oleh Angelina Jolie (2001 dan 2003) dan penasaran dengan Tomb Raider yang diperankan oleh Alicia Vikander (2018).

Ya, di benak generasi 90’an yang menginjak usia remaja di permulaan milenium baru, Lara Croft adalah Angelina Jolie dan Angelina Jolie adalah Lara Croft.

Angelina Jolie sudah bermain film sejak tahun 1982, namun film Lara Croft yang pertama lah yang menaikkan namanya sebagai artis yang mumpuni jika berperan di dalam film laga. Image Angelina Jolie sebagai seorang jagoan dan petualang kembali terulang di dalam banyak film setelah Lara Croft – Tomb Raider. Sebut saja:

  1. Lara Croft – Tomb Raider: The Cradle of Life (2003), bersama Gerard Buttler
  2. Mr. and Mrs. Smith (2005), bersama Brad Pitt
  3. Wanted (2008), bersama James McAvoy
  4. Salt (2010), bersama Liev Schreiber
  5. The Tourist (2010), bersama Johny Depp

Film-film aksi tersebut dia bintangi dengan aktor-aktor ternama, dengan hasil penjualan tiket yang rata-rata sukses walaupun mendapat penilaian/review yang beragam dari para kritikus.

Jadi reboot film Tomb Raider mengandung resiko besar, bukan karena urusan jalan cerita (kita tidak pernah bisa berharap banyak pada film aksi yang diangkat dari video game), tapi karena ada keraguan akan kemampuan Alicia Vikander merepresentasikan karakter Lara Croft yang berasal dari game.

Dari sisi fisik, Angelia Jolie lebih cocok karena dia memiliki recognizable shape seperti Lara Croft. Dari sisi latar belakang cerita mengapa Lara Croft terlibat dalam berbagai petulangan, masih ada beberapa kemiripan. Dua karakter Lara Croft yang terpaut 17 tahun ini sama-sama mulai bertualang karena mencari ayah mereka yang menghilang karena terobsesi oleh hal supranatural. Mereka juga sama-sama berhadapan dengan organisasi rahasia: Illuminati untuk dua film terdahulu dan Trinity untuk film tahun ini.

Akan tetapi …, Alicia Vikander lebih bisa menunjukkan kerapuhan anak yatim-piatu yang menunggu kabar dari ayahnya selama tujuh tahun, yang lebih memilih menyelamatkan ayahnya daripada menyelamatkan dunia dengan cara -yada, yada- menutup akses ke kuburan Ratu Himiko. Dari segi aksi berkelahi dia memang masih kalah dari Angelina yang kelihatan sangat natural memegang senjata, tapi dari situ terlihat kalau karakternya memang tidak begitu siap dicemplungkan ke dalam perjalanan untuk -yada, yada- menyelamatkan dunia. Tujuan utama karakter Lara di dalam film ini, yang dijaga dengan apik sampai akhir film, hanyalah menginginkan kepastian apakah ayahnya masih hidup, atau tidak.

Film Tomb Raider (2018) ini sebenarnya dibuka dengan cukup menarik. Alkisah Lara adalah seorang kurir sepeda yang menyembunyikan latar belakangnya dari keluarga kaya. Sebuah perlombaan sepeda dimana dia menjadi “rubah” yang dikejar kurir-kurir sepeda lain untuk mendapatkan uang sebesar 600 Pounds, membuat dia berurusan dengan polisi dan harus bertemu kembali dengan Ana Miller, pegawai ayahnya yang ditugaskan mengawasi Lara selama ayahnya menghilang.

Adegan kejar-kejaran dengan sepeda mengingatkan saya pada film Premium Rush (2012) yang dibintangi Joseph Gordon-Levitt. Film ini sangat bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk pecinta film aksi-thriller. Ceritanya sederhana, tapi eksekusinya brilian dan pace-nya tepat, dengan ending yang membuat senang semua orang.

Kembali ke Lara. Ana membujuknya untuk menandatangani surat yang menyatakan Richard Croft sudah meninggal, supaya semua kekayaan dan aset perusahaan Croft tidak dijual dan bisa dialihkan ke Lara. Waktu bertemu dengan pengacara perusahaan, Lara menerima sebuah benda seperti teka-teki dan berhasil mengambil foto keluarga dan petunjuk yang ditinggalkan oleh ayahnya di dalam benda itu. Lara kemudian pergi ke kompleks pemakaman keluarga di mana dia menemukan ruang kerja rahasia ayahnya dan semua dokumen lengkap tentang Ratu Himiko dari Jepang yang kabarnya memiliki kekuatan atas kehidupan dan kematian. Richard ingin mencari makam Ratu Himiko karena dia ingin mencari cara supaya tetap bisa merasakan kehadiran istrinya yang telah meninggal. Pada akhirnya Richard meminta Lara membakar semua dokumen itu karena takut jatuh ke tangan Trinity, tapi Lara penasaran. Dia tidak membakar apa pun dan memutuskan untuk mencari ayahnya.

Oke, mulai dari sini cerita menjadi sangat mudah ditebak dan membosankan. Lara kemudian pergi ke Hong Kong untuk menemui Lu Ren yang memiliki ayah yang hilang bersama dengan Richard tujuh tahun yang lalu. Lu Ren bersedia membantu Lara mencari pulau Yamatai yang ditunjuk oleh dokumen/peta yang dibuat ayah Lara. Badai besar membuat mereka akhirnya sampai di pulau itu dan ditangkap oleh Vogel yang mengaku telah membunuh Richard. Lara, Lu Ren, dan banyak orang lainnya yang katanya nelayan yang terdampar (sebuah fakta yang sungguh tidak meyakinkan), kemudian dipekerjakan paksa oleh Vogel untuk mencari makam Ratu Himiko.

Saya percepat saja ya. Ternyata Richard belum mati. Dia senang bisa bertemu kembali dengan Lara. Vogel bisa menemukan makam Ratu Himiko karena membaca dokumen Richard yang dia ambil dari tas Lara waktu Lara terdampar. Dan Vogel, anak buahnya, Richard, dan Lara akhirnya masuk ke dalam makam Ratu Himiko.

Film baru setengah jalan dan saya sudah ngantuk berat. Pertama, setting kuburan Ratu Himiko terlalu mirip dengan kuburan Ahmanet di film The Mummy (2017). Kedalamannya di bawah tanah, gua-gua, tengkorak manusia berserakan, jebakan-jebakannya, semua terlalu mirip. Tidak ada hal khusus yang membedakan di film situ yang dikubur adalah orang Mesir lho, dan di film sini yang dikubur adalah orang Jepang. Kedua, tanda kerasukannya juga bagai pinang tak dibelah: di The Mummy urat-urat di tubuh muncul karena kerasukan roh Ahmanet, di Tomb Raider urat-urat yang kurang lebih sama muncul karena virus (atau apalah) yang berdiam di dalam tubuh Ratu Himiko. Ah, terkadang Hollywood itu kehabisan kreativitas.

Pikiran saya waktu menonton adegan-adegan yang seharusnya seru di dalam makam dan berlalu begitu saja cuma ada tiga: 1) berapa lama waktu yang diperlukan, 2) apa yang terjadi dengan orang-orang yang membangun (mereka harus menjaga kerahasiaan, kan?), dan 3) berapa banyak uang dan uang siapa yang dipakai untuk membangun makam penuh jebakan yang katanya terkutuk? Itu pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap kali saya memikirkan Batman dengan Batcave-nya, hehe.

Akhir cerita dari film ini bisa di-google sendiri ya. Yang jelas, menjelang akhir film saya menguap berulang kali karena BOSAN, BOSAN, dan BOSAN. Perkelahian dengan tangan kosong di film ini cenderung sadis, bahkan beberapa kali saya sempat menutup mata karena tidak tega melihat Lara yang badannya kecil itu seperti disiksa oleh para tentara bayaran segede gaban. Lara yang mencoba melawan penjahat dengan senjata panah juga terlihat absurd. Senapan mesin tetap lebih efektif dan efisien, kan? Angelina Jolie sungguh terlihat lebih tangguh sebagai Lara Croft dengan kepiawaiannya menggunakan senjata.

Satu-satunya hal menarik yang saya ingat dari film ini adalah waktu Lu Ren mau membajak helikopter yang datang ke Yamatai untuk mengangkut kuburan Ratu Himiko. Waktu helikopter itu mendarat, Lu Ren menodongkan pistol ke arah pilot dan berkata, “You’re going to take us home, ya?”

Tunggu dulu. Katanya Lu Ren ini orang Hongkong, kok pakai kata ‘ya’ seperti orang Indonesia saja? Hahaha, saya dan teman saya cuma bisa bertatapan dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Ah sudahlah, karakter Lu Ren ini memang hanya pelengkap yang kalau dihilangkan dari dalam film pun takkan jadi masalah. Apalagi tidak ada chemistry sama sekali antara karakternya dan karakter Lara.

Jadi, siapakah yang lebih pantas memerankan Lara Croft? Saya masih berpihak pada Angelina Jolie, dan melihat Alicia Vikander seperti seorang impersonator, seorang peniru yang tidak ulung. Dan parahnya, yang muncul di benak saya jika ingat Alicia Vikander sekarang adalah sosok seorang Lara Croft tanpa (maaf) dada.

 

PS: yada, yada itu ungkapan seperti bla bla bla untuk menunjukkan betapa tidak pentingnya suatu hal.