Anakku, Matahari

Waktu orang-orang mendengar nama anak saya yang ketiga, mereka otomatis bertanya:

“Lahirnya hari Minggu?”

“Bukan, hari Senin.”

“Oh, meleset ya?”

Saya cuma tertawa padahal sebenarnya operasi sesar yang kami rencanakan jauh-jauh hari tidak meleset sama sekali.

Fokus saya waktu itu adalah di tanggal lahir, bukan di hari kelahirannya. Walhasil si Bungsu lahir pada hari yang meleset dari nama yang dia sandang, tapi pada tanggal yang angkanya merupakan kelipatan 3 dan 6 seperti yang saya inginkan.

Nama si Bungsu diperoleh dari mimpi yang saya dapat dua minggu persis sebelum kelahiran abangnya, si anak kedua. Pada suatu Sabtu pagi saya terbangun dan saya bilang begini ke suami saya:

“Kalau kita punya anak lagi dan perempuan, namanya harus Sunday.”

Suami manggut-manggut saja, tapi tidak membahas itu lebih jauh. Anak kedua saja belum lahir, eh ini sudah memprediksi kehadiran anak ketiga, ono-ono wae, mungkin begitu pikir suami saya.

Situasi kami yang menjalani Long Distance Marriage dengan dua anak masih kecil sudah sangat menantang. Saya waktu itu tidak bisa membayangkan mengurus anak-anak sendirian, kalau dikaruniai tiga anak, mulai dari hari Senin sampai hari Jumat setiap pekannya.

Manusia bisa merencanakan, tapi kehendak Tuhan jadilah. Pada tahun 2017 si Kakak minta adik lagi dan keinginannya spesifik: HARUS PEREMPUAN. Pada tahun 2018 saya mengandung untuk ketiga kalinya dan nama Sunday disebut setiap hari di rumah kami.

Perasaan saya waktu itu sangat cemas. Saya dan suami masih menjalani LDM, anak kami yang pertama mulai beranjak remaja dengan semua gejolak hormon dan psikologis yang menyertainya, usia saya pun sudah 36 tahun.

Mampukah saya? Apakah saya bisa tetap sehat (dan waras)?

Meskipun dokter sempat memperkirakan jenis kelamin si jabang bayi adalah laki-laki, saya tetap keukeuh dia perempuan dan akan diberi nama Sunday.

Mengapa Sunday? Mengapa hari Minggu?

Setiap kali ditanya begitu saya pasti akan menceritakan ulang perihal mimpi yang saya alami. Akan tetapi, jauh di lubuk hati saya tahu saya selalu terpesona dengan langit dan semua benda-benda penerang di angkasa.

Sewaktu kecil hobi saya dan adik-adik adalah mengkhayalkan sebuah bentuk dari awan-awan yang bergulung-gulung acak di langit.

Sewaktu besar di Bandung yang dingin dan sering kali berkabut pada tahun 1980-an, saya paling bahagia jika matahari bersinar cerah.

Sewaktu remaja dan mengalami kegalauan seputar keluarga dan teman, saya suka sekali memandangi langit bertabur bintang. Rumah orangtua saya bertingkat dua dan saya suka duduk di atas genteng sambil mendengarkan musik.

Langit dan semua isinya begitu memikat, memesona, tak terjangkau pikiran, tapi sekaligus begitu tetap, teratur, dan meyakinkan.

Matahari selalu terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Bulan selalu muncul di cakrawala dengan siklus yang sama selama 28 hari mulai dari bulan baru sampai dengan bulan purnama. Bintang bermunculan di langit malam dengan keindahan yang silih berganti.

Setiap kali memandang ke atas saya mensyukuri kebesaran Pencipta saya, kemegahan alam ciptaan-Nya, dan betapa kecilnya saya dan semua masalah yang mendera saya.

Hidup terlalu berharga dan berarti untuk dilalui dengan keluh-kesah dan sungut-sungut.

Oleh karena kekaguman itulah, saya maklum dengan diri saya sendiri ketika saya memilih nama “Sky”untuk si Abang dan “Sunday” untuk si Baby.

Sky untuk keleluasaan berkat dari atas berupa benda-benda penerang, cuaca, dan hujan, dan Sunday untuk matahari yang diberikan oleh Tuhan untuk memberkati semua orang tanpa terkecuali.

Rantai makanan di muka bumi ini dimulai dari tumbuhan. Tumbuhan adalah satu-satunya makhluk hidup yang membuat makanan di dalam dirinya sendiri sebelum ia dikonsumsi oleh hewan atau manusia di dalam ekosistem.

Apa saja yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk membuat makanan? Sinar matahari yang mengaktifkan klorofil untuk proses fotosintesa, karbondioksida, dan air. Sinar matahari adalah katalis penting untuk menggerakkan rantai makanan, kehidupan, dan peradaban.

Sinar matahari adalah sumber energi yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas kehidupan manusia.

Sinar matahari adalah sumber sukacita dan kegembiraan bagi orang-orang yang tinggal di negara empat musim, yang selalu bahagia menyambut musim panas.

Dengan semua sifat baik yang dimiliki oleh matahari, kami juga mengharapkan hal yang sama bagi anak kami, Sunday.

Supaya dia menjadi berkat bagi orang lain ke mana pun dia pergi, di mana pun dia ditempatkan.

Supaya dia mendatangkan sukacita dan kegembiraan di hati orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Bulan depan si Bungsu akan mulai bersekolah dan bersosialiasi. Anakku, Matahari, bersinarlah terus dan penuhi tujuan penciptaanmu. Doa kami selalu menyertaimu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s