Akhir Perjalanan Bersama KLIP

Pada saat launching buku “The Cringe Stories” pada tanggal 21 Maret 2021 lalu saya berkata begini:

Ketika kita kedinginan, janganlah menjauh dari api. Kita harus mendekati api supaya tetap merasa hangat.

Ketika kita merasa tidak termotivasi/terinspirasi untuk menulis, bergabunglah dengan komunitas menulis seperti KLIP supaya dorongan untuk menulis itu muncul kembali. 

Itu adalah motivasi utama saya bergabung dengan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) pada bulan Januari tahun 2020.

Saya yang “kedinginan” ini, yang tidak memiliki motivasi apa pun untuk menorehkan pena atau mengetik beberapa kata saja di keyboard, membutuhkan sebuah ekosistem dan sistem untuk merasa “hangat” kembali.

Saya beruntung memiliki kakak sepupu yang juga suka menulis. Kak Risna memperkenalkan saya kepada KLIP, kepada sistemnya yang memaksa saya untuk terus menulis, pada kegiatan-kegiatannya yang mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan ber-passion sama.

Sistem di KLIP cocok untuk saya, seorang achiever yang berprinsip all out, or nothing at all.

Ketika menulis, saya menulis segenap hati. Ketika mengejar badge, saya berusaha habis-habisan. Selama 29 bulan hanya satu kali saya mendapat badge paling rendah yaitu pada bulan pertama saya bergabung dengan KLIP.

Dari setoran harian untuk KLIP saya dapat menerbitkan dua buku baru pada tahun 2021 yaitu kumpulan cerita pendek “The Cringe Stories” dan kumpulan esai “Crazy Sick 2020”, keduanya dalam bahasa Indonesia.

Dari setoran harian untuk KLIP saya merampungkan dua buku kumpulan puisi dalam bahasa Inggris yang saat ini sedang diproses oleh penerbit mayor.

Melalui acara-acara di KLIP saya mengasah kemampuan berbicara secara efektif di muka umum. Berbicara teratur harus diasah seperti halnya berpikir runut yang membuat tulisan-tulisan saya terstruktur.

Di Ruang Berbagi KLIP saya membagikan ilmu yang saya punya seputar dunia kepenulisan, berharap ilmu itu bisa bermanfaat bagi banyak orang. Seperti saya yang sudah diberkati dengan pengetahuan yang berlimpah, saya pun ingin mengalirkan kelimpahan itu kepada orang lain.

1 workshop tentang creative writing.

1 workshop tentang self-editing.

1 komunitas Drakor Class yang menjadi rumah baru bagi anggota KLIP yang menggemari drama Korea.

1 workshop tentang menciptakan karakter pada cerita fiksi.

1 acara book launching “The Cringe Stories”.

1 kali menjadi host acara Ruang Berbagi dengan Wika, seorang mantan editor di penerbit mayor.

2 workshop tentang penulisan cerita pendek.

1 workshop tentang desain interior.

1 antologi cerita pendek bersama lulusan KLIP tahun 2020.

Dan banyak sekali sesi Klub Buku KLIP.

Saya bersyukur.

Saya sudah tumbuh dan berkembang sebagai penulis bersama KLIP.

Perjalanan dengan KLIP harus saya akhiri sekarang bukan karena saya tidak menyayangi KLIP lagi, tapi self-awareness, pengetahuan akan karakter saya dan apa yang saya perlukan di dalam hidup ini, membuat saya sadar bahwa sekarang adalah waktunya untuk mandiri.

Analogi paling sederhana yang saya bisa pikirkan adalah sebagai berikut:

Ketika masih berada di dalam KLIP, saya ibarat seorang pelajar yang masih duduk di bangku sekolah dan masih tinggal bersama orangtua, yang waktu makannya masih diatur dan diawasi oleh orangtua.

Makan tiga kali sehari, pada waktu yang kurang lebih sama, bersama anggota keluarga yang lain.

Nanti di luar KLIP, saya ibarat seorang mahasiswa yang keluar dari rumah, merantau demi pendidikan, yang harus mengatur sendiri jadwal makan dan mencari sendiri makanan bergizi yang layak dimakan.

Basisnya tetap sama, sebagai manusia saya perlu makan untuk bertahan hidup. Saya pasti mencari makan walaupun status saya pelajar, atau mahasiswa, atau yang lainnya.

Waktu saya secara sadar menyebut diri saya penulis, saya memiliki kebutuhan dan kewajban lain sebagai penulis:

Saya harus menulis.

Penulis yang tidak menulis layak disebut sebagai apa? Dan untuk mewujudkan natur seorang penulis (yang menulis), saya harus menulis tak peduli ekosistem dan sistemnya ada ataupun tidak ada, kapan pun, di mana pun, dan pada kondisi apa pun.

Inilah yang saya ingin latih. Tanpa iming-iming badge, tanpa kewajiban untuk menyetor tulisan setiap hari, dapatkah saya tetap menulis?

Dapatkah saya tetap menjaga diri saya tetap hangat dan bergerak, tak peduli di luar sana ada api ataupun badai salju?

Untuk setiap perjalanan ada awal dan akhir, tak terkecuali perjalanan saya bersama KLIP ini. Jika jalan kita bersilangan kembali di masa depan, sapalah saya, Kawan, seperti saya akan menyapamu.

Selamat melanjutkan perjalanan, Teman. Terima kasih untuk kesempatan kita bisa berjalan beriringan.

πŸ’œ

1000

8 thoughts on “Akhir Perjalanan Bersama KLIP

  1. NOOOOOO…!
    😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Very much understandable, but still, NOOO… 😭😒😒😒😭

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s