Review Doctor Strange in the Multiverse of Madness

Yang pertama dan utama: film ini jelek.

Asli, saya nggak punya kata-kata yang lebih berbunga-bunga atau halus untuk menggambarkan film ini.

Ini bukan film superhero biasa. Kalau ia tipikal film keluaran Marvel dengan superhero berbaju ketat nan keren dan penumpasan yang jahat oleh yang baik, saya akan bisa mentolerirnya.

Namun, film ini sudah menjurus ke film horor dengan segala kengerian dan ketidaknyamanan yang ditimbulkannya.

Saya yang orang dewasa saja tidak nyaman, apalagi anak-anak yang tidak sengaja menonton film ini.

Sampai sekarang saya masih terbayang-bayang kengeriannya dan merasa mual jika mengingat lagi adegan demi adegan yang disuguhkan oleh film berdurasi 126 menit ini.

Premis Cerita

Stephen Strange a.k.a. Doctor Strange di satu universe berjuang menyelamatkan seorang gadis remaja dari kejaran monster. Ketika Strange sedang sekarat akibat diserang monster, gadis itu mengeluarkan kekuatannya dan melempar mereka ke universe lain.

Dan Strange pun terbangun. Ternyata itu semua cuma mimpi….

Strange pun bersiap-siap pergi ke sebuah pernikahan, yaitu pernikahan Christine (Rachel McAdams), mantan kekasihnya. Saya tidak menonton film-film sebelumnya tentang Doctor Strange, jadi saya nggak tahu natur hubungan mereka berdua dan kenapa mereka sampai putus.

Di tengah pernikahan, kota diserang oleh monster bertentakel gurita dan berkepala satu mata besar. Pokoknya menjijikkan sekali. Ternyata si monster sedang mengejar gadis remaja yang sama dengan di awal film.

Setelah monster itu dikalahkan, Strange bertanya:

“Do I know you?”

“No, but the other you does.”

Wong pun datang dan si gadis remaja yang bernama America mengaku punya kekuatan berpindah universe dan sedang dikejar-kejar oleh monster yang menginginkan kekuatannya.

Teori multiverse sebenarnya berakar dari ketidakpuasan manusia akan kehidupan yang ia miliki saat ini. Ia memimpikan, mendambakan kehidupan lain di mana dia menjadi orang yang berbeda dengan nasib berbeda.

Teori itu di film ini dikembangkan menjadi kemungkinan satu orang yang sama (Strange) dalam beberapa universe bisa bertemu dan berinteraksi.

Tentu saja hal ini mengakibatkan inkursi (menurut istilah Marvel), gesekan antarsemesta yang bisa melenyapkan salah satu atau kedua semesta.

Selain itu satu pribadi bisa merasakan kehadiran dan kehidupan pribadinya di semesta yang lain melalui mimpi-mimpi yang terasa sangat real. Hal ini dialami oleh Strange dan Wanda.

Strange meminta bantuan Wanda untuk melindungi America. Eh taunya Wanda adalah yang mengejar kekuatan America. Dia ingin berpindah ke semesta dimana dia memiliki dua anak laki-laki, Billy dan Tommy, dan hidup bahagia.

Dalam pertarungan mereka untuk melindungi America, mereka berurusan dengan Kitab Darkhold (kekuatan jahat), Kitab Vishanti (kekuatan baik), borderline antara yang baik dan yang jahat, dan beberapa pribadi Strange dari universe lain yang punya agenda sendiri.

Yang Bikin Nggak Nyaman

Strange pasti mengalahkan Wanda, itu sudah jelas. Yang saya akan bahas berikutnya adalah unsur-unsur film horor yang ada di dalam film yang semestinya bisa ditonton oleh semua anggota keluarga.

1. Unsur Pemujaan Setan

Gerakan tangan Strange, warna yang dominan di dalam film, keberadaan altar pemujaan dan altar ketika America hendak dikorbankan, alias diambil kekuatannya, sangat menjurus kepada ritual pemujaan setan.

Ngeri. banget. Ekspektasi saya film ini film superhero yang ringan, tapi keberadaan unsur-unsur itu membuat saya mual dan tak nyaman. Rasanya lebih seperti menonton film horor.

Ditambah lagi Wanda yang keluar dari kubangan air seperti hantu Sadako yang keluar dari layar televisi. Wajahnya berdarah-darah dan gerakan tubuhnya kikuk akibat tulang-tulang yang patah ketika Wanda mengejar America. Sah ini mah film horor.

2. Kematian-Kematian Tidak Wajar

Iya, tahu, dalam film superhero yang baik pasti mengalahkan yang jahat, tapi sejauh ini saya tidak melihat cara mati yang eksplisit dalam film-film Marvel. Sampai film ini.

Kehadiran kelompok Illuminati dalam salah satu universe di mana Strange menjadi jahat karena terpengaruh oleh Kitab Darkhold, menjadi parade bagi Wanda untuk membunuh dengan cara-cara yang sangat kejam dan menakutkan.

Blackagar Boltagon diledakkan kepalanya dengan suara berfrekuensi tinggi yang keluar dari mulutnya sendiri.

Profesor X (iya, Charles Xavier dari X-Men!) dipatahkan lehernya dari belakang.

Captain America yang diperankan oleh Peggy Carter, kekasih dari Captain America yang kita kenal, tubuhnya dipenggal menjadi dua dengan perisai miliknya sendiri.

Captain Marvel yang adalah seorang wanita berkulit hitam mati ditimpa patung-patung besar. Tangannya yang terkulai di antara reruntuhan puing bikin ngeri.

Strange di universe ini jatuh dari ketinggian dan mati tertikam tombak pagar besi. Matanya terbuka ketika ia mati, termasuk mata ketiga di dahinya yang terlihat sangat menjijikkan.

Selain kekejian yang Wanda lakukan, Strange juga tak kalah aneh dengan merasuki jasad dirinya dari universe lain yang sudah mati dan dikubur di atap sebuah gedung di New York dan menggunakan jasad itu untuk melawan Wanda.

Oh ya, Wanda pada akhir film pun digambarkan bunuh diri karena merasa bersalah telah membuka Kitab Darkhold dan mengakibatkan semua kekacauan.

“Pertobatannya” di akhir tidak cukup kuat untuk membenarkan semua kegilaan yang dia lakukan demi mendapatkan anak-anaknya di semesta lain. Toh di semesta lain itu Billy dan Tommy sudah memiliki ibu, Wanda versi semesta itu.

Pemujaan setan, udah. Pembunuhan keji, udah. Bunuh diri, udah. Zombi pun muncul…. Saya benar-benar speechless.

Yang Bikin Menyesal

Marvel, seperti industri lain yang tak ingin kehilangan pelanggan, sudah terang-terangan memasukkan nilai yang belok dan ini membuat saya sangat menyesal menonton film ini.

Saya tidak akan bilang adegan yang mana, pokoknya keberadaan dua tokoh itu tidak penting dan tidak perlu dijelaskan orientasi seksualnya. Toh mereka berdua menghilang, entah sudah mati atau masih hidup di semesta lain.

Nyesellll banget nonton film ini. Saya jadi anti sama film Marvel. Cukuplah semuanya diakhiri dengan baik oleh “Avengers: Endgame” pada tahun 2019.

Satu-Satunya Hal Bagus

Benedict Cumberbatch sebagai Doctor Strange.

Kualitas aktingnya memang tidak usah diragukan. Pembawaannya yang elegan sebagai penyihir dengan dry humor yang tepat adalah sebuah kombinasi yang karismatik.

Pertarungan antara Strange yang baik dan Strange yang jahat dengan memanfaatkan not-not pada partitur musik menjadi senjata seperti peluru terlihat sangat keren.

Akhirnya sangat fatal sih. Strange yang baik memanfaatkan satu not yang dikeluarkan oleh sebuah harpa untuk menjadi “peluru” yang mendorong Strange yang jahat jatuh ke bawah dan dadanya tertancap tombak besi. Iyuh.

Kesimpulan

Nggak. Usah. Nonton.

1525

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s