Review Drama Korea: Jirisan

Begitu mengetahui alasan serangkaian pembunuhan yang terjadi mula-mula di Jirisan, saya hanya bisa menghela napas.

After all they’ve done, after all people they’ve killed, they didn’t get the compensation they thought they would get.

Marah, sedih, kasihan, menyesal, itu hanyalah sebagian kecil dari campur-aduk emosi yang saya rasakan dan saya yakin karakter-karakter di dalam drama ini juga rasakan.

Sebelum membahas drama Korea “Jirisan” yang sudah lama tamat, mari mundur dulu ke premis ceritanya. Sebenarnya drama ini tentang apa sih?

Premis Cerita

Kang Hyun Jo (Ju Ji Hoon) adalah seorang ranger baru di Taman Nasional Jirisan. Jirisan, atau Gunung Jiri, sendiri adalah gunung tertinggi di seluruh Korea Selatan dan gunung kedua tertinggi setelah Gunung Halla di Pulau Jeju, Korea Selatan.

Gunung ini memiliki ketinggian 1.915 meter di atas permukaan laut dan membentang di tiga provinsi: Jeolla Utara, Jeolla Selatan, dan Gyeongsang Selatan. Puncaknya yang terkenal bernama Cheonwangbong dan Samshinbong (Puncak Tiga Roh).

Pemandangan dari salah satu puncak Jirisan

Sebagai seorang ranger baru, Hyun Jo ditempatkan di bawah bimbingan Seo Yi Gang (Jun Ji Hyun), seorang ranger senior yang lahir dan besar di Desa Haedong yang terletak di gunung itu.

Hyun Jo datang untuk memecahkan misteri kematian yang dia “lihat”. Dia memang memiliki kemampuan supranatural “melihat” masa depan atau sekelebat masa lalu yang dialami oleh orang lain. Hyun Jo mulai memilikinya sejak mendapati anak buahnya sewaktu wajib militer meninggal secara mencurigakan di Jirisan.

Yi Gang mencurigai gerak-gerik Hyun Jo dan awalnya tidak percaya dengan “penglihatan-penglihatannya”. Namun, dia mulai mempercayai Hyun Jo setelah satu per satu kejadian kematian tidak wajar yang Hyun Jo “lihat” benar-benar terjadi di atas gunung.

Seo Yi Gang (Jun Ji Hyun) dan Kang Hyun Jo (Ju Ji Hoon). Mereka adalah definisi sebenarnya dari kecantikan dan ketampanan ala Korea.

Yang Membuatnya Menarik

Saya pernah mendaki Gunung Fuji di Jepang yang memiliki ketinggian 3.776 meter di atas permukaan laut, satu dari tiga gunung suci di Jepang bersama Gunung Tate dan Gunung Haku. Saya mengerti betapa beratnya perjalanan menuju puncak gunung, menjelajahi bagian-bagian gunung seperti hutan, sungai, dan lembah, dan rasa putus asa jika tersesat.

Di Gunung Fuji juga ada banyak desa dan para penduduknya mengupayakan pariwisata di gunung itu. Mereka mengalirkan air ke atas gunung, membawa bahan-bahan makanan untuk berjualan di banyak restoran di puncak, bekerja sebagai pemandu wisata, dan sebagainya.

Jadi, Jirisan sebagai setting drama ini adalah hal pertama yang menarik minat saya untuk menontonnya. Hal kedua adalah pasangan bintang utama (dan para bintang pendukung) yang tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya, dan hal ketiga adalah misteri yang harus dipecahkan di sepanjang cerita.

Ada banyak kematian tidak wajar yang Hyun Jo (dan kemudian Yi Gang) curigai sebagai pembunuhan. Kematian-kematian itu begitu sporadis, terjadi di tempat-tempat terpencil di gunung (beberapa terjadi di track yang sering dilalui pendaki ilegal) dan terjadi pada orang-orang yang menurut Yi Gang seharusnya sudah khatam dengan Jirisan dan tidak mungkin hilang atau terluka.

Misteri pembunuhan adalah hal utama yang membalut drama ini. Apa motifnya? Siapa pelakunya dan bagaimana si pembunuh menentukan korbannya?

Kasus pembunuhan di kota besar seperti Seoul mudah menemukan titik terang. Ada banyak polisi berjaga-jaga, ada banyak CCTV yang dipasang, kepadatan penduduk membuat ada banyak kemungkinan saksi mata.

Bagaimana kalau di gunung tinggi? Ketiga hal itu nyaris tidak ada. Polisi yang bertugas di Jirisan hanya dua orang yang terlihat ramah dan tidak garang sama sekali, salah satunya adalah Kim Woong Soon yang diperankan oleh Jun Suk Ho.

Dia sudah tampil dalam tiga drama bersama Ju Ji Hoon yaitu “Hyena” (2020) dan “Kingdom” season 1 dan 2 (2019, 2020). Tak heran jika saya menjulukinya wingman bagi Ju Ji Hoon meskipun mereka berbeda agensi.

Ju Ji Hoon dan Jun Suk Ho di dalam drama “Hyena” (2020)

Setting waktu mengambil tahun 2018 sampai dengan 2020 dengan alur maju-mundur yang harus diikuti dengan sabar dan cermat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan besar cerita:

Siapa pembunuhnya, dan mengapa?

Keberadaan unsur fantasi (kemampuan Hyun Jo melihat masa depan) dan alur maju-mundur memang merupakan ciri khas penulis Kim Eun Hee. Drama “Phantom” (2012), “Signal” (2016), dan “Kingdom” universe termasuk episode spesial “Ashin of the North” (2021) adalah karya-karyanya yang saya sudah tonton dan menurut saya “Jirisan” adalah cerita yang paling rapi pergantian setting tempat dan waktunya.

Tentang Setting Tempat dan Waktu

Setting yang diambil adalah sepanjang tahun 2018, 2019, dan 2020. Di situ ditunjukkan banyak perbedaan yang kontras yang mencakup:

  1. Yi Gang dari seorang ranger yang awalnya sehat menjadi cacat dan harus memakai kursi roda,
  2. Hyun Jo dari seorang ranger baru yang antusias menjadi pasien yang sudah lama koma di rumah sakit,
  3. Park Il Hae (Jo Han Chul dari drama “Vincenzo”) dari seorang team leader di lapangan menjadi pekerja administrasi dan memakai tongkat,
  4. Jeong Gu Yeong (Oh Jung Se dari drama “Hot Stove League”) yang terlihat lebih murung dan tidak lagi memiliki kekasih,
  5. dan seterusnya.

Ada karakter yang tetap ada dan ada juga karakter yang menghilang. Apa yang sebenarnya terjadi dalam dua tahun itu?

Sung Dong Il, Oh Jung Se, dan Jo Han Chul sebagai karakter pendukung di sekitar Yi Gang dan Hyun Jo. Akting mereka tidak diragukan lagi. Mereka mampu menaklukkan tantangan fisik sekaligus membawa emosi yang tepat sebagai ranger ke depan kamera.
Yi Gang bersama para ranger, rekan-rekan kerjanya. Satu di antara orang-orang ini adalah pelaku pembunuhan berantai di Jirisan. Yang manakah itu?

Masa Kini Selalu Terkait dengan Masa Lalu

Semua pembunuhan yang terjadi di Jirisan, bahkan yang terlihat seperti kecelakaan, berkaitan dengan dua hal yang terjadi di masa lalu di gunung itu.

Yang pertama adalah peristiwa banjir bandang pada tahun 1995 yang menenggelamkan banyak desa, termasuk kedua orang tua Yi Gang. Yi Gang yang patah hati meninggalkan Jirisan dan memutuskan hubungannya dengan gunung itu beserta memori akan kedua orang tuanya.

Neneknya adalah orang yang ngotot Yi Gang harus kembali ke Jirisan. Yi Gang yang sedari kecil mengenal seluk-beluk gunung tersebut akhirnya menjadi ranger terbaik di Taman Nasional Jirisan dan mentor bagi Hyun Jo.

Pada tahun 2018 penyebab utama kematian kedua orang tua Yi Gang diungkit kembali. Ada dugaan mereka sengaja tidak mau diselamatkan oleh tim SAR supaya bisa meninggal dunia dan mewariskan uang pertanggungan asuransi yang berjumlah sangat besar untuk Yi Gang.

Hyun Jo terpaksa harus mengorek-ngorek kembali peristiwa banjir bandang itu karena dia menyelidiki orang-orang yang berada di sekitar atau terkait dengan pembunuhan-pembunuhan yang telah terjadi.

Ia menemukan bahwa mereka semua pernah menjadi relawan di Jirisan dan sama-sama terperangkap di sebuah kabin bersama dengan orang tua Yi Gang ketika banjir bandang itu menerjang gunung pada tahun 1995.

Penyelidikan Hyun Jo dan Yi Gang lagi-lagi membawa mereka ke Desa Black Bridge, sebuah desa yang ditinggalkan setelah sumur mereka tercemar bangkai binatang dan satu per satu orang desa ditemukan mati karena kecelakaan aneh atau karena bunuh diri.

Hyun Jo menjalankan penyelidikan yang berbahaya. Dari “penglihatannya” ia tahu bahwa si pembunuh memakai mantel salju untuk mountain ranger, yang berarti si pembunuh adalah salah satu dari mereka. Namun, siapa?

Kepala stasiun penjagaan gunung Jo Dae Jin (Sung Dong Il) tidak luput dari kecurigaan. Yi Gang menemukan sarung tangan dengan inisial nama Kepala Jo dan pita-pita kuning yang dipakai untuk menyesatkan para pendaki di dalam laci meja kerjanya.

Hal ini terjadi setelah Yi Gang kembali lagi ke Jirisan dengan menggunakan kursi roda. Menegangkan sekali, bagaimana kalau ia diincar oleh rekan kerjanya sendiri? Menonton karakter Yi Gang pada tahun 2020 membuat saya merasa ikut tak berdaya secara fisik.

Hyun Jo dan Yi Gang berkomunikasi dengan sebuah isyarat yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Isyarat itu memakai batu dan tongkat kayu untuk menunjukkan lokasi korban pembunuhan.

Bahkan waktu Hyun Jo sedang terbaring koma, rohnya masih gentayangan di Jirisan dan berusaha memberi pertanda pada Yi Gang melalui kamera yang merekam pergerakan binatang.

Lee Da Won (Go Min Si), seorang ranger yang membantu Yi Gang yang menjadi difabel, dibunuh karena ia melihat sesuatu pada rekaman kamera yang ia taruh di berbagai titik di Jirisan.

Kembali lagi, siapa pembunuhnya, dan mengapa?

Kecurigaan Hyun Jo dan Yi Gang sudah mengerucut mulai dari orang-orang yang terlibat di dalam peristiwa banjir bandang pada tahun 1995 sampai kepada mereka yang meninggalkan Desa Black Bridge.

Kecurigaan itu makin menjadi-jadi setelah Hyun Jo menemukan satu per satu penduduk Desa Black Bridge yang mau direlokasi mati secara misterius dan mengenaskan. Mereka yang masih hidup pun tampak ketakutan dan menjaga rapat-rapat sebuah rahasia.

Apa sih yang benar-benar terjadi di masa lalu, sampai-sampai dendamnya diteruskan ke masa kini dan terus memakan korban?

Siapa Penjahatnya?

Semua rekan kerja Yi Gang dan Hyun Jo tak luput dari kecurigaan, mulai dari Jo Dae Jin, Jeong Gu Yeong, dan Park Il Hae. Yi Gang mencurigai mereka karena mereka sangat menguasai medan di Jirisan.

Yi Gang bisa menemukan alat dan kesempatan pembunuhan, tapi ia tidak bisa menemukan motif yang sesuai. Latar belakang Kepala Jo adalah satu-satunya hal yang mencurigakan.

Kepala Jo dulunya adalah ranger muda yang bertugas di Desa Black Bridge ketika istri kepala desa ditemukan meninggal karena jatuh. Kematian sang istri diikuti oleh bunuh diri si kepala desa. Ia meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Kim Sol (Lee Ga Sub). Kepala Jo sudah mengenal Kim Sol sejak kecil.

Kim Sol tidak berada di dalam radar kecurigaan Hyun Jo dan Yi Gang sampai dengan tahun 2020 ketika Yi Gang kembali bekerja di Jirisan. Pembawaannya baik, ia adalah seorang ranger yang bisa diandalkan dan seorang peneliti sejarah yang dipanggil sunbae oleh Hyun Jo.

Masa lalu Kim Sol yang mengalami tragedi di Desa Black Bridge menjadi motif yang kuat untuk melakukan pembunuhan. Ayahnya dulu didesak oleh seorang pebisnis dari Seoul untuk menyerahkan desanya menjadi area pembangunan kereta gantung.

Para penduduk desa setuju untuk pindah karena diiming-imingi uang relokasi oleh si pengusaha. Ketika ayah dari Kim Sol bergeming, mereka mulai menimbulkan kekacauan: menaruh bangkai hewan di sumur utama, mencemari sumber air untuk desa itu, mendorong dan membunuh ibu dari Kim Sol ketika sedang mengambil air di sungai, dan menuduh kepala desa tidak mau pindah karena uang bantuan yang diterimanya dari pemerintah sebagai peternak lebah.

Hidup Kim Sol berubah 180 derajat dari seorang anak biasa menjadi yatim piatu yang getir karena tidak ada orang desa yang mau membantunya. Ia tumbuh besar dengan menderita depresi dan berkali-kali pergi ke Jirisan untuk mencoba mengakhiri hidup di sana.

Siapa sangka pertemuan tak sengaja dengan teman masa kecilnya, Kim Hyeon Su (yang adalah anak buah Hyun Jo di militer) mendorong Kim Sol untuk melakukan pembunuhan pertama. Hanya gara-gara Hyeon Su tidak ingat ayah Kim Sol sudah meninggal karena bunuh diri.

Kim Sol pun merekrut Lee Se Wook sebagai kaki tangan pembunuhan. Mereka berdua menyasar penduduk Desa Black Bridge yang ngotot meninggalkan desa dan membuat keluarga mereka mengalami duka nestapa.

Para penduduk yang berhati jahat menyembunyikan pelaku tabrak lari yang membunuh ayah dari Se Wook dan memaksa si pelaku menandatangani petisi untuk meninggalkan desa. Si pelaku adalah ayah dari Kim Woong Soon, si polisi ramah yang sempat dicurigai oleh Hyun Jo dan Yi Gang.

Khawatir kedoknya terbuka, Kim Sol membunuh Se Wook dan Woong Soon sebelum akhirnya diringkus oleh Yi Gang. Alasan membunuhnya memang menimbulkan simpati, tapi itu bukan pembenaran dan tidak memberi Kim Sol hak untuk mencabut nyawa orang lain.

Yang mirisnya, setelah semua kematian yang terjadi di Desa Black Bridged dan benih dendam yang tumbuh subur di hati Kim Sol yang membuatnya menjadi pembunuh di usia dewasa, pembangunan kereta gantung yang akan melewati desa itu dibatalkan, dong.

Setelah sekian banyak orang mati dan ada banyak ketakutan yang mencekam para penduduk desa yang masih hidup dan mengetahui rahasia Desa Black Bridge, tidak ada satu pun dari mereka yang menerima uang kompensasi yang dijanjikan.

Padahal sudah berapa banyak kehidupan yang hancur akibat ketamakan itu? Keluarga Kim Sol, keluarga Lee Se Wook, dan mungkin ada yang lain lagi.

Uang adalah akar dari segala kejahatan.

Kim Eun Hee mengolah ide ini menjadi cerita yang sangat luwes, sangat logis, dan sangat rapi. Ironi yang dia hadirkan juga sangat nendang, mereka yang berhati jahat pada akhirnya tidak akan mendapatkan apa-apa.

Penutup

“Jirisan” masih dapat disaksikan di Iqiyi sebanyak 16 episode. Meskipun menuai banyak kritik mengenai kualitas CGI yang buruk, green screen yang terlalu obvious, dan banyak adegan yang diambil di studio, drama ini patut diapresiasi karena dua faktor:

  1. setting tempat dan waktu di gunung Jiri yang terkenal dengan pemandangan yang bikin takjub,
  2. usaha Kim Eun Hee mengulik profesi mountain ranger yang belum pernah dibahas di drama lain.

Drama “Jirisan” patut diacungi jempol!

2689

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s