Menabur Kebaikan untuk Anak

Mengapa saya memakai kata “menabur” ketika berbicara tentang kebaikan untuk anak? Sebab perkara membesarkan anak, dan masa depan mereka, adalah perkara menyiapkan lahan yang siap ditanami dan menabur benih unggul di situ.

Mengenai hasil lahannya, mungkin kita (dan anak) yang menikmatinya lima, sepuluh, dua puluh tahun kemudian, atau bahkan orang lain yang menikmatinya ketika kita, orang tua si anak, sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Apa saja hal baik yang kita sebagai orang tua bisa lakukan dan berikan untuk anak selama kita hidup. Saya mencatat dua hal saja:

1. Tahu Diri

Setiap keluarga dibentuk karena sebuah visi dan misi. Tidak ada orang yang menikah tanpa tujuan, tanpa gambaran dan pemikiran hari-hari semacam apa yang akan mereka jalani, keluarga semacam apa yang hendak mereka bangun.

Visi dan misi keluarga harus diturunkan dari orang tua kepada anak sejak usia dini. Apapun latar belakang kita (secara suku bangsa, agama, lingkungan, dan sebagainya), ada tiga hal mendasar dan krusial yang harus diketahui oleh anak:

  1. dari mana dia berasal,
  2. buat apa dia berada di dunia ini,
  3. ke mana dia akan pergi setelah tutup usia.

Ketiga hal tersebut mendasar dan krusial karena akan menentukan bagaimana kita, orang tua, memberi teladan kepada anak tentang cara menjalani hidup. Kegiatan seperti berwisata ke kuburan adalah baik supaya mereka mengerti bahwa dunia ini sementara dan kita, manusia, adalah fana.

Oleh karena hidup ini berlalu begitu saja, kita harus memastikan:

  1. anak tahu benar siapa Pencipta mereka,
  2. anak tahu benar siapa diri mereka di hadapan Pencipta mereka dan di hadapan orang lain, dan
  3. anak tahu benar apa persepsi mereka terhadap manusia lain.

Kita menabur kebaikan untuk anak ketika kita menempatkan ketiga hal di atas sebagai fokus utama dalam segala hal yang berkaitan dengan anak, dalam hal memilih tempat beribadah, memilih sekolah, memilih tempat les, memilih lingkungan pergaulan, dan sebagainya.

Yang kita tidak inginkan adalah anak kita tidak memiliki jati diri, tidak mengerti identitas diri mereka, sehingga mereka mudah terombang-ambing oleh arus jaman dan pergaulan.

Kita tentu tidak ingin anak kita berlama-lama galau karena tidak punya teman dan tidak punya kesibukan. Kita ingin anak kita tetap kokoh berdiri dengan keimanan, nilai hidup, prinsip, moral, dan integritas yang teguh meskipun lingkungan di sekitar mereka tidak kondusif dan menekan.

Apalagi ketika kita, orang tua mereka sudah tidak hidup lagi, bukan?

Itulah kebaikan pertama yang kita sebagai orang tua bisa tabur untuk anak: memastikan anak tahu siapa diri mereka, dan relasi mereka dengan Tuhan dan sesama manusia. Dengan kebaikan itu kita bisa tetap tenang meskipun kita jauh dari anak dan tidak melihat langsung aktivitas mereka sehari-hari.

2. Hak untuk Berjuang

Menjadi orang tua itu manis-manis-pahit, kita bersusah payah sekarang, melakukan banyak hal untuk anak, untuk di kemudian hari melepas mereka terbang sendiri.

Dengan kesadaran bahwa kita tidak akan ada selamanya untuk anak, kebaikan kedua yang kita bisa berikan kepada mereka adalah memberikan hak mereka untuk berjuang.

Natur dari setiap manusia adalah bergerak dan berjuang.

Bayi yang hanya bisa telentang berjuang supaya bisa tengkurap. Bayi yang hanya bisa berdiri berjuang supaya bisa berjalan. Kita berjuang untuk naik kelas di sekolah. Kita berjuang untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencari nafkah.

Celakalah kita jika kita merampas hak anak untuk berjuang. Hak ya, bukan kewajiban. Berjuang adalah hak anak yang harus kita berikan.

Berjuang, tahu arti bekerja keras, mengerti kesusahan dan kegagalan adalah pelajaran hidup yang sangat mahal harganya, yang tidak bisa dibanderol dengan mata uang tertentu. Dia harus dialami sendiri oleh anak, seperti kita mengalaminya sendiri jauh sebelum kita menjadi orang tua.

Jangan rampas hak itu dengan memberikan semua yang anak mau, dan tidak memberikan apa yang anak perlu.

Mau komik terbaru, game terbaru, HP terbaru, semua diberi dengan pertimbangan supaya anak senang, supaya anak tidak tertinggal dari teman-teman pergaulan mereka. Kebutuhan, dan bukan kesenangan, mereka seharusnya selalu menjadi prioritas kita.

Sebab pandangan kita sebagai orang tua jauh melampaui kesenangan dan/atau kesusahan yang dihadapi oleh anak pada masa kini. Pandangan kita sebagai orang tua tertuju pada masa depan anak dan kebaikan apa yang dapat dihasilkan oleh tindakan kita sekarang, meskipun saat ini kita jatuh bangun dan mengucurkan air mata.

Yang kita ingin besarkan adalah anak-anak yang tidak gampangan, yang tidak gampang blenyek seperti stroberi, yang tidak gampang berhenti di tengah jalan, yang tidak gampang menyerah ketika kesulitan mendera.

Bagaimana caranya? Hanya satu, jangan merampas hak mereka untuk berjuang.

Ketika anak lelah dan hampir menyerah, kita sebagai orang tua harus tetap tabah. Anak melihat kesusahan dirinya sekarang. Orang tua melihat buah dari kerja keras di masa kini yang PASTI akan dipetik di masa depan.

Bagaimana kita tahu? Karena kita sudah melalui sendiri masa kanak-kanak, remaja, pemuda, dan dewasa bertahun-tahun sebelum anak-anak ada.

Jadi, kalau ada anak yang bertanya: “Memang Papa dan Mama tahu apa?” Papa dan Mama tahu banyak, Nak, dan anak harus mendengar pengalaman dari orang yang sudah makan banyak asam dan garam terlebih dahulu.

Kita, orang tua, adalah penyemangat dan pendorong ketika anak hampir berhenti. Berfokus pada kebutuhan mereka dan menjadi teman seperjalanan mereka dalam berjuang adalah kebaikan yang kita bisa tabur untuk diri anak-anak kita.

Penutup

Meskipun menjadi orang tua adalah pengalaman seumur hidup yang tidak menyediakan pendidikan formal seperti di sekolah, kita bisa terus belajar dari pengalaman orang lain dan merenungkan pengalaman kita sendiri.

Berbuat kebaikan bagi anak adalah perkara menanamkan pengetahuan yang benar tentang siapa diri mereka dan memberi mereka hak untuk berjuang sepanjang hidup, lebih panjang dari masa yang Tuhan ijinkan untuk kita membersamai mereka sebagai orang tua.

Dan dalam menabur kebaikan untuk anak, lakukanlah selalu dua hal ini:

  1. bersandarlah selalu kepada Tuhan yang memberi karunia kepada kita untuk menjadi orang tua,
  2. berdoalah selalu untuk anak supaya mereka mengasihi Pencipta mereka dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan mereka.

Menjadi orang tua adalah sebuah anugerah, sebuah privilege yang harus dipertanggungjawabkan. Mintalah selalu pertolongan dan penyertaan dari Tuhan, pemberi anugerah itu.

Soli Deo Gloria.

1250

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s