Review Drama Korea: Juvenile Justice

Drama Korea “Juvenile Justice” ditayangkan di Netflix sejak tanggal 28 February 2022 lalu dan sempat menduduki peringkat pertama di daftar mingguan Global Top 10 untuk serial Netflix yang tidak berbahasa Inggris.

Drama Korea sekali lagi membuktikan kepiawaiannya mengangkat cerita dari setting yang tidak biasa. Kali ini dari juvenile court, atau pengadilan untuk anak-anak di bawah umur legal.

Setelah drama Korea “Law School” yang ditayangkan tahun 2021 lalu yang membahas suka duka para mahasiswa di sekolah hukum, beserta kasus kriminal yang terjadi di sekolah mereka, dan sederet drama bertema hukum dan kriminal dengan setting pengadilan, serial pendek “Juvenile Justice” ini mengambil sebuah setting yang belum diketahui oleh banyak orang.

Apa itu juvenile law dan juvenile court? Yuk, kita belajar sejenak tentang hukum yang berkaitan dengan juvenile di Korea Selatan sana.

Juvenile dan Hukum untuk Mereka

Juvenile, atau lebih sering disebut sebagai juvie, adalah istilah yang diberikan kepada mereka yang belum mencapai usia 19 tahun per tanggal 1 Januari pada tahun mereka terlibat dalam sebuah kasus kriminal di Korea Selatan.

Kalau kamu berminat menelusuri hukum ini lebih lanjut, kamu bisa membaca terjemahan Juvenile Act dalam bahasa Inggris yang diunggah oleh Korea Legislation Research Institute di sini.

Para pelanggar hukum yang berusia di bawah umur legal dibagi dua oleh Juvenile Act, mereka yang berusia di antara 10 sampai 13 tahun, dan mereka yang berusia di antara 14 sampai 18 tahun.

Mereka yang berusia di antara 10 sampai 13 tahun dianggap sebagai protection case yang tidak memberlakukan hukuman kriminal berupa pemenjaraan. Hukuman yang diberikan kepada para pelanggar hukum di rentang usia ini adalah maksimal 2 tahun di tempat rehabilitasi untuk juvie, tapi pada kebanyakan kasus mereka dikembalikan kepada orang tua dan/atau wali untuk dibina.

Sedangkan mereka yang berusia di antara 14 sampai 18 tahun dapat dipenjarakan dengan hukuman kurungan maksimal 15 tahun. Namun, lamanya masa kurungan tergantung pada detail per kasus seperti keberadaan unsur kesengajaan, keberadaan kaki tangan, dan lain sebagainya.

Kasus-kasus yang diangkat di dalam serial ini mencakup hulu ke hilir, mulai dari rencana reformasi hukum yang melindungi para juvie sampai ke seluk-beluk pengelolaan tempat rehabilitasi untuk para juvie, tak lupa juga bagaimana sebuah pengadilan juvenile berlangsung.

Serial ini adalah sebuah paket lengkap yang bisa dihabiskan dalam 10 episode dengan takaran yang pas. Background story untuk setiap kasus sangat kuat, tempo ceritanya tepat, dan resolusi dari setiap karakternya terlihat nyata.

Para Tokoh Utama

Kim Hye Soo berperan sebagai Shim Eun Seok, seorang hakim baru di pengadilan juvenile Distrik Yeonhwa di Seoul. Pembawaannya dingin, tegas, dan terlihat sangat membenci para juvie.

Menurutnya para pelanggar hukum di bawah umur ini tidak pernah berubah. Mereka hanya berkamuflase supaya terlihat berubah oleh para probation officer dan hakim yang menangani kasus mereka, salah satunya adalah Cha Tae Joo (diperankan oleh Kim Mu Yeol).

Setelah menjadi pengacara slengean di dalam “Hyena”, Kim Hae Soo kembali menunjukkan taring di drama bertema hukum dan kriminal. Aktingnya sebagai hakim sangat jauh berbeda, tapi tidak cukup believable bagi saya penonton. Saya akan membahasnya lagi nanti.

Kim Mu Yeol sendiri menunjukkan pilihan peran yang berbeda. Setelah bernafsu membalas dendam kesumat di dalam film psychological thriller “Forgotten” dan menjadi tentara jahat di dalam film “Illang: The Wolf Brigade”, Kim Mu Yeol kali ini menjadi orang baik yang menyeimbangkan sikap ekstrim Hakim Shim untuk membalas dendam mengganjar para juvie dengan hukuman setimpal.

Akting matang Kim Hye Soo dan Kim Mu Yeol diseimbangkan dengan manis oleh Lee Sung Min dari drama “Misaeng” yang kali ini memerankan Kang Won Joong, ketua Divisi Peradilan untuk Juvie. Hakim Kang sering tampil di televisi, di publik, dan diam-diam berambisi untuk menjadi politikus. Misi pribadinya adalah merevisi Juvenile Act yang ada di Korea Selatan.

Akibat sebuah kasus, karakternya akan kelak digantikan oleh Lee Jung Eun sebagai Hakim Na Geun Hee, seorang hakim yang “bisa mentolerir hakim bodoh, tapi tidak bisa mentolerir hakim yang kasar dan melanggar batas-batas”, quote unquote. Aktris Lee Jung Eun berganti haluan dari seorang profesor hukum yang keibuan dalam “Law School” menjadi hakim yang diktator dalam “Juvenile Justice”.

Para “lawan” mereka di dalam serial ini adalah beberapa juvie yang mewakili karakter-karakter real dalam kasus-kasus real yang pernah terjadi di Korea Selatan, seperti pembunuhan, prostitusi anak, kecurangan masif dalam ujian sekolah, mengemudi tanpa ijin yang mengakibatkan kematian, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya.

Para hakim vs. para juvie

Premis Utama Cerita

Meskipun drama ini seperti kebanyakan drama bertema hukum dan kriminal lain yang menghadirkan benang merah untuk setiap kasus yang dibahas dari awal sampai akhir episode, tapi saya menangkap satu hal yang menjadi spirit utama pembuatan serial ini.

Reformasi Juvenile Act.

Ketika kasus kejahatan oleh anak-anak berusia di bawah 19 tahun semakin meningkat akhir-akhir ini, Juvenile Act yang ada sekarang dinilai tidak cukup untuk mencegah mereka menjadi repeat offender, dan tidak adil untuk korban dan keluarga dari korban yang mengalami kejahatan oleh para juvie itu.

Penulis skrip drama ini membawa pesan itu sebagai kampanye terselubung dengan menghadirkan kasus mutilasi anak yang memunculkan diskusi panas di masyarakat Korea Selatan pada episode pertamanya.

Kasus yang benar-benar terjadi di Incheon pada tahun 2017 itu dipelintir sedikit untuk memenuhi syarat sebagai sebuah karya fiksi.

Pelaku pembunuhan sebenarnya yaitu dua orang siswi SMA diubah menjadi seorang siswa SMP berusia 13 tahun dan siswa SMA berusia 16 tahun. Ini untuk menunjukkan cakupan Juvenile Act bagi para juvie yang dipisahkan oleh kategori umur (10-13 tahun dan 14-18 tahun). Anak yang dimutilasi diubah dari anak perempuan ke anak laki-laki dengan usia yang mirip.

Menonton episode pertama sampai ketiga dari drama ini sungguh melelahkan dan menghancurkan hati saya. Saya rasa semua orang tua yang mempunyai atau tidak mempunyai anak, semua manusia normal yang masih memiliki hati nurani, pasti tidak bisa membayangkan ada anak-anak yang tega membunuh anak lain, memutilasi tubuh korban, membuang organ dalamnya ke saluran pembuangan dapur, dan bagian tubuh lain ke dalam tangki air.

Mengerikan. Biadab. Tidak berperikemanusiaan.

Dan pengacara para pelaku dengan gampang menyalahkan tindakan kriminal itu pada penyakit schizophrenia yang membuat pelaku mendengar suara-suara yang mendorong mereka untuk berbuat jahat, dan membuat pelaku melakukan hal-hal yang “sebenarnya” tidak ingin mereka lakukan.

Tanggapan ibu dari korban mewakili suara hati para keluarga dari korban yang harus menderita, menanggung kesedihan dan penyesalan seumur hidup mereka, bahkan sampai merenggut nyawa mereka sendiri karena duka nestapa yang terlalu mendalam.

Saya tidak peduli nama penyakit yang diderita para pelaku. Yang saya tahu anak saya sudah mati, sudah tidak ada lagi di sini.

Oleh karena itu wajar jika ada tuntutan untuk mereformasi Juvenile Act, mulai dari batasan umur bagi juvie sampai jenis hukuman yang mereka terima.

Meskipun ada harapan untuk merehabilitasi para juvie supaya mereka tidak salah langkah lagi ketika terjun ke tengah masyarakat (seusai pendidikan sekolah), tak dapat dipungkiri banyak repeat offender yang muncul karena sistem rehabilitasi yang tidak tepat dan kurangnya tanggung jawab dan peran serta orang tua dan/atau wali dalam membesarkan si anak.

It takes a village to raise a child.

Termasuk ke dalam a village adalah masyarakat, pemerintah, penegak hukum untuk mengoreksi anak-anak yang mengalami penyimpangan.

Di sinilah karakter Hakim Shim menjadi menarik karena dia tidak hanya berfokus pada menjatuhkan putusan pengadilan, tapi lebih ke mencari tahu why, alasan kuat mengapa juvie melakukan kejahatan itu dan mengapa sampai ada korban.

Karakter Hakim Shim bertolak belakang dengan karakter Hakim Cha yang welas asih, yang secara tulus peduli dan menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi para juvie yang pernah ditangani oleh pengadilannya.

Hakim Cha memiliki sikap demikian karena pengalamannya sendiri menjadi juvie akibat melawan kekerasan ayahnya. Ketika itu hanya Hakim Kang yang sudah bekerja di juvie court yang benar-benar peduli padanya dan membuat Hakim Cha bertekad menyelesaikan pendidikan dan berusaha mengubah nasib.

Meskipun Hakim Shim dan Hakim Cha memiliki kepribadian yang berbeda, ternyata mereka memiliki tujuan yang sama: merehabilitasi, memberikan kesempatan kedua, menginginkan juvie kembali ke jalan yang benar. Di tengah semua konflik interpersonal di antara kedua karakter utama ini, saya melihat jelas dan menghargai komitmen kedua karakter hakim ini.

Kasus-Kasus yang Diangkat

Memangnya separah apa sih kasus kejahatan yang bisa dilakukan oleh seorang juvie?

Parah sekali. Tidak terbayangkan oleh akal sehat kita.

Jauh dari hanya sekedar kasus mengutil atau berkelahi dengan teman sebaya, para juvie ini sudah merambah ke area yang berbahaya seperti pemakaian obat terlarang, prostitusi, dan penyebaran video porno, sebuah lahan yang dikendalikan oleh orang-orang dewasa.

Dari beberapa juvie yang kasusnya diangkat sepanjang 10 episode, saya melihat hanya ada 3 orang juvie yang benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki hidup mereka.

Sebelum masuk ke situ, mari saya beri gambaran apa saja kasus yang ditangani oleh Hakim Shim dan timnya, yang pada akhirnya mengungkap masa lalu kelam yang dimiliki oleh Hakim Shim.

  1. Pembunuhan dan mutilasi anak di bawah umur legal.
  2. Kekerasan dalam rumah tangga termasuk memeras tenaga kerja anak.
  3. Prostitusi oleh remaja.
  4. Sekolah mengorganisir siswa SMA elite untuk melakukan kecurangan dalam ujian nasional.
  5. Memalsukan Surat Ijin Mengemudi, mengemudi tanpa SIM, dan mengakibatkan kematian di jalan raya.
  6. Pembunuhan “tidak disengaja” karena iseng menjatuhkan batu bata dari ketinggian sebuah apartemen.
  7. Pemerkosaaan oleh remaja dan penjualan video porno hasil dari pemerkosaan itu.

Pokoknya menonton episode demi episode disertai dengan doa kencang-kencang, doa tak berkesudahan di dalam hati: semoga anak-anak saya dan anak-anak yang saya kenal terhindar dari semua kejahatan itu.

Saya jadi mengerti bagaimana seorang juvie bisa menjadi repeat offender jika tidak dipaksa keluar dari lingkungan dan dari pergaulan yang menyesatkan mereka. Mereka terjebak di dalam lingkaran setan, dan hanya intervensi dari orang dewasa yang bisa memperbaharui seorang juvie.

Pada satu kasus anak yang kabur dari rumah dan tertangkap mengutil di toko, Hakim Cha menjatuhkan hukuman rehabilitasi di rumah juvie untuk si anak dan traning di pusat komunitas untuk si ayah. Apa yang menjadi landasan keputusannya?

Si anak mengutil karena dia tidak memiliki uang untuk membeli barang yang dia butuhkan. Dia berpikir pendek, kalau tidak ada uang untuk membayar, ya curi saja. Si ayah terlalu sibuk bekerja dari satu upah harian ke upah harian berikutnya untuk bisa memperhatikan anaknya dan pergaulannya.

Dengan menempatkan si anak di rumah juvie, Hakim Cha memberi peluang kepada si anak untuk menemukan pergaulan baru, untuk memupuk keahlian baru, dan untuk mendapatkan pengajaran moral yang baru.

Dengan menempatkan si ayah di pusat pelatihan kerja, Hakim Cha memberi kesempatan kepada si ayah untuk meningkatkan keahlian sehingga bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Ekonomi yang lebih baik dan stabil akan membantu si ayah mengasuh putri remajanya supaya tidak terjebak lagi ke dalam pergaulan yang buruk.

Inti dari Drama Ini

Semakin mendekati episode terakhir saya semakin meyakini ada satu lagi inti yang ingin disampaikan oleh drama ini selain tentang reformasi Juvenile Act.

Parenting.

Tentang pengasuhan anak. Seperti yang disampaikan oleh Hakim Cha:

Anak-anak tidak bisa tumbuh besar sendirian.

Mereka memerlukan pengasuhan, mereka memerlukan bimbingan, mereka memerlukan perlindungan, dan mereka memerlukan orang tua/wali yang benar-benar mencintai dan menghargai keberadaan mereka.

Pada episode ke-10 salah seorang pelaku pembuatan video porno berkata bahwa seandainya mereka memiliki orang tua dan keluarga yang baik, maka mereka pasti tidak akan terjebak ke dalam lingkungan dan pergaulan yang salah. Dengan entengnya mereka menyalahkan ketidakhadiran orang tua sebagai penyebab semua tindak kejahatan yang mereka lakukan, bukannya bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.

Para juvie yang digambarkan di dalam serial ini tidak memilliki rasa bersalah, penyesalan, dan kompas moral lagi. Mereka tidak merasa merugikan orang lain. Yang mereka pikirkan hanyalah kepentingan diri mereka sendiri. Apa yang kurang sehingga anak-anak itu menjadi manusia-manusia yang seperti itu?

Pengasuhan. Bimbingan. Kehadiran orang tua.

Di sepanjang 10 episode secara tersurat dan tersirat tergambar jeritan hati anak-anak yang memerlukan cinta dan perhatian dari orang tua mereka.

Bahkan anak pemilik salah satu rumah juvie tega melaporkan ibunya sendiri, kepala rumah itu, atas tuduhan korupsi karena dia merasa diabaikan. Si anak merasa ibunya lebih memperhatikan dan mementingkan anak-anak nakal, para juvie yang tidak berhubungan darah dengan si ibu, yang datang dan akan pergi suatu hari nanti, daripada memperhatikan dan mementingkan anak-anak kandung si ibu.

Seperti serial pendek ini menjadi bahan refleksi untuk saya, semoga juga bisa menjadi bahan refleksi bagi pembaca tulisan ini.

Oh ya, saya ingin menambahkan sedikit mengenai akting Kim Hae Soo sebagai Hakim Shim. Saya kira kelemahan utamanya ada pada konsistensi sikap dan progress si karakter sepanjang cerita, bukan pada akting Kim Hae Soo secara umum.

Pernyataan Hakim Shim di akhir episode ke-10 bahwa dia akan selalu membenci juvie, tapi selalu mengupayakan putusan yang paling adil dan baik bagi mereka, bagi saya adalah sebuah kontradiksi yang tidak bisa diterima oleh akal dan hati.

Cara Hakim Shim melepaskan diri dari dendam dan belenggu masa lalunya, yaitu suami yang bercerai dan anak yang dibunuh oleh juvie, pun terasa kurang manusiawi. Mungkin plot cerita dibuat seperti itu untuk menunjukkan closure dari season 1, dan potensi untuk dilanjutkan ke season 2.

Kita lihat saja nanti.

Serial ini masih dapat ditonton di Netflix. Selamat menikmati!

2656

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s