Dari Sekian Banyak Reuni…

Apakah kamu suka menghadiri reuni, entah itu reuni SD, SMP, SMA, perkumpulan hobi, atau kantor lama?

Saya termasuk orang yang enggan menghadiri reuni.

Apa pasal?

Hidup berjalan terus. Teman dan sahabat pada satu masa biasanya menjadi teman dan sahabat pada masa itu saja. Sangat sedikit orang yang tetap bersama saya, atau saya bersama orang itu, untuk jangka waktu yang lama, bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun.

Kalau dipikir-pikir, suami saya adalah teman dan sahabat saya yang paling lama karena yang namanya teman sekolah dan teman kerja sudah berlalu seiring berjalannya waktu.

Yang saya selalu khawatirkan dari menghadiri sebuah reuni adalah perkara relevansi.

Satu manusia mesti relevan dengan manusia lainnya demi relasi dan komunikasi yang baik, yang lancar, yang menguntungkan kedua belah pihak.

Menu Utama Reuni

Menu utama reuni biasanya adalah:

1. Nostalgia Masa Lalu

Ingat nggak waktu kelas 1 SMP kamu pernah dimarahi guru A?

Ingat nggak kamu dulu paling suka menyanyi di kelas sampai sering ditegur guru karena berisik?

Wah, candaanmu masih garing ya, persis seperti di kelas 1 SMA dulu.

Pertemuan kembali setelah berpisah bertahun-tahun biasanya dipenuhi frase ini:

Ingat nggak…?

Kamu/aku/kita dulu….

Sayangnya, seperti waktu mengubah kepribadian manusia, waktu juga mendistorsi ingatan.

Jika saya ditanya apakah saya masih ingat teman-teman sekelas di bangku kuliah, maka saya hanya bisa menyebutkan beberapa nama, terutama nama-nama mereka yang dulu sering bekerja sama mengerjakan tugas-tugas.

Jika saya ditanya apakah saya masih ingat saya dulu menulis cerpen apa saja di buku komunikasi kelas setiap kali ada guru yang tidak masuk, maka saya akan menjawab saya tidak ingat. Saya ingat saya menulis banyak cerpen, tapi tidak ada satu pun alur dan karakter cerita yang saya ingat.

Hal ini akibat memori saya yang terbatas sehingga otak saya menyeleksi mana memori yang penting, yang berharga untuk disimpan dan mana yang tidak.

Dalam hal penyimpanan memori tentu saja apa yang dirasakan hati akan lebih berbekas dibandingkan detail yang diingat oleh otak tentang suatu masa kehidupan.

2. Pertukaran Kabar

Nah yang ini penting sekali dan sepertinya adalah inti dari sebuah reuni.

Kamu sekarang tinggal di mana?

Sudah menikah? Anak berapa?

Pekerjaan apa?

Ada bisnis sampingan? Kolaborasi, yuk?

Ini adalah bagian yang saya paling sukai karena saya suka mendengar cerita. Saya suka banget mendengar kisah hidup orang lain.

Banyak teman sekolah yang saya tidak sangka-sangka perjalanan hidupnya.

Dulu terkenal bandel di sekolah, sekarang jadi dokter spesialis syaraf ternama. Dulu pernah dipenjara karena memeras murid sekolah sebelah, sekarang jadi jaksa di sebuah pengadilan tinggi negeri.

Banyak sekali dugaan atau penerawangan yang keliru dan membuktikan bahwa tidak ada hal yang pasti dan bisa ditebak dari hidup.

Sama seperti tidak ada yang menduga saya menjadi penulis dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman saya, hehehe.

Setelah bertukar kabar, lalu apa?

3. Relevansi

Nah ini adalah hal ketiga yang saya paling khawatirkan dari sebuah reuni.

Relevansi.

Apakah saya dan teman A masih relevan, masih bisa mengobrol panjang lebar atau malah bingung harus mengobrol tentang apa?

Suami saya adalah orang yang tidak menyukai reuni. Mengapa? Dia beranggapan begini:

Those who are meant to stay in our lives will stay, and those who are meant to leave will leave. There’s no need to chase the rainbow.

-AD-

Suami saya memiliki beberapa orang sahabat yang berbagi hidup dengannya dari masa kuliah sampai sekarang. Dia menghargai mereka, dia berusaha untuk tetap menjalin relasi dengan mereka, bahkan setelah mereka semua menua dan berkeluarga.

Suami saya berkata, relasi memerlukan usaha. Reuni terasa kosong jika masa sebelum reuni tidak dimanfaatkan untuk kembali menjalin relasi yang terpaksa terputus karena masa sekolah atau masa kerja yang berakhir.

Saya juga memiliki pemahaman yang sama sehingga saya selalu khawatir setiap kali ada reuni, dan apa yang akan terjadi sesudah reuni.

Bagaimanakah saya dan orang-orang ini masih bisa relevan?

Bagaimanakah hubungan pertemanan setelah reuni ini masih bisa terjalin?

Jangan-jangan grup WA untuk alumni hanya berakhir sebagai kotak kosong berdebu dan senyap yang tidak lagi disinggahi oleh para anggotanya karena ketiadaan relevansi itu.

Baca juga short poem: I Keep Looking

Akan tetapi, di tengah kekhawatiran itu saya juga dikejutkan oleh satu fakta:

sekarang saya bisa mengobrol dengan orang-orang yang dulu bahkan tidak bertegur sapa dengan saya.

Mengapa bisa begitu, ya? Apa yang berubah?

Ya karena saya dan mereka berubah, sedikit ataupun total, karena waktu dan perjalanan hidup masing-masing.

Kami yang dulu akrab dan relevan menjadi asing satu sama lain dan tidak lagi relevan.

Kami yang dulu tidak repot-repot untuk saling mengenal kini ternyata punya kesamaan dan nyambung.

Ada sisi-sisi baru dari diri mereka yang saya baru ketahui, begitupun sebaliknya dari diri saya. Ada sisi-sisi dari diri saya yang mereka tidak duga sebelumnya dan baru mereka lihat di dalam diri saya sekarang, 20 tahun lebih kemudian.

Dan ternyata pertemuan sisi-sisi itu sekarang membawa rasa nyaman dan manfaat bagi semua orang yang terlibat.

Dari Sekian Banyak Reuni

Reuni kelas 2 SMA adalah reuni yang saya paling tidak duga hasilnya.

Reuni pertama dilakukan pada tahun 2017 lalu secara luring, 17 tahun setelah kami semua lulus SMA. Kami semua berkumpul di rumah salah satu teman di Bandung.

Pulang ke Bandung rasanya saja sudah penuh dengan nostalgia. Mengunjungi rumah teman tempat bermain dan nongkrong dulu rasanya perih-perih manis mengingat masa remaja yang penuh kesenangan.

Dari kelas 2 ada teman-teman yang sekelas lagi di kelas 3, tapi lebih banyak yang tidak. Pokoknya kami terpencar ke 10 kelas jurusan IPA dan 1 kelas jurusan IPS. Ada juga yang kuliah di tempat yang sama dan tetap dekat, lebih banyak lagi yang tidak.

Reuni kedua diadakan pada hari Rabu lalu via Zoom dan dihadiri oleh 15 orang, sebuah angka yang cukup banyak untuk sebuah reuni online. Setiap orang bergiliran menceritakan kabar terbaru mereka saat ini, apalagi dua tahun setelah pandemi.

Teman-teman sekelas ini tinggal di berbagai tempat dan menjalani berbagai profesi. Saya tercengang dan terkagum-kagum mendengar cerita-cerita mereka. Ada begitu banyak informasi yang hadir mulai dari aktivitas di DPR, konser BTS mendatang, sampai suka duka menjalankan UMKM, pokoknya beragam sekali.

Kembali ke poin soal relevansi.

Oleh karena waktu dan manusia berubah, relevansi antarkami mencapai titik ekuilibrium yang baru. Pertukaran informasi dan pemikiran berjalan lancar di antara diri kami yang sekarang, yang sudah lebih matang, lebih berpengalaman, dan jauh lebih berwawasan.

Reuni kemarin membuahkan sebuah ide untuk mengadakan diskusi secara rutin. Setiap orang bisa sharing tentang bidang yang dikuasainya.

Hampir semua dari kami akan berusia 40 tahun pada tahun ini. Jika ada ketidakpuasan terhadap sistem, terhadap apa yang terjadi di masyarakat, maka kami harus mulai dari diri sendiri untuk bergerak dan berubah.

Semua orang juga tahu diskusi di ruang tertutup seperti grup WA dan saling menuding atau menyalahkan pihak di luar sana tidak akan membawa hasil apa-apa. Tugas kami sebagai individu adalah memperluas wawasan dan memperbaharui pemahaman.

Dengan cara apa? Ya, dengan forum diskusi dan berbagi itu. Kami beruntung ada teman-teman yang mau bersusah payah mengorganisir Zoom kemarin dan acara-acara berikutnya di masa depan.

Dari sekian banyak reuni, saya paling suka reuni kelas 2 SMA.

Go, Sector 2-4 SMA 3 Bandung.

1550

Advertisement

One thought on “Dari Sekian Banyak Reuni…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s