Tentang Membuat Konten untuk Orang Lain


Pada awal tahun ini saya mengikuti tantangan membaca yang diadakan oleh sebuah penerbit besar. Oleh karena pada dasarnya saya suka membaca dan mengulas, saya memberanikan diri untuk mengikuti tantangannya.

Tugasnya sederhana saja: membaca novel-novel klasik, mereviewnya, dan membagikannya di media sosial saya dengan sederet tagar.

Hadiahnya? Katanya book cover dan voucher berlangganan aplikasi membaca digital.

Bulan pertama saya membaca salah satu buku dari tema yang diberikan. Akan tetapi, saya tidak mereview atau berbagi bahwa saya sedang membaca buku itu karena saya tiba-tiba terpikir satu hal:

Buat apa saya repot beriklan dan menyediakan konten untuk orang lain?

What’s in it for me?

Orang yang membaca kata-kata saya di atas bisa jadi langsung mencap saya materialistis, dan sebagainya. Namun, beneran deh, saya sudah bertambah tua.

Waktu dan tenaga dan napas hidup saya terbatas. Untuk setiap investasi, wajar jika saya mengharapkan return.

Sepertinya saya berpikir begitu karena melihat kesepadanan antara waktu dan tenaga yang saya habiskan untuk membaca dan mengulas dibandingkan hadiah yang saya (belum tentu akan) dapat.

Dalam 1 tahun ada 12 buku yang wajib dibaca dan diulas.

Berapa waktu yang saya semestinya alokasikan untuk dua kegiatan itu tahun kemarin?

Apakah ada aktivitas lain yang saya harus korbankan demi mengejar reward dari pihak lain?

Berhubung saya mengajar menulis kreatif dengan tarif tertentu untuk durasi 1 jam, saya jadi bisa membandingkan mana yang lebih worth it dari segi monetari dan hasil konkrit pekerjaan saya.

Bagi saya, menulis itu bukan sekedar hobi, ya. Menulis adalah pekerjaan. Dan sebagai pekerjaan, dia harus diberi reward untuk mengkompensasi waktu dan tenaga yang saya dedikasikan.

Memang, ada reward yang tangible dan intangible, berbentuk nyata saat itu juga seperti fee pembicara dalam workshop menulis atau royalti penjualan buku, atau yang berbentuk abstrak seperti perkenalan diri ke target market untuk personal branding dan brand awareness.

Saya tidak melihat kesepadanan itu, jadi saya tidak melanjutkan mengikuti tantangan membacanya. Book cover dan voucher bisa saya upayakan sendiri tanpa menunggu mengikuti suatu lomba/tantangan.

Intinya, ada banyak pertimbangan sebelum saya memutuskan bersusah-payah mengisi konten untuk kanal orang lain.

Pernah satu kali, dengan kesadaran penuh bahwa si penyelenggara lomba berniat mengisi kanalnya dengan imbalan seperangkat alat podcast bagi pemenang lomba, saya mengikuti lomba meresensi buku lewat podcast.

Effort yang dikeluarkan terlalu besar.

FYI, mendapat rekaman yang jernih bak siaran radio itu perlu script, take, re-take, editing, dan seterusnya, dan sebagainya. Untuk rekaman selama 15 menit, bisa perlu waktu 6 jam untuk proses produksinya.

Enam jam yang tidak bisa saya ulang dari durasi hidup saya yang semakin lama semakin singkat. Apakah itu pertukaran yang sepadan?

Saya juga jadi berpikir apa saja imbalan yang saya telah berikan bagi mereka yang pernah bersedia mengisi konten di kanal podcast saya.

Apakah telah pantas dan sepadan dengan waktu dan tenaga yang mereka telah keluarkan?

Saya jadi ingin tahu apakah tujuan pribadi mereka juga tercapai, dan ingin meminta maaf jika saya tidak memberikan yang mereka harapkan.

Saya memang perlu menata ulang prioritas hidup saya pada tahun ini. Semua hal perlu dikompensasi. Semua hal bersifat transaksional.

That’s the ugly truth.

662

One thought on “Tentang Membuat Konten untuk Orang Lain

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s