Mindfulness, Multitasking, dan Kebiasaan Menunda-Nunda

Di tengah usaha saya untuk selalu mindful setiap detik dalam hidup saya tahun ini, saya jadi banyak berpikir dan mendapatkan pemahaman baru.

Multitasking itu bukan lagi untuk saya.

Ketika saya masih berusia 20 tahunan, multitasking terlihat keren dan feasible. Mampu menyelesaikan banyak hal dalam satu rentang waktu (kalau bisa durasi yang singkat), wow siapa yang tidak mau?

Dulu saya mau, sekarang saya tidak sanggup lagi.

Beberapa kali saya mendengar penelitian tentang perbedaan cara kerja pria dan wanita dalam menyelesaikan sebuah tugas.

Otak pria, katanya, bekerja seperti fungsi rangkaian listrik seri.

Pekerjaan B akan mulai dikerjakan jika pekerjaan A sudah tuntas. Demikian pula dengan pekerjaan C yang akan dimulai jika pekerjaan B selesai, begitu seterusnya.

Saya tidak ingin terjebak dalam stereotyping, tapi saya melihat sendiri dalam diri bapak, adik laki-laki, suami, dan anak laki-laki saya prinsip bekerja secara serial ini.

Oleh karena itu, saya selalu menurunkan ekspektasi saya jika harus meminta tolong melakukan beberapa hal dalam satu kurun waktu (yang biasanya singkat). Pasti ada pekerjaan yang terlupakan atau tidak terselesaikan dengan baik.

Otak wanita, katanya, bekerja seperti fungsi rangkaian listrik paralel.

Otak ibu-ibu (rumah tangga, again, stereotyping) bisa memproses beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu kurun waktu dan semuanya tuntas. Persis seperti rangkaian lampu yang dirakit paralel, semua lampu bekerja secara independen meskipun sumber listriknya sama.

Oleh karena itu, jangan heran jika seorang wanita bisa sambil memasak, sambil mencuci lalu menjemur pakaian, sambil membersihkan remah kue di lantai, dan sambil sejuta hal lainnya.

Hal paling paralel yang saya pernah lakukan pada satu kurun waktu adalah makan malam sambil menyusui si Baby, sambil mengajari si Kakak PR matematika, sambil menonton berita di Metro TV.

Empat aktivitas sekaligus ketika itu, luar binasa.

Semua sambil-sambil, dan semua selesai.

Bekerja secara multitasking atau paralel memerlukan daya pikir dan konsentrasi yang berlipat-lipat kali daripada bekerja secara runut.

Namun, apakah hasilnya lebih efektif dan efisien?

Hampir dua dekade sejak saya membiasakan diri bekerja secara multitasking, saya meragukan bahwa cara ini yang terbaik untuk saya.

Dari sisi kemampuan otak, saya belum memerlukan vitamin khusus untuk otak. Akan tetapi, dari sisi ketenangan jiwa, saya merasa tidak tenang karena selalu diburu-buru.

Selain itu, multitasking bagi saya juga berpotensi membuat saya menunda-nunda pekerjaan.

Misalnya, saya harus memasak sambil menunggu mesin cuci selesai beroperasi. Masakan saya mungkin selesai, tapi pada kurun waktu itu mesin belum berhenti bekerja.

Akhirnya, durasi kerja yang sudah saya tetapkan sebelumnya menjadi molor ke waktu yang tidak bisa ditentukan karena harus menunggu hal lain (mesin cuci).

Kalau sudah begitu, lebih baik mulai mengurus mesin cuci begitu aktivitas memasak sudah selesai saja, yekan?

Malam ini saya juga melihat satu lagi kebiasaan jelek yang saya miliki karena mengharuskan diri multitasking, yaitu menunda-nunda pekerjaan.

(Lagi-lagi) Saya sedang menunggu mesin cuci selesai bekerja. Sambil menunggu, saya sambil melipati pakaian dari proses cuci sebelumnya. Ketika mesin berhenti, saya meninggalkan pakaian yang tengah dilipat dan belum dipisah-pisahkan, dan mulai menjemur pakaian.

Akhirnya, saya membiarkan pekerjaan melipati pakaian menjadi terbengkalai dan menunda-nunda menyelesaikannya. Fokus saya teralih ke pekerjaan berikutnya yaitu menjemur pakaian.

Jika ada banyak rentetan pekerjaan yang saya harus selesaikan dalam satu kurun waktu, maka chain effect-nya akan membuat tidak ada satu pun pekerjaan yang beres.

Menjadi mindful berarti menaruh konsentrasi penuh pada task on hand, dan itu termasuk menyelesaikan apa pun itu sebelum melanjutkan ke pekerjaan berikutnya.

Menjadi mindful berarti bertanggung jawab untuk menyelesaikan sebuah tugas, tanpa niat menunda-nunda karena mungkin waktu dan kesempatan tidak dapat datang lagi.

Mari berubah.

754

15 thoughts on “Mindfulness, Multitasking, dan Kebiasaan Menunda-Nunda

  1. Awal tahun lalu aku baru menyadari kalau aku cepat capek dan menunda karena multitasking. Sejak itu aku berusaha sama kayak kak Rijo. Masih belum bisa 100% menghindari multitasking tapi udah lumayan mending

    Liked by 1 person

    1. Gmn rasanya setahun terakhir? Kerja lebih efektif dan efisien? Baru hari ke-4 tahun ini dan aku sadar ternyata susah melepaskan kebiasaan multitasking (termasuk ketika lagi pegang HP). Rentang konsentrasiku jadi semakin rendah. Bahaya nih 😦

      Like

      1. Slowly sih kak.. tapi aku sekarang jado terbiasa untuk menyelesaikan pekerjaan terutama yang di kantor dan di rumah satu demi satu. Daan otak sekarang kayak kasih sinyal klo aku udah mulai multitasking gituu.. Ngeblok aja gitu.. Taapiii yang belum bisa stop multitasking itu tentang belajar dan menulis. Ini harus berjibaku dengan bakatku soalnya. Jadi masih terus berushaa 🙈🙈.

        Liked by 1 person

      2. Wahhh aku pun menantikan reaksi otak yg sama setelah mempraktekkan mindfulness pada hari-hari ke depan. Old habit dies hard ya, apalagi habit yang udah dilakukan 2 dekade. Semoga ada kesempatan di tahun depan buat kita ngobrolin perjalanan melepaskan diri dari multitasking pada tahun ini 😄

        Liked by 1 person

  2. Makasih tulisannya kak, refreshing lagi jadinya ttg mindfulness.
    Biasalah kak, sa udah tahu lama. Pas tau dikerjain, beberapa waktu berlalu krn ga direfresh, balik lagi tergoda untuk multitasking.

    Keren ya kak rijo bisa bertahan setahun mindful terus dg konsisten.

    Liked by 1 person

    1. Sama2, sa.. aku pun masih jatuh bangun, masih terus berproses. Godaannya ya itu: ah sekalian, bisa disambi, ujung2nya banyak yg ga selesai 🥲🥲 semangat ya, sa

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s