Mengapa Kita Membutuhkan Keberanian?

Anak saya yang bungsu mulai bisa berjalan ketika pandemi mulai merebak di Indonesia. Sebagai anak yang tumbuh besar di masa pandemi, dia memiliki kontak minim dengan orang-orang selain keluarga dan aktivitas minim di luar rumah.

Untunglah selama setahun terakhir kami memiliki tetangga baru dengan dua anak berusia 10 dan 6 tahun. Bersama kakak dan abangnya, si Baby menjadi yang termuda dari geng yang terdiri atas 5 anak berusia antara 3 sampai 12 tahun.

Saya iba melihatnya yang tumbuh ketika orang-orang memilih berdiam diri di rumah saja.

Baby tidak merasakan main di playground mal, berenang sore-sore, les balet pada usianya sekarang. Anak kecil yang sebaya dengannya hanya sepupunya yang berjarak usia 7 bulan dan mereka jarang bertemu.

Oleh karena bermain dan bergaul dengan anak-anak yang lebih tua, Baby memiliki kemampuan linguistik yang lebih baik dibandingkan kakak dan abangnya pada usia yang sama.

Dia juga lebih bisa menyatakan pendapat, mengemukakan keinginan, dan bersikap. Ya itu ya, tidak itu tidak. Saya kira ketegasannya berbuah dari sikap saya selama mengandungnya. Sangat lugas, gesit, dan tidak ada basa-basi.

Akan tetapi, untuk banyak hal dia membutuhkan keberanian untuk memulai.

Memang pada dasarnya manusia adalah makhluk yang nyaman dengan status quo. Perlu kondisi luar biasa untuk memaksa manusia berubah.

Baby belum pernah saya ajak nyemplung di kolam renang karena (lagi-lagi) pandemi. Berhubung ada kolam renang yang letaknya hanya 5 menit berjalan kaki dari rumah, duluuuu sekali (rasanya seperti berabad-abad lalu) saya selalu membawa anak-anak berenang kalau keesokan hari tidak ada ujian/tugas sekolah.

Setiap masa liburan sekolah (2 kali dalam setahun) anak-anak akan saya beri les renang. Si Baby tentu saja saya ajak serta sebagai penonton. Saya lebih sering membawanya mengitari area kolam renang dengan dia duduk manis di dalam stroller, sekalian saya olahraga jalan kaki.

Oleh karena situasi pandemi sudah relatif membaik dan di rumah kami yang belum divaksinasi hanya dua orang, jadi dua minggu lalu saya mengajak Baby turun ke dalam air di kolam renang buat anak-anak. Kakak dan abangnya sangat bahagia karena akhirnya bisa berenang lagi setelah vakum hampir dua tahun lamanya.

Kolamnya cetek, tingginya hanya 60 cm, tapi Baby menangis menjerit-jerit begitu saya bawa dia masuk ke dalam air. Kakak dan abangnya berusaha menenangkan, tapi dia melawan terus.

Takut, tidak biasa, tidak mau menghadapi sesuatu yang asing, sepertinya itu yang dirasakan Baby.

Akan tetapi, saya bisa tega ketika harus tega. Langkah pertama selalu paling sulit, tapi saya ada untuknya.

Mulai dari merangkulnya masuk ke dalam kolam, sampai melepaskannya perlahan-lahan saya lakoni.

Mulai dari Baby menjerit dengan intensitas sekian ratus desibel, sampai ia menangis dengan terisak-isak pelan, saya dengar baik-baik.

Yang penting Baby melihat saya ada di sekitarnya, siap membantunya jika dia terjatuh.

Jadi, begitulah Baby memulai langkahnya pelan-pelan sambil berpegangan di pinggir kolam. Suatu waktu dia terpeleset dan terjungkal ke depan. Kakaknya langsung sigap membantunya berdiri. Saya perhatikan secara naluriah dia menggerakkan tangan dan kaki, menggapai-gapai untuk mencapai keseimbangan lagi.

Begitu kepalanya kembali di atas permukaan air, saya peluk dia. Saya beri minum dan saya bungkus dengan handuk yang terasa hangat di bawah sinar matahari. Detak jantungnya sangat cepat, antara takut dan terkejut, tapi dia tidak menangis sama sekali.

It’s okay, Baby, you’ll be okay. You’re doing great.

Begitu saya bisikkan berkali-kali. Baby hanya mengangguk-angguk. Ketika dia jatuh lagi, kakaknya dan saya mengulangi ritual yang sama. Begitu terus sampai dia lebih berani daripada 2 minggu lalu ketika berhadapan dengan kolam renang.

Mengapa kita membutuhkan keberanian?

Sebab hidup penuh kejutan dan ketidakpastian.

Di setiap jalan, ada persimpangan. Ada seribu pilihan dengan mungkin sejuta konsekuensi.

Kita perlu berani supaya bisa survive, supaya bisa hidup lebih baik.

Sama seperti Baby yang perlu keberanian untuk mengenal air di wadah yang besar selain di bathtub (dan nantinya di laut), dalam rangka meraih kemampuan untuk berenang, salah satu life skill yang sangat penting.

Ketika kita memberanikan diri, kita juga menyandarkan diri pada satu sosok, satu kekuatan, satu kuasa yang lebih besar dari kita.

Baby memercayai saya, dia tahu saya akan selalu menolongnya, jadi dia memberanikan diri. Tak terhitung berapa kali dia menoleh ke arah saya untuk memastikan saya tidak beranjak dari tepi kolam renang itu.

Ketika hidup dan semua kejadian di dalamnya terasa menakutkan, kita perlu seseorang yang kita percayai, yang kita tahu mengasihi dan benar-benar mempedulikan kebaikan dan keselamatan kita.

Saya bersandar kepada Tuhan. Orang lain mungkin bersandar kepada orang tua, teman, kolega, dan sebagainya. Semuanya terserah kepercayaan setiap orang.

Kita mendapat keberanian dari mengetahui bahwa kita tidak sendirian, bahwa semua akan baik-baik saja. Persis seperti perasaan anak saya yang bungsu, si Baby.

Mari memberanikan diri menghadapi semua tantangan sepanjang tahun ini.

Mari menyandarkan diri pada sosok yang tepat.

940

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s