Dia yang Diberi Banyak, Dituntut Banyak

Kalimat yang menjadi judul dari tulisan ini berasal dari Alkitab kitab Lukas pasal 12. Kalimat tersebut sering saya dengar bahkan jauh sebelum saya menyelesaikan membaca Alkitab dari kitab Kejadian sampai Wahyu. Mengapa demikian?

Kalimat tersebut sangat sering diucapkan oleh kedua orangtua saya, oleh Bapak dan Mama yang memiliki banyak talenta, bakat, dan keahlian. Oleh karena mereka diberi banyak oleh Tuhan, maka mereka harus memberi balik lebih banyak kepada orang-orang di sekitar mereka. Hal itu juga berlaku bagi anak-anak mereka.

Sebagai pengacara dan dosen, Bapak dan Mama percaya bahwa ilmu yang menempel adalah ilmu yang diterapkan. Bagaimana cara menerapkan ilmu? Dengan mengajarkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Semakin banyak mengajar orang lain, memberi tahu orang lain, kita akan semakin ingat dengan hal yang kita bagikan. Ilmu akan melimpah ruah ketika dibagikan dan disebarluaskan; berbagi ilmu tidak pernah mendatangkan kerugian.

Untuk mereka yang berbagi, mereka akan lebih ingat, lebih mengerti, dan lebih mahir. Untuk mereka yang mendapat ilmu baru, sesuatu dalam hidup mereka akan berubah, entah itu tabungan pengetahuan, kecakapan, atau bahkan persepsi dan cara berpikir. Tidak ada yang tahu pasti selain orang itu sendiri.

Sejak awal tahun ini saya sudah bertekad untuk mengisi lagi bejana saya supaya saya bisa mengalirkan air kepada orang lain.

Bulan Januari diawali dengan mengambil bagian pada forum diskusi dan bertukar pikiran yang diselengarakan oleh sebuah sindikat penerbitan besar. Meskipun tajuk besarnya adalah untuk menjual lebih banyak buku terbitan mereka (ahem!), mengikuti sesi demi sesi membuat saya terkagum-kagum akan luasnya cakrawala pemikiran orang lain.

Dari sesi-sesi tersebut saya mempelajari ilmu yang pasti tentang fiksi (karakter, setting, premis cerita, dll) dan bertukar pikiran tentang fungsi sastra di tengah peradaban ketika:

  1. Orang semakin malas membaca secara dalam dan memilih skimming informasi yang mereka terima. Praktek ini membuat daya pikir mendangkal dan nalar melemah.
  2. Orang lebih memilih video berdurasi singkat karena kehidupan modern yang berjalan terlalu cepat dan instan. Informasi susul menyusul dan perkara menjadi otentik adalah nomor kesekian setelah perkara memuaskan keinginan pasar (pasar yang mana?).
  3. Orang mengikuti tren seperti kerbau dicocok hidung dan memeras suatu topik sampai titik jenuh, baru beralih ke topik lain. Pada suatu masa setiap buku adalah tentang pembunuhan, atau kesehatan mental, atau toxic relationship. Tema-tema yang ada tidak diperlakukan sebagai unsur-unsur berkesinambungan yang semuanya layak dikupas tuntas tanpa dieksploitasi.
  4. dan seterusnya.

Perjalanan belajar ini terus berlanjut ke bulan-bulan berikutnya yang diiringi juga dengan perjalanan untuk berbagi pengajaran yang saya terima. Di penghujung tahun ini saya dengan mantap mengatakan bahwa:

Tahun 2021 adalah tentang belajar dan berbagi.

Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP), Drakor Class, dan Honorary Reporter untuk Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan adalah komunitas-komunitas yang memberikan saya media untuk belajar dan berbagi.

Bersama KLIP saya telah belajar menjadi host untuk acara Ruang Berbagi bersama Dik Wika, seorang mantan editor di penerbit besar yang sekarang bekerja sebagai editor freelance. Hati deg-degan karena belum ada pengalaman. Saya hanya berharap tidak salah bertanya yang bikin malu. Di situlah perlunya latihan dan rehearsal.

Success is when preparation meets opportunity.

Pengalaman pertama menjadi host bagi KLIP. Semoga ada kesempatan berikutnya tahun depan supaya saya bisa secanggih host andalan, sang kakak kembar, Dwi Tobing. Hehehe.

Selain sebagai host, saya juga diberikan ruang untuk membagikan apa yang saya punya: pengetahuan dan keterampilan di bidang kepenulisan fiksi dan desain interior rumah. Rasa syukur karena diberi kesempatan untuk mengalirkan kebermanfaatan adalah sesuatu yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Bersama Drakor Class saya juga belajar banyak. Saya “dipaksa” untuk mempelajari lebih dalam sesuatu yang menarik minat saya, tetapi tidak pernah saya pelajari secara formal. Apakah itu?

Hukum.

Ketertarikan saya pada bidang hukum adalah murni karena tertarik dengan pekerjaan yang Bapak saya geluti. Akan tetapi, untuk menjadi host sebuah acara yang mendatangkan orang-orang yang memang pakarnya, mau tak mau saya harus belajar secara cepat dan cukup.

Alah bisa karena biasa. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, itulah inti dari belajar.

Sebagai Honorary Reporter, jika Tuhan berkenan maka saya akan mengawali tahun depan dengan workshop tertutup untuk Global Honorary Reporter untuk Korea Selatan. Saya sangat excited bekerja sama dengan orang-orang dari lintasnegara dan latar belakang yang sama-sama menaruh minat pada kebudayaan Korea.

Apakah berbagi dengan orang lain membuat bejana pengetahuan saya kering dan tidak lagi berguna?

Bisa jadi ya jika saya tidak menambahnya dengan air baru setiap ada kesempatan. Oleh karena itu sepanjang tahun ini tak henti-hentinya saya mengikuti kegiatan yang akan mendukung usaha saya untuk terus berbagi.

Festival Patjar Merah 2021

Ubud Writers and Readers Festival 2021

Makassar Writers Festival 2021

Workshop untuk Podcaster oleh Kemenkominfo

Workshop untuk Global Honorary Reporter

adalah sedikit dari banyaknya event berbagi ilmu yang saya ikuti untuk memperlengkapi diri saya.

Saya mesti terus belajar. Semakin banyak saya belajar semakin saya menyadari satu hal: saya tidak tahu apa-apa.

Dari diri saya yang diberi banyak, akan dituntut banyak. Setiap hal yang saya kerjakan tahun ini adalah usaha saya untuk memberi balik kepada orang lain karena saya sudah diberi, sudah diperlengkapi terlebih dahulu.

Kita ada di dunia ini sementara, keberadaan kita teramat fana. Akan tetapi, dampak yang kita timbulkan dapat menetap bergenerasi-generasi ke depan.

Mulailah dengan hal yang sederhana. Apa yang kita bisa lakukan? Bidang apa di mana kita mahir?

Bagikan pengetahuan/kecakapan di bidang itu pada orang lain yang membutuhkan. Kita diberi ilmu untuk menyalurkan ilmu, semua seperti prinsip bejana yang harus diisi air untuk dapat menyalurkan air ke wadah-wadah lain.

Demikianlah highlight untuk catatan syukur saya sepanjang tahun 2021 yang sebentar lagi akan berakhir ini.

Soli Deo Gloria.

3 thoughts on “Dia yang Diberi Banyak, Dituntut Banyak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s