Monster

“Warnanya apa?”

Aku menggerutu. “Tebak, dong.”

“Biru? Kuning?”

“Pasti hitam.”

“Ah nggak, abu-abu.”

Aku menggeleng dan membiarkan mereka menebak lagi.

“Merah deh!”

Aku membalas dengan anggukan yang disusul dengan decak puas dari sekitarku.

“Bentuknya?”

“Padat? Cair? Gas?”

“Keras? Lembek? Sedang-sedang saja?”

Aku tetap diam sambil berpikir. Sebenarnya warnanya tidak merah-merah amat. Hmm, bagaimana, ya?

“Merah dan padat!”

“Itu sih bisa apa aja.”

“Tomat kali. ‘Kan merah. Atau semangka?”

“Semangka mah hijau. Dalamnya yang merah.”

“Buah, bukan?”

Aku menelengkan kepala. Bukan buah, tapi apa itu namanya, satu hal lagi yang manusia butuhkan?

“Daging sapi!”

“Dia belum bilang bentuknya padat, cair, atau bagaimana.”

“Bisa jadi sirup Marjan.”

“Hush, kamu haus, ya? Sabar, tinggal satu jam lagi.”

“Ah, lama banget mainnya. Ayo tebak saja.”

“Kita kekurangan petunjuk.”

Salah seorang dari mereka mencolek bahuku. “Rasanya gimana?”

Kali ini aku memutar bola mata. Mereka berniat main nggak sih? Kok aku harus terus menyuapi mereka dengan jawaban?

“Hmmm….”

“Pedas? ‘Kan merah.”

“Bisa jadi manis. Permen, ya?” Melihat ekspresi wajahku dia kembali menyerocos, “Atau asin seperti…ah aku menyerah!”

“Baru segitu aja masak kalah? Merah, padat, dan asin. Permen nano-nano?”

“Dia tadi belum bilang bentuknya!”

“Nggak jawab artinya benar. Ayo dong, kita harus pulang sebelum maghrib.”

“Apel?”

“Tomat?”

“Tomat ‘kan sudah tadi dan sepertinya salah.”

“Permen? Kue? Dalamnya semangka?”

“Kok cuma segitu tebakan kalian? Coba yang lain dong!”

“Pizza? Donat stroberi? Aduh apa dong?”

“Monster,” tukasku.

Sontak sepuluh mulut di sekitarku menganga.

“Monster apaan?” salah satu dari mereka berbisik lirih.

“Tunggu di sini, ya.” Aku bergegas berlari ke dapur di lantai satu rumahku. Dengan kakiku yang gempal dan pendek, aku butuh waktu untuk segera tiba di depan kulkas sambil tersengal-sengal.

Pintu kulkas yang berat kubuka dengan kedua tangan. Kuambil bangku kecil dari bawah bak cuci dan kupanjat supaya aku bisa meraih kotak besar yang berada di rak paling atas.

Dengan hati-hati kotak itu kubuka dan aroma kuat segera menyergap hidungku. Kutundukkan kepala dan kuendus aroma khas pedas, asam, dan asin yang segera memenuhi rongga mulutku, mampu menerbitkan air liurku bahkan dari jarak sepuluh meter.

Mataku mengerjap-ngerjap bahagia. Perutku berbunyi tanda keroncongan. Hari berjalan begitu lambat ketika sebuah kebiasaan yang menjadi kesenangan direnggut dariku, anak-anak yang masih tidak mengerti mengapa aku harus mengikuti aturan yang aku tidak pahami dan setujui.

Kuambil dua lembar benda itu dari dalam kontak dan kuselipkan di antara kedua bibirku, berpura-pura aku memiliki lidah panjang berwarna merah dengan air liur berwarna merah darah yang menetes-netes ke lantai.

Aku celingukan, tapi tidak menemukan tisu. Terpaksa aku berjalan kembali ke lantai dua dengan menyeret keset kaki dari dapur. Dalam hati aku berdoa Mbak Jum tidak akan terlalu marah jika melihat kekacauan yang kubuat. Bulan ini dia tidak boleh marah-marah, bukan?

Setibanya di ujung tangga menuju ke lantai dua, aku menoleh ke belakang dan membelalakkan mata. Astaga, kacau dan jorok sekali. Namun, ini akan sebanding dengan permainan yang akan aku menangkan.

“Aku datang.”

Lima pasang mata menatapku nanar. Udara seakan berhenti bergerak seiring dengan ekspresi terkejut yang bercampur dengan ketakutan di wajah mereka.

“Apa, apa itu?” Salah seorang dari mereka menunjuk mulutku dan air berwarna merah yang menetes ke kaos dan sandal rumah yang kukenakan.

“Monster,” jawabku susah payah. Salah satu lembaran yang kugigit meluncur turun dari gigi depanku dan mendarat dengan suara aneh di kakiku.

“AAA!!!”

Semua orang berteriak dan kemudian berputar-putar panik. Butuh beberapa detik sampai mereka menyadari bahwa akses ke tangga menuju ke lantai bawah ada persis di belakangku.

Mereka lari tunggang-langgang, berebut ruang di tangga sempit yang sebenarnya hanya muat untuk satu orang dewasa.

“Hei, jangan lari-lari begitu!” seruku lantang dan satu lagi lembaran meluncur turun dan jatuh ke lantai yang sudah becek oleh jejak sandal dan noda merah.

Tidak ada yang mengacuhkanku. Semua anak sibuk berteriak seraya kabur dari pintu depan rumah, tak memedulikan suara Mbak Jum yang memanggil-manggil untuk menghentikan langkah mereka.

Mata Mbak Jum yang sangat awas dan teliti segera mengikuti jejak kekotoran yang tertinggal di lantai. Kepalanya menengadah dan mata kami bersibobrok. Dengan sigap dia mengangkat kain kebayanya dan naik ke lantai dua sambil melotot.

Tanpa sadar aku berjalan mundur sampai punggungku menabrak dinding. Takut, khawatir, aku cemas sekali akan dimarahi, apalagi setelah aku melihat sendiri semua kekacauan yang telah kutimbulkan.

“Jun Ho!” pekiknya. “Ini apa-apaan?” Tangannya meraih salah satu lembaran yang mulutku telah muntahkan.

K-k-kimchi,” jawabku pelan.

“Kenapa ada di sini? Kenapa kamu main-main sama makanan?”

“Cuma bercanda…aku tadi jadi monster.”

“Pakai kimchi? Memang seram?”

Aku merebut dua lembar panjang sawi putih yang ada di tangan Mbak Jum. Warna asli putih dan hijau sudah tertutup oleh warna merah bubuk cabe dan bumbu lainnya. Kujepit kembali kedua lembaran sawi dengan gigiku, membelalakkan mata, dan menghadap ke Mbak Jum.

“Aghhh!” teriaknya. “Serem! Kamu apa-apaan sih?”

“Mirip monster ‘kan?” Dan sawi kembali jatuh teronggok di depan sandalku.

“Jijik, tahu!”

“Cuma kimchi, cuma sawi. Cuma sayur kok.”

“Tapi jijik kalau dimainin gitu!” Mbak Jum terus menggerutu sambil sibuk mencari tisu untuk melap tetesan-tetesan berwarna merah darah di lantai. Wajahnya pun merah padam menahan amarah dan pasti kekesalan karena dia harus membereskan itu semua. Iya, itu ‘kan tugasnya.

“Kalau main tuh biasa aja dong, Jun Ho. Jangan yang serem-serem gitu. Nanti kamu nggak punya teman, lho!” ancamnya.

Aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan mencibir. “Ah, mereka hanya takut karena mereka nggak mengerti. Masak takut sama sayur? Masak kimchi jadi monster?”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s