Mama Adalah Guru Terbaik dan Pahlawanku

Berhubung saya terlambat mengikuti TTM pekan lalu, baiklah saya gabung saja tulisan tentang guru terbaik dengan tulisan tentang pahlawan, ya.

Mama, atau ibu, adalah orang yang berjasa besar untuk setiap manusia. Dia mengandung, melahirkan, susah payah mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Pada masa tuanya ia akan ditinggalkan karena setiap anak akan pergi dari rumah dan memulai rumah tangganya sendiri. Akan tetapi, jejak jasa, bekal kehidupan, dan pengorbanan Mama pasti akan selalu melekat di kehidupan anak-anaknya.

Bagi anak-anak, seorang ibu adalah guru pertama. Bagi saya, Mama adalah guru pertama (sekaligus guru terbaik) dan pahlawan untuk selamanya.

Mama Adalah Guru Terbaik

Saya tidak bicara tentang Mama yang mengajari hal-hal pertama dalam kehidupan saya, seperti kemampuan berdiri, berjalan, berlari, makan, mandi, dan seterusnya. Saya ingin bicara tentang kemampuan Mama sebagai guru yang begitu kompeten bagi anak-anaknya dan bagi murid-muridnya di kampus.

Mama saya berprofesi sebagai dosen jurusan Bahasa Jerman di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Beliau pertama kali ke Jerman sewaktu SMA karena nilai-nilanya yang sangat bagus. Gara-gara itu Bapak saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mama. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini.

Dari Pematang Siantar Mama merantau ke Medan lalu ke Bandung dan mulai berumah tangga di sana. Saya dan adik-adik lahir di lingkungan yang poliglot karena Mama dan Bapak menggunakan berbagai bahasa secara bergantian, tergantung konteks, kepentingan, kehadiran lawan bicara, dan sebagainya.

Bahasa-bahasa yang mereka pakai sehari-hari adalah bahasa Batak Toba, Batak Simalungun, Indonesia, Sunda, Jerman, dan Inggris.Mereka tidak pernah menerjemahkan kata demi kata ketika berganti bahasa. Yang mereka ganti adalah rasa dan konteks dari percakapan. Keluwesan berganti bahasa itu menjadi bagian dari pendidikan anak-anaknya di rumah.

Sebagai orang tua, Mama tidak pernah terlibat mengajari kami pelajaran-pelajaran di sekolah. Sekolah adalah tanggung jawab anak-anak, seperti halnya bekerja adalah tanggung jawab orang tua. Jadi, sewaktu kecil Mama akan menandatangani buku agenda dengan asumsi kami sudah membereskan semuanya sendiri.

Bagaimana kalau ada PR atau tugas ketinggalan, atau lupa belajar untuk ujian? Konsekuensi ditanggung sendiri. Termasuk kalau kami tidak mengerti suatu pelajaran, kami harus berinisiatif mencari sendiri jawabannya ke guru atau teman-teman di sekolah.

Yang Mama ajari hanyalah kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Tabel perkalian? Buat dan hafalkan sendiri. Tata bahasa di pelajaran Bahasa Indonesia? Perhatikan apa kata guru dan banyak latihan soal. Matematika? Semua itu berpola seperti bahasa, perhatikan polanya dan pakai formulanya.

Dengan cara mendidik seperti itu Mama menanamkan kemandirian dan tanggung jawab kepada kami sejak dini, dalam aspek belajar dan dalam aspek lainnya. Nilai bagus dan jelek di sekolah adalah buah dari hasil usaha sendiri. Asalkan sudah bekerja keras, sudah do your best, ya sudah let God do the rest.

Saya tahu pasti cara itu Mama terapkan juga ketika mengajar mahasiswa-mahasiswanya di kampus. Selain di UPI, Mama juga mengajar di Goethe Institut, pusat pembelajaran bahasa Jerman di Bandung, selama 35 tahun sampai pensiun. Sudah tak terhitung berapa mahasiswa Mama yang sering main ke rumah dan menjadi kakak-kakak bagi anak-anak Mama.

Di kampus dan di Goethe Institut Mama terkenal sebagai dosen yang ramah, tapi tegas. Mama tidak bisa dibujuk kalau soal nilai dan beliau paling tidak bisa menerima alasan sesuatu itu susah. Iya, susah, tapi tidak mustahil. Kalau susah, coba lagi, coba lagi sampai berhasil. Pokoknya mahasiswa yang mendapat Mama sebagai dosen pasti harus bekerja ekstra keras.

Saya les bahasa Jerman di Goethe Institut sejak umur 7 tahun, tapi baru les berkelanjutan sewaktu SMA sampai lulus kuliah. Sesekali saya mendapat Mama sebagai guru di kelas yang saya ikuti dan ini biasanya disimpan sebagai kejutan sampai kelas dimulai.

Mama biasanya mengajar mulai level Grundstufe 2.1, atau setara dengan level intermediate di bahasa Inggris. Di level ini tenses ada segunung, vocabularies apalagi. Kemampuan berbicara dan mendengar di-drill habis-habisan. Di akhir Grundstufe 2.2 akan ada tes ZD (Zertifikat Deustch, semacam TOEFL untuk bahasa Jerman). Jadi, selain puyeng kuliah di Kampus Gajah yang susah, saya juga puyeng belajar bahasa Jerman.

Pokoknya les bahasa Jerman di Goethe Institut tidak bisa tenang dan harus selalu serius. Kalau mendapat Mama sebagai guru, saya harus selalu menjaga reputasi sebagai anak guru, hehehe. Masak anak guru mendapat nilai jelek? Apa nanti kata dunia?

Kalau mendapat guru selain Mama, saya juga tetap harus jaim karena om dan tante yang menggendong-gendong saya sejak kecil adalah teman-teman Mama yang pasti melapor ke Mama kalau saya tidak memperhatikan di kelas, atau tidak belajar dengan sungguh-sungguh.

Sebagai guru di rumah dan di luar rumah, Mama membekali saya dan adik-adik dengan beberapa kecintaan yang sangat berguna bagi kehidupan kami.

1. Kecintaan Akan Proses Belajar

Kesempatan belajar itu anugerah. Tidak semua orang yang mau belajar diberikan kesempatan untuk itu. Kami yang memiliki akses ke pendidikan harus memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya. Anak laki-laki dan perempuan tidak dibedakan; semua manusia berhak atas pendidikan yang berkelanjutan dan semaksimal yang mereka bisa tempuh.

Belajar itu menyenangkan. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari gagap dan kelu menjadi lancar berbicara. Dari bisa sedikit menjadi bisa banyak dan membantu orang lain. Rasa senang belajar itu sangat menular sehingga di usia 30-an sekalipun saya dan adik-adik tidak pernah berhenti belajar.

Saya sedang belajar bahasa Korea dan muay thai. Adik saya yang perempuan sedang belajar ilmu transportasi, meskipun ia seorang dokter gigi. Adik saya yang laki-laki sedang belajar public speaking dan broadcasting, meskipun ia bekerja di bidang human resources. Tidak ada usia yang terlalu tua untuk belajar.

Mama sendiri memberi teladan itu. Pada usia 60 tahun Mama masih mau terbang ke Jerman untuk mengikuti kursus musim panas untuk pembelajar bahasa Jerman dari seluruh dunia. Kesempatan itu Mama gunakan untuk mengunjungi kami yang ketika itu sedang tinggal di Swis.

Pokoknya, tidak ada belajar yang terlalu susah, terlalu mustahil, kalau mau berusaha. Itu adalah prinsip hidup Mama yang diwariskan kepada saya, dan saya wariskan juga kepada anak-anak saya.

2. Kecintaan Akan Kegiatan Membaca

Bapak dan Mama gemar membaca. Buku-buku dari berbagai genre ada di rumah masa kecil saya. Di rumah orang tua saya ada tiga buah lemari buku dengan dimensi tinggi 3.4 meter, panjang 3 meter, dan lebar 60 sentimeter. Lemari-lemari buku itu memuat buku referensi, jurnal, majalah, novel, komik, kliping koran, pokoknya semua yang dibaca oleh semua anggota keluarga.

Mama cuma senyum-senyum waktu saya membuat perpustakaan di rumah bersama suami. Adik saya yang laki-laki juga mendedikasikan satu ruangan untuk membaca dan belajar dari koleksi bukunya. Adik saya yang perempuan tidak pernah berpikir dua kali kalau membeli novel.

Kami mencintai buku, kami cinta membaca. Ini sebuah kebiasaan yang dicontohkan, ditanamkan, dikembangkan. Dan tidak hanya asal membaca, dari membaca kami belajar kosakata, diksi, ide, pemikiran, dan berujung pada diskusi.

Perpustakaan di rumah saya. Masih ada koleksi buku lama yang disimpan di kardus-kardus.

3. Kecintaan Akan Informasi

Informasi adalah koentji untuk banyak hal.

Oleh karena banyak membaca, kami bertiga, anak-anak Mama, jadi selalu haus akan informasi. Walaupun tidak mencarinya, informasi sering sekali menghampiri kami. Hal ini mendukung saya saat bekerja di Departemen Human Resources bertahun-tahun lalu. Orang HR adalah koentji gosip informasi di sebuah perusahaan.

Dengan berbekal informasi kami jadi lihai dalam berdiskusi. Kami memiliki bekal dan dasar yang cukup untuk membangun sebuah argumen, tidak pernah asal jeplak dengan dalih “kayaknya begitu”, “kata orang sih begini”, dan sebagainya. Semua argumen memiliki landasan pemikiran.

Yang saya perhatikan, saya dan adik-adik yang sudah dewasa dapat dengan mudah connecting the dots. Saat membicarakan sebuah isu kami dapat mengupasnya dari berbagai sudut pandang. Kami memiliki pandangan holistik terhadap suatu hal.

Oleh karena itu, ketika menceritakan sebuah buku di Klub Buku KLIP saya tidak pernah hanya berhenti membahas premis ceritanya. Saya pasti akan menyangkutpautkannya dengan hal-hal lain di sekitar itu, atau bahkan dengan hal-hal yang sepertinya tidak berhubungan dengan itu.

Sungguh, semua itu berkat Mama, guru pertama kami yang mengajari kami untuk mencintai proses belajar, mencintai kegiatan membaca, dan mencintai informasi.

Mama Adalah pahlawan

Dari Mama saya mendapat semangat untuk memulai meskipun banyak hambatan, tantangan, usia tidak lagi muda, dan ada banyak tanggung jawab yang diemban.

Mulai jadi penulis pada usia 34 tahun? Mengapa tidak?

Saya menerbitkan buku pertama “Randomness Inside My Head” (2016) ketika saya berusia 34 tahun dengan dua anak yang masih kecil. Pengalaman menulis masih minim. Kesempatan untuk diterbitkan oleh penerbit besar tidak ada. Jejaring di dunia kepenulisan nol besar.

Mama selalu menyemangati. Asalkan sudah dipilih, harus ditekuni dengan sepenuh hati.

Untuk menghargai Mama sebagai pahlawan dalam kehidupan saya, yang memberi saya keberanian untuk mulai dan bertekun sebagai penulis, saya mengajak Mama ke Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali. Paling pas pergi ke festival membaca dan menulis dengan orang yang mengajari saya membaca dan menulis, bukan?

Selama tiga hari Mama menemani saya di UWRF 2016. Mama sibuk pijat, spa, dan bersenang-senang. Saya sibuk belajar, ikut kuliah, dan juga bersenang-senang. Sungguh liburan yang berfaedah dan menyenangkan bagi kami berdua. Semoga kami berdua bisa mengikuti UWRF 2022 yang rencananya akan diadakan secara offline tahun depan.

Mama Adalah Guru terbaik dan Pahlawan

Tidak ada orang lain yang terpikirkan oleh saya jika saya ditanya siapa sosok yang menjadi guru terbaik dan pahlawan di dalam kehidupan saya. Keteguhan hatinya, teladan baik yang dia contohkan, warisan sikap dan pemikiran, adalah harta yang teramat berharga bagi saya secara pribadi.

Sebagai guru, Mama digugu dan ditiru. Memberi contoh supaya muridnya juga baik dan berkembang. Tidak selalu membantu supaya muridnya bisa mandiri dan bertanggung jawab, tapi selalu ada untuk ditanyai, dimintai pendapat, dan diajak berdiskusi.

Sebagai pahlawan, Mama adalah contoh keberanian. Keberaniannya untuk terus belajar (beliau menamatkan master pada usia 50-an), keberaniannya untuk mencari ilmu, keberaniannya untuk memulai (dari dosen, beliau memberanikan diri jadi penerjemah buku teknik dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia), adalah keberanian yang membuat anak-anaknya juga berani mengarungi hidup.

Semoga saya juga bisa menjadi guru terbaik dan pahlawan bagi anak-anak saya.

Muttie, ich habe dich sehr lieb.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s