Lima Belas Tahun dan Sepanjang Hayat

Anak saya yang pertama pernah bertanya siapa sahabat saya yang paling dekat di dunia ini. Saya spontan menjawab:

“Papa kamu.”

Suami saya adalah sahabat saya. Secara natur saya berteman dengan lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Suami saya kebalikannya. Akan tetapi, sejak memutuskan untuk berjalan bersama 15 tahun silam, kami menjadi sahabat terbaik bagi masing-masing.

Tidak perlu banyak kata untuk tahu isi kepala, untuk mengerti arti raut wajah. Sedikit sunggingan di bibir atau mulut yang terkatup rapat atau cemberut yang disembunyikan dengan sikap pura-pura cuek sudah bisa menjelaskan apa yang masing-masing mau.

Tentu saja permainan tebak-tebak buah manggis ini tidak selalu berhasil. Cara paling efektif dan efisien untuk mengetahui isi hati ya dengan bertanya langsung.

Kamu mau makan apa?

Kamu merasa apa?

Kamu tidak suka apa?

Kamu tidak suka siapa?

Kamu pengennya gimana?

dan seterusnya.

Komunikasi adalah koentji, dan perlu kelapangan hati untuk menerima terkadang komunikasi tidak menyelesaikan masalah karena ada beberapa hal yang sebaiknya diabaikan sampai ia berlalu sendiri.

Lho kok begitu? Kontradiksi dong?

Ya memang begitu, semakin tua saya semakin saya menyadari satu hal:

Ekspektasi itu tidak hanya harus dikelola; ada saat-saat di mana ekspektasi itu lebih baik tidak dimiliki.

Mengharapkan suami menutup sendiri pintu lemari setiap kali usai mengambil pakaian itu ibarat mengharapkan matahari terbit dari tenggara.

Mengharapkan saya memanaskan makanan dari kulkas sebelum menyantapnya itu ibarat mengharapkan embun muncul di siang hari terik.

Tidak mustahil, tapi sulit. Well, ada beberapa hal yang memang harus diterima karena begitu adanya.

Kami berdua datang dari latar belakang yang sangat berbeda dan kami berdua bertemu pada usia ke-25 tahun. Sudah seperempat abad dihabiskan menjadi diri sendiri tanpa perlu menyesuaikan diri dengan orang lain. Saling mengharapkan masing-masing cepat berubah sesuai keinginan masing-masing ya impossible.

Semuanya perlu waktu, perlu proses, perlu alasan juga kenapa harus berubah atau lebih baik stay with the status quo kalau toh tidak merugikan siapa-siapa.

Rasul Paulus pernah berkata:

Tuhan, berikan aku kekuatan untuk mengubah apa yang aku bisa ubah, untuk menerima yang aku tak bisa ubah, dan untuk membedakan keduanya.

Nasihat tersebut sangat diperlukan untuk kehidupan pernikahan yang harmonis. Harmonis dalam arti ada komunikasi, ada keterbukaan, ada saling pengertian, dan saling mengerti regardless whatever is happening.

Apalagi setelah ada anak-anak. Anak-anak melihat contoh. Bagaimana mereka bisa menghargai, menghormati, dan meneladani institusi yang bernama pernikahan kalau orang tua tidak memberi contoh?

Sekali lagi, impossible.

Ah, tiga belas tahun menikah dan lima belas tahun bersama yang penuh lika-liku. Tidak mudah, tapi tidak pernah ingin menyerah. ‘Kan sudah cinta, sudah berkomitmen.

Sampai maut memisahkan.

Selamat ulang tahun pernikahan untuk suami tercinta, ayah yang luar biasa untuk anak-anak kita, teman berpikir, partner kerja, rekan berdiskusi, semuanya yang aku tak punya kamu punya, semuanya yang kamu tak punya aku punya.

Kita berdua saling melengkapi seperti roda gigi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s