Perpustakaan di Kotaku

Tidak ada perpustakaan di kotaku. Sepertinya sih begitu. Aku mencari di Google dan bertanya di akun Twitter yang memberi informasi seputar kota tempat aku tinggal dan tidak ada yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

Setiap sekolah punya perpustakaan. Setiap instansi pemerintah (kebetulan kota mandiri tempatku tinggal bersebelahan dengan pusat pemerintahan kabupaten) seharusnya punya perpustakaan sendiri.

Seharusnya sih begitu.

Aku tidak bisa mengakses perpustakaan milik pemerintah dan aku hanya tahu sedikit tentang perpustakaan di sekolah anak-anak. Semasa pandemi begini tidak ada buku fisik yang mereka bisa pinjam. Mereka diarahkan untuk membaca secara daring di situs yang merupakan langganan sekolah.

Belajar daring. Bermain daring. Membaca buku pun dilakukan secara daring. Anak-anak jaman pandemi kehilangan rasa deg-degan dan bahagia ketika membuka lembaran demi lembaran kertas pada buku yang tebal.

Oleh karena itu, kali ini aku akan bercerita tentang satu-satunya perpustakaan yang aku tahu betul, yang aku kunjungi setiap hari, tempatku belajar, bekerja, dan nongkrong bersama anggota keluarga yang lain.

Perpustakaan rumah 2009-2021

Itu adalah perpustakaan rumahku sejak tahun 2009 sampai dengan tahun ini. Pada pertengahan tahun kami menambah lemari di perpustakaan (lihat foto pada awal tulisan ini) karena jumlah anggota keluarga sama dengan jumlah buku yang harus disimpan.

Waktu awal menikah aku datang ke rumah yang telah dipersiapkan oleh suami dengan dua kardus besar untuk televisi berukuran 21 inchi yang berisi buku, buku, dan buku.

Suamiku sudah maklum karena dia yang membantuku berkemas ketika pindah dari Surabaya ke Balikpapan, lalu dari Balikpapan ke Jakarta, dan terakhir dari Jakarta ke Bekasi. Ke mana pun aku pindah ada buku-buku selalu kubawa. Awalnya hanya satu kardus Indomie, lama-lama dua kardus untuk televisi tabung.

Ketika anak-anak mulai bersekolah, kami menambah satu lemari buku (paling kiri pada foto). Setelah anak pertama menginjak remaja dan anak ketiga lahir, kami perlu menambah lemari sampai ke langit-langit.

Kami memang begitu mencintai buku.

Di perpustakaan ini kami melakukan begitu banyak hal. Keberadaan perpustakaan ini sangat membantu ketika pandemi terjadi dimana suami harus bekerja dan anak-anak harus bersekolah dari rumah.

Meja perpustakaan yang biasanya hanya diisi pot bunga plastik (semuanya hadiah dari temanku yang hobi membuat kerajinan bunga artifisial) sekarang disesaki dengan PC, laptop, dan buku-buku. Pada akhirnya aku menjuluki perpustakaan kami sebagai war room karena kondisinya yang seperti kapal pecah saban hari.

War room alias perpustakaan di rumah kami.

Di perpustakaan ini anak-anak mengalami milestone demi milestone.

Pertama kali upacara daring. Aneh sekali melihat anak-anak memberi hormat kepada kamera.

Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh kami.

Pertama kali mengalami perpisahan kelas secara daring. Tidak ada perjumpaan secara fisik, semua dilakukan secara virtual, mulai dari berdoa bersama, menyampaikan kesan dan pesan, sampai dengan berfoto bersama. Dan itu berlanjut sampai dengan upacara kelulusan. Wow.

Si Kakak yang pertama kali mengalami perpisahan kelas melalui layar. Hatinya sedih karena itu tahun terakhirnya bersekolah di tempat yang dekat rumah. Si Adek bahagia karena kakak-kakaknya selalu ada di rumah.

Pandemi sudah menginjak tahun kedua dan tidak ada tanda-tanda kita akan kembali ke kondisi normal seperti yang kita tahu sebelum pandemi dan segala kegilaannya terjadi. Yang kita bisa lakukan sekarang hanyalah beradaptasi.

Suamiku menjadi pembicara di sebuah conference online.

So unnatural.

Sejak pertengahan tahun si Kakak belajar di kamarnya sendiri.
Abang has the library all for himself.

Ada berbagai jenis buku di perpustakaan kami, buku-buku seputar hobi (musik, seni, literatur), buku-buku pelajaran, buku-buku sains dan agama, dan favoritku: buku-buku seputar pembelajaran bahasa asing.

Aku pernah menulis di sini tentang pengalaman mempelajari dan menggunakan delapan buah bahasa, dimana empat di antaranya sedang menuju kepunahan. Ada begitu banyak buku di perpustakaan rumah kami yang mendukung kecintaanku akan belajar bahasa.

Judul foto di atas adalah “Perjalanan Belajar Bahasa: dari Bahasa Inggris ke Bahasa Korea” (dari pojok kiri atas searah jarum jam), hehehe, dan semuanya berawal dari memiliki kamus yang menerjemahkan bahasa asing tertentu ke dalam bahasa Indonesia, dan demikian pula sebaliknya.

Kata Mamaku, memiliki kamus adalah langkah pertama dan utama mempelajari bahasa asing. I can’t agree more.

Sama seperti perpustakaan yang aku kunjungi ketika aku masih bersekolah, bekerja, maupun merantau ke luar negeri, perpustakaan di rumah kami adalah sanctuary, tempat aku merasa sangat aman, tenang, dan nyaman.

Waktu kami baru mendarat di Swis aku sampai bilang begini kepada suamiku:

“Tak masalah jika aku tidak langsung punya teman. Asalkan aku tahu di mana supermarket, sekolah untuk anak, dan perpustakaan kota, then I’m good. Jangan mengkhawatirkan penyesuaian diriku. Selama ada ketiga hal itu, aku akan baik-baik saja.”

Tak disangka, selama tinggal di Neuchatel aku menjadi anggota tiga buah perpustakaan: perpustakaan commune (semacam kelurahan), perpustakaan kota (yang berafiliasi dengan universitas terbesar di kota itu), dan perpustakaan mainan khusus untuk si Kakak yang ketika itu masih berusia balita.

Perpustakaan adalah rumahku, apalagi perpustakaan di rumahku.

Apalagi karena aku mendesain dan memproduksi sendiri semua item yang ada di perpustakaan rumah kami, mulai dari lantai kayu yang mirip tatami ala Jepang, “panggung” seperti di restoran Jepang yang memungkinkan kaki kami menjuntai nyaman dan kami bisa berbaring atau tidur-tiduran di sana jika merasa lelah, meja belajar, sampai semua lemari buku yang ada di situ.

Semuanya adalah karya tanganku untuk ruangan yang aku paling cintai di rumah: perpustakaan keluarga.

One thought on “Perpustakaan di Kotaku

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s