Memaknai Sifat Manusia dalam Buku “The Dry”

Tentang KBK

Hari ini saya ikut arisan buku lagi, yeay!

Sebenarnya ini bukan arisan seperti arisan ibu-ibu biasanya, tapi ini Klub Buku KLIP yang disingkat menjadi KBK. Isinya adalah berbagi buku yang sedang atau sudah dibaca. Rasanya memang seperti arisan karena bisa berjam-jam (hari ini 3 jam lebih!) dan susah bubarnya.

Tahu ‘kan bagaimana kalau orang pamit arisan? Sudah di teras nih, eh dicegat lagi di gerbang, diajak ngobrol lanjutan. Udah mau beranjak ke mobil, eh distop sama orang berikutnya yang harus dipamiti.

Walhasil mulai dari mengumumkan mau pulang sampai mobil benar-benar pergi itu bisa makan waktu 20-30 menit sendiri. Begitulah mulai dari rencana “membubarkan” Zoom sampai host benar-benar end meeting, hahaha.

Namun, saya tidak pernah keberatan sama sekali karena bercerita dan berdiskusi tentang buku dengan orang-orang KLIP selama setahun terakhir terasa selalu menyenangkan.

Kami memang sudah sangat klop. Klop dengan orang-orang KLIP, wow it rhymes!

Jumlah peserta awal adalah 14 orang. Last people standing: 8 orang sajo.

Saya terlambat 1 jam sih karena menghadiri workshop untuk Global Honorary Reporter sebelumnya. Waktu saya datang teman saya Rian sedang membahas buku “Who Are You” karangan Jung Woo Yul, seorang mantan wartawan di Korea Selatan yang gemar mengamati fenomena sosial.

Rian menulis pendapatnya tentang buku itu di sini. Banyak hal yang tidak Rian setujui dan saya sepakat. Saya baru skimming buku tersebut di Gramedia Digital dan tidak berminat untuk membaca secara utuh.

Apa pasal?

Pertama, saya percaya latar belakang pendidikan dan pengalaman seseorang akan membuat tulisannya lebih bernas.

Opini yang hanya berdasarkan pengamatan yang kemudian dipukul rata, seperti misalnya kata buku itu orang yang menyukai musik lawas adalah orang yang enggan menghadapi perubahan, tidak bisa saya terima begitu saja.

Kedua, saya sangat against dengan buku-buku dangkal.

Memang tren sekarang adalah menambahkan ilustrasi pada teks untuk meningkatkan keterbacaan, tapi tidak berarti mengurangi kualitas buku untuk mengajak berpikir dan merenung.

Buku semacam “Who Are You” yang langsung memberikan kesimpulan, maaf saja, bagi saya terasa seperti karbohidrat kosong. Hanya bikin kenyang 30 menit dan setelah itu saya craving nasi Padang karena saya masih lapar berat.

Ini bukan book shaming ya, hanya pendapat pribadi berdasarkan selera dan preferensi. Tolong saya jangan di-bully.

Buku Bulan Ini

Anyhow, buku apa yang saya bawa tadi siang? Sejak beberapa jam sebelumnya saya sudah memberi hint tema buku yang saya akan ceritakan.

Pembunuhan.

It’s so me, hahaha.

Mengapa sulit sekali untuk beralih dari genre ini? Karena pada dasarnya saya suka teka-teki. Cerita asmara akan berakhir dengan jadian dan/atau menikah, tapi cerita kriminal punya banyak sekali kemungkinan penyelesaian dan plot twist.

Saya sangat menyukai perjalanan dengan buku kriminal/thriller karena saya mengantisipasi untuk merasa terkejut dan tidak percaya.

Tadi Mbak Rein malah bertanya apa selama membaca cerita detektif saya membuat mind map di benak untuk menebak siapa penjahat sebenarnya.

Saya bilang, tidak. Seperti saya tidak menyukai prediksi ending drama Korea, saya tidak suka sok-sok menebak siapa si pelaku kejahatan. Saya menyukai 90% perjalanan membaca cerita dan 10% akhir cerita.

Premis Cerita

“The Dry” karangan Jane Harper adalah novel yang saya tamatkan dua bulan lalu. Saya melihat iklan buku ini di IG post @fiksigpu, seperti biasa.

Buku ini adalah debut Jane Harper sebagai penulis dari Australia. Berbagai penghargaan internasional telah disabet oleh “The Dry” termasuk kesempatan untuk difilmkan dengan Eric Bana (Hulk generasi pertama) yang berperan sebagai Aaron Falk.

Sayangnya film ini tidak tersedia di layanan streaming internasional seperti Netflix.

Latar belakang tokoh utamanya, Aaron Falk, yang berprofesi sebagai polisi di bidang keuangan membuat saya sangat tertarik. Polisi yang saya tahu adalah yang beraksi dengan senjata, pentungan, dan sebagainya untuk mengejar penjahat. Polisi yang bekerja di balik meja, memelototi deretan angka-angka, dan mengusut kewajaran/ketidakwajaran transaksi keuangan adalah sebuah hal yang baru bagi saya.

Aaron Falk meninggalkan desa kelahirannya, Kiewarra, 20 tahun lalu karena dia dituduh telah melakukan pembunuhan seorang gadis yang satu sekolah dengannya.

Tidak ada bukti yang mengarah pada Aaron yang masih remaja ketika itu bahwa dia adalah pelaku. Akan tetapi, alibi yang lemah, kekalutan masyarakat, hasutan orang tua si korban, kesimpangsiuran berita, dan hasrat untuk melampiaskan kekesalan membuat Aaron dan ayahnya dipersekusi bahkan sebelum hasil penyelidikan polisi resmi dikeluarkan.

Ayah Aaron yang sudah tidak tahan lagi membawa Aaron dan satu koper dan meninggalkan Kiewarra untuk selamanya. Aaron pun tak mau kembali jika saja tidak ada permintaan dari orang tua Luke Hadler, sahabatnya semasa SMA.

Jane Harper melukiskan dengan indah bagaimana fananya sebuah persahabatan. Apa yang kita kira akan selama-lamanya, sahabat, kebersamaan, dan sebagainya, secara natural akan menemui akhirnya.

Hati akan mendingin, relasi merenggang, dan tahu-tahu kita menjadi orang asing bagi satu sama lain. Itulah yang dirasakan oleh Aaron dan Luke setelah Aaron “kabur” dari Kiewarra.

Aaron pulang karena Luke dan istri beserta anak pertamanya tewas mengenaskan. Penduduk desa menduga Luke bunuh diri setelah membunuh istri dan salah satu dari kedua anaknya. Yang mengherankan mengapa anak kedua yang masih berusia 9 bulan dibiarkan hidup.

Ayah Luke sangat berharap Aaron akan membantu polisi setempat menemukan pelaku pembunuhan sebenarnya. Meskipun Kiewarra yang mengalami musim kemarau berkepanjangan membuat banyak orang menduga Luke terlilit hutang dan berurusan dengan orang-orang yang salah, kedua orang tua Luke sangat yakin Luke tidak mungkin membunuh. Dirinya sendiri maupun keluarga yang ia sangat cintai.

Ayah Luke tidak mau tahu bahwa Aaron adalah polisi yang mengejar uang, bukan orang. Sampai dua pertiga bagian buku saya ikut merasa frustrasi seperti Aaron karena tidak adanya petunjuk, atau karena motif untuk membunuh yang terlalu tumpang tindih di antara orang-orang yang mengenal Keluarga Hadler.

Setelah menamatkan buku ini saya mengambil dua kesimpulan:

1. Uang Adalah Akar dari Segala Kejahatan

Apa kata Alkitab itu sudah paling benar. Semua kejahatan, tindakan paling keji, kebejatan, yang bikin kita terheran-heran kenapa bisa ada, itu berakar pada kecintaan berlebihan pada uang.

Saya tidak akan memberikan spoiler ending dari buku ini karena buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh penggemar cerita misteri dan detektif.

Penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia membuat petunjuk siapa pelakunya tersembunyi rapat sampai seperdelapan bagian akhir novel.

Jika waktu itu saya membaca buku ini dalam bahasa Inggris, maka saya bisa langsung menebak dengan membaca pesan terakhir yang Karen tinggalkan di nakas kamarnya.

Kata kuncinya adalah grant, yang bisa jadi nama orang dan berarti sesuatu yang lain di dalam bahasa Indonesia.

Si pelaku tidak memikirkan secara terperinci perbuatannya. Yang dia pikirkan adalah bagaimana mencapai tujuannya tanpa ketahuan oleh orang-orang di sekitarnya.

Dia tidak lagi peduli bahwa mencuri itu salah, bahwa berbohong itu berdosa, bahwa membunuh orang lain adalah tak termaafkan. Yang penting dirinya aman dan selamat.

Sungguh saya sangat jijik sekaligus maklum dengan karakter keji dan bejat yang Jane Harper ciptakan ini. Si pelaku juga melakukan kejahatan karena ada kesempatan.

Niat awalnya untuk mengatasi masalah secepat mungkin jadi menggelembung karena dia melihat kesempatan untuk mengamankan dan menyelamatkan dirinya sendiri. Bahkan istri dan anaknya pun ia kibuli dan telantarkan.

2. insting Manusia yang Paling Dasar Adalah Bertahan Hidup

Mau tak mau saya jadi mengaitkan dengan drama Korea yang hits di seluruh dunia yaitu “Squid Game”.

“Squid Game” mengetes insting manusia untuk bertahan hidup ketika kondisi begitu berat dan desperate. Unsur perjudian dan pandangan akan uang di dalam drama itu erat sekali dengan konsep yang digadang oleh Jane Harper.

Kecanduan. Rasa penasaran. Hati nurani yang kebas. Keserakahan. Ketidaksabaran.

Itu hanya lima dari puluhan sifat dasar manusia yang muncul ke permukaan karena sebuah kasus pembunuhan yang awalnya diduga sebagai bunuh diri.

Oleh karena itu saya sangat menyukai buku “The Dry” karena saya seakan-akan disodori cermin untuk mengamat-amati refleksi diri saya sendiri.

Siapa saya?

Siapa orang lain?

Bagaimana saya memandang orang lain?

Bagaimana orang lain memandang saya?

Apa yang saya akan lakukan jika dihadapkan pada kondisi itu?

Apa pendapat saya jika orang lain bertindak yang saya tidak setujui?

Buku “The Dry” sama seperti drakor “Squid Game” adalah paket lengkap untuk mempelajari dan mengkritik diri sendiri. Dia adalah cermin yang tak retak untuk mengingatkan kita betapa rapuh, bercela, berdosa, dan tak sempurnanya kita sebagai manusia.

Drama “Squid Game” bisa ditonton di Netflix, by the way. Buku “The Dry” sendiri bisa diakses di Gramedia Digital.

Buku Bulan Depan

Bulan ini belum berakhir, tapi kok sudah ngomongin bulan depan? Hahaha. Saya penasaran dengan novel detektif yang ditulis oleh J.K. Rowling dengan nama pena Robert Galbraith.

Dua bulan sudah berlalu dan sudah 7 kali saya mencoba membaca satuuu novel saja dan…belum berhasil juga menamatkannya. Besok deh percobaan ke-8. Kalau tidak berhasil juga berarti saya tidak hopeng dengan tulisan J.K. Rowling mengingat saya hanya bisa menamatkan satu buku Harry Potter 20 tahun lalu.

Hidup sudah susah, buat apa saya tambah menyusahkan diri dengan dunia lain yang penuh sihir, makhluk-makhluk asing, dan istilah-istilah baru?

Begitulah pemikiran saya dulu yang tidak bertahan ketika saya menemukan fanfiction tentang Draco Malfoy dan Hermione Granger. Wew, saya langsung kepincut dan sudah membaca 30 judul sampai hari ini.

Sampai ketemu di Klub Buku KLIP bulan depan. Semoga bulan depan saya masih rajin menulis resensi dari buku yang saya baca.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s