(Indonesia) Darurat Literasi

Malam ini ada undangan disebarkan di salah satu grup Whatsapp dari komunitas yang saya ikuti. Komunitas itu beranggotakan orang-orang dari Sabang sampai Merauke, bahkan mereka yang sedang bekerja atau sekolah atau tinggal di luar negeri.

Apa yang bisa mengikat orang-orang dari latar belakang yang begitu beragam? Jawabnya: kecintaan pada satu hal.

Bunyi dari undangan itu adalah sebagai berikut:

Anda diundang untuk menghadiri event XX di mal YY pada hari Sabtu, 23 Oktober 2021 pukul 10 pagi.

Dari undangannya ketahuan dong kalau acaranya offline? But yet, masih ada aja yang nanya:

Acaranya online ‘kan?

Saya sungguh tak mampu berkata-kata melihat komentar seperti itu. Dan yang berkomentar seperti itu bukan satu, dua orang. Banyak, Saudara-saudara.

Ada juga yang berkomentar:

Aduh, jauh dari tempat tinggalku.

(Ya, susah kali menemukan titik kumpul yang bisa disepakati oleh 200-an orang anggota komunitas yang tersebar di puluhan lokasi. Lebih logis jika panitia yang menentukan tempat, yekan?)

Kenapa nggak dibikin di kota M aja?

(Errr, balik ke argumen saya di atas.)

Kalau ke mal YY susah transportasinya. Mesti nyambung bis, ojek, jalan kaki.

(Dan keluhan soal lokasi event terus berlanjut dan bergulir sampai ada yang berani menanggapi dengan: pesan Grabcar aja, Kak. Ya iyalah, susah amat).

Tahu-tahu sudah puluhan chat yang saya tidak baca dari grup itu (saya sengaja mute malam ini) karena komentar-komentar menggelikan yang bernada serupa.

Mbok ya kalau tidak bisa menghadiri undangan cukup ucapkan:

Terima kasih untuk undangannya, tapi maaf saya berhalangan hadir.

That’s it, itu cukup. Tidak perlu disertai dengan berbagai komentar yang sorry to say, nggak nyambung dan nggak berfaedah sama sekali bagi khalayak.

Ada apa sih dengan kemampuan literasi kita?
Ada apa sih dengan kemampuan kita membaca dan memaknai sebuah teks?

Saya serius sangat penasaran karena hari ini saya dua kali menghadapi kondisi yang seperti ini (kasus kedua akan saya jelaskan nanti).

Pantas saja penyelenggara acara hampir tidak pernah menanggapi komentar orang terhadap undangan yang dia sebarkan, ya karena tanggapannya sudah tertebak.

Menanggapi kenapa acaranya harus offline (atau online).

Menanggapi kenapa hari tertentu dan jam sekian.

Menanggapi kenapa tempatnya terlalu jauh (atau dekat, itu relatif ‘kan ya? Sigh).

Semua tanggapan bisa ditebak. Yang dikomentari bukan esensi dan tujuan acaranya, tapi hal-hal teknis sepele yang sebenarnya tidak membutuhkan puluhan baris chat.

Coba ya, kalau ada undangan tuh dibaca dulu, baik-baik, serap semua informasi yang tertera. Jika ada hal yang kurang jelas, maka bolehlah ditanyakan. Ingat, ingat, jika ada yang kurang jelas lho; janganlah menanyakan hal yang sudah jelas-jelas terpampang di undangan.

Mengapa menanggapi sesuatu dengan kerangka berpikir yang begitu sempit sih? Seakan-akan inti dari sebuah undangan hanyalah hal seputar tempat, tanggal, dan jam, tanpa mempedulikan alasan acara itu diadakan.

Jawabannya cuma satu: si pembaca mainnya kurang jauh.

Kemampuan membaca (atau literasi, bahasa kerennya) yang memprihatinkan ini sudah sangat menggerogoti warga dunia maya. Buktinya apa?

Cara netijul (netizen julid) menanggapi kasus yang menimpa Hong Banjang, eh Kim Seon Ho.

Duh, saya maleslah menanggapi pasangan yang sudah putus dan berantem lagi karena salah satu pihak sakit hati. Sedunia (maya) ikut rempong gara-gara ada yang nggak putus baek-baek. Betapa tidak bergunanya ikut terseret ke dalam keributan ini.

Akan tetapi…, dari kehebohan itu jadi terlihat ciri netizen Indonesia:

Tidak teliti membaca, tapi cepat menanggapi.

Semua curhat si Mbak Mantan (kita sebut saja demikian) ditulis dalam bahasa Korea, yang kemudian diterjemahkan oleh media daring seperti Soompi, Dispatcher, Koreaboo, dan sebagainya ke dalam bahasa Inggris.

Media kita yang spesialis lamtur tanpa mengecek sumber pertama berita main ambil aja berita yang berisi terjemahan dari bahasa Korea ke bahasa Inggris tersebut.

Berita yang dicaplok itu kemudian diterjemahkan secara sepihak ke dalam bahasa Indonesia. Kebayang nggak sih udah seberapa banyak distorsi yang terjadi?

Yang pertama, dari sisi konteks dan rasa bahasa, bahasa Korea lebih dekat dengan bahasa Indonesia.

Kedua bahasa ini jarang menggunakan subjek lengkap. Asal fokus dengan pembicaraan, semua kalimat bisa dimengerti meskipun hanya berisi predikat dan objek.

Akan tetapi, yang kedua, dari sisi tata bahasa (grammar, tenses, konjugasi, dst), bahasa Korea lebih dekat dengan bahasa Inggris.

Masalahnya, yang diterjemahkan dari curhatan yang sepanjang Sungai Han itu adalah “rasanya”, bukan tata bahasanya. Jadinya kacau jika bahasa Korea yang pertama kali digunakan diterjemahkan berulang kali ke dalam bahasa-bahasa lain tanpa melihat konteks dan pemilihan kata pada awal-awalnya.

Makanya kata 설득하다, seoldeukhada yang arti awalnya adalah “membujuk”, ketika diterjemahkan berulang kali bisa berakhir menjadi “memaksa”.

Tak heran ketika saya membuka Twitter hari ini tiba-tiba ada foto Kim Seon Ho sebagai Hong Du Sik di drama “Hometown Cha-Cha-Cha” yang sudah mendapat cap sebagai…

pelaku kekerasan seksual.

Pelaku kekerasan seksual, my man. Kata “membujuk” supaya si Mbak Mantan mau aborsi berubah drastis menjadi kata “memaksa” supaya si Mbak Mantan mau aborsi, dengan secepat kilat akibat kedangkalan pengetahuan orang yang membaca sepotong-potong, tidak menyeluruh, dan memiliki pikiran sempit.

Padahal kalau membaca post aslinya dalam bahasa Korea, nggak ada tuh kata “memaksa”. Yang ada “membujuk” berkali-kali supaya melakukan aborsi dengan berbagai macam alasan pribadi (yang seharusnya tidak usah kita ulik. Wasting time banget).

Distorsi saat menerjemahkan itu membuat Kim Seon Ho mendapat cap sebagai pelaku kekerasan seksual di jagat Twitter.

Padahal ya (mari kita ghibah sebentar), waktu aborsi memangnya Kim Seon Ho menodongkan pistol ke kepala si Mbak Mantan? Aborsi atau tidak ‘kan tetap saja keputusan si pemilik tubuh. Dibujuk seperti apa pun, si Mbak tetap berhak untuk menolak/mengikuti saran si pembujuk. Mengapa mudah sekali menyalahkan orang lain dan playing victim?

Jadi pengen meng-quote Dian Sastro dari film “AADC”:

Jadi salah gue? Salah temen-temen gue?

Ya salah orang yang melakukan salah, dong. Dan salah orang yang membaca dengan salah sehingga mengerti yang salah, dan sesudah itu marah-marah dan tambah menyalahkan orang lain.

Kacau bener….

Soal aborsi ini memang isu sensitif, bisa didomplengi berbagai narasi feminisme, baik yang mild maupun yang ekstrem.

Pemerintah Korea Selatan sendiri melegalkan aborsi sejak tahun 2020, mengembalikan hak warga negaranya atas tubuh mereka ke tangan mereka sendiri.

Jadi, apakah Kim Seon Ho melanggar hukum jikalau apabila seumpama dia memang memaksakan aborsi itu? Ya, jelas tidak. Secara hukum dia tidak melanggar apa pun dan tidak bisa ditindak.

Ah ini mah cuma aksi balas dendam dari wanita yang sakit hati. Lesson learned-nya, hati-hati sama wanita yang tersakiti. Sekali dia bertindak, kelar hidup lo semua.

Semoga di hari-hari ke depan jumlah pembaca yang sok teu akan semakin berkurang. Sesuai dengan judul lebay tulisan ini, semoga Indonesia tidak sedang darurat literasi.

Harapan terakhir saya, semoga kamu yang membaca tulisan ini tercerahkan.

Yuk, belajar baca baik-baik. Serap dalam-dalam informasi. Pahami betul semuanya sebelum mengajukan pertanyaan terkait apa yang dibaca.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s