Minggu Ini Berat

Minggu ini berat. Dan semuanya karena kelas bahasa Korea.

Waktu saya mendaftar les bahasa Korea di level Sejong 2 pada bulan Juli lalu, saya tidak menyangka perjalanan saya belajar bahasa ini akan menjadi sulit dan penuh tantangan dalam waktu singkat.

Level Sejong 1 saya lalui dengan sangat mudah. Tahapan itu seperti bulan madu saja. Dilalui dengan manis, tanpa banyak usaha. Latihan dan PR ada, tapi tidak pernah menyita banyak waktu, tenaga, apalagi pikiran.

Untuk ujian akhir saya mendapat total nilai 97 dari 100, hanya ada 1 kesalahan di ujian berbicara. Ada empat keahlian yang waktu itu diujikan: membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Untuk ketiga tes lainnya saya mendapat nilai sempurna.

Beberapa kali les di level yang baru (Sejong 2) saya langsung keder. Grammar-nya ajubile parah susahnya. Bukan hanya itu, Ssaem (guru bahasa Korea) pun 98% berbicara bahasa Korea di dalam kelas dengan kecepatan selevel kereta cepat KTX.

Cepet banget. Nggak terkejar. Belum sempat menyerap apa yang Ssaem baru saja katakan, sudah ada materi baru. Beberapa kali kami meminta supaya dia melambatkan tempo mengajar. Namun, akhirnya semua kembali ke kecepatan alami Ssaem.

Yang paling bikin syok dari level ini adalah jumlah pekerjaan rumah yang diberikan setiap hari Selasa dan Kamis seusai les. Kami hanya diberikan waktu satu sampai dua hari untuk menyelesaikannya.

PR tidak jauh-jauh dari membuat tulisan deskripsi, menulis cerita. Jika ada grammar baru dengan menggunakan kata-kata baru, maka dijamin akan ada PR membuat kalimat-kalimat dengan kata-kata baru itu.

Hari ini tepat pertemuan ke-10 kelas kami dengan Ssaem. Kami kira PR minggu lalu sudah paling parah: membuat satu cerita dan delapan kalimat (yang akhirnya dikali dua karena merupakan percakapan). Ternyata, PR minggu ini melampaui itu.

Gambar pada awal artikel ini adalah denah rumah saya dan rumah teman saya yang menjadi dasar saya bercerita. Setelah itu dari satu denah saja saya harus menuliskan:

  1. Percakapan tentang bagaimana teman saya bisa mencapai rumah saya.
  2. Email ke teman saya yang datang dari Korea untuk menjelaskan jalan yang dia harus tempuh dari Bandara Soekarno Hatta ke rumah saya.
  3. Teks deskripsi apa saja bangunan/fasilitas yang terletak dekat dengan rumah saja.

Tadi saya sempat ketiduran dan di dalam mimpi saya mendengar kata woenjjok (yang berarti kiri) dan oreunjjok (yang berarti kanan) bergaung berkali-kali.

PARAH. Apa saya terlalu emotionally invested ya sampai-sampai PR terbawa ke alam mimpi?

Total 4 jam saya habiskan malam ini untuk membuat denah dan 3 buah PR. Kelemahan saya adalah kecepatan saya menulis berada di bawah kecepatan saya berbicara di dalam hati. Akibatnya saya melakukan banyak kesalahan kecil, seperti harusnya menulis 왼, tapi saya malah menulis 읜. Dua kata yang sama sekali berbeda arti.

Bukan hanya PR dari kelas reguler, PR dari kelas conversation 2 juga lagi lucu-lucunya minggu ini. Kemarin saya “terpaksa” belajar tentang nophimmal, yaitu bahasa bentuk baku dan sopan yang biasanya digunakan ketika berbicara atau menulis tentang orang yang lebih tua, dihormati, berkuasa, dan sebagainya.

Masalahnya…materi itu tidak akan saya pelajari sampai akhir kelas reguler di level Sejong 2. Jadi, di kelas conversation 2 yang berisi siswa-siswa dari level Sejong 3 dan 4, saya merasa sangat bodoh dan tak berdaya.

Seorang teman sekelas di kelas conversation yang sekarang berada di kelas reguler di level Sejong 3 menyarankan begini: untuk semester berikutnya kamu harus pikirkan baik-baik, apakah akan memilih kelas conversation dengan level lebih rendah (dan pastinya lebih mudah) dari kelas reguler, atau siap diserbu dengan banyak materi baru dan PR setiap minggunya dari kelas reguler DAN kelas conversation.

Saya nggak tahu. Akhir semester rasanya masih jauh sekali dari bayangan, mengingat betapa tertatih-tatihnya saya menyelesaikan PR demi PR setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

PR dari kelas conversation sampai saya kumpulkan ke dalam podcast “Randomness Inside My Head” di Spotify saking banyaknya. Sekalian catatan pembelajaran saya, dan catatan apa saja yang sudah dikoreksi oleh Ssaem melalui email.

Menimbang beban PR dari kelas bahasa Korea, blog ini sepertinya tidak akan diisi setiap hari lagi. Energi saya habis 3 hari dalam seminggu, 12 hari dalam sebulan, untuk berpikir, mendengar, berbicara, membaca, dan menulis dalam Hangeul, aksara Korea yang begitu asing bagi saya pengguna aksara Latin dan bahasa yang menggunakan aksara Latin.

Ya ampun, saya baru ingat, saya belum menulis artikel tentang pengalaman belajar bahasa seumur hidup. Kalau dikumpulkan, tulisan-tulisan saya tentang bahasa Korea di blog ini pasti sudah banyak. Apa saya merangkum itu saja, ya?

Sampai kapan-kapan….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s