Review Drama Korea: Taxi Driver

Menonton drama Korea “Taxi Driver” rasanya seperti napak tilas ke kehidupan saya di Surabaya pada tahun 2005.

Ada taksi deluxe (mobeom taxi) berwarna hitam yang setara dengan Silver Bird oleh perusahaan taksi terkemuka Blue Bird.

Ada juga taksi biasa berwarna oranye yang mengingatkan saya pada taksi Orens yang ketika itu dikelola oleh perusahaan car-rental terkemuka, TRAC.

Kedua jenis taksi ini adalah langganan saya dan para kolega yang sering lembur di kantor dan business trip ke luar kota. Andalan untuk menjemput pagi buta dan mengantar pulang saat larut malam.

Taksi di dalam drama ini bukan taksi biasa. Mobeom taxi adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembalasan dendam. Untuk menjemput atau berinteraksi pertama kali dengan calon klien, mereka menggunakan taksi yang disetir oleh Kim Do Ki (Lee Je Hoon).

Sepanjang perjalanan dengan taksi, Do Ki akan merekam cerita setiap klien, cerita latar belakang yang membuat mereka ingin menuntut keadilan.

Setelah itu ia akan mengantar klien ke suatu tempat untuk mereka memilih, mau lanjut membalas dendam atau tidak.

Ada tiga tempat yang saya perhatikan dari drama ini: game arcade atau bilik karaoke atau mesin ATM. Calon klien diberi koin permainan atau petunjuk memilih lagu atau kartu ATM.

Ada dua tombol: biru di sebelah kiri untuk membalas dendam dan merah di sebelah kanan untuk melupakan/memaafkan.

Dari semua kasus yang dimunculkan di dalam drama ini, hanya ada satu kasus dimana calon klien (seorang pastor) menolak membalas dendam atas (dugaan) kematian anaknya karena teringat prinsip-prinsip dalam agamanya.

Para Cast

Sebelum membahas dramanya, saya mau membahas main lead-nya.

Kim Do Ki (Lee Je Hoon) dengan taksi Orens, eh Rainbow Taxi Company (RTC), perusahaan taksi yang dikelola oleh Jang Sung Chul (Kim Eui Sung)
Kim Do Ki (Lee Je Hoon) dengan taksi Silver Bird, eh taksi deluxe Mobeom Taxi, yang dipakai oleh RTC untuk menculik penjahat dan menerima permintaan klien

Berhubung drama ini bergenre action dan crime, tidak ada formula first lead, second lead yang biasanya ada di drama bergenre rom-kom.

Apalagi romansa dan cerita cinta segi banyak. Wah, kesempatan ada plot yang melibatkan ini lebih tipis dari tempe mendoan.

First lead untuk male adalah Lee Je Hoon, karena pembalasan dendam Kim Do Ki adalah satu dari dua alasan Rainbow Taxi Company (RTC) didirikan.

Untuk second male lead saya duga adalah Kim Eui Sung yang berperan sebagai CEO Jang. Dia mendirikan RTC sebagai sarana menangkapi penjahat supaya tidak berkeliaran dan menyakiti orang lain.

Penyebab tekadnya itu adalah trauma karena melihat kedua orangtuanya yang sudah manula mati dibantai di rumah mereka sendiri oleh seseorang yang membunuh secara acak.

Satu hal kontradiktif yang saya notice di sini adalah rangkaian pepatah yang digantung di dinding rumah CEO Jang:

Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.

Balaslah kejahatan dengan kebaikan.

Sebuah pepatah yang terkesan munafik jika diterapkan oleh CEO Jang karena sehari-hari dia menangkapi orang jahat, menyerahkannya kepada Baek Sung Mi (Cha Ji Yeon) untuk dipenjarakan tanpa batas waktu di sebuah tempat rahasia dan diperlakukan bak binatang.

CEO Jang merasa dia telah berbuat baik kepada masyarakat, dan terutama kepada keluarga korban, dengan menahan penjahat-penjahat itu. Tapi, benarkah demikian?

Kalau dari sisi premis, sebenarnya karakter CEO Jang lebih cocok menjadi first male lead karena kisah hidupnya adalah satu hal yang membuat cerita bergulir dengan pembentukan RTC dan penerimaan pesan untuk pembalasan dendam.

Akan tetapi, you know lah gimana drama Korea. Aktor senior tidak akan dijadikan main lead tanpa didampingi aktor yang lebih muda, lebih segar, lebih giung.

Lihat saja drama “Beyond Evil” (2021). Shin Ha Kyun sebagai aktor senior kurang charming apa coba sebagai Lee Dong Shik? Namun, dia perlu dipasangkan dengan Yeo Jin Goo yang 23 tahun lebih muda(!) untuk menarik minat lebih banyak penonton.

Bagaimana dengan female lead?

Menurut saya first female lead adalah Jaksa Kang Ha Na yang keukeuh sumeukeuh ingin menemukan penjahat-penjahat yang diculik Do Ki menghilang dan menegakkan hukum yang berlaku.

Orangnya tegas, berprinsip, tahu yang dia mau, dan berkacamata kuda. Kalau sudah menargetkan sesuatu, dia akan mengejar terus, seperti dia mengejar kebenaran akan Kim Do Ki dan RTC.

Sepanjang 16 episode saya merasakan betul pergulatan batin Jaksa Kang.

Antara ingin menghukum penjahat seberat-beratnya dengan cara legal, tapi juga tidak berdaya jika ada kendala teknis seperti statute of limitations, dimana sebuah kasus kejahatan terpaksa ditutup dan tidak bisa diselidiki lagi.

Antara ingin memperlakukan penjahat layaknya manusia yang memiliki hak asasi, untuk hidup, mendapatkan pembelaan, dst., tapi hancur hati melihat dampak jangka panjang kejahatan terhadap keluarga korban.

Perasaan frustrasi dan tak berdaya dikeluarkan dengan baik oleh Esom, apalagi setelah anak buahnya, Penyelidik Wang, mati dibunuh oleh anak buah Baek Sung Mi. Sekarang giliran Jaksa Kang yang ingin membalas dendam. Aktingnya bagus sekali.

Siapakah second female lead?

Tak lain dan tak bukan Baek Sung Mi yang mendapat julukan godmother. Karakternya jahat dan egois sekali.

Sengaja membunuh suaminya yang sudah lansia untuk mendapatkan hartanya.

Membunuh penjahat-penjahat yang dititipkan oleh CEO Jang dan menjual organ mereka.

Membunuh warga sipil untuk menyuplai rantai perdagangan organ yang dia miliki.

Baek Sung Mi itu licik dan kebangetan jahatnya. Semua hal jahat yang kita takut pikirkan bisa dilakukan dengan mudah oleh Baek Sung Mi. Saya belum pernah melihat akting Cha Ji Yeon sebelumnya, tapi aktingnya tidak kalah greget dibandingkan lead yang lain.

Yang bagus dari drama ini adalah semua tarik-ulur adu cerdas antara dirinya dan CEO Jang tidaklah bertele-tele dan tidak membosankan. Semuanya pas, sampai ke tahap adegan perkelahian, semuanya tepat sasaran untuk membangkitkan emosi penonton.

Oh ya, ada third female lead yaitu Ahn Go Eun (Pyo Ye Jin) yang berperan sebagai hacker untuk RTC. Motifnya membalas dendam adalah menghancurkan Perusahaan U-Data yang menyebarkan video porno kakaknya. Gara-gara video itu kakak dari Go Eun memutuskan untuk bunuh diri.

Leads dari drama ini yang beradu nyali dan taktik (dari atas): Ahn Go Eun, Kang Ha Na, Kim Do Ki, CEO Jang, Baek Sung Mi

Seperti halnya drama Korea lain, aktor-aktor pendukung berperan dengan sangat baik.

Mulai dari mekanik Choi dan Park yang juga bekerja di RTC, tangan kanan Baek Sung Mi yaitu saudara kembar Goo Seok Tae dan Goo Yeong Tae yang membuat saya penasaran apakah mereka berdua benar-benar aktor kembar atau drama ini menggunakan CGI, sampai setiap klien yang ingin membalas dendam, semuanya berakting dengan sangat baik dan sepenuh hati.

Premis Cerita

Bagan di bawah ini menunjukkan dinamika di antara karakter-karakter utama di dalam drama ini. Baris paling atas diisi oleh orang-orang Rainbow Taxi Company dengan Kim Do Ki sebagai pusatnya.

Di pojok kiri bawah ada jajaran di kejaksaan yaitu Jaksa Cho, Jaksa Kang Ha Na, dan Penyelidik Wang. Di pojok kanan bawah ada Baek Sung Mi dan dedengkotnya.

Bagan dinamika antarkarakter di “Taxi Driver”

Setiap cerita pembalasan dendam yang disuguhkan adalah cerita yang membawa kita mengenal lebih jauh karakter dan kisah pilu Kim Do Ki, CEO Jang, dan Ahn Go Eun.

Saya yang mengenal Lee Je Hoon lewat drama polisi “Signal” (2016) sangat terkesima dengan penampilannya sebagai Kang Taksi di sini. Badass, dingin, pemberani, tak segan adu jotos, namja sekali. Berbeda 180 derajat dari karakternya sebagai profiler penjahat atau sebagai time traveller (“Tomorrow with You”, 2017, bersama Shin Min Ah).


Cerita-cerita itu juga membawa karakter Jaksa Kang untuk berkenalan dengan dan mulai mencurigai Kim Do Ki dan RTC yang selalu muncul saat dia menyelidiki sebuah kasus.

Sebelumnya Jaksa Kang sudah berkenalan dengan CEO Jang yang sering mondar-mandir di kantor kejaksaan. CEO Jang adalah direktur Blue Bird, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan membantu keluarga dari korban kejahatan. Dia bersahabat dengan bos dari Jaksa Kang.

Pertemuan pertama Kim Do Ki dan Kang Ha Na. Sparks were flying. Sayangnya potensi romansa tidak ditindaklanjuti oleh sutradara dan penulis naskah. Ini ceritanya romansa kepentok genre.

Untuk setiap pengajuan kasus pembalasan dendam, kelima anggota RTC (CEO Jang, Do Ki, Go Eun, Choi, dan Park) akan berembuk untuk mengambil atau menolak kasusnya.

Selama 16 episode belum ada kasus yang ditolak. Bahkan ketika CEO Jang menutup RTC setelah bentrok dengan Baek Sung Mi, RTC bekerja terakhir kali untuk membalaskan dendam Do Ki pada Oh Chul Young yang telah membunuh ibunya.

Memangnya ada kericuhan apa antara CEO Jang dan Baek Sung Mi?

Jadi, RTC mengejar Goo Yeong Tae, anak buah Baek Sung Mi yang membunuh anak buah Jaksa Kang. Jaksa Kang meminta bantuan Mobeom Taxi untuk membalas dendam atas kematian Penyelidik Wang yang ditusuk entah oleh Goo Yeong Tae atau oleh Goo Seok Tae, kakak kembar Goo Yeong Tae.

Baek Sung Mi yang licik dan tidak mau disuruh-suruh melepaskan semua penjahat yang telah diculik oleh RTC. Ini menimbulkan masalah karena sekarang Do Ki dan kawan-kawan diburu untuk dibunuh.

Baek Sung Mi dan semua penjahat berhasil menginfiltrasi markas RTC yang tersembunyi di bawah tanah dan menculik/menyiksa Choi dan CEO Jang. Ngeri banget.

Drama diakhiri dengan penangkapan dan pengadilan Baek Sung Mi and the gang dan pembubaran Rainbow Taxi Company. CEO Jang menghentikan kegiatannya membalaskan dendam orang lain karena dia takut kejadian dengan Baek Sung Mi bisa terulang. Sekali itu mereka hampir kehilangan Park. Kali lain mungkin ada di antara mereka berlima yang benar-benar terbunuh.

Do Ki dan kawan-kawan dikepung oleh anak buah Baek Sung Mi. Hidup tidak tenang kalau harus sering berurusan dengan gangster.

Kalimat CEO Jang yang menyentuh hati adalah berikut ini:

Kalian yang membuat aku berkesempatan membalas dendam. Kalian pulalah yang membuatku berhenti melakukan itu. Terima kasih.

Setelah RTC dibubarkan, mereka semua berpencar. CEO Jang tetap mengurus taksi oranye dan organisasi Blue Bird. Do Ki traveling keliling negeri. Choi dan Park bekerja seperti orang normal. Go Eun menjadi polisi wanita. Jaksa Kang tetap di kejaksaan, sedangkan bosnya, Jaksa Cho, resign karena beban moral.

Rainbow Taxi Company dan orang-orangnya tidak pernah diusut dan didakwa. Jaksa Cho memutuskan mengubur keterlibatan mereka karena melihat efek baik dari tindakan RTC: menangkapi penjahat licin yang sering kali lolos dari jeratan hukum karena berbagai faktor (kekurangan saksi, bukti, dan motif).

Konflik Bagi Penonton

Berbeda dengan “Vincenzo” yang membalas dendam murni untuk kepentingan dirinya sendiri (dan emas berjuta-juta Dollar, of course), “Taxi Driver” membuat penonton berpikir keras.

Kalau saya adalah korban kejahatan, atau keluarga dari korban kejahatan, bisakah saya memaafkan dan melupakan begitu saja? Tidakkah saya ingin penjahat yang menyakiti saya/kami dihukum seberat-beratnya?

Di sini saya jadi teringat Hukum Hammurabi:

Mata diganti mata.

Gigi diganti gigi.

Jika ini diberlakukan, maka akankah dunia ini tetap aman dan tenteram? Tidakkah semua orang akan bertindak main hakim sendiri, penuh dengan amarah dan napsu membalas dendam? Apakah kita akan kembali ke jaman baheula ketika law and order minim sekali diterapkan?

Pelaku kejahatan juga memiliki hak. Hal ini yang masih sulit saya terima; otak dan hati saya tidak sinkron menanggapinya.

Otak saya bilang, iya, benar mereka mempunyai hak dibela dan dihukum setimpal dengan kejahatan mereka. Tidak lebih dan tidak kurang.

Hati saya bilang, tidak, mereka harus dihukum penjara seumur hidup atau hukuman mati. Apalagi jika mereka menimbulkan kerusakan dan trauma yang berkepanjangan dan memengaruhi banyak orang (seperti pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan lain sebagainya).

Dilematis. Sama dilematisnya dengan menilik kasus perundungan dan hak korban untuk menghukum sendiri perundung yang menghancurkan raga, jiwa, dan hidup. Hal ini saya tuliskan dalam review drama keren “D. P. (Deserter Pursuit)”.

Menjelang episode terakhir Lee Je Hoon menarasikan kisah seseorang yang difitnah sebagai pelaku pembunuhan berantai Hwaseong. Pelaku sebenarnya sudah ditangkap dan masih mendekam di penjara sampai sekarang.

Ketika itu polisi merekayasa bukti, menyiksanya supaya mengaku. Kejaksaan pun bersekongkol dengan kepolisian sehingga orang tak bersalah itu mendekam di penjara selama puluhan tahun atas kejahatan yang dia tidak perbuat.

Tubuhnya mengalami trauma fisik. Tahun-tahun dalam hidupnya lewat begitu saja. Dia tidak punya lagi keluarga, teman, dan pekerjaan. Kepada siapa dia berhak menuntut kompensasi atas kezaliman yang dia alami?

Untuk kasus-kasus seperti ini, penting untuk memerhatikan hak tersangka pelaku kejahatan. Karena ya itu tadi, bagaimana kalau mereka difitnah dan pelaku sebenarnya masih berkeliaran bebas? Masa hidup dan nyawa manusia menjadi taruhannya.

Penutup

Oh ya, bagaimana dengan pembalasan dendam Do Ki? Tonton sendiri drama ini di VIU ya. Plot twist-nya sangat rapi, tak tertebak, dan sejalan dengan misi CEO Jang untuk let go.

Drama “Taxi Driver” diakhiri dengan meningkatnya kasus kejahatan dan pulangnya anggota RTC ke kediaman CEO Jang. Kali ini Jaksa Kang pun bergabung dengan mereka.

Apakah ini pertanda akan ada season 2?

Kabarnya begitu, meskipun belum ada kepastian waktu produksi dan waktu tayang. Saya sih sangat berharap bisa melihat lagi Kang Taxi and the gang di layar.

Satu hal yang saya serap dari drama ini adalah, meskipun tidak sempurna, saya masih berharap pada hukum dan penegaknya. Mulai dari tingkat sekolah seperti law school dan akademi kepolisian, saya masih berharap penegakan hukum diisi oleh orang-orang yang jujur dan berintegritas.

Dengan catatan, (amit-amit, knock the wood) saya bukanlah korban atau keluarga dari korban kejahatan.

5 thoughts on “Review Drama Korea: Taxi Driver

  1. Kalau dalam Al Quran, eye for an eye atau menuntut perlakuan yang sama karena ketidakadilan itu memang diperbolehkan. Istilahnya Qisas. Tapi masih dalam ayat yang sama, disebutkan kalau memaafkan itu lebih baik dan utama.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s