Review Drama Korea: D. P. (Deserter Pursuit)

Perundungan membunuh jiwa lebih cepat dari membunuh raga.

Sebelum kita masuk ke bagian filosofis dari drama Korea “Deserter Pursuit” (2021), mari kita telaah dulu arti dari judul drama ini.

Seperti yang umum diketahui, semua pria di Korea Selatan harus mengikuti wajib militer (military conscription). Definisi pria ini di undang-undang mereka (Military Service Act Artikel 3) adalah every masculine gender.

Apakah wanita boleh mengikuti wajib militer? Boleh, tapi tidak wajib. Keikutsertaan bersifat sukarela.

Wajib militer ini diberlakukan sejak tahun 1957 untuk pria berusia 18 sampai 28 tahun. Selama 2 tahun mereka akan digembleng oleh tentara RoK (Republic of Korea). Selama 2 tahun mereka dicabut dari keluarga, rumah, sekolah, tempat kerja, aktivitas sehari-hari untuk berbakti kepada negara.

Banyak pria yang tidak ingin mengikuti wajib militer. Mengikutinya berarti menghentikan sementara hidup mereka untuk negara, padahal waktu terus berjalan dan orang-orang di sekitar mereka terus berubah.

Seorang teman saya di program pertukaran mahasiswa di Tokyo Tech pada tahun 2003 (Jee Hoon) dengan sengaja menjatuhkan diri dari tangga di kampusnya 1 minggu sebelum dia enlisted (memulai wamil).

Tempurung lututnya retak dan mengharuskannya memakai tongkat selama 1 bulan. Setelah wamilnya ditunda, dia terbang ke Tokyo untuk bergabung dengan kami.

Kami satu asrama. Dia tinggal di lantai 1 dan saya di lantai 2. Dia satu apartemen dengan sesama orang Indonesia yang juga diterima di program, jadi kami sering bertemu dan berbincang-bincang.

Ketika saya menanyakan jalannya yang masih agak pincang, dia menjawab dengan bangga bahwa dia berhasil menghindari wamil.

Tapi pemerintahmu masih bisa menagih kewajibanmu ‘kan, tanya saya waktu itu. Toh dia masih berusia 21 tahun saat itu dan program kami selesai ketika dia berusia 22 tahun.

Mendengar pertanyaan saya, dia terdiam. Namun, setelah kami kembali ke negara masing-masing, dia mengirim email ke saya bahwa dia melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat untuk beberapa tahun.

Lagi-lagi dia berhasil kabur dari kewajibannya.

Seorang teman lain di asrama yang sama (Yu Jin) ingin cepat-cepat menyudahi keikutsertaannya di program kami karena ingin bertemu dengan kekasih dan adiknya yang wamil selama 2 tahun.

Saya tidak bisa membayangkan harus terpisah selama 2 tahun dengan orang-orang yang saya kasihi. Pasti rindu sekali dan nyaris putus asa menahan kangen.

Tidak semua pria yang mengikuti wamil mudah beradaptasi dan bertahan sampai akhir. Banyak dari mereka yang terkaget-kaget dengan sistem militer.

Apa sebab? Semua cara hidup dirombak. Mulai dari soal bangun pagi, melipat selimut, membersihkan sepatu, dan lain sebagainya. Belum lagi tekanan mental karena tiba-tiba dicemplungkan ke dunia yang begitu berbeda.

Belum lagi jika ada perundungan karena ada orang-orang yang wamil dan stres terkurung di barak. Akibatnya mereka melampiaskan emosi yang terpendam kepada mereka yang lemah dan tidak mampu melawan.

Tubuh berotot dan perut kotak-kotak itu cuma efek samping yang tidak didapat semua pria yang ikut wamil. Lihat saja Lee Min Ho Oppa yang tetap cungkring. Ya mau bagaimana berotot wong dia hanya ditugaskan di kantor humas di Gangnam selama 2 tahun.

Mereka yang tidak tahan ikut wamil ada yang nekat melarikan diri dari training center. Padahal tempatnya biasanya terpencil di atas gunung dan jalan raya terdekat bisa diakses setelah 10 jam berjalan kaki.

Segitu niatnya buat kabur. Mereka inilah yang disebut sebagai deserter. Bukan pembelot (banyak terjemahan yang keliru), bukan pengkhianat, hanya orang yang melarikan diri dari kewajiban ikut wamil.

Di situlah tentara DP (Deserter Pursuit soldier) bekerja. Mereka bertugas melacak orang-orang yang kabur dan membawa mereka kembali ke satuan tempat mereka ditugaskan.

Sebuah tugas yang cukup berat karena Korea Selatan tidak sebesar kota Seoul yang sepertinya seluas satu RT. Semua orang ketemu di situ lagi, di situ lagi.

Para Pemeran “D. P.”

Masih ingat drama Korea “While You Were Sleeping” (2017)? Di dalam drama itu Jung Hae In si pemeran utama “D. P.” berperan sebagai Woo Tak, seorang polisi yang nasib dan jalan hidupnya berselisih jalan dengan karakter Lee Jong Suk dan Bae Suzy.

Gara-gara drama itu, nama Jung Hae In melejit. Orang-orang memang lebih suka petugas polisi imut dengan perut kotak-kotak daripada jaksa yang ceriwis (Lee Jong Suk), hahaha.

Setelah WYWS, Jung Hae In berperan dalam dua melodrama bersama Son Ye Jin (“Something in the Rain”) dan Han Ji Min (“One Spring Night”). Dua drama yang tidak saya tonton karena bukan genre pilihan saya.

Perannya yang menyerempet karakter polisi hanyalah sebagai seorang tentara yang difitnah dan harus masuk penjara dalam “Prison Playbook” (2017-2018). Di situ Jung Hae In berakting bagus sekali.

Drama “D. P.” hanya terdiri dari 6 episode dan diproduseri oleh Netflix. Netflix ini ya. Sekalinya bikin drama/film jelek, ya jelek banget. Sekalinya bikin drama/film bagus, kebangetan bagusnya.

“D. P.” adalah drama yang masuk ke kategori kedua. Saking bagusnya perasaan saya usai menonton seperti ketika menamatkan “Kingdom”. Luar biasa, batin saya. Seandainya saja semua drama Korea seperti ini.

Penokohannya kuat. Alur ceritanya padat. Tidak ada scene yang sia-sia. Semua adegan membawa penonton ke tujuan penceritaan, menjawab pertanyaan yang diajukan An Jun Ho (Jung Hae In) di episode 1.

Apakah mengikuti wamil adalah jalan keluar dari masalah hidup yang mendera?

Bagaimana jika mengikuti wamil menyebabkan masalah-masalah baru?


Sebelum saya melanjutkan lebih jauh, ini dia 4 orang pemeran utama di dalam drama ini. Semuanya rasa lead karena porsi mereka yang berimbang di layar.

Bahkan partner An Jun Ho yang bernama Han Ho Yeol (Koo Kyo Hwan) berakting dengan sangat prima dan melengkapi Jung Hae In. Chemistry mereka meluap-luap. Saya berharap mereka berdua benar-benar berteman akrab di belakang layar.


Saya tidak pernah menonton akting Son Seok Koo. Aktingnya sebagai kapten yang sok tahu, perundung, dan menyebalkan, sukses bikin saya ilfeel.

Tapi waktu saya melihat Sersan Park Beom Gu saya senang sekali. Kim Sajang! Yang menonton “Reply 1988” pasti ingat ayah dari Jung Bong dan Jung Pal ini.

Pokoknya cast-nya tepat semua. Cast assembly-nya mantap, termasuk untuk para karakter pendukung. Terima kasih, lho, Netflix.

Jalan Cerita

Jalan ceritanya sederhana sebenarnya. An Jun Ho adalah pria seperti pria kebanyakan di Korea Selatan yang bekerja sebagai pengantar makanan di restoran.

Dia tidak kuliah dan tidak kaya. Ayahnya abusif dan membuatnya belajar bertinju dari usia dini untuk menghindari pukulan. Ibunya lemah dan tidak berani meninggalkan ayahnya.

Sikap ibunya ini membuat Jun Ho diam-diam marah. Ketika pria-pria lain diantar keluarga/kekasih mereka untuk upacara penerimaan wamil baru, Jun Ho hanya berdiri sendirian dengan muka datar.

Private An Jun Ho yang bertugas menjaga penjara militer

Kalau pernah melihat Jung Hae In dalam drama-drama lain, pasti kamu kaget dengan transformasi karakternya.

Dia berhasil menunjukkan keluar bagaimana hati yang dingin dan tawar menghadapi kehidupan dan orang-orang di dalamnya. Sorot mata, pilihan kata, gerak-gerik, semuanya menggambarkan seorang pria yang terkucil, terpisah, dan kesepian. Salut banget buat Jung Hae In.

An Jun Ho ditugaskan di sebuah unit yang dikuasai oleh perundung bernama Hwang Jang Soo, seorang pria yang sudah lebih dulu masuk dan akan menyelesaikan wamilnya dalam waktu dekat.

Hwang Jang Soo (berkaos hitam) dengan beungeut minta ditabok

Ketika dia menghadapi dilema antara melawan atau tunduk, Jun Ho dipanggil oleh Sersan Park Beom Gu untuk menjadi tentara D.P. untuk menggantikan Korporal Han Ho Yeol yang sedang dirawat di rumah sakit.

Sersan Park menawarkan posisi tentara D.P. kepada Jun Ho

Misi pertama yang dijalankan Jun Ho tidak berakhir baik. Alih-alih mencari si deserter, dia malah menemani seniornya yang bernama Korporal Park Sung Woo berpesta-pora mumpung mereka keluar dari barak.

Si deserter kemudian ditemukan mati bunuh diri di kamar motelnya. Dia tidak tahan lagi hidup karena terus menerus dirundung di unitnya dan tidak ada yang bersedia menolongnya.

Di kamar motel itu ditemukan korek api yang Jun Ho berikan ketika mereka tak sengaja merokok di tempat yang sama. Jun Ho yang syok memukuli Sung Woo sampai berakibat fatal.

Itulah akhir dari episode pertama.

Episode kedua dibuka dengan kembalinya Korporal Han Ho Yeol ke unit D. P. dan menjadi partner kerja Jun Ho. Karakternya ini eksklusif untuk drama dan tidak ada di webtoon “D. P.: Dog Days” oleh Kim Bo Tong.

Akting Koo Kyo Hwan luar biasa. Slenge’an, semaunya sendiri, wicked, cerdas, tapi diam-diam berhati lembut dan baik. Tampang luar tidak menunjukkan begitu. Namun, dialog, mimik wajah, dan sikap sepanjang 5 episode membuat karakternya disukai dan ngangenin.

Dari satu misi ke misi berikutnya, dari satu pengejaran ke pengejaran berikutnya, mereka bekerja sama dengan sangat baik. Ho Yeol memiliki wawasan luas, sedangkan Jun Ho memiliki pemikiran mendalam yang tidak biasa.

Dari Seoul ke Busan ke kota lain. Dengan mobil, kereta, dan bis, mereka tekun mengejar dan menangkap para deserter. Terkadang mereka harus bekerja sama dengan tentara D. P. lain dan ini tidak berakhir baik.

Sekali mereka ditipu mentah-mentah sebanyak 5 juta won oleh pacar seorang deserter. Jun Ho yang baik dan polos dengan mudah diperdaya oleh cerita sedih. Untung Ho Yeol kaya dan bisa mendapatkan uang pengganti.

Kali lain mereka harus memecahkan soal matematika dan statistika untuk menemukan si deserter yang kebetulan seorang mahasiswa cerdas. Tak disangka mereka tidak harus mengejar jauh untuk menangkap pria itu. Pada akhirnya Ho Yeol melepaskannya supaya ia bisa mengurus neneknya yang dementia.

Nilai dan rasa kemanusiaan sangat kental sepanjang drama ini. Meskipun tugas memanggil, pada akhirnya ada nurani yang berbicara. Ho Yeol yang melepaskan seorang deserter tidak dipermasalahkan oleh Sersan Park Beom Gu sebagai atasannya. Dia percaya penuh pada call and judgement dari Ho Yeol dan Jun Ho.

Pesan Terselubung

Drama ini seperti webtoon-nya menyoroti masalah perundungan di militer yang diketahui, tapi dengan sengaja diabaikan oleh orang-orang.

Para pria yang masuk wamil berasal dari berbagai latar belakang dengan masalah hidup masing-masing. Semuanya dipaksa untuk bisa menyesuaikan diri dan hidup bersama dalam kurun waktu 2 tahun.

Sebagian dari mereka adalah pemimpin di masyarakat. Sebagian lagi adalah pengikut. Sebagian adalah orang sukses dan terpandang. Sebagian lagi adalah pecundang dan kaum marjinal.

Kemarahan dan ketidakpuasan terpendam akibat kehidupan mereka sebelum atau ketika wamil membuat mereka melampiaskannya pada sesama peserta wamil.

Ketakutan akan senioritas dan pembalasan dendam membuat new recruit hanya bisa mengalah dan mendiamkan ketika dirundung (meskipun sampai pada tahap membahayakan keselamatan raga dan jiwa).

Dua episode akhir dari drama ini menyoroti hal itu. Bagaimana Hwang Jang Soo yang memuakkan bisa melenggang kangkung begitu saja setelah masa wamilnya selesai, tanpa penyesalan atau apa pun.

Padahal dia sudah merundung banyak orang dan salah satunya adalah Suk Bong, teman Jun Ho yang pendiam dan berprofesi sebagai komikus dan guru gambar yang sangat disukai murid-muridnya.

Suk Bong adalah seorang yang lembut dan cenderung penakut. Berbagai kilas balik memberikan gambaran baik pada penonton bagaimana perubahan karakternya sebelum dan sesudah wamil. Dari seseorang yang ramah menjadi seorang pemarah dan pembenci.

Semua tindakan perundungan yang dia alami membuat saya miris. Kejam sekali. Tidak berperikemanusiaan sekali. Lebih parah dari yang dialami korban kasus KPI Pusat yang meledak bersamaan dengan dirilisnya drama ini.

Akan tetapi, seperti kasus KPI dimana korban disuruh diam, Suk Bong juga disuruh untuk tidak membesar-besarkan masalah. Katanya perundungan itu biasa, tidak usah terlalu sensitif. Padahal trauma yang dia alami itu nyata. Luka emosi itu begitu membekas.

Pada akhirnya Suk Bong yang tidak terima dengan Hwang Jang Soo yang tidak menyesali perbuatannya kabur dari barak dan menjadi deserter. Meskipun mereka berteman, mau tak mau Jun Ho mengejar untuk menangkapnya.


Episode terakhir dari minidrama ini adalah diskusi dan kompleksitas moral dari sebuah perundungan.

Di satu sisi Suk Bong sebagai korban berhak mendapatkan permintaan maaf dan penebusan dari Jang Soo. Dia tidak pernah merugikan Jang Soo, tapi dia disiksa sedemikian rupa hanya karena Jang Soo bisa.

Hanya karena Jang Soo merasa superior, punya pengikut, dan mencari target yang lebih lemah untuk melampiaskan emosinya. Masalah Jang Soo ada di dalam dirinya sendiri yang delusional, padahal setelah wamil ditunjukkan dia hanya pekerja di minimarket yang sering dimarahi karena berbuat salah.

Sebenarnya Jang Soo bukan siapa-siapa. Dia hanya berlagak jadi seseorang ketika masih berada di barak.

Melihat kejahatan Jang Soo, saya jadi berempati dengan keinginan Suk Bong untuk membalas dendam. Saya jadi ingin ikut menghukum Jang Soo seberat-beratnya. Akan tetapi, ketika melihat Jang Soo diculik, disiksa, dan dianiaya oleh Suk Bong, saya jadi gamang.

Bagaimana dengan hukum?

Bagaimana dengan keadilan?


Jika korban seperti Suk Bong diijinkan main hakim sendiri, maka tidakkah hukum dunia ini berubah menjadi hukum rimba?

Tapi lagi-lagi, bagaimana nasib korban seperti Suk Bong? Dia tidak bisa lagi hidup normal seperti sediakala akibat trauma berkepanjangan dari perundungan. Apalagi jika identitasnya dibuka ke publik dan dia dihakimi sepihak oleh massa.

Jang Soo pun tidak ditunjukkan benar-benar menyesal. Dia menangis sampai terkencing-kencing hanya ketika nyawanya sudah di ujung tanduk. Setiap ada kesempatan, dia akan balik memukuli Suk Bong.

Jalan keluar dari kasus Suk Bong ini sangat mengenaskan. Tonton sendiri deh, kamu pasti setuju dengan saya. Di akhir episode ke-6 ada adegan tambahan dengan plot twist yang sangat mencengangkan dan tak tertebak.

Pokoknya daebak! (Lho kok jadi rhyming? Hehehe.)

Lagi-lagi Soal Cast

Perfecto. Sempurna. Sampai akhir keempat pemeran utama sangat sempurna memainkan karakter mereka.

Dengar-dengar akan ada season 2, apalagi pada akhir season 1 digambarkan Jun Ho berlari menjauhi barisannya.

Apakah itu berarti Jun Ho juga menjadi deserter yang harus dikejar dan ditangkap?

Kita tunggu saja ya kabar selanjutnya dari Netflix. Sebagai penutup tulisan ini saya akan menghadirkan foto dynamic duo tim D. P. tercinta.


Dan terakhir foto para tentara kesayangan ketika press conference. Selamat menonton di Netflix, ya. Dramanya hanya 6 episode kok, pasti cepat menyelesaikannya.

2 thoughts on “Review Drama Korea: D. P. (Deserter Pursuit)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s