Mengenai Review dan Revisi

Hari ini pada pukul 23.59 KLIP memberikan tenggat waktu untuk memasukkan naskah cerpen yang sudah direvisi. Naskah cerpen dari anggota KLIP yang lulus pada tahun 2020 rencananya akan dibuat menjadi buku antologi.

Terus terang ini pengalaman pertama saya memasukkan naskah untuk buku antologi. Biasanya saya menerbitkan buku solo, tapi Erna (Ketua KLIP) menggandeng saya sebagai peserta sekaligus pemateri.

Iya, selama dua kali yaitu pada tanggal 7 dan 28 Agustus lalu saya memberikan materi serba-serbi menulis cerpen. Tak berhenti di sesi pengetahuan dasar akan cerpen, saya melanjutkan ke sesi pembahasan karya peserta yang disokong oleh materi penyuntingan mandiri yang dibawakan oleh Kakak Wika.

Mengapa sesi pembahasan cerpen digandeng dengan sesi penyuntingan mandiri?

Jika pembahasan cerpen mengulik lebih dalam karakter-setting-alur-tujuan yang merupakan roh/jiwa sebuah cerita, maka penyuntingan mandiri adalah perkara memberikan tubuh yang sehat dan kuat untuk menopang K-S-A-T yang sudah mumpuni.

Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Roh/jiwa tanpa tubuh bagaimana bisa berkarya dan berbuah? Tubuh tanpa roh/jiwa hanyalah omong kosong yang tidak berdampak bagi orang lain.

Cerita tanpa kaidah kepenulisan dan tata bahasa yang baik bagaimana mungkin bisa dimengerti dengan baik oleh pembaca? Cerita tanpa kejelasan setiap elemen dari menulis kreatif bagaimana mungkin bisa memengaruhi pemikiran dan pendapat pembacanya? Cerita tanpa K-S-A-T yang tepat dan jelas hanya membuang-buang waktu penulis dan pembaca cerita itu.

Meskipun saya pemateri, tidak berarti cerpen saya lolos dari lubang jarum yang bernama review dan revisi. Ada Kakak Wika, Kakak Dwi, dan Neng Nadya yang bersedia meluangkan waktu memberikan komentar dan saran. Saya sangat berterima kasih kepada mereka.

Setiap cerpen yang ditulis kali pertama hanya bersifat sebagai draft. Dia masih seperti berlian yang mentah, masih kasar, perlu dipahat, perlu dipoles dan diperbaiki sudut-sudutnya.

Cerpen yang berjudul “Foto” adalah cerpen entah ke berapa yang saya tulis, tapi ia juga tidak langsung sempurna. Dari Kakak Wika saya mendapat saran mencari kata padanan, mengubah diksi, dan hal-hal sejenis itu. Terima kasih Kakak Wika, editor yang handal.

Dari Kakak Wika dan Neng Nadya mata saya tercelikkan soal inkonsistensi pada diri karakter utama. Sesaat dia gagu berbahasa Inggris, saat yang lain dia lihai sekali, sebenarnya saya mau menggambarkan karakter seperti apa? Terima kasih Kakak Wika dan Neng Nadya yang menangkap kelemahan itu.

Pada akhirnya proses mereview (karya sendiri maupun karya orang lain) adalah proses yang menyenangkan. Bersyukurlah untuk orang-orang yang sudah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk membuat diri dan karya kita lebih baik.

Satu kalimat yang Kakak Wika katakan setelah mereview cerpen saya sangatlah membekas:

Takutnya Kak Rijo protes, masak gitu aja (Wika) nggak ngerti.

Direview dan diulas memang menyakitkan di awal, apalagi kalau kita sudah merasa jor-joran mengeluarkan segenap kemampuan. Akan tetapi, revisi itu perlu. Perbaikan itu sebuah keniscayaan. Sampai titik mana? Hanya kita (dan editor kita, jika ada) yang tahu.

Saya senang sekali karena cerpen “Foto” direview dan direvisi. Sekarang saya membacanya seperti menggenggam berlian yang sudah terpotong rapi dan berkilau, yang berfungsi dan indah, yang menarik dan menyentuh hati pembaca.

Semoga.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s