Jadi 반장 di Mana-mana

Hari ini saya mengajukan diri menjadi 반장 di kelas percakapan bahasa Korea di KSIC.

반장 (romanisasi: banjang) berarti ketua kelas atau class leader. Jika di KCCI banjang memiliki wakil (bubanjang), maka di KSIC hanya ada banjang tanpa wakilnya.

Mengapa saya mengajukan diri?

Pertama, saya melihat posisi banjang sebagai posisi yang paling potensial untuk menjalin pertemanan.

Kedua, saya terbiasa dengan rutinitas memimpin karena melakukannya setiap hari di rumah dan di bengkel.

Ketiga, karena tidak ada orang lain yang mengajukan diri menjadi banjang.

Sedari kecil kalau ada pemilihan semacam itu biasanya orang-orang akan saling menoleh, menunggu-nunggu siapa nih yang akan maju dan mencalonkan diri.

Ketika saya SD saya diajar untuk berperilaku sebaliknya.

Jika guru bertanya “siapa yang mau menjadi ketua kelas”, maka anak-anak harus berlomba-lomba mengajukan diri.

Menjadi ketua kelas itu sarana belajar: belajar mengenali diri sendiri, belajar mengenali orang lain, belajar menyelesaikan konflik, belajar mencari kompromi, dan lain sebagainya.

Ada suatu masa ketua kelas dianggap sebagai perpanjangan tangan guru dan dianggap sebagai tukang adu oleh teman-teman sekelas.

Posisi ketua kelas ketika masih SD dan SMP memang agak tricky.

Tidak enak dianggap sebagai anak kesayangan guru, anak yang nggak asyik, atau anak yang tidak membela teman-temannya.

Tidak enak juga dianggap tidak bisa menegakkan ketertiban padahal ketua kelas diberi amanah untuk itu.

Sewaktu SMP saya biasa melihat-lihat dulu. Jika murid-murid di kelas saya cenderung nakal dan bertingkah, maka saya memilih mengajukan diri sebagai bendahara kelas.

Mengatur uang itu lebih mudah daripada mengatur orang, men.

Dan gara-gara sering jadi bendahara saya tidak pernah kesulitan mengelola keuangan, pribadi ataupun di pekerjaan. Saya mulai jadi bendahara di usia 12 tahun, bok.

Entah tampang atau aura “tua”, banyak teman sekelas yang otomatis memanggil kakak.

Memang saya anak sulung dari tiga bersaudara dan saya ngemong sama adik-adik saya. Seperti adik-adik saya memanggil saya dengan sebutan “kakak”, begitu pula saya dipanggil begitu akhir-akhir ini.

Di tempat les yang sekarang ada begitu banyak “adek ketemu gede”. Hallyu Wave yang melanda seluruh dunia biasanya menyasar orang-orang berusia 20 sampai 30 tahunan. Itulah teman-teman sekelas saya.

Emak-emak semacam saya yang berusia menjelang 40 tahun dan masih bersemangat belajar bahasa Korea demi bisa menonton drakor tanpa teks tidaklah begitu banyak.

Tidak heran saya otomatis dipanggil “kakak”, dan tadi malah dipanggil “cici” karena mata saya hilang pas ketawa, hahaha.

Saya senang menjadi banjang. Gara-gara menjadi banjang di kelas Sejong 1A pada bulan Februari sampai Juni lalu saya mendapat banyak teman baru.

Teman-teman baru saya beragam latar belakang dan usia. Saya senang sekali mendapat adik-adik dan teman sebaya.

Apakah tugas banjang itu berat?

Tidak sama sekali. Yang saya lakukan hanya benar-benar menyimak pelajaran dan perkataan Ssaem, mencatat PR, menginformasikan PR dan/atau informasi lain terkait jadwal kelas ke teman-teman sekelas, mengecek kehadiran teman-teman sekelas, mem-follow up jika mereka berhalangan hadir, dst.

Sepertinya tidak ada yang sulit. Kalau punya anak 3 orang tanpa PRT, mengelola bengkel furnitur, dan sambil menulis novel pasti terbiasa dengan rutinitas seperti itu.

Menjadi banjang di Drakor Class sih lain cerita. Organisasinya lebih kompleks dan masa jabatan lebih panjang (1 tahun, dibandingkan banjang untuk kelas bahasa Korea yang hanya 4 bulan).

Apalagi ketika Drakor Class mulai digandeng untuk bekerja sama oleh pihak luar seperti radio untuk siaran dan juri untuk lomba review K-Drama oleh KCCI. Wah, banjang pasti bertambah sibuk.

Akan tetapi, di situlah gunanya trust dan delegasi. Tentu saja saya tidak bekerja sendirian; ada teman-teman satu organisasi yang satu visi dengan saya. Dan saya memercayai mereka untuk mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka.

Di kelas bahasa Korea juga saya tidak sendirian. Saya tidak selalu tahu semua informasi; tak apa bertanya ke teman yang lebih mengerti. Tak apa bertanya lagi ke Ssaem untuk mengkonfirmasi daripada berasumsi.

Banyak kali kosakata saya jadi bertambah karena harus berkomunikasi dengan Ssaem lewat Whatsapp dan telepon.

Diberkatilah mereka yang menciptakan Naver dan Google Translate.

Saya senang menjadi banjang karena pada intinya saya sangat senang bergaul dan memperoleh teman baru.

화이팅!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s