Review Drama Korea: The Devil Judge

Merasa ribet tidak melihat bagan di atas? Tenang, bagannya sebenarnya sederhana, kok.

Ini tentang Hakim Kang Yo Han (Ji Sung) yang bernafsu membalas dendam.

Ini tentang Jung Sun Ah (Kim Min Jung) yang menjadi gila karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Kang Yo Han yang manipulatif dan Jung Sun Ah yang haus kasih sayang

Ini tentang Hakim Kim Ga On (Jin Young Got7) yang terlalu naif dan mudah dimanfaatkan oleh siapa pun.

Ini tentang Detektif Yoon Soo Hyun (Park Gyu Young) yang mencintai Kim Ga On lebih daripada mencintai nyawanya sendiri.

Temen masa kecil yang lama-lama jadi demen. Sayang sekali status mereka sebagai kekasih hanya berlangsung selama satu hari

Ini tentang para pemilik media massa yang mengontrol informasi, membentuk kebenaran, dan menyetir emosi massa.

Ini tentang presiden dan menteri kehakiman yang menjadi boneka dari orang-orang yang sebenarnya memiliki uang dan kekuasaan.

Ini tentang Min Jeong Ho yang berambisi menorehkan namanya di sejarah dan demi hal itu bersedia menghalalkan segala cara.

Sedikit fun fact: Ahn Nae Sang berperan sebagai ayah yang menjahati karakter yang diperankan Ji Sung di dalam drakor “Kill Me Heal Me” (2015). Dari drama ke drama sepertinya aktor ini selalu ciong dengan Ji Sung.

Ini tentang orang-orang di bawah opresi yang diam-diam merencanakan perlawanan.

Ini tentang orang-orang brutal dan barbar yang tega menyakiti orang lain karena merasa dilindungi oleh pemangku kekuasaan dan suara mayoritas.

Drama ini sebenarnya tentang apa dan siapa?

Mari kita mundur sejenak ke tulisan saya yang ini tentang drama Korea “The Devil Judge”.

Hakim Kang Yo Han bukan vigilante. Dia bukan pembela kebenaran seperti Batman yang menjadi miliarder pada siang hari dan penumpas kejahatan pada malam hari.

Ambisi dan target karakter seorang Kang Yo Han adalah terukur dan terarah.

Ini adalah tentang menuntut nyawa ganti nyawa, menyakiti orang yang telah menimbulkan sakit, membalas dendam sampai pihak satunya hancur habis-habisan.

Young Min, anak dari target pertama Kang Yo Han, yaitu Menteri Cha. Kasus high profile pertama yang membuat orang-orang terbiasa melakukan pemukulan (flogging) untuk meniru hukuman yang Young Min terima.

Ini adalah tentang amarah yang tak terpadamkan yang mengijinkan legitimasi untuk kekejian, kekejaman, dan sederetan petty crime lain demi tercapainya greater good.

Kang Yo Han ingin membalas dendam. Pada orang-orang yang mengabaikan dan meninggalkan abang dan kakak iparnya dalam sebuah kebakaran di gereja.

Orang-orang egois itu selamat dan melanjutkan hidup sebagai orang-orang penting di masyarakat. Kang Yo Han kehilangan semua anggota keluarganya kecuali Elijah, keponakannya, anak tunggal abangnya, Kang Isaac.

Satu presiden, satu menteri, satu ketua yayasan, dan dua pemilik media massa. Kelima orang ini tidak menyelamatkan Kang Isaac dan istrinya dari kebakaran di gereja. Menteri Cha (nomor 2 dari kanan) malah menghancurkan kaki Eijah karena panik.

Episode ke-15 dan ke-16 penuh dengan plot twist.

Min Jeong Ho terbukti jahat. Jung Sun Ah sudah mengatur supaya Kim Ga On ditempatkan di sisi Kang Yo Han untuk memata-matai dan mengendalikannya. Kang Yo Han dituduh mengatur pembunuhan Soo Hyun dan akhirnya dipenjara. Dan seterusnya.

Sejak Detektif Soo Hyun tertembak mati, sebagai penonton saya merasa terpuruk. Begitu Jung Sun Ah bunuh diri dan Kang Yo Han meledakkan diri bersama orang-orang jahat yang menjadi target operasi, saya confirmed nelangsa.

Kok akhir dramanya jadi begini? Kenapa dari empat orang lead, tiga orang mati dan Kim Ga On menjadi last man standing?

Apa sih maunya penulis skrip dan sutradara?

Mari lupakan sejenak soal live court show dan aplikasi DIKE yang pada pertengahan dari keseluruhan episode mulai kehilangan daya tariknya.

Omong-omongan dan negosiasi berpindah ke pertemuan-pertemuan privat di tempat-tempat tertutup, diselingi anggur dan finger food.

Pemilik Saram Media dan Minbo Group beberapa kali berganti haluan. Kadang mereka memihak Jung Sun Ah dan bersekutu untuk menjatuhkan Presiden Heo. Di kesempatan lain mereka bersekutu dengan Presiden Heo dan berniat menghancurkan Jung Sun Ah.

Tarik-ulur begini lama-lama membosankan. Keuntungan menonton di aplikasi adalah keberadaan fitur skip 10 detik. Apalagi pas Mbak DP Jung Sun Ah ngomong 반짝 반짝 (sparkle, sparkle). Ya elah, bosenin banget, Mbak. Kayak ga ada kosakata lain.

Karakter yang paling gamang di dalam drama ini adalah karakter Jung Sun Ah. Entah Kim Min Jung capek berakting sebagai wanita sepertiga ambisius, sepertiga gila, sepertiga menyedihkan, dan sepenuhnya delusional, tapi semakin menuju finale aktingnya semakin kedodoran.

Harusnya sampai akhir dia bersikap manipulatif. Sisi kejamnya sudah ditunjukkan sewaktu dia membunuh ketua yayasan sebelumnya dan anak buah Yo Han.

Tapi … tapi air matanya yang mengalir waktu dia tidak diacuhkan oleh Yo Han, bibirnya yang merajuk, semua menunjukkan karakter yang berlawanan dengan citra badass yang sempat ditampilkan.

Kalau mau badass, badass sekalian, jangan tanggung-tanggung. Sampai akhir terbukti dia hanya gadis miskin, seorang pembantu hina yang mengharapkan cinta dari majikannya.

Pathetic.

Kematian Sun Ah dengan cara bunuh diri adalah cara cepat dan ekonomis yang dikehendaki oleh penulis skrip dan sutradara.

Mereka enggan mengulik lagi apa yang akan terjadi pada Sun Ah dan Yo Han (dan Ga On) jikalau, seumpama mereka selamat dari bom bunuh diri yang dipasang oleh Yo Han.

Sudahlah, matikan saja karakternya, habis perkara. Sungguh jalan keluar khas pemalas dan ini membuat saya merasa meh dengan drama ini.

Bagaimana dengan perkembangan karakter Kang Yo Han?

Jahat, Kang Yo Han itu orang jahat.

Apakah dia hukum? Apakah dia keadilan sehingga dia mengambil seluruh kuasa atas penghakiman? Saya tidak habis pikir bagaimana karakter semacam ini sangat didewa-dewakan di dalam drama ini.

Bahaya. Drama ini bisa menyampaikan pesan yang berbahaya.

Ketika pengkultusan individu melenyapkan akal sehat publik.

Ketika orang yang berprofesi di bidang hukum memelintir hukum demi kepentingannya sendiri.

Ketika semua hal dan orang bisa dibeli dan jika tidak bisa, cukup ancam saja dengan kelemahan dan kekurangan mereka.

Plot twist yang saya kagumi hanya satu: ketika rahasia yang Yo Han ingin kubur selamanya pada akhirnya terungkap.

Saya benar-benar tidak terpikir bahwa pelaku pembakaran yang tidak disengaja itu adalah Elijah yang masih kecil.

Namun, saya merasa usaha mati-matian Yo Han untuk menutupi fakta itu kelewat janggal. Elijah toh bukan balita lagi. Dia gadis muda beranjak dewasa yang dapat menangani kenyataan pahit.

Plot twist yang apik, tapi tanpa fondasi yang kuat.

Ending yang saya tidak sukai hanya satu: ending semacam di drakor “The Devil Judge” ini.

Bagaimana mungkin Yo Han bisa meninggalkan Korea Selatan setelah membunuh presiden dan ibu negara?

Keberadaan presiden dan kroco-kroconya dipantau oleh masyarakat melalui aplikasi DIKE. Bagaimana mungkin nyawa Yo Han masih utuh setelah commander-in-chief angkatan bersenjata dibunuh?

Bukankah itu sama saja dengan menerima dan mengijinkan kudeta?

Sama seperti di dalam drama “Vincenzo” yang memungkinkan Vincenzo melenggang kangkung kembali ke Italia padahal sudah membunuh dua orang dengan sadis, drama “The Devil Judge” ini pun meremehkan nalar penonton tentang pemberlakuan hukum dan keadilan.

Drakor ini juga memberi pesan tidak apa-apa menjadi orang jahat demi menumpas yang lebih jahat.

Kalau begitu, apa bedanya si protagonis dan semua penjahat yang dia ingin basmi? Lama kelamaan si protagonis bisa berubah menjadi antagonis karena mabuk kekuasaan dan keberdayaan.

Dan di manakah titik akhir dari sebuah lingkaran setan yang bernama pembalasan dendam? Memangnya kita masih hidup di bawah dan tunduk kepada hukum rimba?

Lama-lama saya pikir drama Korea rasa Hollywood begini tidak relevan dengan kehidupan nyata. Tanpa kisah imajinasi yang menghadirkan distopia pun banyak negara yang sudah terpuruk karena pandemi Covid-19 dan efek sesudahnya.

Yang agak konyol adalah setting Korea Selatan yang mengalami distopia.

GAGAL TOTAL.

Kemiskinan hanya ditunjukkan sekilas. Daerah kumuh disorot dengan screen time minimal. Usaha penulis skrip mengait-ngaitkan chaos yang dihadapi Yo Han and the gang dengan vaksin untuk pandemi yang kita masih hadapi dan perdagangan gelap organ tubuh terlihat sangat dipaksakan.

Setting proyek Dream House yang bermasalah dan yang digadang-gadang oleh yayasan sampai episode akhir tidak dijelaskan solusinya dan tidak diberikan konklusi final.

Cerita selesai begitu saja dengan Yo Han yang berhasil melarikan diri dari ledakan dan keberangkatannya bersama Elijah ke Swis.

Resiko menonton ongoing tuh ditanggung sendiri.

Dan ternyata saya tidak menyukai drakor “The Devil Judge”.

Kalau buat saya pribadi, drama ini tidak mengajarkan kebaikan.

Bagaimana mungkin pohon yang buruk menghasilkan buah yang baik? Pohon terong tidak mungkin menghasilkan buah mangga yang manis. Kalau ingin menyampaikan value yang baik, premis drama ini seharusnya sudah baik sedari awal.

Satu hal positif yang terpikirkan oleh saya dari drama ini adalah original soundtrack-nya.

Hanya ada 8 track yang dikeluarkan lewat 4 episode, tapi semuanya adalah perwujudan ambience dan emosi yang tepat dari drama ini. Saya suka sekali.

“The Devil Judge” sudah hadir lengkap dalam 16 episode di Viu.

Viewer discretion is advised.

Sungguh, kalau melihat adegan demi adegan sadis di dalam drama ini, saya jadi merindukan drama Korea versi tempo dulu.

Setidaknya masih ada unsur (pembuatan) keluarga-ketemu-gede di sini. Ga On – Yo Han – Elijah pada suatu masa yang tenang dan berkelimpahan makanan

3 thoughts on “Review Drama Korea: The Devil Judge

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s