Delapan Tahun Penuh Tawa dan Percakapan Cerdas

Perayaan ulang tahun pada malam hari ini diawali dengan sedikit kericuhan.

Jadi begini, si Abang dan si Adek sering lupa bahwa usia mereka terpaut setengah dekade. Mereka selalu bermain bersama, bertengkar, berebut apa pun, termasuk bergulat.

Hadeuh, tak terhitung berapa kali jantung saya hampir copot mendengar tangis salah satu anak. Kalau enggak kepalanya tertendang, mulutnya berdarah.

Sambil menunggu kue ulang tahun supaya tidak terlalu beku setelah dikeluarkan dari kulkas, the birthday boy main smack down sama adiknya. Disahuti berkali-kali supaya berhenti bermain kasar begitu, jangan sampai kenapa-kenapa, tetap tak diacuhkan.

Sampai terdengar suara tangis kencang. Banget. Meraung-raung. Dan jantung saya beneran mencelus ke dasar perut.

Si Adek terbaring di lantai dengan darah berceceran. Dari mana asal darah? Dari hidung kiri dan dari dalam rongga mulut.

Spontan saya berteriak. Kenangan 6 tahun lalu ketika si Abang jatuh dari kursi dan merobek kelopak matanya masih membekas di ingatan. Darah yang begitu banyak, tak berhenti mengalir, membuat saya nyaris pingsan.

Semaput. Saya benar-benar tidak tahan melihat darah.

Si Kakak dengan sigap mengambil es batu dari kulkas. Sambil menempelkan balok es ke bibir si Adek yang sekarang lebam sebesar ukuran jempolnya, saya mengecek apakah ada gigi yang goyang atau patah.

Itu yang saya paling takutkan: gigi susu anak-anak patah sebelum waktunya gigi dewasa tumbuh. Lebih parah lagi kalau gigi dewasa yang patah. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan derita dan ketidaknyamanan sesudahnya.

Anyhow, setelah si Adek capek menangis dan si Abang jadi bad mood karena bikin salah, akhirnya kami siap menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk si Abang dan bersama-sama meniup lilin.

Bagaimana dengan sesi foto? Dari tiga kali take, hanya satu kali Baby melihat kamera dan di situ pun dia tidak tersenyum. Bibirnya bengkak gitu lho, boro-boro feeling festive untuk ulang tahun abangnya. Heuheu.

Delapan tahun bersama Abang adalah delapan tahun penuh tawa dan percakapan cerdas. Abang adalah anak yang kami tunggu lama. Kami doakan sepenuh jiwa dan raga selama empat tahun.

Proses mengandungnya adalah yang paling mudah.

Waktu mengandung anak pertama, saya masih bekerja di sebuah pabrik enam hari dalam seminggu. Lelah lahir batin pastinya, apalagi karena sering berurusan dengan serikat pekerja.

Waktu mengandung si Abang, saya sudah menjadi ibu rumah tangga selama empat tahun. Saya hanya perlu mengurus si Kakak dan bertemu dengan suami hanya pada akhir pekan.

Waktu mengandung si Adek, saya adalah ibu rumah tangga yang mengurus dua orang anak sendirian dari hari Senin sampai dengan hari Jumat karena suami lagi-lagi bekerja di kota lain.

Jangan tanya deh berapa tahun saya dan suami menjalani Long Distance Marriage. Hiks.

Waktu mengandung si Abang, hidup terasa sangat santai. Si Kakak belum bersekolah waktu itu, tapi mengikuti les setiap hari (balet, piano, menggambar, dst, dsb, khas anak pertama yang masih dicari minat dan bakatnya).

Tapi eh tapi, saya paling susah makan waktu mengandung si Abang. Selama empat bulan pertama saya mabok berat. Penyebabnya adalah saya ngidam keju Gruyère dari Swis. Susah ‘kan mendapatkannya?

Untungnya pada akhir bulan ke-4 suami saya ditugaskan ke Swis dan pulang dengan berkilo-kilo keju Gruyère titipan dari teman-teman di sana. Ngidam dan mual langsung berhenti seketika. Setelah itu kehamilan berjalan sangat lancar.

Pada kehamilan bulan ke-5 kami sekeluarga berwisata ke Jepang selama 2 minggu. Itu adalah kali pertama saya kembali ke sana usai mengikuti program penelitian semasa kuliah.

Suami saya memberi judul trip kami sebagai “The Return of Rijo Tobing”, hahaha. Waktu itu kami menyambangi tiga kota yang saya sangat cintai: Tokyo, Yokohama, dan Kyoto.

Selama bepergian, si Abang berlaku sangat baik di dalam kandungan. Saya juga sangat bahagia karena bisa bertemu dengan teman-teman lama yang juga sudah berkeluarga. Benar-benar fase yang menyenangkan untuk sebuah pengalaman mengandung sebanyak dua kali.

Abang adalah anak yang tenang, santai, memiliki emosi stabil, dan ceria. Dia tidak pernah terlalu marah, terlalu sedih, terlalu kecewa, atau terlalu yang lainnya.

Baginya, semua sedang-sedang saja. Jenis emosi silih berganti, jadi dia tidak pernah benar-benar attached dengan satu jenis emosi.

Kalau dimarahi, dia cepat menyesal dan minta maaf. Kalau tidak dituruti kemauannya, dia cepat lupa dan beralih ke hal lain. Kalau merasa takut, dia tidak ingat lagi rasa takutnya begitu ada yang datang melindungi dan menghiburnya.

Berbeda jauh dengan kakaknya yang sangat fokus dan absorbed dan sulit diganggu kalau sedang mengerjakan satu tugas, si Abang jauh lebih rileks.

Sejak masih di TK kalau saya memburu-burunya supaya segera menyelesaikan tugas, dengan santai dia akan berkata:

It’s okay, Mommy, everything will be fine.

Sebuah jawaban yang sering kali membuat gemas karena tenggat waktu sudah mendekat, dan hal ini dikeluhkan berulang kali oleh guru-gurunya di TK. Untunglah tidak ada isu yang sama selama si Abang duduk di bangku SD.

Semua pekerjaannya bisa selesai sih, meskipun mengerjakananya sambil bersiul dan bersenandung. Pokoknya tidak ada stress mode pada diri si Abang.

Tugas dikumpulkan besok pagi, dia masih bisa santai mengerjakannya malam ini sampai selesai, walaupun bisa sampai larut malam.

Benar-benar berbeda dengan mamanya yang gampang stres, hehe.

Seperti si Kakak, si Abang juga mengalami terlambat bicara. Seperti si Kakak, si Abang mengalami bingung bahasa, sehingga pada satu waktu kami mencoba mencari tahu bahasa mana yang dia akan pilih sebagai bahasa ibunya.

Ternyata bahasa Inggris dan si Abang lancar berbicara dalam bahasa itu sejak berusia 3.5 tahun sampai dengan sekarang.

Sebagai pengguna aktif dua bahasa, si Abang selalu mengajukan banyak pertanyaan dan menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain.

Terjemahan favoritnya adalah ini:

Bahasa Inggris: “You should have listened when I told you not to do this or that, and so on.

Bahasa Indonesia: “Tuh ‘kan?”

Sampai sekarang si Abang masih terpingkal-pingkal kalau ingat bagaimana dia menemukan terjemahan singkat dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris yang sedemikian panjang.

Si Abang tidak pernah puas diberi satu jawaban. Dia akan selalu bertanya kenapa, kenapa, kenapa, terus kenapa sampai dia puas dengan jawabannya.

Reasoning yang dia dengar harus sesuai dengan logikanya. Untungnya, anaknya tidak keras hati. Dia mudah menerima kritik dan saran, mulai dari perbaikan grammar dalam bahasa Inggris sampai hal-hal yang lebih teknis dalam pelajaran di sekolah.

Kami bersyukur akan hal itu. Tidak ada hal yang lebih memedihkan hati dari memiliki anak yang keras hati, sok tahu, dan tidak mau mendengar orangtuanya.

Untuk ulang tahunnya kali ini si Abang memilih kue bertema Star Wars. Hadiah dari kami pun masih seputar tema itu. Senang sekali melihat raut wajah bahagia karena dia bisa bermain dengan mainan yang dia sudah incar lama.

Bagi kami yang penting tidak selalu menuruti kemauan anak, apalagi jika tidak menyangkut hal krusial seperti iman dan pendidikan. Hadiah istimewa bisa diberikan pada momen istimewa seperti ulang tahun dan kelulusan sekolah. Tidak berarti semua mainan yang diinginkan akan dibelikan.

Melihat si Abang menjalani hari ini dengan penuh sukacita, senang di sekolah dan berprestasi di les taekwondo tadi, membuat kami terus menerus mengucap syukur atas anak kami.

Semuanya karena kasih karunia. Kami bisa membesarkan dan mendidik si Abang sampai saat ini adalah karena kasih karunia.

Kiranya semua yang dia kerjakan di masa lalu, hari ini, dan di masa depan membawa kemuliaan bagi Tuhan saja.

Soli Deo Gloria.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s