Dua Belas Tahun Penuh Kasih Karunia

Hal yang paling sulit dari menjadi parent atau orangtua itu bukan parenting atau proses pengasuhan anak. Hal yang paling sulit dari menjadi orangtua adalah kesadaran penuh bahwa kita tidak tahu banyak dan tidak bisa berbuat apa-apa dengan kekuatan sendiri.

Di manakah ada sekolah untuk menjadi orangtua? Yang ada adalah sederetan teori, prediksi, dan sharing pengalaman. Alih-alih terinspirasi dan terbantu bisa jadi kita mengalami infodemik, tsunami informasi.

Sebab apa yang baik bagi orang lain belum tentu baik bagi saya.

Apa yang benar menurut pandangan orang lain belum tentu benar menurut pandangan saya.

Parenting itu perkara yang sangat subyektif dan satu perlakuan tidak bisa diterapkan untuk semua kasus, untuk semua anak.

Saya dan suami tidak menempuh pendidikan apa pun sebelum menjadi orangtua. Yang kami miliki adalah pengalaman dari melihat pengasuhan orangtua kami masing-masing yang sekiranya sesuai dengan nilai-nilai keluarga kami sendiri.

Sebab keluarga kami bukanlah keluarga darimana saya berasal atau keluarga darimana suami saya berasal. Ketika menikah, kami ini seperti dua nukleus yang membentuk atom baru.

Keluarga kami unik dengan prinsip dan nilai-nilai moralnya sendiri.

Memulai proses parenting adalah perkara menanggalkan keakuan. Gelas yang “sepertinya” sudah penuh itu harus dikosongkan untuk menerima air pengetahuan baru.

Gelas saya dan suami saya berisi hal yang tidak sama. Ketika belajar menjadi orangtua kami juga memastikan kami mengisi diri kami dengan pemahaman yang sama.

Tidak ada hal yang lebih memusingkan anak daripada orangtua yang berseberangan (pendapat, pandangan, dsb, dst). Orangtua yang tidak kompak dan tidak seia sekata hanya akan membuat anak memilih orangtua mana yang bisa memihak dan menguntungkan dirinya.

Ketika anak ingin makan permen dan orangtuanya tidak memiliki pendapat sama akan hal ini, maka ia akan mendekati orangtua yang akan mendukung keinginannya.

Menjadi orangtua favorit dan anak favorit bukanlah hal yang baik. Otoritas harus utuh dan diberlakukan untuk semua anggota keluarga.

Caranya hanya satu, ayah dan ibu memiliki satu suara. Tidak ada omongan “Tanya Mama/Papa aja, boleh atau enggak” ketika si Papa/Mama tidak berani mengambil keputusan yang mungkin melukai hati anak atau mencabut kesenangannya.

Hari ini kami mensyukuri dua belas tahun dan puluhan tahun ke depan perjalanan kami menjadi orangtua.

Ulang tahun anak pertama itu memang identik dengan selebrasi durasi yang sudah ditempuh untuk menjadi orangtua.

Mengasuh anak pertama berarti memiliki segala macam pengalaman pertama.

Pertama kali mencintai blood of our blood, bones of our bones, seseorang yang begitu bergantung pada kami.

Cinta yang begitu membuncah, tak terkatakan, yang membuat saya rela mengorbankan apa saja untuk kebaikan anak kami, termasuk karier dan kemapanan, tapi bukan mengorbankan masa depan.

Pertama kali mengajarkan segala hal pertama untuk seorang manusia yang baru.

Pertama kali berdiri, berjalan, berlari, bersekolah, berteman, termasuk pertama kali bertengkar, bersengketa, mengalami patah dan pedih hati.

Perjalan kami dengan si Sulung bukanlah perjalanan yang mudah. Penuh keringat, air mata, kesedihan, keputusasaan, tapi semuanya memang diperlukan untuk kelak menuai dengan sorak-sorai.

Dukacita sekarang akan sebanding dengan sukacita di masa depan. Sekarang waktunya membajak, menggemburkan tanah, dan menabur benih yang semoga tumbuh subur.

Bagaimana cara menjadi orangtua yang benar?

Bukan sekedar orangtua yang baik karena baik itu relatif, tapi menjadi orangtua yang benar, yang mengajari anak supaya mengenal Tuhan Penciptanya, supaya tahu tujuan penciptaannya, yang tahu darimana ia datang dan ke mana ia akan pergi.

Menjadi orangtua yang benar tidak mungkin dengan kekuatan diri sendiri. Menjadi orangtua yang benar membutuhkan pertolongan dan kasih karunia dari Tuhan.

Ketika hari-hari terasa melelahkan, ketika anak tidak mau mendengar, hanya kepada Tuhan-lah kita sebagai orangtua bisa bersandar.

Oleh karena Tuhan yang memegang hati manusia. Hati yang dikeraskan atau dilunakkan adalah menurut otoritas dan belas kasihannya.

Jangan pernah lalai berdoa untuk hati anak-anak kita supaya mereka selalu mau mendengarkan Firman Tuhan dan nasihat orangtua.

Ketika jaman terasa sangat menantang, ketika lingkungan di luar rumah terasa menakutkan, hanya kepada Tuhan-lah kita sebagai orangtua bisa berharap.

Kehadiran kita terbatas, pengawasan kita akan berhenti pada satu titik, tapi Pencipta dan Pemilik hidup anak-anak kita akan selalu bersama mereka, tidak akan pernah meninggalkan mereka.

Ke dalam tangan pemeliharaan Tuhan-lah kita memercayakan mereka. Ketika kita jauh dan tidak berada di samping mereka, akan ada Tuhan yang bekerja melalui hati nurani untuk menjaga jalan mereka tidak serong dan jiwa mereka jauh dari segala yang jahat.

Kasih karunia.

Hanya kasih karunia yang memegang tangan kami sebagai orangtua selama dua belas tahun terakhir dan pada tahun-tahun berkelimpahan di depan.

Perjalanan di depan masih panjang, penuh tantangan dan pergumulan, penuh harapan dan janji penyertaan Tuhan.

Hari ini dan nanti-nanti kami kembali mengucap syukur untuk kehadiran anak-anak kami, untuk kasih karunia yang terus menopang kami manusia yang lemah dan tak tahu apa-apa.

Segala kemuliaan hanya bagi-Nya.

Selamat ulang tahun, Kakak.

Soli Deo Gloria.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s