Pelajaran dari Mamak Kucing

Beberapa hari lalu kami mendengar suara kucing mengeong dari balik plafon.

Sontak kami terkejut. Sejak delapan tahun lalu kami memasang seng galvalum yang tahan karat di bawah genteng.

Untuk apa?

Pertama, untuk mencegah kebocoran ke dalam rumah.

Jika genteng keropos sehingga air hujan melewati pori-porinya, maka seng galvalum mencegah air hujan menetes di atas plafon yang terbuat dari gipsum.

Kedua, untuk mencegah pencurian.

Rumah tetangga sebelah dibobol dari atap dan barang-barangnya digasak suatu waktu ketika rumah ditinggal berlibur. Tidak ada yang tahu kejadian persisnya sampai si tetangga pulang sepuluh hari kemudian dan berteriak panik.

Atap kami sendiri pernah hampir dibobol maling ketika suami saya sedang dalam perjalanan ke Swis dan saya hanya bertiga dengan dua anak balita di rumah. Saya memanggil satpam kompleks yang kemudian datang tanpa senter dan tanpa tangga untuk memeriksa keadaan di sekitar rumah saya.

Yah, benar-benar tanpa persiapan. Ketika itu di belakang rumah saya masih ada tanah kosong tanpa penerangan sama sekali. Tidak mustahil si pencuri kabur ke sana dan tidak tertangkap.

Malam itu saya minta ada satpam yang berjaga-jaga di luar rumah sampai pagi hari. Siang harinya bapak saya datang dari Bandung untuk menemani kami sampai suami saya pulang seminggu kemudian.

Pemasangan seng galvalum mengakibatkan tidak ada lubang atau celah sesempit apa pun di antara genteng dan plafon rumah. Jadi, mustahil manusia atau kucing bisa masuk.

Pagi hari seminggu yang lalu saya melihat bayangan perut kucing pada manhole yang ada di kamar mandi. Oleh karena waktu itu saya sedang mencuci muka dan tidak memakai kacamata, saya tidak begitu yakin apakah saya benar-benar melihat kucing.

Tadi siang sepulang dari membeli makan di luar ada bau tidak sedap menguar dari arah dapur. Suara kucing mengeong semakin kencang. Jangan-jangan ada kucing yang melahirkan di atas plafon rumah kami.

Kami memiliki gudang di atas plafon yang kami sebut attic atau secret room. Luasnya sekitar dua kali dua meter persegi dan terletak persis di atas mudroom dan dapur yang bersebelahan.

Suami saya langsung naik ke atas sambil membawa tanah, sekop, sapu, dan obat nyamuk. Kami benar-benar khawatir ada anak kucing yang mati di atas. Terbayang bagaimana bau busuk dan kontaminasi bakteri yang mungkin terjadi.

Pemasangan seng galvalum mengakibatkan tidak ada cahaya dari luar yang menembus genteng. Ada lampu kecil di gudang atas sih, tapi tidak cukup untuk menerangi seluruh area di atas plafon.

Setelah mencari-cari dan memukul-mukul gipsum untuk memancing kucing keluar, akhirnya suami saya menemukannya. Ada dua anak kucing yang masih kecil sekali, mengeong dengan suara lemah.

Suami memasukkan anak kucing itu ke dalam plastik dan saya menentengnya ke luar rumah, menaruhnya di bawah pohon rindang supaya tidak kepanasan. Tubuhnya kecil, matanya tertutup, dan nafasnya pendek-pendek.

Setelah itu suami say menurunkan anak kucing yang kedua. Ketika saya kembali ke pohon tempat saya menaruh anak kucing yang pertama, saya mendapati anak kucing itu … sudah mati.

Aduh, saya sedih sekali.

Sepertinya hanya 15 menit berlalu sejak saya menurunkannya dan dia langsung mati. Saya menaruh anak kucing kedua dan kembali ke rumah untuk membantu suami membujuk indung kucing supaya turun.

Kami khawatir kucing-kucing itu bisa masuk melalui entah celah sebelah mana, tapi tidak menemukan jalan keluar. Saya tidak bisa membayangkan si induk kucing baru melahirkan dan tidak punya makanan.

Ternyata si induk melarikan diri karena panik dan membuat plafon di atas taman dalam retak. Retaknya lumayan besar, tapi kemudian tidak ada lagi tanda-tanda kehadirannya di atas plafon.

Saya memeriksa kembali kedua anak kucing yang saya bawa keluar tadi dan si anak kucing kedua sudah lenyap. Saya cari ke mana-mana dan tetap tidak ketemu.

Si anak kucing pertama saya pindahkan ke trotoar dekat jalan, yang lebih mudah dilihat oleh orang (dan semoga juga lebih mudah dilihat oleh kucing).

Sekitar satu jam kemudian ada kucing yang menggaruk-garuk agresif pintu depan kami sampai si Abang memanggil saya karena kaget.

Sekitar tiga jam setelah itu, plafon taman dalam roboh dong dan ada seekor kucing yang terjun bebas setinggi tiga meter dan kemudian berdiri menantang di sebelah drum set.

Ternyata itu induk kucing yang tadi suami saya lihat di atas plafon dan yang menggaruk-garuk pintu, mungkin karena mengendus bau anaknya.

Suami saya membujuk si induk kucing untuk keluar rumah. Begitu kami berbalik mau masuk ke rumah, si induk kucing mengikuti kami lagi. Mungkin dia mengira anak-anaknya masih berada di dalam rumah kami.

Pelan-pelan kami mengarahkannya ke tempat salah satu anaknya terbaring mati. Si Kakak mengawasi gerak-geriknya, sedangkan saya dan suami membersihkan plafon yang roboh dan menambalnya dengan HPL sisa proyek (untung ada sisa sedikit dan untung saya menyimpan lem kayu di rumah).

Kami tidak memiliki binatang peliharaan dan kami bukan penyuka binatang. Menurut kami yang namanya hewan hanya lucu dilihat di foto dan tidak lucu lagi kalau diurus dan dipelihara.

Akan tetapi, kami ikut sedih karena si induk kucing kehilangan anaknya. Yang kami kagumi adalah betapa gigihnya ia mencari anak-anak yang sempat terpisah darinya. Kami tahu kucing tidak memiliki hati dan jiwa, tapi dia pasti sedih karena anaknya mati.

Saya jadi berefleksi akan hubungan antara ibu dan anak manusia.

Kata orang, kasih ibu sepanjang jaman dan kasih anak sepanjang jalan. Namun, di banyak kasus ibu dan anak saling mendiamkan dengan sadar.

Padahal waktu terbatas. Padahal kita tidak hidup selamanya. Padahal kematian bisa datang kapan saja. Padahal penyesalan selalu datang terlambat.

Kalau sudah terpisah oleh kematian, apalagi gunanya menyesali hari-hari yang dilewati dengan mengeraskan hati dan memutuskan komunikasi?

Tidak semua ibu manusia seperti ibu kucing yang selalu mencari anaknya. Ada juga ibu manusia yang memilih “membuang” anaknya untuk melindungi hatinya sendiri.

Jika berelasi terasa terlalu pedih, maka lebih baik hidup menurut jalan masing-masing. Apakah begitu filosofinya?

Kata si Kakak tadi si induk kucing menjilati tubuh anaknya yang sudah mati. Saya tambah merasa bersalah dan terharu.

Bagaimanapun juga, anak adalah bagian dari ibu. Tidak ada yang namanya mantan ibu dan mantan anak. Selama masih ada napas, hubungan ibu dan anak itu senantiasa ada.

Tak terpisahkan dan tak tergantikan.

Semoga si induk kucing menemukan anaknya yang satu lagi. Dan semoga siapapun anak yang hatinya sekarang sedang berseberangan dengan siapapun ibunya, dapat menemukan jalannya pulang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s