Review Drama Korea: Racket Boys


Drama Korea “Racket Boys” pertama kali ditayangkan pada tanggal 31 Mei 2021 dan diakhiri dengan episode ke-16 pada tanggal 9 Agustus lalu.

Biasanya drama ini ditayangkan dua kali dalam sepekan, pada hari Senin dan Selasa, tapi mulai episode ke-13 drama ini ditayangkan satu kali seminggu saja pada hari Senin.

Episode final yang rencananya ditayangkan pada tanggal 2 Agustus malah diundur seminggu. Keputusan yang tepat, sih, mengingat pada tanggal itu tim ganda putri Indonesia menang melawan Korea Selatan di ajang Olimpiade dan membuahkan medali emas.

Jika Korea Selatan menang, maka drakor ini akan mendapat backlash lagi. Masih ingat ‘kan netizen kita yang memrotes keras SBS yang menjelek-jelekkan Indonesia sebagai tuan rumah sebuah pertandingan bulutangkis, meskipun itu fiktif?

Untunglah Indonesia menang dan Korea Selatan bisa menerima kekalahan itu dengan sportif. Episode ke-16 “Racket Boys” pun ditayangkan tanpa banyak isu, apalagi drama.

Kesan Keseluruhan

Dua bulan lalu saya sudah menulis kesan pertama akan “Racket Boys” dan tulisan kali ini hanya berupa kesimpulan.

Terus terang, drama remaja bukanlah genre yang saya sukai, apalagi drama yang berkaitan dengan olahraga. Satu-satunya alasan saya menonton “Racket Boys”‘adalah Tang Joon Sang.

Tang Joon Sang adalah salah satu anak buah Kapten Ri Jeong Hyeok (Hyun Bin) dari drakor “Crash Landing on You”.

Dijuluki sebagai salah satu dari empat anak bebek yang dikomandani Kapten Ri, karir Tang Joon Sang melesat cukup cepat dibandingkan ketiga anak bebek yang lain (Yang Kyung Won/Pyo Chi Su, Lee Shin Young/Park Gwang Beom, Yoo Su Bin/Kim Ju Meok), seperti yang saya tulis di sini.

Tahun ini saja Tang Joon Sang sudah menyelesaikan dua drama produksi eksklusif Netflix yaitu “Move to Heaven” dan “Racket Boys”. Tang Joon Sang dijuluki salah satu aktor kesayangan Netflix selain Song Kang, Lee Do Hyun, dan Jang Ki Yong.

Dari seorang tentara yang culun ke seorang penderita sindrom Asperger yang bekerja sebagai trauma cleaner, sampai ke seorang mantan atlet baseball yang terpaksa beralih menjadi atlet badminton, akting Tang Joon Sang tak pernah mengecewakan.

Sebagai Yoon Hae Kang si mantan atlet baseball, Tang Joon Sang songong luar biasa. Banget. Berbeda 180 derajat dari perannya sebagai Han Geu Ru di “Move to Heaven”.

Terkadang saya ingin mengoreksi sikapnya yang merendahkan orang lain dan terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Akan tetapi, penulis naskah dan sutradara drama ini sangat pintar.

Apa pasal?

Individualisme tidak banyak disorot di dalam drama Korea karena itu bukan bagian dari kebudayaannya. Kebudayaan orang Korea adalah kebiasaan berkelompok, dimana setiap orang harus menjadi bagian dari sebuah kelompok.

Ada senior yang mengayomi junior. Ada junior yang tunduk penuh pada senior. Pelajar dan mahasiswa tergabung dalam kelompok untuk menemukan keberartian diri bagi kelompok, dan seterusnya.

Karakter seperti Yoon Hae Kang ini di dunia nyata akan tidak disukai dan dijauhi. Namun, ini drama.

Melihat betapa sabarnya karakter Bang Yoon Dam, Lee Yong Tae, dan Na Woo Chan menghadapi Hae Kang, mau berteman, belajar, dan berlatih bersamanya, membuat saya sedikit lega karena pertemanan remaja di masa depan (mungkin) masih bisa lepas dari perkara kebencian yang ekstrim dan perundungan.

Kesan keseluruhan saya akan drama ini adalah sangat positif. Karakter-karakternya sangat beragam dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Interaksi antarkarakter begitu natural.

Akting para aktor muda (Tang Joon Sang dan kawan-kawan) yang awalnya saya nilai kurang ternyata sangat pas untuk keseluruhan episode. Mereka semua tampil meyakinkan sebagai remaja tanggung usia 15 tahun yang masih senang bermain dan mengejar cita-cita.

Para aktor yang lebih senior yang memerankan orangtua Hae Kang, pelatih Baek, penduduk desa, bahkan orang-orang kurang ajar dari kota juga ditempatkan dengan sangat tepat.

Para penduduk desa Haenam yang datang untuk mendukung Hae Kang, dan kawan-kawan saat bertanding

Pokoknya usai menonton drama ini hati akan terasa sangat hangat, seperti habis menonton drama-drama yang disutradarai oleh Shin Won Ho (“Reply Series”, “Prison Playbook”, “Hospital Playlist”, dan lain-lain).

Premis Cerita

Seperti saya sudah tulis sebelumnya, Yoon Hae Kang terpaksa pindah dari Seoul ke kota sangat kecil Haenam karena ayahnya menerima pekerjaan sebagai pelatih badminton di SMP Haenam So yang dulunya terkenal sebagai peraih juara di berbagai pertandingan.

Bagaimana dengan sekarang? Seperti di Seoul, olahraga badminton juga dinilai tidak keren di Haenam.

Anggota klub badminton hanya ada tiga orang, yaitu Kapten Bang Yoon Dam, teman seangkatannya Na Woo Chan, dan junior mereka Lee Yong Tae (pemeran Pil Gu di dalam drama “When the Camellia Blooms). Tak lama kemudian Jeong In Sol, si kutu buku di kelas mereka, pun bergabung dengan klub badminton itu.

Yoon Hae Kang membenci olahraga badminton. Tekadnya hanya satu, kembali ke Seoul dan kembali menjadi atlet baseball. Akan tetapi, kedatangan pelatih Ra Yeong Ja, ibu Hae Kang yang selama ini menjadi pelatih badminton di Daegu, ke Haenam membuat rencana Hae Kang buyar.

Pelatih Ra tidak datang sendirian. Dia membawa serta dua atlet yang dia bina di Daegu, yaitu Han Se Yoon dan Lee Han Sol. Status rumah Hae Kang sebagai rumah latihan bagi anggota klub badminton akhirnya resmi dengan kedatangan kedua atlet wanita tersebut.

Apakah tujuan Hae Kang berubah?

Iya, dari awalnya kembali ke Seoul dan bermain baseball lagi menjadi mendapatkan WIFI untuk dipasang di rumahnya. Ayahnya, Pelatih Yoon, berjanji akan memasang WIFI asalkan Hae Kang membawa kemenangan bagi sekolahnya.

Dengan semangat mendapatkan WIFI (karena beli paket data terus menerus buat main game online bikin kantong bolong), akhirnya Hae Kang bekerja keras memenangkan kejuaraan demi kejuaraan dan dalam prosesnya mendapatkan teman-teman yang memahami dan menerima dirinya apa adanya.

Para penghuni rumlat (rumah latihan) badminton di bawah pengasuhan Pelatih Yoon dan istrinya, Pelatih Ra

Kiri: Penghuni rumlat makan bersama di luar ditemani oleh pemandangan alam. Kanan: tempayan-tempayan berisi sayur dan saus yang difermentasi. Eksotis sekali, ya?

Kontroversi

“Racket Boys” sempat diprotes habis-habisan oleh warganet karena dianggap menghina Indonesia. Hal ini mendorong SBS untuk mengeluarkan permintaan maaf di Twitter dalam bahasa Indonesia.

Jadi, di salah satu episode Han Se Yoon diceritakan bertanding di Jakarta. Di sana diceritakan hotelnya jelek dan penonton pertandingan suka menyoraki tim tamu untuk menjatuhkan mental mereka.

Sebenarnya hal seperti ini bukan yang pertama kali diangkat ke dalam drama. Di dalam drama “Reply 1988”, diceritakan juga bagaimana Choi Taek (Park Bo Gum) dibuat tidak nyaman oleh hotel yang dia tempati di Cina supaya dia tidak fokus bertanding catur Go.

Karakter Dok Sun (Hyeri) tidak terima dengan kamar yang terlalu dingin, air yang bocor, dan ngotot untuk pindah kamar. Jadi, sebenarnya pihak yang merasa tidak nyaman berhak dan bisa mengajukan keberatan atas kondisi mereka.

Sepertinya dalam pertandingan (fiktif) di antara Han Se Yoon dan Ivana Putri (nama pemain dari Indonesia) yang lebih ditonjolkan adalah sikap booing dari penonton Indonesia.

Kesannya pemain dan penonton kita tidak sportif dan tidak bisa menerima kekalahan. Padahal …, jujur saja, selama ini kita termasuk orang yang melakukannya atau diam saja ketika orang lain melakukan booing?

Ini jadi heboh karena era internet, karena kelincahan jempol, karena chauvinisme berlebihan, atau apa? Sampai sekarang saya masih tidak paham dengan reaksi warganet. Apakah terlalu oba (overboard dalam pelafalan bahasa Korea)?

Setelah kontroversi itu, pihak penulis skrip dan sutradara berusaha mengoreksi pandangan kolot mereka akan “permusuhan” antarnegara dengan membuat plot berikut.

Tim Korea bertanding dengan tim dari Jepang. Pelatih Fang dan Pelatih Ra sangat memanas-manasi anak didik mereka untuk mati-matian bertanding dan mengalahkan Tim Jepang.

Kita tahu sendiri bahwa Jepang pernah menjajah Korea. Dari sisi sejarah, kedua negara ini memiliki masa lalu yang kelam dan masa kini yang kompleks. Sampai saat ini banyak isu yang belum terselesaikan, seperti kompensasi untuk para pekerja paksa dan wanita penghibur.

Waktu menonton adegan pertandingan Korea versus Jepang ini saya deg-degan sendiri. Saya khawatir SBS akan mengulang kesalahannya dengan memunculkan Indonesia sebagai bagian dari cerita.

Untunglah, kekhawatiran saya terjawab oleh “kebijaksanaan” para atlet muda itu. Menanggapi kebencian para pelatih mereka yang diarahkan kepada Tim Jepang, Se Yoon dan kawan-kawannya bilang bahwa mereka berteman kok dengan anggota Tim Jepang.

Mereka saling berteman di media sosial. Mereka suka mengobrol. Dan ketika ada kunjungan atau pertandingan persahabatan, mereka akan bertukar cenderamata. Se Yoon ditunjukkan menerima kado dari teman-teman Jepang.

Jadi, di tataran anak-anak sebenarnya tidak ada permusuhan. Yang mempunyai prasangka dan kecurigaan itu adalah orang-orang tua yang sudah direcoki oleh sejarah, stigma, dan dogma.

Hmm, nice save, SBS, nice save.

Dengan memasukkan plot ini, SBS seperti mengakui bahwa yang terjadi dengan Indonesia adalah murni kekhilafan dan mereka tidak akan mengulangi membangun stigma negatif akan negara/kebudayaan tertentu.

Again, nice save, SBS.

Kelebihan Drama Ini

Kelebihannya ada pada kemampuan akting.

Saya tidak tahu seberapa lihai para aktor di sini dalam bermain bulutangkis. Saya juga tidak mencari tahu apakah mereka kursus singkat atau latihan intensif sebelum syuting supaya memberi kesan meyakinkan sebagai atlet badminton.

Mengingat Song Kang yang belajar balet dari nol 6 bulan sebelum syuting “Navillera” dan para anggota Band Mido Parasol yang belajar main musik dari nol 1 tahun sebelum syuting “Hospital Playlist”, saya tidak akan terkejut jika Tang Joon Sang dan kawan-kawan benar-benar jadi bisa bermain badminton.

Setidaknya cukup untuk ditangkap oleh kamera, meskipun kamera jarang sekali menunjukkan kok dipukul dan berhasil ditangkis dalam satu frame yang sama.

Dari sisi gaya, Hae Kang dan kawan-kawannya top banget deh. Lihat saja kedua foto di bawah ini. Keren, ‘kan? Saya jadi ingin melihat mereka berdua dalam drama bertema olahraga lain.

Kemampuan akting ini juga yang membuat saya percaya seratus persen bahwa Desa Haenam itu ada, penduduknya saling memedulikan satu sama lain dan saling menyayangi.

Mereka membantu ketika Hae In, adik Hae Kang yang menderita asma akut, harus dilarikan ke rumah sakit. Saling membantu bekerja di ladang. Mereka bersama-sama memperingati hari ulang tahun nenek tertua di desa, sebuah hal yang mengharukan karena tak lama kemudian sang nenek meninggal dunia.

Keakraban dan keseruan mereka semua selama syuting tercermin jelas dan rutin di akun Instagram bbangminton.

Iya, si Kapten Bang Yoon Dam yang merupakan karakter fiktif itu membuat dan meng-update akun IG selama drama ini ditayangkan. Trik marketing yang jitu sekali, ya?

Saya suka sekali melihat foto-foto yang Kapten Bang unggah setiap minggu. Oh iya, semua foto di dalam tulisan ini berasal dari akun IG Kapten Bang. Makasih, Kapten. 💜

Dari sisi premis cerita dan perkembangan karakter, tujuan dari drama ini tercapai. Rumlat dipasangi WIFI. Yoon Hae Kang menjadi juara di berbagai ajang dan kembali mencintai badminton seperti waktu dia kecil. Di akhir cerita dikisahkan dia juga berprestasi sebagai atlet junior nasional untuk cabang olahraga badminton.

Selain itu, ada bonus cerita cinta sederhana ala remaja. Yoon Hae Kang berpasangan dengan Han Se Yoon, dan Bang Yoon Dam berpasangan dengan Lee Han Sol.

Porsi romansanya tepat, deg-degannya pas, tidak ada adegan berlebihan yang tidak sesuai dengan usia para karakternya. Rasa sayang ditunjukkan minim dengan sentuhan fisik. Yang ada hanya tindakan saling menyemangati dalam mengejar cita-cita mereka semua sebagai atlet badminton.

Selain berbagai kelebihan, drama ini juga memiliki beberapa kekurangan yang sangat disayangkan.

Kekurangan Drama Ini

Ada dua hal utama, yaitu:

1. Kata makian dan umpatan

Kata-kata jenis ini banyak sekali bertebaran sepanjang 16 episode, mulai dari prick, jerk, bastard, apalagi ya? Tidak usahlah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ya, wong saya menonton dengan subtitle bahasa Inggris.

Menilik usia karakter yang berbicara seperti itu dan target penonton dari drama ini, saya khawatir kebiasaan memaki/mengumpat itu cepat memengaruhi orang dan mudah ditiru.

Oleh karenanya saya tidak mengijinkan anak saya yang remaja untuk menontonnya, meskipun banyak sekali plot yang bagus. Saya tidak mau anak saya berpikir memaki/mengumpat itu hal biasa, tidak apa-apa, dan bisa ditolerir.

Sayang sekali nilai dari drama ini jadi berkurang banyak karena hal itu.

2. Nilai-nilai khas Netflix

Mengapa saya bilang begitu? Karena itulah yang terjadi pada drama Korea yang eksklusif atau diproduseri Netflix. Pasti ada saja nilai-nilai Barat Hollywood yang disisipkan sehingga drama Korea semakin kehilangan ciri khasnya.

Kepentingan penyandang dana memang harus diutamakan. Jika penyandang dana ingin produknya memakai atribut tertentu yang memungkinkan ia jualan lebih banyak, ia pasti akan menyematkan atribut tersebut.

Tak terhitung berapa drakor produksi Netflix yang menyelipkan pengakuan akan LGBT, padahal hal ini masih dianggap tabu di Korea Selatan sana.

Selama ini saya tidak berkomentarlah soal itu, tapi saya kecewa sekali ketika drama remaja yang seharusnya polos semacam “Racket Boys” pun disusupi. Apa kabar remaja-remaja tak berpendirian kuat yang menonton drama ini?

Menyisipkannya halus sekali, tapi orang dewasa yang menontonnya pasti langsung mengerti.

Dikisahkan ada pendatang baru di Desa Haenam, seorang laki-laki tampan yang pindah dari kota bersama partnernya karena orang kota tidak menerima mereka. Wajah partnernya tidak ditunjukkan dan hanya diceritakan sebagai “seorang laki-laki yang menunggu di mobil”.

Tapi … tapi … di episode ke-16 pemeran si pria gay (Lee Kyu Hyung) yang memerankan karakter gay di drakor “Prison Playbook” ditunjukkan bertemu dengan karakter Dokter Go di “Prison Playbook” yang menjadi pegawai negeri yang pindah ke Haenam untuk membunuh diri di “Racket Boys”.

Semuanya terlalu kebetulan. Adegan di penghujung episode ke-16 itu scripted sekali dan saya jadi was-was setiap kali melihat si 209 di Instagram atau drama.

Sayang sekali, nilai “Racket Boys” jadi terjun bebas gara-gara episode 16 yang membagongkan kalau kata netijul.

Recommended, Or Not?

Masih, sih. Drakor sepanjang tahun 2021 sampai saat ini sangat disesaki oleh karakter antihero dan cerita pembalasan dendam semacam “Vincenzo” dan “The Devil Judge”.

Drama remaja yang sederhana dengan tema seputar olahraga dan persahabatan menjadi angin segar di tengah genre vigilante yang mulai menunjukkan titik jenuh.

Overall, drakor “Racket Boys” masih menghibur dan bisa diterima. Saya sangat menantikan akting Tang Joon Sang dan kawan-kawan mudanya di drama-drama lain. Semoga karir mereka semakin cemerlang dan bersinar.

Drama “Racket Boys” ini bisa ditonton di Netflix, ya. Selamat menikmati!

2 thoughts on “Review Drama Korea: Racket Boys

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s