Tips Mengulas Drama Korea (Part 2)

Halo, kita bertemu kembali dalam tips mengulas drama Korea supaya tidak menghasilkan review yang biasa-biasa saja.

Pertama-tama, sebuah review sebenarnya adalah refleksi dari pengalaman hidup kita sendiri.

Ini perlu diingat supaya kita tidak melihat kegiatan mengulas sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Tidak sama sekali.

Kegiatan mengulas adalah sebuah kegiatan yang melibatkan semua pancaindra, pemikiran, persepsi, dan opini demi menghasilkan sebuah tulisan yang khas milik kita.

Sekali lagi, saat mengulas drama Korea kita tidak hanya mengomentari logika jalan cerita dan kemampuan karakter untuk meyakinkan kita masuk ke dalam dunia fiksi itu, tapi juga merelasikan dunia itu dengan dunia nyata yang kita hadapi.

Contohnya adalah begini.

Ketika mengulas drama Korea “Doctor John” (2019) saya mencoba mengambil benang merah antara premis cerita di dalam drama itu dengan apa yang saya alami sendiri.

Drama “Doctor John” menceritakan pergulatan batin Dokter Anestesi Cha Yo Han (Ji Sung) yang dipenjara selama 3 tahun karena melakukan pembunuhan dengan cara euthanasia.

Euthanasia dengan alasan apa pun tanpa persetujuan (consent) dari pasien adalah ilegal di semua negara, termasuk Korea Selatan dan Indonesia, dan dianggap sebagai kejahatan pembunuhan.

Nah, bagaimana kalau pasien terlihat sangat menderita karena penyakitnya, tetapi tidak dalam kondisi sehat lahir dan batin untuk menandatangani formulir consent? Di situ perkara ini menjadi pelik.

Pada saat yang bersamaan dengan waktu saya mengulas drama ini, seorang teman saya di Amerika Serikat menghadapi euthanasia sebagai salah satu alternatif untuk melepas pergi kakeknya.

Kakeknya yang berusia 92 tahun terperangkap di sebuah panti jompo yang menjadi salah satu pusat penyebaran Covid-19 tahun lalu.

Keluarga dari teman saya diminta untuk menyetujui DNR (Do Not Resuscitate) jika terjadi henti napas dan henti jantung akibat Covid-19 ataupun akibat penyakit lain, termasuk menyetujui euthanasia.

Sambil mengulas jalan ceritanya, saya sambil membayangkan apa yang teman saya dan keluarganya alami.

Pasti tidak mudah menyetujui DNR dan euthanasia, apalagi terhadap kakek, terhadap orangtua kita. Perasaan tidak berdosa, tidak berbakti itu pasti menggerogoti batin.

Drama “Doctor John” mencoba menghadirkan persepsi menarik dari seorang dokter anestesi Dari untuk menambah wawasan kita.

Bagaimana dokter anestesi berfokus pada menghilangkan rasa sakit yang diderita pasien, termasuk di antaranya dengan kematian?

Bagaimana dokter anestesi menghadapi pertanyaan dan pergulatan moralnya sendiri, antara menjalankan misi kemanusiaan atau bermain-main sebagai Tuhan?

Dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang menghantui karakter utama Dokter Cha Yo Han selama 16 episode membuat saya bisa lebih berempati dan memahami apa yang sedang dihadapi oleh teman saya dan keluarganya.

Dari menonton drama Korea, kita juga bisa mengulas pertanyaan yang menggelitik seputar hubungan antarmanusia.

Contohnya saja, mengapa cerita tentang gadis ceria dan baik-baik yang jadian dengan cowok arogan/pemarah/pendendam/pemurung selalu menjadi premis yang akan laku sepanjang zaman?

Mulai dari novel laris manis “Pride and Prejudice” yang ditulis oleh Jane Austen pada tahun 1813, sampai ke drama Taiwan “Meteor Garden” pada tahun 2001, sampai ke drama Korea “Boys over Flowers” yang diperankan oleh Lee Min Ho pada tahun 2009, premis ini antigagal. Drama/buku dengan tema seperti ini pasti ada penonton/pembaca setianya.

Sebenarnya apa yang menarik bagi penonton?

Apa konflik yang menjadi ciri khas di sepanjang plot?

Walaupun kita bisa menebak akhir ceritanya (si gadis ceria pasti jadian dengan si pemuda pemarah), tapi kita rela menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengikuti plotnya yang klise.

Kita tahu ke mana cerita itu akan berujung, tidak ada sesuatu pun yang baru, tapi kita tetap setia membersamai drama itu.

Gara-gara mau mengulas drama Korea “Boys over Flowers” (2019) saya jadi membaca berbagai artikel psikologi dan menemukan tiga hal yang menjadi kunci mengapa drama bertema ini akan selalu digandrungi.

  1. Cinderella Complex Syndrome
  2. Bad Boy Syndrome
  3. Savior Complex Syndrome

Gara-gara mau mengulas drama Korea itu saya jadi mempelajari hal baru dan menemukan core dari kecanduan kita.

Kita selalu ingin tampil sebagai penyelamat bagi protagonis di dalam cerita kita.

Tak bisa dipungkiri drama Korea adalah produk dari kebudayaan dan refleksi dari sebuah periode waktu. Dari drama Korea kita dapat mempelajari sejarah dan latar belakang sebuah peristiwa.

Sebelum mengulas film Korea “26 Years” di Drakor Class, saya mempelajari sejarah politik di Korea Selatan.

Korea Selatan sebelum menjadi negara demokratis yang kita kenal sekarang, pernah dijajah oleh negara lain (Cina dan Jepang), pernah dipimpin oleh seorang presiden diktator, pernah lumpuh akibat kudeta militer, dan pernah membantai rakyatnya sendiri.

Film “26 Years” mengisahkan pembalasan dendam dari orang-orang yang terdampak oleh peristiwa “Pembantaian Gwangju” yang terjadi pada tanggal 18 Mei 1980 di kota Gwangju, Korea Selatan.

Meskipun nama mantan presiden yang menjadi target operasi di dalam film ini dibedakan, tapi penonton akan langsung tahu bahwa karakter itu merujuk pada mantan presiden Chun Doo Hwan yang masih hidup pada usia 90 tahun dan tidak dihukum sesuai dengan kejahatannya.

Mengulas film ini setelah mempelajari sejarah yang menjadi setting-nya membuat saya lebih memahami semua karakter yang ditampilkan di dalam film.

Watak, kepribadian, intensi, dan tekad dari semua karakternya terjalin harmonis menjadi cerita yang memikat penggemar film/drama Korea.

Tak masalah jika cerita itu bersifat murni fiksi atau lebih bersifat faksi, gabungan di antara fiksi dan nonfiksi.

Beginilah tips untuk menulis ulasan drama Korea:

Refleksikanlah pengalaman hidupmu sendiri untuk memperkaya wawasan dalam tulisanmu.

Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan unik untuk menggali logika di balik sebuah premis cerita.

Mulailah dengan keingintahuan akan kebiasaan/kebudayaan yang berbeda dari yang kamu kenal saat ini.

Jangan ragu untuk mempelajari sejarah, tempat dan waktu yang dijadikan setting untuk memperdalam pemahaman kita akan tokoh cerita dan pergulatan batin mereka.

Semoga tips-tips di atas bermanfaat supaya kamu tidak menulis review yang biasa-biasa saja.

Baca juga: tips mengulas drama Korea (part 1).

One thought on “Tips Mengulas Drama Korea (Part 2)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s