Tips Mengulas Drama Korea (Part 1)

Drama Korea itu lebih dari sekedar hiburan.

Dia adalah jendela untuk melongok kebudayaan dan masyarakat negara Korea Selatan. Dari drama Korea kita bisa mempelajari banyak sekali hal, mulai dari bahasa, kebiasaan, etiket, etika, cara pengasuhan, dinamika interaksi antaranggota masyarakat, dan lain sebagainya.

Begitu banyak hal yang dicakup oleh drama Korea sehingga mengulas drama Korea tidak semata soal membahas plot dan kelebihan/kekurangan drama itu.

Ada aspek politis, historis, sosiologis, hukum yang bisa dikupas tuntas untuk menjadi wawasan baru bagi pembaca ulasan drama Korea yang kita tulis.

Syukur-syukur jika bisa menjadi bahan untuk berpikir, berdiskusi, dan membawa perubahan.

Misalnya saja amandemen hukum di Korea Selatan untuk melindungi penyewa sebuah properti.

Indonesia tidak memiliki perangkat hukum sejenis dan serupa. Sebenarnya, penyewa properti di Indonesia tidak dilindungi hukum apa pun kecuali hukum perdata, dimana jalan tempuh untuk menyelesaikan segala ketidaksepakatan dan masalah adalah dengan berunding dan bermusyawarah.

Saya bersama Drakor Class pernah membahas hal ini dalam tulisan dan IG Live. Kami mengangkat drama Korea “Vincenzo” untuk mengulik hukum properti seperti apa sih yang berlaku di Korea Selatan sana dan apa yang kita semua bisa pelajari darinya.

Di kesempatan lain, saya mengaitkan drama Korea dengan kejadian kematian di beberapa negara.

Saya menggunakan kenangan dan pengalaman saya ketika tinggal di asrama mahasiswa yang bersebelahan dengan sebuah panti jompo di Tokyo.

Di situ saya pertama kali melihat special cleaner (tokusho sheisou) yang bertugas membersihkan barang-barang pribadi dari lansia yang meninggal dunia di panti itu. Mereka sangat dibutuhkan ketika keluarga almarhum tidak hadir atau tidak berperan setelah kematian terjadi.

Pengalaman itu menjadi basis saya mengulas drama Korea “Move to Heaven”.

Siapa yang mengurus barang-barang yang kita tinggalkan setelah berpulang?

Apa yang akan terjadi dengan aset kita?

Dan seterusnya.

Selain itu saya menggunakan review drama untuk mengulas aspek sosiologis yang juga disorot oleh drama itu.

Tentang lansia yang hidup miskin dan terbelit utang sehingga memilih untuk bunuh diri.

Tentang pencarian jati diri orang-orang yang diadopsi keluar dari Korea Selatan dan akhirnya ditelantarkan. Hal ini berujung pada ketiadaan kewarganegaraan.

Dan seterusnya. Ada banyak sekali yang bisa dibahas.

Yang terakhir saya lakukan adalah mengulas special episode drama Korea “Kingdom: Ashin of the North” di radio RPK 96.30 FM Jakarta hari Sabtu lalu.

Tidak hanya membahas jalan cerita yang berkesinambungan dengan “Kingdom” season 1 dan 2, saya juga membahas aspek geopolitik yang menjadi latar belakang karakter Ashin.

Mengapa desa dan suku asal dari Ashin dikucilkan?

Mengapa mereka mudah dijadikan kambing hitam oleh pemerintahan Joseon saat itu?

Bagaimana dinamika di antara orang Jurchen di desa Seongjeoyain dengan orang Pajeowi yang bertempat tinggal lebih dekat ke Sungai Pajero?

Saya uraikan lebih detail besok, ya.

Yang pasti, review drama Korea itu jauh lebih luas dari soal review. Ia adalah juga sarana belajar.

Baca juga: tips mengulas drama Korea (part 2).

One thought on “Tips Mengulas Drama Korea (Part 1)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s