Mengapa Aku Pantas Menjadi Pembaca Pertama Naskahmu

Dear Erna,

Tulisan ini untukmu karena terus terang aku tidak punya ide untuk menulis hari ini.

Sejak PPKM diberlakukan hidupku terasa datar-datar saja. Bengkelku terpaksa ditutup karena kami tidak bisa pergi ke mana pun untuk instalasi furnitur apa pun.

Ke mana pun kami pergi, ada pak polisi yang siap menanyakan tujuan kami. Daripada repot dan mengundang masalah, lebih baik kupulangkan saja semua bapak tukang budiman ke kampung mereka di Jawa Tengah.

Pada masa PPKM kali ini semangatku menjalani hari-hari menurun drastis. Tentu Erna dapat menebak penyebabnya.

Berita duka.

Dari segala penjuru, lewat segala media, tentang berpulangnya orang-orang. Yang kukenal baik, maupun tidak. Sanak saudara, sahabat, dan handai taulan, tidak ada yang terkecuali.

Semakin lama kutatap layar telepon genggam, aku semakin tertekan. Segala macam cara kutempuh untuk tetap tenang dan waras, tapi ada saja godaan untuk menjadi galau dan panik.

Di saat-saat seperti ini aku menghabiskan waktu dengan membaca, menonton, pokoknya menempuh jalan cerita hidup orang lain yang sekiranya lebih menarik dari jalan cerita hidupku sekarang.

Bukan, bukan perkara aku tidak bersyukur. Namun, begitulah hidup yang seperti roda.

Terkadang kita berada di atas, terkadang kita berada di bawah. Ketika berada di bawah aku mendongak ke atas, menggapai jalan untuk kembali merangkak naik.

Aku haus akan bacaan, akan tontonan. Awalnya untuk mengisi pikiran saja, untuk mengatasi kegundahan, tapi lama kelamaan aku membutuhkannya untuk belajar.

Aku berbagi denganmu kemarin tentang ketidakpercayaan diri yang kualami, insecurity yang mendera karena aku berada di tengah komunitas.

Sejujurnya, aku orang yang nyaris tidak pernah membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki trek larinya masing-masing. Aku tidak perlu menoleh ke kanan atau ke kiri untuk memastikan aku menyelesaikan lintasan lariku sampai ke garis akhir.

Akan tetapi, di komunitas ada begitu banyak orang yang perlahan-lahan membuatku iri.

Mengapa mereka begitu mudah menulis?

Mengapa mereka begitu luwes berkarya?

Mengapa mereka begitu disukai banyak orang?

Dalam kegundahanku, aku berdiri di pojok sambil menggigiti kuku. Memandangi bintang-bintang yang bersinar sangat terang tak jauh dariku, melupakan bahwa aku pun memiliki sinarku sendiri.

Dan ketika itu kamu datang, Na Na Erna. Menawarkan kesempatan untuk mengajar tentang cerpen, untuk bermanfaat bagi orang lain.

This is what I’m good at. This is how I can contribute.

Terima kasih karena sudah mengingatkanku untuk kembali berpaling ke lintasan lari yang sempat kuabaikan.

Terima kasih karena sudah membuat pandanganku kembali beralih ke garis finish yang telah dipercayakan kepadaku.

Terima kasih karena telah menjadi teman berbagi, teman belajar, dan teman untuk berkarya, meskipun kita baru saling mengenal satu tahun terakhir (bukan lima tahun seperti perasaanmu, hehe).

Oleh karena itu, aku dengan senang hati menawarkan diri menjadi salah satu pembaca pertama naskah yang akan kamu kirimkan ke editormu. Tak lain dan tak bukan untuk membalas kebaikan yang sudah kamu berikan padaku tempo hari.

Aku akan memberikan masukan semampuku supaya karyamu dipoles menjadi lebih baik dan bisa diterima oleh banyak pembaca.

Aku mengerti proses penulisan fiksi, aku mengerti teknis penyuntingan, aku terbiasa memiliki helicopter view terhadap suatu hal.

Oleh karena itu, aku pantas menjadi pembaca pertama karyamu. Bukan karena keahlian yang aku punya, tapi karena keinginanku untuk membuatmu maju, Temanku.

Terima kasih jika aku terpilih menjadi pembaca pertama naskahmu itu. Aku tidak akan mengecewakanmu.

Salam dariku.

Sesama penulis

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s