Tentang Dipecat Menjadi Murid

Urusan pecat memecat biasanya terkait dengan pekerjaan. Istilah halusnya PHK, atau Pemutusan Hubungan Kerja, dimana pemberi kerja dan pekerja memutuskan untuk mengakhiri hubungan profesionalnya.

PHK terjadi karena permintaan pemberi kerja, seperti: pekerja telah memasuki usia pensiun dan perusahaan perlu mengurangi tenaga kerja.

PHK juga dapat terjadi atas permintaan dari pekerja itu sendiri, misalnya: pekerja mengundurkan diri karena pindah perusahaan, atau pekerja meninggal dunia.

Jadi, pekerja yang mendapat PHK karena permintaannya sendiri bukanlah hal yang aneh. Itu wajar dan lumrah.

Anehnya, seorang guru musik yang memutuskan hubungan kerja dengan muridnya dipandang nyeleneh.

Padahal apa bedanya dengan hubungan antara perusahaan dan pekerja yang terlibat di dalam PHK?

Anggap saja guru musik adalah pekerja dan muridnya adalah pemberi kerja. Guru musik (pekerja) mengundurkan diri dari pekerjaannya dan tidak lagi menerima pembayaran dari muridnya (pemberi kerja).

Dalam hal pembelajaran musik memang lebih lazim diketahui seorang murid yang berhenti belajar, dan bukannya seorang guru yang berhenti mengajar.

Belajar musik perlu stamina dan kesabaran tingkat tinggi. Kemampuan bermain musik tidak datang dalam semalam, tapi perlu waktu bertahun-tahun.

Banyak murid yang berhenti belajar musik di tengah jalan karena bosan, meminati bidang lain, sibuk di sekolah/pekerjaan, dan lain sebagainya. Ada seribu satu alasan untuk berhenti belajar musik.

Di sisi lain, guru musik biasanya tidak berhenti mengajar karena itu adalah mata pencaharian mereka, pekerjaan utama maupun sampingan.

Tahun lalu anak saya dipecat sebagai murid oleh guru piano kami. Hati saya masih ga karuan mengingat hari ketika guru kami mengembalikan si Abang ke pengasuhan kami.

Si Abang yang perfeksionis selalu takut salah membaca partitur lagu sewaktu sedang les. Akibatnya dia akan marah-marah, murung, bahkan tak bergeming sama sekali.

Duduk diam mematung padahal sudah waktunya belajar, selalu sukses membuat saya naik darah.

Setelah 9 minggu berturut-turut si Abang berperilaku demikian, guru piano kami memutuskan untuk berhenti mengajarnya. Daripada buang uang, waktu, dan tenaga, lebih baik si Abang mempelajari alat musik yang dia sukai dan pilih sendiri, yaitu drum.

Tak disangka minggu lalu guru piano kami juga memecat saya.

Biasanya saya bisa menyelesaikan tiga lagu dalam satu kali pertemuan les. Sejak duduk di Grade 4 sedari tahun lalu, kemampuan saya menurun drastis.

Apakah sudah waktunya saya minum vitamin untuk otak, ya?

Memang materi pelajaran bertambah susah. Susah banget. Namun, dari menyelesaikan 3 lagu per pertemuan menjadi 1 lagu untuk 3 kali pertemuan itu sudah kebangetan.

Ditambah lagi saya dinyatakan lulus satu lagu bukan karena bisa memainkannya sekaligus dengan lancar, tapi karena ada banyak part yang diulang-ulang sampai akhirnya ibu guru menyerah dan berkata: “Oke deh, lulus.”

‘Kan udah ga bener ….

Guru piano saya tidak berkomentar banyak tentang penurunan kemampuan saya sampai bulan Mei lalu, karena waktu itu saya masih sibuk mempersiapkan diri untuk ujian piano ABRSM Grade 3.

Setelah ujian selesai, kembalilah saya pada rutinitas lama: buku Burgmüller, Duvernoy, Lesson Grade 4, dan seterusnya. Setiap kali membuka buku lagu saya panik, kenapa partiturnya susah banget sih?

Ya iyalah, ‘kan sudah Grade 4, sudah masuk ke level intermediate. Level advanced dimulai dari Grade 6 sampai 8. Ah, saya masih jauh banget dari situ.

Guru saya tidak lagi mau mengajari piano sampai saya menemukan kembali cinta dan motivasi untuk musik.

Memang ya, cinta mengenal usaha, dan kecintaan saya pada musik entah kapan sudah surut dan mulai padam, sehingga saya selalu mengemukakan berjuta alasan untuk tidak berlatih piano.

Sibuklah, urus anaklah, mending masak dululah, pokoknya selalu ada alasan.

Jadi, daripada buang waktu, tenaga, dan uang, saya disuruh berhenti les dulu. Saya disuruh belajar mandiri untuk menemukan lagi cinta mula-mula itu.

Bicara tentang motivasi memang tidak bisa lepas dari cinta mula-mula. Cinta adalah penggerak untuk melakukan apa saja. Kalau sudah cinta, pasti semuanya terasa mudah dan ringan karena kita rela berkorban.

Yah, bagaimana dengan cita-cita saya untuk menjadi guru piano?

Untuk mewujudkan cita-cita itu saya perlu mencapai Grade 5, masih ada 2 level yang saya harus jabani. Ada baiknya saya beristirahat sejenak untuk menemukan kembali cinta pada musik.

Jadi, beristirahat bukan untuk bersantai, tapi untuk memunguti semangat yang sudah mulai terpotek di sana-sini karena berbagai distraksi.

Beberapa teman saya berkomentar: “Bagus ya, gurunya tidak berorientasi pada uang.”

Sejauh ini dia adalah guru paling fair yang saya tahu. Dia ingin kedua belah pihak mendapat faedah dari sebuah pembelajaran musik. Ini bukan semata-mata dia mencari nafkah, tapi juga saya memperoleh keahlian.

Saya katakan pada diri sendiri: “Selamat rehat.”

Tidak apa-apa lelah, tidak apa-apa istirahat sejenak. Capek dan break adalah bagian dari perjalanan. Dan itulah sedikit cerita dari perjalanan saya mempelajari piano.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s