Jangan Merampas Hak Anak untuk Berjuang (Belajar dari Drakor “Reply 1988”)

Kemarin saya dan Lendy dari Drakor Class melakukan taping untuk kanal Youtube milik ITMBMH TV. ITBMH, atau ITB Motherhood, adalah komunitas mamah-mamah yang merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung. Sebagai salah satu alumnus, saya lumayan aktif berkegiatan di Facebook Group komunitas ini.

Kesempatan untuk menjalin kerja sama antara komunitas Drakor Class dan komunitas ITBMH terbuka setelah kami tahu bahwa ITBMH yang meluncurkan ITBMH TV di Youtube dua bulan lalu sedang mencari pengisi konten.

Setelah beberapa minggu tektokan akhirnya kami menyetujui tema pengasuhan anak yang terinspirasi oleh drama Korea Reply 1988 dan dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2021 kemarin.

Judul segmen kerja sama kami ini adalah “Ngobrolin Pengasuhan Lewat Drakor Reply88″.

Pembaca blog saya ini yang mengembara di drakor wonderland, yang sudah lama atau baru-baru ini saja gara-gara pandemi, pasti pernah mendengar drakor berjudul “Reply 1988”.

“Reply 1988” adalah bagian dari “Reply Series” yang terdiri atas “Reply 1988”, “Reply 1994”, dan “Reply 1997”, dan ketiganya masih masuk daftar pencarian teratas di platform Netflix Asia.

Semua drama di dalam “Reply Series” digarap oleh Shin Won Ho, sutradara di balik drama hits “Prison Playbook”, “Hospital Playlist Season 1”, dan “Hospital Playlist Season 2” yang masih ongoing.

Ciri khas karya sutradara Shin Won Ho adalah perasaan hangat yang timbul sepanjang menonton drama-drama itu dan kegagalan akut untuk move on.

Bener-bener, deh.

Lakukanlah survei kecil-kecilan dan semua responden kamu pasti akan bilang betapa mereka sangat menyukai dan ga bisa move on dari drama “Reply 1988” yang ditayangkan pada akhir tahun 2015 sampai awal tahun 2016 ini.

Saya sendiri menonton dramanya 5 tahun lalu dan menghabiskan waktu 4 bulan untuk menghabiskan 20 episodenya (1 episode berdurasi sekitar 1.5 jam).

Mengapa perlu waktu begitu lama? Karena saya menontonnya sambil menyetrika, hehe.

Yang saya herankan mengapa waktu menonton pertama kali saya kurang menyukai drama ini dan sama sekali tidak terkesan.

Setelah menontonnya kedua kali dalam rangka mempersiapkan diri untuk talkshow dengan ITBMH TV, barulah saya ngeh apa yang membuat drakor ini begitu istimewa.

Kehidupan sehari-sehari, relasi bertetangga, teman masa kecil, persahabatan, cinta pertama, pergulatan ekonomi, menemukan bakat dan cita-cita, adalah sedikit dari sekian banyak tema yang diangkat oleh drakor “Reply 1988”.

“Reply 1988” adalah tentang hidup kita, tentang kita semua, dan itu membuatnya sangat relatable. Oleh karena itu pula, review drama ini akan saya buat secara bertahap, dimulai dari keluarga Jung Hwan, salah satu dari lima sekawan Sung Deok Sun (Hyeri), Choi Taek (Park Bo Gum), Kim Jung Hwan (Ryu Jun Yeol), Sung Sun Woo (Go Kyung Po), dan Ryu Dong Ryong (Lee Dong Hwi).

Keluarga Kim Jung Hwan terdiri atas ayah, ibu, anak sulung Jung Bong, dan anak bungsu Jung Hwan. Sampai Jung Hwan berusia 15 tahun mereka berempat hidup dalam kemiskinan yang sangat memprihatinkan.

Bayangkan empat orang dewasa dan remaja menempati satu kamar. Semua barang milik mereka ditumpuk di situ, semua aktivitas mereka dilangsungkan di situ. Begitu ngenes hidup miskin yang harus dijalani oleh Jung Hwan dan keluarganya.

Keluarga Jung Hwan (paling kanan) sebelum mereka menjadi Orang Kaya Baru. Si sulung Jung Bong duduk di paling kiri.

Semuanya berubah ketika suatu kali Jung Bong memenangkan undian lotre sebesar 100 juta Won.

Wow, bayangkan 100 juta Won pada tahun 1985 bernilai berapa pada tahun ini. Dengan mempertimbangkan inflasi, devaluasi, dan sebagainya mungkin uang itu sekarang bernilai lebih dari 1 milyar Rupiah, ya.

Gara-gara harta mendadak itu, kehidupan Jung Hwan sekeluarga pun berubah drastis.

Mereka membeli-rumah besar masih di lingkungan perumahan yang sama dan menyewakan bagian half-basement ke keluarga Deok Sun. Dengan hadiah lotre ayah Jung Hwan juga membuka toko elektronik.

Mereka bisa menimbun sampai 1.000 buah briket yang pada masa itu digunakan untuk memasak dan menghangatkan ruangan dan bisa membantu tetangga-tetangga mereka yang kekurangan.

Jung Hwan memakai barang-barang bermerk dan Jung Bong tetap menganggur seperti yang dia sudah lakukan selama 6 tahun terakhir.

Pengasuhan yang saya ingin soroti lewat tulisan kali ini adalah pengasuhan pada diri Jung Bong, si anak tertua di dalam keluarga Kim.

Tidak ada masalah berarti dalam pengasuhan Jung Hwan dan dalam relasi di antara Jung Hwan dan kedua orangtuanya.

Paling-paling soal komunikasi dan keterbukaan, karena selayaknya remaja pria berusia 18 tahun lainnya, Jung Hwan cenderung tidak bercerita banyak tentang hari-harinya (tidak seperti Sun Woo yang berbagi semua cerita dengan ibunya yang sudah menjanda).

Bagaimana latar belakang Jung Bong?

Jung Bong adalah anak tertua di dalam Keluarga Kim. Dia sudah mencoba ujian masuk universitas sebanyak 6 kali dan gagal terus.

Jika dikira-kira usianya sekarang adalah 18 (usia lulus SMA) ditambah 6 yaitu 24 tahun. Kegiatannya sehari-hari adalah makan, tidur, dan melakukan segala macam hal yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar.

Kalau dianalogikan dengan kondisi di Indonesia, Jung Bong ini gagal ujian UMPTN dan seharusnya sedang ikut bimbingan belajar supaya bisa lulus di tahun berikutnya.

Lucunya, Jung Bong seperti tidak merasakan desakan untuk belajar lebih rajin supaya pada akhirnya bisa kuliah.

Sewaktu memenangkan lotre, Jung Bong sudah mencoba ujian masuk universitas sebanyak 3 kali. Hal ini membuat ibunya gemas karena mengkhawatirkan masa depan anaknya.

Setelah memenangkan lotre dan keluarganya tidak perlu lagi khawatir akan uang, Jung Bong bukannya tambah rajin belajar. Dia malah tambah bermalas-malasan dan bermain-main, mulai dari bermain di game arcade, megoleksi perangko, dan bermain rubik.

Sebagai orangtua saya bisa membayangkan perasaan ibunya yang kesal dengan anaknya yang pemalas dan tidak berguna. Sehari-hari dia hanya makan, tidur, dan bersenang-senang. Jung Bong juga jago ngeles, selalu punya alasan supaya tidak usah belajar.

Apa yang akan kita lakukan jika kita berada di posisi orangtua dari Jung Bong?

Sebelum membahas hal itu, saya punya sedikit bocoran mengenai anak favorit dari pasangan ini. Sang ayah lebih menyayangi Jung Bong, sedangkan sang ibu lebih menyayangi Jung Hwan.

Ketika sang ibu hendak memarahi Jung Bong karena tidak mengacuhkan masa depannya, sang ayah akan selalu tampil membela Jung Bong. Sepanjang drama ini saya menangkap kesan utang budi dari sang ayah ke si anak.

Ayah Jung Bong merasa berutang budi pada anaknya karena gara-gara Jung Bong memenangkan lotre, kehidupan mereka sekeluarga berubah menjadi jauh lebih baik.

Dari yang tinggal di dalam satu kamar untuk melakukan segala hal, mereka jadi punya rumah besar dengan tempat terpisah untuk menyimpan briket dan saus yang difermentasi di dalam tempayan-tempayan besar.

Dari yang bekerja serabutan, ayah Jung Bong kini memiliki toko elektronik dan bisa bebas membawa barang dagangannya ke rumah dan memakainya.

Dari yang sangat perhitungan dengan uang, ibu Jung Bong menjadi orang yang royal dan dermawan, yang tidak sungkan-sungkan berbagi makanan dan meminjamkan uang pada tetangga-tetangganya yang membutuhkan.

Tidak ada perubahan berarti yang terjadi pada diri Jung Hwan dan Jung Bong. Jung Bong tetap di posisi yang sama: pengangguran yang katanya sedang belajar untuk tes masuk universitas, padahal sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa di rumah.

Menilik judul dari tulisan ini saya ingin membahas mengenai pentingnya hak anak untuk berjuang.

Berjuang untuk mencukupi diri sendiri adalah hak setiap anak. Banyak orang menganggap bahwa itu adalah kewajiban yang kalau tidak dikerjakan bagaimana si anak akan hidup.

Menurut saya itu pandangan yang keliru. Anak memiliki hak untuk berjuang. Orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan hak itu kepada anak.

Dasar pemikiran ini adalah kita sebagai orangtua tidak akan ada selamanya. Semua sumber daya yang kita miliki saat ini (harta benda, uang, aset, dan sebagainya) tidak ada yang abadi.

Anak-anak perlu mengetahui hal itu. Ia perlu tahu bahwa sumber daya terbatas. Ada limit untuk menarik uang di bank. Ada harga yang harus dibayar jika kita menginginkan sesuatu. Ada kerja keras sebelum mencapai tujuan dan mimpi.

Saya terpikirkan hal ini karena melihat keponakan-keponakan saya yang sekarang beranjak remaja dan dewasa.

Pada tahun 1980 dan 1990-an hidup tidak senyaman sekarang. Teknologi belum maju, akses informasi tidak sebebas saat ini, fokus orang-orang adalah pada pemenuhan kebutuhan hidup.

Masa-masa itu disebut sebagai masa-masa susah, tapi masa-masa itu menempa orang menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi segala medan.

Sepupu-sepupu saya yang jauh lebih tua dari saya adalah produk dari jaman itu. Mereka tumbuh menjadi pejuang yang bisa menyediakan hidup dengan perekonomian yang lebih baik untuk keluarga mereka sendiri di masa kini.

Ironisnya, mereka tidak mau mewariskan daya dan semangat juang itu kepada anak-anak mereka yang notabene adalah keponakan-keponakan saya.

Mereka berprinsip: karena saya dulu hidup susah, anak saya sekarang tidak boleh hidup susah. Jadi, sepupu-sepupu saya melimpahi anak-anak mereka dengan segala fasilitas yang, sayangnya, belum pada waktunya.

HP, tablet, komputer, game, mobil, kartu kredit, semuanya diberikan bebas tanpa mempertimbangkan kebijaksanaan si anak, apakah sudah berkembang atau belum.

Otak anak-anak belum berkembang sepenuhnya. Mereka masih harus develop kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan lain sebagainya, dan itu tidak terjadi sekejap dalam semalam.

Sebelum memfasilitasi anak dengan apa pun, orangtua mesti menilai dulu kesiapan anak. Memberikan sesuatu sebelum dia siap hanya akan berujung pada bencana.

Keluarga Jung Hwan beruntung karena bisa hidup lebih baik secara ekonomi. Akan tetapi, apakah kenyamanan yang tercipta oleh uang itu baik untuk masa depan Jung Bong dan Jung Hwan?

Menurut pendapat saya, ketika orangtua Jung Bong tidak menegur, mengingatkan Jung Bong akan kekeliruannya, mereka hanya akan menuai badai di masa depan.

Mereka merampas hak Jung Bong untuk berjuang bagi hidupnya sendiri dengan cara tidak mendesak Jung Bong memutuskan masa depannya: mau kuliah, bekerja, atau bagaimana.

Padahal, lagi-lagi, orangtua Jung Bong tidak akan selalu ada. Kekayaan mereka bisa saja habis dalam sekejap karena bencana alam seperti kebakaran, misalnya.

Jika itu terjadi, maka bagaimana Jung Bong bisa melanjutkan hidup jika ia tidak memiliki pendidikan dan keahlian yang memadai? Yang akan terjadi adalah dia menjadi beban bagi anggota keluarganya yang lain.

Jadi begitulah, jangan kita merampas hak anak untuk berjuang. Belajar untuk masa depan, menabung survival skill untuk melanjutkan hidup ketika kita, para orangtua, sudah berlalu dari dunia ini, adalah hal-hal krusial yang perlu dilakukan oleh seorang anak.

Sebagai bocoran, Jung Bong pada akhirnya akan lulus tes masuk ke universitas pada tahun ke- …. Ah, saya tidak mau spoiler.

Yang pasti, betapa sayangnya tahun-tahun yang sudah berlalu itu, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan banyak hal lain seandainya:

  1. Jung Bong tidak terlena dengan uang yang melimpah.
  2. Orangtua Jung Bong berani menegur dan mengingatkan anak mereka akan kesalahannya.

Seperti kata pepatah:

“Jika kamu sayang anakmu, maka kamu akan memukulnya dengan tongkat.”

Bukan memukul karena amarah, tetapi memukul untuk mendidik, untuk mengarahkan si anak ke jalan yang benar dan berguna bagi masa depannya.

Dan percayalah, tidak ada pendidikan yang enak. Semua pendidikan akan membawa dukacita, tapi pada akhirnya akan mendatangkan sukacita dan buah bagi mereka yang tekun menjalaninya.

Semoga kita menjadi orangtua-orangtua yang berhikmat.

Potret bahagia keluarga Jung Hwan pada ulang tahun sang ibu

12 thoughts on “Jangan Merampas Hak Anak untuk Berjuang (Belajar dari Drakor “Reply 1988”)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s