Review Drama Korea: Move to Heaven

Pandemi Covid-19 semakin parah di bulan Juni dan Juli tahun ini. Semakin banyak orang yang meninggal dunia. Setiap hari ada saja kabar duka yang kita terima, baik melalui media sosial maupun disampaikan secara langsung.

Bagaimana kabar kita semua? Masih waras dan waras (yang berarti sehat dalam bahasa Jawa)?

Mari kita menjauh sejenak dari segala berita yang membuat hati cenat-cenut. Informasi yang kita terima sudah menjadi tsunami, tidak sekedar badai, yang membuat kita gamang, resah, dan pada akhirnya paranoia.

Ada baiknya melipir sejenak dari semua hiruk-pikuk di luar sana dan mengulik pertanyaan dasar dari semua peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.

Hidup dan Kefanaan Manusia

Manusia itu seperti embun, ada pagi hari, lenyap ketika siang menjelang. Ada hari ini, tak berbekas keesokan hari.

Seorang mantan kolega meninggal karena Covid-19 minggu lalu. Teman yang mengabarkan hal itu bilang begini: “Hari Kamis gua masih con-call (conference call) dengan dia. Minggu gua dengar dia masuk rumah sakit. Senin sudah ga ada. Secepat itu.”

Berita duka lain tiba di handphone kami kemarin.

Pasangan suami-istri yang merupakan teman kami berdua sewaktu masih tinggal di Surabaya dirawat di rumah sakit karena Covid-19. Kemarin pagi sang suami berpulang. Kabar simpang-siur yang beredar mengatakan bahwa sang istri bahkan tidak bisa menghadiri pemakaman suaminya.

Hati kami ikut hancur membayangkan kesedihan yang menimpa keluarga ini, yang dialami oleh sang istri dan dua anak perempuan yang ditinggalkan.

Apakah hidup? Apakah waktu?

Apakah guna kita menumpuk barang-barang selama kita bernapas?

Apa yang akan terjadi dengan orang-orang, barang-barang yang kita tinggalkan?

Bagaimana kita melanjutkan hidup? Bagaimana kita bertahan setelah kehilangan?

Semua pertanyaan itu membawa saya pada kenangan menonton sebuah drama Korea sejumlah 10 episode yang sangat bagus dan ditayangkan di Netflix pada bulan Mei lalu.

Drama Korea “Move to Heaven” (2021)

Na Mu (sahabat Geu Ru), Sang Gu (paman Geu Ru), Geu Ru, dan ayahnya

Drama Korea “Move to Heaven” berkisah tentang sebuah perusahaan keluarga yang terdiri atas ayah dan anak, yang bergerak di bidang trauma cleaning. Pekerjaan utama mereka adalah membereskan kediaman dan barang-barang pribadi dari seseorang yang meninggal dunia.

Mungkin kita tidak familiar dengan istilah trauma cleaner karena di Indonesia hampir selalu ada keluarga yang menangani segala macam urusan yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah berpulang.

Tidak demikian halnya di negara maju dimana rakyatnya terbiasa hidup mandiri.

Anak meninggalkan rumah pada umur 18 tahun selepas SMA. Orangtua biasa hidup terpisah dengan anak, menantu, dan cucu. Orangtua hidup mandiri dan tetap bekerja sampai usia senja. Mereka bahkan check-in sendiri ke panti jompo ketika tidak bisa lagi mengurus diri mereka sendiri.

Tepat di sebelah asrama mahasiswa tempat saya tinggal ketika belajar di Tokyo dulu, ada sebuah panti jompo yang menempati gedung berlantai empat. Kematian dan pembersihan sesudahnya menjadi pemandangan yang kami lihat sehari-hari.

Setelah prosesi pemakaman, entah yang melibatkan keluarga atau tidak karena banyak lansia di Jepang yang sudah hilang kontak dengan keluarga mereka, pasti ada minivan yang mengangkuti barang-barang dari kamar yang sudah kosong di panti tersebut.

Barang-barang yang harus diurus bukan hanya milik orang tua yang meninggal tanpa ditemani keluarga, tapi juga milik orang-orang yang karena satu dan lain hal meninggal dalam keadaan sendirian.

Di manakah barang-barang itu akan berakhir?

Dalam drama “Move to Heaven” ini kita mendapat sedikit gambaran apa itu trauma cleaning dan bagaimana trauma cleaner menjalankan profesi mereka.

Trauma cleaner membersihkan seluruh sudut ruangan tempat seseorang meninggal. Wallpaper dikelupas, cat tembok dikerok, karpet digulung, kasur dibuang, semua pakaian dan perintilan kecil-kecil dimasukkan ke dalam kantong-kantong sampah berukuran besar. Mereka akan berakhir di tempat pembuangan sampah atau dipulung orang.

Pembersihan yang dilakukan oleh tim “Move to Heaven”

Barang-barang yang dirasa penting, seperti album foto, surat berharga, kartu identitas dari kantor, dan lain-lain, dimasukkan ke dalam sebuah kotak besar berwarna kuning dengan logo “Move to Heaven”. Kotak kuning itu kemudian diserahkan kepada keluarga dari mendiang.

Jika Geu Ru merasa masih ada yang janggal dan belum terselesaikan, maka dia akan membawa kotak itu pulang dan mencoba memecahkan misteri yang ditinggalkan oleh orang yang sudah meninggal. Setelah itu, mungkin ujung-ujungnya kotak kuning tersebut berakhir di perapian.

Premis Cerita

Tokoh utama dalam drama ini adalah Han Geu Ru (Tang Joon Sang), seorang pemuda berusia 20 tahun yang mengidap Sindrom Asperger yang menghindari kontak dengan manusia dan lebih nyaman berkomunikasi dengan ikan di akuarium.

Geu Ru yang selalu menyambangi akuarium tempat Na Mu bekerja. Akting Tang Joon Sang di sini juara banget.

Geu Ru dan ayahnya menjalankan bisnis trauma cleaning. Mereka akan pergi ke tempat orang yang sudah meninggal untuk membereskan kediaman dan barang-barang dari mendiang, berdasarkan permintaan dari klien (bisa berupa keluarga atau pemilik apartemen yang disewa).

Geu Ru dan ayahnya permisi dulu pada orang yang telah meninggal dengan cara menyebutkan nama lengkap mereka, nama lengkap mendiang, dan tujuan kedatangan mereka ke tempat itu

Suatu hari ayah dari Geu Ru (diperankan oleh Ji Jin Hee) meninggal dunia tiba-tiba karena sakit. Perwalian atas Geu Ru kemudian jatuh ke tangan Cho Sang Gu, saudara ayahnya yang satu ibu, tapi berbeda ayah. Sang Gu baru banget keluar dari penjara karena kasus penganiayaan, ketika dia dicegat dan ditodong oleh pengacara dari almarhum ayah Geu Ru.

Cerita selanjutnya sudah bisa ditebak, walaupun tidak klise. Sang Gu diberi waktu tiga bulan untuk membuktikan dia bisa menjadi wali yang baik untuk Geu Ru. Kapan-kapan saya akan cari tahu kenapa drama Korea gemar sekali menggunakan angka 3 bulan sebagai batas waktu sesuatu.

Tidak hanya harus tinggal serumah dengan Geu Ru, Sang Gu juga harus membantu Geu Ru menjalankan bisnis trauma cleaning “Move to Heaven”. Tentu ini keadaan yang tidak enak bagi semua orang. Sang Gu tidak mengerjakan tugas itu dengan sukarela. Geu Ru pun melihat Sang Gu sebagai orang asing yang menginvasi hidupnya.

Geu Ru yang sangat memproteksi jejak kenangan akan ayahnya melarang Sang Gu tidur di kamar dan duduk di tempat ayahnya biasa sarapan. Akhirnya Sang Gu tidur di ruang tengah dengan memakai tenda dan memasak makanan dengan kompor untuk berkemah.

Sang Gu yang hidup bagai pengungsi di rumah Geu Ru

Kebiasaannya yang jorok dan berantakan juga membuat Geu Ru yang mencintai keteraturan sempat stres. Na Mu (yang juga muncul di drama Korea “Navillera”), sahabat sekaligus tetangga Geu Ru, melindungi Geu Ru dengan cara selalu mencereweti dan mengawasi perilaku Sang Gu yang slenge’an.

Dinamika di antara Geu Ru dan Sang Gu (dan juga Na Mu) mulai terbentuk dan membaik setelah mereka bertiga bekerja sama sebagai tim “Move to Heaven”. Walaupun belagu dan banyak omong, Sang Gu membuktikan diri sebagai pekerja keras.

Memang benar, cara terbaik mengenal seseorang adalah dengan bekerja bersama orang itu.

Na Mu, Geu Ru, dan Sang Gu ketika hendak menemukan kekasih dari salah seorang klien mereka yang meninggal karena kecelakaan

Tantangan yang dihadapi Sang Gu bukan soal adaptasi dengan Geu Ru, rumah baru, dan pekerjaan barunya. Dia juga memikirkan biaya perawatan Kim Su Cheol (Lee Jae Wook), seorang petinju amatir yang dia pukuli sampai koma dalam sebuah pertandingan yang telah diatur supaya berjalan curang.

Su Cheol (Lee Jae Wook) dan Sang Gu (Lee Je Hoon)

Demi mendapatkan uang, Sang Gu berurusan lagi dengan Madam Jung, seorang underground MMA (Mixed Martial Art) fight organizer. Saking merasa bersalahnya terhadap Su Cheol dan adiknya, Sang Gu yang gelap mata bahkan sampai menjadikan sertifikat rumah Geu Ru sebagai jaminan atas utangnya.

Relasi pribadi antara Geu Ru dan Sang Gu, dan memori akan mendiang ayah Geu Ru dari sudut pandang Sang Gu dan Geu Ru, berkelindan dengan tugas trauma cleaning yang mereka hadapi sehari-hari. Apalagi Geu Ru yang tidak tenang jika ada yang tidak beres sering melakukan hal-hal di luar bersih-bersih barang, dan ini terkadang merepotkan sekaligus menyentuh hati Sang Gu.

Refleksi Kebudayaan

Drama Korea selalu memberi gambaran yang memadai akan kebudayaan di Korea Selatan sana. Ini terbukti dari kasus/kematian/klien yang ditangani oleh Geu Ru dan pamannya, Sang Gu. Latar belakang ekonomi, situasi sosial, dan kebiasaan masyarakat semuanya direpresentasikan dengan menarik dan informatif bagi penonton drama Korea.

Berikut ini beberapa refleksi nilai-nilai kebudayaan Korea yang saya tangkap sepanjang drama ini.

1. Pekerja sering tidak mendapatkan haknya

Apalagi pekerja kontrak atau intern. Dunia pendidikan dan dunia kerja di Korea Selatan memiliki iklim persaingan yang kelewat tinggi. Semua orang berlomba-lomba memasuki sekolah terbaik supaya bisa mendapatkan pekerjaan dan lingkungan sosial terbaik.

Semua orang bercita-cita bekerja di perusahaan besar yang dimiliki oleh chaebol (konglomerasi). Untuk menjadi pegawai tetap, seseorang harus menjadi intern (magang) sebelum dikontrak lagi dengan periode yang lebih lama. Di setiap tahap ada kompetisi dan evaluasi. Yang berhasil melewati semuanya akan diangkat menjadi pegawai tetap.

Saya jadi ingat drama Korea “Misaeng” (2014). Para pegawai di kantor trading yang menjadi setting drama ini bahkan memperlengkapi diri mereka sebelum melamar kerja. Mereka sengaja berinvestasi dengan belajar bahasa asing dan menempuh pendidikan di luar negeri supaya mendapat tambahan peniliaian oleh HRD perusahaan. Akan tetapi, semua kompetensi itu tidak menjamin mereka berhasil sampai akhir.

Kasus pertama yang ditangani oleh Geu Ru dan ayahnya adalah lokasi kematian seorang pekerja intern yang mengalami kecelakaan kerja saat memeriksa mesin di akhir pekan.

Pemuda itu tidak berani menolak perintah atasannya untuk pergi ke pabrik di hari liburnya karena posisinya sebagai pegawai kontrak. Dia pun tidak melaporkan kecelakaan yang dia alami karena takut itu akan membuatnya dipecat. Akhirnya dia meninggal sendirian di kamar kosnya yang sempit dengan kaki yang hampir membusuk karena tidak dirawat.

Perwakilan perusahaan yang datang ke pemakaman pemuda itu tidak memberikan kompensasi yang seharusnya. Kondisi berduka dan ketidaktahuan terkadang dimanfaatkan orang jahat untuk mencuri hak orang yang mengalami kemalangan.

2. Lansia hidup sebatang kara dan bekerja keras sampai tutup usia

Ada dua kasus yang mengangkat tema ini. Yang pertama adalah kasus kematian seorang ibu tua yang selama bertahun-tahun menyimpan uang di bawah karpet apartemennya untuk membeli jas bagi anak satu-satunya. Dan yang kedua adalah kasus pasangan lansia yang bunuh diri berdua karena tidak sanggup menanggung beban penyakit berat dan ekonomi.

Seperti yang saya sudah singgung di atas, lansia di negara maju biasanya hidup terpisah dengan anak dan cucu mereka. Setelah pensiun dari perusahaan, lansia masih harus lanjut bekerja sebagai tukang bersih-bersih, kasir di supermarket, atau satpam di kompleks apartemen, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Pasangan lansia yang bunuh diri berdua ditemukan oleh petugas Dinas Sosial yang khusus menangani mereka. Ini berbeda dengan kondisi di Indonesia dimana lingkaran keluarga, kekerabatan, dan bertetangga masih ramah terhadap lansia.

3. Prasangka dan keengganan mencampuri urusan orang lain

Suatu kali “Move to Heaven” dipanggil untuk membereskan apartemen yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP) dari sebuah kasus pembunuhan seorang wanita. Sejak mobil mereka menepi, Sang Gu dan Geu Ru sudah direcoki oleh para penghuni lain dari kompleks apartemen itu.

Wanita yang meninggal dianggap membawa kemalangan atas dirinya sendiri. Orang-orang berpikir mentalnya tidak stabil sampai bertengkar dengan pacarnya dan tidak sengaja tertusuk pisau. Tetangga-tetangganya juga khawatir nama dan citra apartemen mereka jadi tercoreng.

Padahal wanita tersebut mengalami dating abuse. Teman wanita itu menyadari ada sesuatu yang salah, tapi enggan ikut campur karena sedang berfokus pada kehamilannya. Polisi juga tidak menanggapi laporan si wanita dan menganggap dia hanya bertengkar biasa dengan pacarnya.

Sengaja mengabaikan padahal ada hal yang salah di depan mata mengakibatkan wanita itu kehilangan nyawa. Pacarnya memang menusuk dengan sengaja, bukan karena pembelaan diri. Semuanya itu ditemukan oleh Geu Ru yang bersikeras ada kamera tersembunyi di apartemen si wanita.

Kritik Sosial

Drama Korea ini juga menyiratkan kritik sosial seperti drama Lee Je Hoon lainnya yang mengangkat tema hukum dan keadilan “Taxi Driver” (2021). Yang paling berbekas di benak saya ada dua:

1. No country for old Koreans

Tingkat kemiskinan senior citizen, atau lansia di Korea Selatan mencapai angka yang mengkhawatirkan pada masa pemerintahan Presiden Moon Jae In. Kemiskinan dan ketiadaan dukungan psikologis pun mengakibatkan tingkat bunuh diri yang cukup tinggi pada umur lansia, seperti ditunjukkan oleh bagan di bawah ini.

Sumber data: berita di https://asia.nikkei.com/ pada tanggal 29 Januari 2019

Pada tahun 2019 Presiden Moon Jae In meningkatkan uang pensiun bagi mereka yang berusia di atas 65 tahun menjadi 300.000 Won/bulan dari sebelumnya 250.000 Won/bulan. Ketika populasi dengan usia produktif membludak, banyak pegawai senior yang diminta untuk pensiun dini pada umur 50-an, meskipun usia pensiun menurut aturan adalah 60 tahun. Akibatnya mereka harus bekerja 10-15 tahun lagi sampai dinyatakan eligible untuk menerima uang pensiun dari pemerintah, padahal lapangan pekerjaan sangat terbatas.

Melihat data dan fakta tersebut saya jadi mahfum dengan keputusan bunuh diri pasangan lansia dalam drama ini. Sang suami dipecat dari pekerjaannya sebagai satpam. Istrinya sakit berat dan tinggal di nursing home. Tanpa pemasukan bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Sangat bisa dimaklumi jika kematian dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar.

2. Nasib orang Korea yang diadopsi

Drama Korea “Vincenzo” menghadirkan tokoh utama Vincenzo Cassano (Song Joong Ki) yang diadopsi oleh pasangan dari Italia ketika dia berusia 5 tahun. Nama aslinya adalah Park Joo Hyung, tapi dia tidak memakai identitas dan bahasanya sebagai orang Korea sampai ia kembali ke Seoul pada usia 30-an.

Salah satu kasus yang tim “Move to Heaven” tangani adalah kematian seorang Korea yang diadopsi oleh pasangan dari Amerika Serikat. Dia ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar motel setelah tinggal selama 3 tahun di Seoul untuk mencari ibu kandungnya.

Menonton hal yang menimpa Matthew Green (atau Kang Seong Min), mau tak mau membuat hati ini trenyuh. Bayangkan, diadopsi dan dibawa ke negara asing. Akar dan asal-usulnya dari Korea dicabut begitu saja. Setelah sampai di Amerika Serikat, orangtua Matthew berpisah dan menelantarkannya.

Matthew Green tiba-tiba menjadi orang tanpa kewarganegaraan. Bukan lagi warga negara Korea Selatan, tapi belum tinggal cukup lama dan tanpa sponsor untuk menjadi warga negara Amerika Serikat. Dia tidak memiliki pendidikan dan kepastian hukum.

Terbayang tidak betapa membingungkannya hidup tanpa identitas yang jelas?

Kasus ini diceritakan secara kilas balik, mulai dari penemuan jasad Matthew dan mundur ke pembuatan video tentang cerita hidupnya. Geu Ru dan Sang Gu pun bertindak supaya barang pribadi Matthew bisa sampai ke tangan seorang news anchor, orang yang disangka Matthew sebagai ibu kandungnya.

Kasus seperti Matthew Green ini pasti ada, makanya sampai diangkat ke dalam drama. Saya sendiri pernah bertemu dengan seorang Korea yang diangkat anak oleh pasangan dari Swedia. Dia adalah adik dari teman seasrama saya sewaktu di Tokyo yang bernama Ylva.

Mi Seon diadopsi ketika orangtua Ylva ditugaskan di Seoul pada tahun 90-an. Dia mengikuti mereka berpindah-pindah dari kota, negara, dan benua karena pekerjaan ayah dari Ylva, sampai pada akhirnya menetap di Swedia pada usia belasan.

Beberapa waktu kemudian, orangtua Ylva bercerai dan status Mi Seon sempat terkatung-katung karena kedua orangtua angkatnya tidak ingin membawanya. Hak asuh atas keempat anaknya, syukurlah termasuk Mi Seon, akhirnya jatuh ke tangan ibu dari Ylva.

Waktu menceritakan hal ini karena dia melihat saya kaget bertemu dengan seorang berwajah Asia yang mengaku adik dari seorang bule berambut pirang dan bermata biru, Ylva berkata pada saya: “She’s the only sister I know. I thought I was gonna lose her.”

Untunglah Ylva tidak jadi kehilangan adiknya dan Mi Seon tidak jadi kehilangan identitasnya.

Yang Membekas di Hati

Kesadaran bahwa Geu ru dan Sang Gu bisa menjadi keluarga.

Tentu tidak mudah bagi keduanya, ya. Geu Ru adalah anak yang diadopsi. Sebenarnya dia tidak memiliki ikatan darah dengan Sang Gu dan Sang Gu tidak wajib menjadi walinya. Sang Gu juga punya kepahitan tersendiri pada ayah dari Geu Ru yang dia sangka menelantarkannya ketika kecil.

Melihat mereka saling memperhatikan, membutuhkan, dan bisa bekerja berdampingan adalah ending yang teramat indah dari drama ini. Geu Ru khawatir ketika pamannya tersangkut dengan rencana jahat Madam Jung. Sang Gu juga khawatir ketika Geu Ru tiba-tiba hilang dan menarik diri karena merindukan ayahnya.

Episode akhir juga menunjukkan Geu Ru yang sudah mampu membereskan kamar ayahnya. Sebagai trauma cleaner, dia memberikan closure yang mendiang ayahnya butuhkan. Sebagai anak, dia mendapatkan closure bahwa dia bisa melanjutkan hidup dengan pamannya sebagai anggota keluarganya yang baru.

Pengacara dari ayah Geu Ru sebenarnya tidak akan merekomendasikan Sang Gu untuk seterusnya menjadi wali dari Geu Ru. Akan tetapi, Geu Ru menerima pamannya itu dengan tangan terbuka. Ia bahkan sudah memperbolehkan Sang Gu duduk di kursi yang biasa diduduki oleh ayahnya semasa hidup dan membuatkan sarapan untuk Sang Gu.

Satu hal lagi yang berkesan dari drama ini adalah cast yang mengisi peran pendukung dan kemampuan akting mereka yang tidak kaleng-kaleng. Ji Jin Hee, Soo Young SNSD, dan Lee Jae Wook mampu menghadirkan karakter yang jauh dari kata glamor, tetapi sangat membumi dan rendah hati dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kudos untuk ketiga aktor ini.

Ji Jin Hee, Soo Young SNSD, dan Lee Jae Wook

Pujian tertinggi tetap hanyalah untuk akting dari Lee Je Hoon dan Tang Joon Sang.

Kemampuan akting Lee Je Hoon tidak usah dipertanyakan lagi. Dia selalu bisa menaklukkan peran apa pun yang dia terima. Saya tidak pernah menyesal mengikuti perjalanan proyek-proyeknya sejak ia membintangi drama Korea “Signal” (2016) yang semoga ada season duanya segera.

Sedangkan Tang Joon Sang … alamak, Tang Joon Sang. Jika kamu mengikuti perannya dari tentara culun Geum Eun Dong di “Crash Landing on You” (2019-2020) dan sekarang sedang menonton aktingnya sebagai atlet muda bulutangkis Yoon Hae Kang yang songong di dalam drama “Racket Boys” (2021), maka kamu akan takjub dengan aktingnya sebagai Han Geu Ru yang memiliki keterbatasan sosial.

Beda banget, man. Hebat banget. Tang Joon Sang benar-benar seorang maknae yang berpotensi besar. Saya sungguh tidak sabar melihat drama atau film yang dia akan garap selanjutnya.

Drama “Move to Heaven” adalah satu lagi drama bagus bergenre slice-of-life produksi Netflix yang membuat hati hangat. Sebenarnya saya ingin memberikan skor 10 dari 10 kalau saja Netflix tidak menyisipkan nilai-nilai dari Hollywood secara subtil ke dalam drama ini.

If you know what I mean.

8 thoughts on “Review Drama Korea: Move to Heaven

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s