Mimpi Divaksin

Enggak, ding, saya ga cuma mimpi. Saya beneran divaksin tadi pagi menjelang siang.

Sebenarnya ini berita bagus karena saya sudah mencari-cari berbagai kesempatan untuk divaksin sejak beberapa minggu lalu.

Suami sudah menjalani dua kali vaksinasi yang diorganisir oleh kantornya dan saya belum. Vaksinasi memang memberikan tambahan rasa aman bagi mereka yang masih bekerja di luar rumah.

Saya sendiri hanya keluar rumah dua kali seminggu untuk mengantar anak-anak ke akademi taekwondo. Probabilitas terpapar sangat kecil karena saya tidak bertemu siapa pun (sungguh, saya kangen kehadiran orang selain keluarga sendiri, tukang galon, tukang sayur, tukang sampah, dan satpam). Akan tetapi, lebih cepat divaksin lebih baik.

Dua minggu lalu, kalau tidak salah, saya kehilangan kesempatan mengikuti vaksinasi di Gedung Olah Raga di Kabupaten Bekasi. Setelah itu ketinggalan vaksinasi yang diadakan oleh developer perumahan kami.

Seminggu lalu saya bertanya ke staf di akademi taekwondo anak-anak, apa saya bisa juga mengambil vaksinasi mandiri di klinik di Jakarta yang mereka datangi.

Namun, pergi ke Jakarta di tengah pandemi yang sedang menggila kok seperti menantang bahaya.

Dengan berat hati saya membatalkan rencana itu. Vaksin yang diberikan di sana yang bermerk AZ. Saya tidak bisa membayangkan kalau ada efek samping yang timbul ketika saya menyetir pulang.

Beberapa hari lalu ada kenalan yang menawarkan slot untuk vaksinasi di Jakarta juga, tepatnya di daerah Kampung Melayu. Saya pun mendaftar, tapi dalam hati ragu apakah akan dapat atau tidak.

Soalnya, saya tidak akrab dengan orang yang menawarkan slot kosong itu. Pokoknya frekuensi kami sangat jauh berbeda dan kami saling tidak menyukai kepribadian masing-masing.

Meskipun suami saya sepertinya netral saja dengan orang itu, dan dia yang memintakan slot vaksinasi untuk saya, tapi saya tidak berharap banyak. Ditambah saya tidak bisa membayangkan jika efek samping timbul ketika saya menyetir pulang dari Kampung Melayu.

Benar saja, sampai kemarin cuma ada info: belum bisa dipastikan. Ah, drop saja, deh.

Di saat itu juga ada info vaksinasi massal yang diadakan di cluster saya bekerja sama dengan Polres Kabupaten Bekasi.

Lagi-lagi saya tidak berharap banyak, tapi suami saya optimis saya akan mendapat jatah vaksin walaupun awalnya saya masuk di daftar cadangan.

Sampai tadi malam tidak ada kabar nama saya masuk. Suami tidak berhenti berharap dan harapannya itu masuk ke dalam mimpi saya.

Jadi, kemarin malam saya tidur cepat karena cemas. Saya cemas memikirkan bagaimana kalau ternyata akan divaksin. Badan sedang tidak segar-segar amat. Sudah lama saya tidak berolahraga dan susu bermerk Bear Brand habis di mana-mana.

Duh, orang Indonesia dengan segala animo konsumsi yang didorong oleh berita dan rumor.

Di dalam mimpi saya bertemu dengan orang yang saya tidak sukai itu dan dia menyuruh-nyuruh saya dengan nada suara tidak enak “Ayo vaksin, ayo vaksin”.

Kalau ada satu hal yang saya bisa syukuri dari pandemi adalah kesempatan untuk menghindari orang-orang yang toxic.

Semasa pandemi dan segalanya serba daring, saya berkesempatan lebih besar untuk memilih lingkungan tempat saya bergaul dan orang-orang dengan siapa saya berinteraksi.

Semuanya hanya sejangkauan handphone dan media sosial, bukan? Mulai dari WA, FB, IG, dan Twitter. Kalau masih bisa ditoleransi, ya tetap mengobrol. Kalau tidak bisa lagi, tutup aplikasinya supaya tidak usah berelasi.

Saya tidak menyukai orang yang saya sebut itu karena dia sangat mudah termakan rumor dan menyebarkan rumor.

Waktu awal pandemi tahun lalu, Maret 2020, dia dengan lantang menyebarkan bahwa orang Indonesia tidak akan kena Covid-19 karena iklim di sini panas.

Dia juga menyuruh semua orang yang dia temui untuk rajin minum hangat. Virus akan mati di kerongkongan, katanya.

Dari mana dia mendapat semua informasi itu? Dari WA groups di mana dia tergabung.

Hal pertama yang saya sangat tidak sukai adalah: keengganan orang untuk berpikir.

Virus bukanlah bakteri yang mati karena temperatur. Virus akan selalu ada dan dia dormant. Virus akan hidup lagi ketika menemukan inang yang baru.

Apa hubungannya iklim panas dan air hangat dengan kekebalan akan Covid-19? Dulu dengerin ga waktu belajar Biologi di SMP dan SMA? Aya-aya wae.

Hal kedua yang saya tidak bisa terima adalah: penyalahgunaan kedudukan seseorang.

Posisi sebagai pemuka agama, pemuka masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya adalah posisi-posisi yang didengar orang lain semasa pandemi ini.

Pernyataan, pertanyaan, komentar dari pemegang posisi-posisi itu akan menimbulkan reaksi dari orang banyak, yang lebih sering berupa pemakluman dan persetujuan (tanpa meminta alasan), dibandingkan pertentangan.

Jadi bayangkan jika seorang dokter menyebar hoaks di WAG tentang para karyawan sebuah toko sayur yang katanya positif Covid-19.

Tak lama berselang tetangga dari si pemilik toko meng-counter dengan video yang dibuat oleh si pemilik toko, dengan keterangan bahwa hasil PCR para karyawan negatif semua.

Si pemilik toko juga meminta dengan sangat supaya orang-orang tidak cepat menyebarkan hoaks yang bisa merugikan reputasi toko dan kelangsungan penghidupannya dan karyawan-karyawannya.

Bayangkan, berapa banyak kecurigaan, keraguan, dan damage yang terjadi hanya gara-gara hoaks. Si dokter kemudian berkilah bahwa dia mendapat informasi itu dari RT setempat.

Kita dan Mark Zuckerberg tidak bodoh. Di WA ada fitur yang menunjukkan suatu pesan sudah forwarded many times yang membuat kita meragukan kebenaran isi pesannya.

Say geram lho sama si dokter ini. Profesinya sebagai dokter membuat orang-orang mudah memercayainya, dan dia menyalahgunakan kepercayaan itu dengan bertindak sembrono yang berpotensi merugikan orang lain. Dan itu bukan kejadian pertama kali.

Waktu saya tegur dengan kalimat “Tolong konfirmasi dulu kebenaran berita sebelum menyebarkannya”, dia cuma menjawab: “Ok, Rijo, thank you.”

WTH. Untung sebentar lagi saya hengkang dari grup itu.

Kembali ke mimpi.

Gara-gara memimpikan si orang yang saya tidak sukai itu, saya terbangun dengan suara yang sama terngiang-ngiang di telinga saya.

“Ayo vaksin, ayo vaksin.” (Sudah kayak kampanye dari pemerintah saja.)

Ternyata itu suara suami membangunkan saya untuk pergi vaksin. Nama saya masuk ke daftar penerima vaksin dan vaksinasi akan dimulai pukul 8 pagi.

Saya pun bergegas menyiapkan diri: semua dokumen, sarapan, minum susu (yang akhirnya diganti kopi karena saya kurang tidur gara-gara mimpi tidak enak).

Tempat vaksinasi adalah sekolah anak saya yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Untung saja, kalau tidak saya akan terjebak kemacetan dan ketiadaan tempat parkir.

Vaksinasinya dilangsungkan di lapangan basket sekolah yang sangat luas. Ada jarak yang sangat aman antara 1) gerbang masuk, 2) tempat pendaftaran, 3) tempat menunggu giliran, 4) tempat screening kesehatan, 5) tempat berkonsultasi dengan dokter, 6) tempat divaksinasi, 7) tempat menyerahkan dokumen untuk sertifikat, dan terakhir 8) tempat untuk observasi reaksi tubuh terhadap vaksin selama sekitar 30 menit.

Saya tiba pukul 8.30 dan mendapat nomor urut 60. Saya meninggalkan sekolah itu pada pukul 10.30.

Kesannya adalah … saya tegang sekali dan itu berpengaruh pada tekanan darah dan raut wajah saya.

Tensi saya seumur hidup biasanya 90/70, tapi tadi 119/91. Saya tadi berpikir apa ini mengkhawatirkan ya, meskipun dokter yang memeriksa bilang bahwa tensi saya bagus dan normal.

Lalu … saya takut darah dan jarum suntik. Jadi wajah saya pucat sepanjang mengikuti prosedur tadi. Dokter dan perawat yang menyuntik berkali-kali bilang: “Ga apa-apa, Bu, tenang aja. Kayak digigit semut, kok.”

Baeklah. Dan saya pun memberikan lengan kanan saya untuk ditusuk.

Sampai di rumah ada setumpuk chores yang menanti karena suami masih bekerja sampai pukul 4 sore. Saya membersihkan rumah, memasak, dan mencuci sampai badan pegal-pegal sekali, terutama bagian betis dan telapak kaki. Saya baru bisa berbaring pada pukul 5 sore dan tidur lelap sampai pukul 9 malam.

Malam ini saya minum parasetamol karena badan rasanya sumeng. Semoga nanti saya bisa tidur cepat dan nyenyak.

Ternyata saya tidak mimpi divaksin. Saya beneran sudah divaksin yang pertama kali dan sertifikatnya pun sudah saya unduh.

Sewaktu membaca sertifikatnya saya sempat berpikir: pemerintah pintar ya membuat sertifikat dengan basis data kependudukan dan embel-embel “in accordance with the health regulation of the Republic of Indonesia“.

Ke depannya sertifikat vaksinasi akan menjadi dokumen yang sama kuatnya dengan passport. Kamu boleh traveling kalau kamu bisa membuktikan kamu tidak beresiko pada orang-orang di tempat yang kamu tuju.

Seorang teman saya di Amerika Serikat dua minggu lalu melancong ke beberapa kota di Spanyol bersama orangtuanya yang sudah sepuh.

Saya tanya, “No travel restriction?”

Katanya, tidak, kami hanya perlu menunjukkan bukti vaksinasi ketika di imigrasi bandara.

Wow, sebuah vaksinasi yang dibuktikan dengan sertifikat adalah persiapan yang matang untuk menghadapi dunia yang masih rentan dengan Covid-19, tapi sudah perlu bergerak lagi.

Sebab apatah kita manusia kalau kita tidak melakukan mobilisasi?

Semoga semua orang dari segala usia dan latar belakang bisa segera menerima vaksin. Namun, ini jangan membuat kita jumawa. Vaksinasi tidak membuat kita kebal akan virusnya. Dia membuat kita tidak mengalami gejala berat jika kita (amit-amit) terinfeksi.

Jadi, tahan dulu dorongan untuk arisan dan kumpul-kumpul, ya! Demi kebaikan orang banyak.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s