Di Sini Lockdown, Di Sana Lockdown

Waktu itu situasinya sempat membaik, tapi Covid-19 lagi-lagi membuktikan bahwa pandemi belum berakhir.

Sebentar lagi PPKM Darurat akan diberlakukan dan semua orang yang saya tahu mulai bersiap-siap.

Beli sekarang semua yang perlu dibeli nanti-nanti. Sayuran, daging, buah, segala macam sabun, pokoknya semua yang diperlukan sampai PPKM Darurat selesai tanggal 20 Juli mendatang.

Tadi pagi saya ke sekolah anak-anak untuk mengambil beberapa dokumen. Setelah itu saya langsung melipir ke toko daging, ke ATM, dan terakhir ke rumah Kim ahjumma penjual kimchi paling top se-Lippo karena si Kakak pengen dimasakkan kimchi jjigae.

Pokoknya saya mempersiapkan semuanya supaya tidak usah keluar rumah selama tiga minggu ke depan.

Hati ini mau tak mau nelangsa. Sampai kapan pandemi? Sampai kapan kita harus hidup begitu terpisah dari orang lain?

Sambil menyapu dedaunan kering di teras rumah tadi pagi saya memikirkan hal itu.

Perasaan sudah cukup tertekan waktu menyaksikan upacara kelulusan anak kami yang sulung hampir sebulan lalu.

Untunglah sudah hampir lima tahun dijalani si Kakak bersekolah dengan cara luring. Ada ekskursi, karya wisata, bermain, pentas seni, dan berbagai kegiatan normal lain yang dilakukan oleh anak-anak kecil, dan itu dibuktikan oleh foto-foto yang ditayangkan sewaktu upacara kelulusan.

Setahun terakhir lebih sedikit hanya ada kumpulan tangkapan layar dari sesi ke sesi conference untuk membuktikan kebersamaan dari sekumpulan anak yang tergabung dalam satu kelas secara virtual.

Bagaimanakah masa depan yang akan anak-anak ini hadapi? Masa depan tanpa kontak fisik, tanpa kegiatan bersama-sama, tanpa bertemu teman sebaya?

Anak kami yang sulung lebih beruntung dari adiknya.

Adiknya sejak kelas akhir satu SD hanya tahu temannya dari layar. Sepanjang kelas dua SD dia tidak bisa membayangkan bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang muncul di komputernya empat jam sehari. Dan kondisi yang sama akan berlanjut ke kelas tiga SD.

Masih untung saya punya tiga anak yang bisa bermain bersama walaupun jarak usia di antara mereka cukup jauh. Bagaimana ya dengan anak-anak yang tidak punya saudara kandung atau tetangga atau teman main sebaya?

Saya membayangkan teman-teman anak-anak ini adalah avatar yang dekat di mata, tapi jauh di hati.

Di sisi lain, pandemi juga membuka kesempatan baru bagi saya.

Pandemi membuat kelas-kelas kursus berlangsung secara daring. Akhirnya saya berkesempatan belajar bahasa Korea di King Sejong Institute, Jakarta.

Kalau tidak ada pandemi, maka tidak akan ada kelas online. Saya pasti tidak bisa bergabung dengan KSI jika harus menghadiri kelasnya setiap Sabtu di Jakarta dengan membawa tiga orang anak.

Hari ini saya menerima berita bagus. Saya dan 10 orang teman sekelas dinyatakan lulus. Sayangnya ada 7 orang dari kami yang tidak lulus, entah karena kehadirannya kurang atau tidak mengikuti salah satu dari empat ujian akhir.

Rasanya lega sekali karena perjuangan belajar selama empat bulan dengan kondisi yang tidak ideal (di rumah, sambil mengurus anak-anak dan rumah) tetap membuahkan hasil.

Saya belum tahu nilai saya, tapi yang saya tahu kriteria kelulusan adalah nilai ujian akhir minimum 70. Sepertinya sih sudah tercapai, meskipun saya meragukan nilai ujian berbicara karena waktu itu saya gugup sekali.

Pendaftaran untuk semester kedua tahun ini pun sudah dibuka. Saya bertekad untuk bergabung lagi dengan KSI meskipun jadwal baru tidak begitu bagus.

Pilihannya hanya Selasa dan Kamis pukul 10.00 – 12.00 atau pukul 18.30 – 20.30. Saya tadi tanya suami, lebih baik pilih yang mana. Kata suami, jangan kelas malam, pasti tidak fokus karena sudah lelah seharian.

Akhirnya saya memutuskan ambil kelas pagi saja dengan pertimbangan itu jam dua anak saya yang paling besar bersekolah online.

Masih bisalah belajar sambil ditemanin si Bungsu yang aktif sekali. Paling sambil Zoom sambil saya dipanjati atau dimintai tolong mengupas apel, hehehe.

Selain itu saya bertemu orang-orang hebat dan bersama mereka mendirikan Drakor Class. Drakor Class akan berusia sembilan bulan. Bulan Oktober nanti akan berusia satu tahun.

Perjalanan di depan masih sangat panjang.

Kemarin saya mendapat amanah menjadi ketua komunitas Drakor Class untuk satu tahun ke depan. Dengan sembilan divisi dan dua fungsi khusus (desainer dan bendahara) dan jumlah kami yang sedikit, pasti sangatlah menantang untuk mengerjakan berbagai hal.

Keinginannya banyak, tapi sumber daya sedikit dan ada prioritas dalam hidup. Ya, tidak apa-apa berjalan pelan asalkan tetap berjalan bersama-sama. Tujuan akhirnya kan berjalan jauh, bukan berjalan cepat.

Dalam semua organisasi yang saya sudah ikuti sejak SMP (sudah sekitar 27 tahun berlalu), ada satu hal penting yang saya pelajari.

Get the job done,

tapi …

people over things.

Orang lebih penting. Relasi itu utama. Jadi, pastikan itu dulu terpenuhi sebelum terbeban dengan setumpuk tugas.

Mentoring juga penting. Protege, apalagi. Organisasi harus tumbuh, berkembang, dan tidak bergantung pada orang-orang tertentu. Harus ada sistem dan aturan yang membuat organisasi tetap berjalan ketika orang-orang datang, pergi, dan tidak ada lagi.

Sekian perenungan pada malam hari ini. Perenungan yang dilakukan dalam kondisi menjelang PPKM Darurat yang membuat mood down.

Lockdown begini bikin tambah kangen orangtua. Untung ada bekal ikan mas arsik dari Mama dari kunjungan kami yang terakhir ke rumah mereka. Entah kapan lagi kami bisa bertemu muka dengan Bapak dan Mama.

Ich vermisse sie.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s