Belajar Menggambar Lewat Film “Pacific Rim” (2013)

Halooo …. Kembali lagi dengan tantangan blogging bulan Juni Mamah Gajah Ngeblog yaitu “Film Keluarga”, boleh film bergenre keluarga atau bercerita tentang keluarga dengan genre bebas.

Meskipun saya seorang ibu, saya menganggap topik ini sulit. Penyebabnya hanya satu: kegiatan menonton saya dan suami sebagai orang tua terpisah dari kegiatan menonton anak-anak. Kami sekeluarga menonton film dengan rating “Segala Umur” (SU), tapi tak satu pun film itu yang saya bisa ingat waktu harus menulis tantangan blogging dari Mamah Gajah Ngeblog.

Beginilah kalau menjelang deadline. Yang perlu lupa ditulis, yang tidak terpikirkan sebelumnya malah dituangkan dengan lancar, hehe.

Oleh karena itu, saya ingin memaknai tema “Film Keluarga” ini dengan cara lain yaitu film yang bisa dinikmati oleh dan malah memantik kreativitas dari anggota keluarga. Film itu berjudul “Pacific Rim” bagian pertama yang dirilis pada tahun 2013.

Kami pertama kali menontonnya di pesawat dalam perjalanan dari Singapura ke Taipei pada penghujung tahun 2017. Sejak saat itu kami sudah menonton ulang film ini sebanyak 13 sampai 15 kali, sudah khatam dengan jalan cerita dan dialognya, tapi masih menganggapnya sebagai film keren favorit sekeluarga.

DATA FILM “PACIFIC RIM” (2013)

Judul Film: Pacific Rim

Tahun Rilis: 2013

Sutradara: Guillermo del Toro

Penggagas Cerita: Travis Beacham

Pemeran Utama: Charlie Hunnam (Raleigh Becket), Idris Elba (Marshal Stacker Pentecost), Rinko Kikuchi (Mako Mori)

Pemeran Pendukung: Charlie Day, Robert Kazinsky, Max Martini, Ron Perlman, dan Mana Ashida

Total Pendapatan: 411 juta US Dollar

Daftar Penghargaan:

  1. Menang di Annie Award untuk kategori “Outstanding Achievement, Animated Effects in a Live Action Production” dan “Outstanding Achievement, Character Animation in a Live Action Production”.
  2. Menang di Hollywood Film Awards untuk kategori “Best Visual Effects”.
  3. Menang di Las Vegas Film Critics Society untuk kategori “Best Horror/Sci-Fi Film”.

PREMIS FILM

Film ini mengambil setting di masa depan ketika umat manusia bersatu melawan monster laut yang muncul dari portal antardimensi yang terletak di dasar Samudra Pasifik. Monster tersebut dinamai Kaiju. Untuk melawan Kaiju, manusia menciptakan robot besar yang dikendalikan oleh dua orang pilot yang tersambung oleh mental link. Robot itu disebut Jaeger, bahasa Jerman untuk pemburu.

Pada tahun 2020 Raleigh Becket dan saudaranya, Yancy Becket, menjadi pilot untuk Jaeger Gipsy Danger saat mempertahankan “Anchorage” dari serangan Kaiju kategori 3 yang disebut Knifehead.

Becket bersaudara dapat menyelamatkan kapal laut yang menjadi target operasi mereka. Merasa berada di atas angin, mereka mengabaikan instruksi dari Marshal Pentecost untuk kembali ke markas.

Mereka menjadi lengah dan tidak menyangka Knifehead akan menyerang balik, mencabik-cabik conn pod, pusat kendali untuk para pilot mengoperasikan Jaeger. Yancy tewas dan Raleigh yang berduka akibat kematian saudaranya meninggalkan program Jaeger.

Lima tahun kemudian Marshal Pentecost meminta Raleigh Becket bergabung kembali dengan program Jaeger yang hendak dihentikan oleh para pemimpin dunia. Hanya tersisa empat Jaeger untuk menumpas Kaiju, yaitu Gipsy Danger yang sudah diperbaiki, Russian Cherno Alpha, Chinese Crimson Typhoon, dan Australian Striker Eureka.

Dalam misi menumpas Kaiju sampai ke portal di dasar samudera, Raleigh Becket memilih berpasangan dengan Mako Mori, anak angkat dari Marshal Pentecost. Dengan bantuan dua orang ilmuwan, Newton Geiszler and Hermann Gottlieb, mampukah mereka menuntaskan misi tersebut?

YANG KEREN DARI FILM INI

Semuanya? Hahaha.

Begini, yang tersirat di benak saya jika berbicara tentang film yang menampilkan mecha, manned robot, atau robot yang dikendalikan dari dalam oleh pilot manusia hanyalah:

  1. Robot Goggle V dari tahun 90-an.
  2. Gundam yang berupa animasi.

Meskipun kelihatan sangat keren pada jamannya, anak-anak tahun 90-an sudah bisa menduga bahwa robot besar hasil perpaduan kelima armada anggota Goggle V yang dengan gagah berani melawan monster-monster sebenarnya adalah … manusia.

Iya, ada aktor manusia yang kegerahan memakai kostum robot Google V dan kostum monster. But again, mereka keren pada jamannya.

Begitu menonton “Pacific Rim” yang menampilkan Jaeger demi Jaeger yang dibuat begitu halus dengan CGI, begitu nyata, sangat jauh dari teknologi 20 tahun silam, mau tak mau saya sebagai generasi old ikut terkagum-kagum bersama anak-anak saya yang generasi new.

Penggagas cerita dalam film ini, Travis Beacham, mengaku bahwa dia sedang berjalan-jalan di pantai di dekat Santa Monica Pier, Amerika Serikat, ketika tiba-tiba dia membayangkan robot raksasa sedang berkelahi dengan monster raksasa.

Pada ide itu dia menambahkan ide lain, bagaimana jika robotnya harus dikendalikan oleh dua orang pilot sebagai simbol otak manusia yang terpisah menjadi bagian kiri dan kanan? Bagaimana pula jika salah seorang dari pilot itu meninggal? Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Sutradara film ini, Guillermo del Toro, kemudian menggarap skenarionya dengan Beacham, membuatnya menjadi film yang sangat komprehensif dalam menangkap signifikansi dan magnifikansi dari program Jaeger untuk melawan monster Kaiju.

Semua Jaeger dan Kaiju memang dibuat dengan CGI, dengan komputer, tetapi del Toro membangun sendiri semua setting yang penting untuk membuat ceritanya lebih believable, seperti misalnya conn pod, atau ruang kendali untuk pilot Jaeger.

Untuk scene pertarungan Jaeger melawan Kaiju di samudra, del Toro mengambil inspirasi dari kedua hal ini:

Del Toro juga tidak terburu-buru membuat film yang tipikal orang baik lawan orang jahat, ksatria lawan monster, makhluk asing yang menghancurkan kota-kota di dunia. Dia dengan santai menguraikan pergulatan batin setiap karakter di dalam film berdurasi 132 menit tersebut.

Raleigh yang teringat kakaknya yang sudah meninggal setiap kali menjadi pilot Gipsy Danger.

Mako yang ingin menjadi pilot untuk membalas dendam pada Kaiju yang membunuh orangtuanya.

Marshal Pentecost yang sekarat dan akan melakukan apa pun, termasuk memanipulasi orang lain, untuk menyelamatkan dan menjamin kelangsungan program Jaeger.

Pasangan ayah-anak pilot Australian Striker Eureka dimana sang ayah berkepala dingin dan banyak pertimbangan, sedangkan anaknya selalu meledak-ledak dan ingin unjuk gigi.

Semuanya itu diceritakan dengan sangat baik oleh duet penulis skenario Beacham dan del Toro. Ide awal Beacham yang unik dan tidak biasa dimatangkan oleh kepiawaian del Toro menggarap film bergenre fantasi sejenis seperti “Hellboy”.

Duet sutradara dan penulis skenario ini menghasilkan film yang menjadi cult dan tetap digemari bahkan setelah hampir satu dekade. Merchandise berupa action figure Jaeger dan Kaiju masih dapat ditemui dengan mudah sampai saat ini.

Sayangnya, seri kedua dari franchise “Pacific Rim” yaitu “Pacific Rim: Uprising” (2018) tidak mendulang kesuksesan yang sama. Saya menduga ini karena seri kedua sama sekali tidak melibatkan Beacham sebagai penulis skrip dan del Toro hanya berperan sebagai produser.

EFEK FILM INI PADA KELUARGA KAMI

Keluarga kami sangat suka menggambar. Semua anggota keluarga tidak terkecuali, saya, suami, dan ketiga anak ini.

Saya biasa menggambar karena memang menggunakan keahlian ini dalam pekerjaan sehari-hari di bengkel furnitur. Suami kadang-kadang menggambar jika diminta oleh anak-anak. Kedua anak saya yang paling besar suka menggambar sejak berusia dua tahun. Si bungsu juga paling hobi mencoret-coret kertas dengan pensil warna atau krayon.

Gara-gara “Pacific Rim” saya “dipaksa” untuk menggambar sesuatu yang di luar comfort zone saya. Saya suka dan bisa menggambar garis-garis kaku, tapi saya mati kutu kalau harus menggambar manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sejak tahun 2018 si Abang, anak kami yang tengah yang sangat menggemari Becket and the gang, sering meminta saya untuk menggambar berbagai macam Jaeger. Tidak hanya Gipsy Danger, Jaeger kesayangannya yang menjadi hadiah ulang tahunnya ke-5, tapi juga semua Jaeger yang muncul di film “Pacific Rim” pertama ini dan Jaeger lain yang muncul di fandom sebagai karya seni dari para penggemar universe “Pacific Rim”.

Berikut ini adalah beberapa Jaeger yang saya gambar untuk si Abang dan yang dia segerai warnai. Menggambar dan mewarnai Jaeger justru menjadi kegiatan yang menyatukan kami berdua, mother-and-son playtime. Sementara itu kakaknya bertugas mengumpulkan dengan rapi semua gambar yang saya dan si Abang buat.

Film “Pacific Rim” sangat berkesan bagi keluarga kami karena ia memunculkan sebuah aktivitas yang kami nikmati bersama. Mencoba meniru gambar dari internet, mewarnainya bersama, memikirkan skenario perkelahian antara Jaeger dan Kaiju, dan seterusnya.

Satu kali saat kelelahan menggambar banyak Jaeger dan Kaiju, saya bertanya pada si Abang:

“Bang, kenapa kita ga print aja dari internet dan kamu warnai?”

Dia menjawab begini, “Enggak ah, aku mau simpan semua gambar Mama.”

Duh, so sweet banget si Abang. Terima kasih ya, Becham, del Toro, dan semua cast “Pacific Rim” pertama. Kalian semua mendapat tempat istimewa di hati keluarga kami.

2 thoughts on “Belajar Menggambar Lewat Film “Pacific Rim” (2013)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s