Es Krim

“Kau bisa mengajakku ke tempat yang lebih mewah dari ini.”

“Benar, tapi kau lebih suka begini, makan es krim di rooftop, waktu jam kerja.”

“Ha! Cuma karena kau yang mengajak, tahu. Etos kerjaku bagus, aku hampir tidak pernah membolos.”

“Ya, ya, aku percaya. Bagaimana mungkin pemilik dan pemimpin perusahaan membolos? Apa kata pegawaimu nanti?”

“Tepat sekali. Jadi jangan buang waktuku dan katakan apa maksudmu datang tiba-tiba membawa es krim.” Matanya menyipit ke arahku sambil mengulum sendok. “By the way, bagaimana kau masih ingat apa rasa kesukaanku?”

Aku tergelak. “Tiga summer, Lira. Tiga musim panas aku menjadi errand boy kamu, membeli yang dingin-dingin, yang sejuk-sejuk yang bisa membuatmu cool off. Tentu saja aku masih ingat apa yang kau suka dan tidak suka.”

“Masa-masa itu ….” Pandangannya menerawang jauh menembus barisan gedung pencakar langit di hadapan kami. “Kadang-kadang aku merindukannya.”

“Aku tidak. Aku tidak suka Ardi, si sombong itu. Dan Silvia yang selalu haus kasih sayang pria. Kedua puluh jari tangan dan kakiku tak cukup untuk menghitung jumlah pacarnya selama kita tinggal satu rumah di Melbourne.” Aku tersenyum lebar padanya. “Cuma kau, cuma kau yang bisa kutolerir, kukira.”

“Dan cuma aku yang bisa mentolerirmu, pria aneh-pemikir-penyendiri-yang-lebih-baik-tinggal-di-Mars-saja. Ardi yang bilang begitu, lho, bukan aku.”

“Kau yang bilang pun tak apa-apa karena itu benar.”

Untuk sesaat kami sibuk dengan es krim kami. Aku membawakannya satu cup berisi seperempat liter es krim cokelat-vanila yang akan Lira habiskan dalam sekejap, sedangkan aku cukup puas dengan es krim stik rasa stroberi.

Lira sangat menyukai es krim. Dia suka makan yang dingin-dingin. Dia tidak suka kepanasan. Ah, sebenarnya dia hanya tidak suka kalau berkeringat.

The smell. The dampness. I hate it to my bone.

Dan dia tidak suka kelihatan berantakan, awut-awutan. Semuanya harus tertata bagi Lira, mulai dari rambutnya yang dipotong bob dengan warna kopi, bulu matanya yang lentik, matanya yang bercelak, dan bibirnya yang berwarna merah muda. Sampai ke setelan putih yang dia kenakan dengan scarf berwarna emas yang senada dengan warna sepatu dan tas tangannya.

Semua tentang Lira harus sempurna. Dia adalah definisi kesempurnaan dan tidak hanya soal penampakan luar.

“Kenapa mengamatiku seperti itu? Kau menyesali masa-masa kau tidak mengejarku padahal kau ingin?”

“Tidak, kau cantik, Lira, tapi kita paling pas berteman.”

Dia merenggut sedikit sebelum akhirnya manggut-manggut. “Kok rasanya seperti kau baru menolakku? Tapi kau benar, asmara mengacaukan semua. Persahabatan kita, keharmonisan di rumah yang kita tinggali. Seandainya waktu itu kita semua hanya berteman mungkin saat ini kita berempat bisa sesekali meet up tanpa beban rasa bersalah.”

Aku menepuk-nepuk pundaknya. “Maaf kalau semuanya tidak berjalan lancar dengan Ardi. Aku seharusnya memperingatkanmu.”

“Bukan salahmu. Mungkin sebenarnya aku menyadari dia main mata dengan Silvia, tetapi aku terlalu naif dan jatuh cinta untuk mengakuinya.”

“Kuharap dia tidak bahagia,” gumamku. “Aku selalu mendoakan ketidakbahagiaan bagi mereka yang menyakiti orang-orang yang kusayangi.”

“Haha, kau jahat sekali. Kau tahu tidak, Ardi baru menikah untuk ketiga kalinya. Aku bisa menyimpulkan bahwa soal asmara dia cukup berprestasi dan bahagia dibandingkan aku.”

Aku tidak menimpalinya, meskipun aku tahu betul status terbaru dari pernikahan Ardi, kesendirian Lira, dan kehamilan kedua Silvia. Entah bagaimana informasi selalu menghampiriku, walau aku setengah mati berusaha menghindarinya, berusaha melupakan mereka semua.

Pikiranku seketika melayang pada percakapanku dengan Tessa akhir pekan lalu. Stik es krim yang sudah habis kupuntir-puntir di tangan, berharap itu akan membantuku menemukan cara membuka percakapan dengan Lira.

Tentang Leon. Tentang Bren dan kejahatannya pada gadis yang berwarna Rani. Tentang apa yang Lira dan surat kabarnya bisa lakukan.

“Leon sudah datang padaku,” katanya tiba-tiba. “Dia sudah menjelaskan liputan eksklusif yang dia ingin kerjakan.”

“Bagaimana bisnis?”

Dia tersenyum tipis. “Jika kau bertanya apakah koran yang kudirikan akan bangkrut dalam waktu dekat, maka jawabanku adalah tidak. Jakarta Herald is not going anywhere, darling. Oplah koran cetak kami memang sedikit sekali, tapi jumlah subscriber e-newspaper kami terus meningkat.”

“Aku senang mendengarnya. Sungguh. Mendirikan perusahaan baru tidak mudah dan kau berhasil melakukannya dari nol. Aku sangat bangga padamu.”

“Dari dulu aku ingin membuat perubahan. Menjadi kritik yang membangun. Menggugah kesadaran.”

“Itu ‘kan yang sedang kau kerjakan?”

“Benarkah?” Lira menelengkan kepala dan memicingkan matanya saat memandangku. “Tak pernah terlintas di benakmu bahwa semuanya berjalan terlalu mudah untukku? Karena namaku, latar belakang keluargaku, koneksiku, pendidikanku?”

Aku menolak menjawab pertanyaan retorisnya. Aku mengerti betul makna pertanyaannya, kegelisahan yang mendasari pertanyaan itu, dan bagaimana dia membutuhkanku untuk memvalidasi apa kata hati nuraninya, menjinakkan suara-suara yang mengganggunya.

Aku enggan meladeni Lira dan rajukannya saat ini.

“Semuanya terlalu mudah untuk Bren, seperti semua terlalu mudah untukku. Koranku langsung mendapat nama karena ayahku adalah jaksa agung. Karena ayahku adalah kakak dari ibu Anton, istri pertama sebelum Paman menikahi ibu Bren dan kemudian ibu Leon. Karena kakekku adalah mantan menteri luar negeri. Karena kedua abangku adalah duta besar. Publik menunggu-nunggu apakah aku akan berhasil atau gagal, apakah aku akan terbang atau jatuh.”

Dia menghela napas. “Jika aku melakukan yang Bren lakukan, jika aku berbuat sekeji yang dia perbuat, maka aku pun bisa lolos dengan mudah. Publik bisa memahami motivasiku. Aku mungkin sedang mabuk, kehilangan akal sehat, khilaf. Tapi orang seperti gadis itu … nekat bertarung bisa menyebabkan dia kehilangan segalanya.”

“Kau pikir dia hanya mencari perhatian? Sok-sokan berurusan dengan orang yang salah?”

“Aku sama sekali tidak berpikir begitu. Aku mempercayai Leon dan kebenaran yang dia junjung. Sepintas dia terlihat sebagai pemuda borjuis yang mencoba membuat perubahan, tapi dia lebih dari itu. Dia memang orang yang lurus. Tidak ada orang yang bisa mengerti prinsip Leon sebaik aku. Tidak ada juga orang yang bisa berempati dengan beban yang Bren tanggung dan kondisi korban, seperti aku. Kau ingat ‘kan bagaimana Ardi pernah memukuliku waktu kau dan Silvia pulang ke Jakarta?”

Mana mungkin aku melupakan panggilan video call dari unit gawat darurat yang menunjukkan Lira dengan darah mengucur deras dari kepala dan giginya? Aku langsung memesan tiket kembali ke Australia saat itu juga.

“Mengapa kau berkata gadis itu adalah korban?”

Kami bertatapan sejenak. “Label apa lagi yang dapat kusematkan? Dia jelas bukan saksi, apalagi pelaku. Aku sudah menemuinya di rumah Ali. She screams victim to me with everything she is. Bukti kekerasan fisik yang dia terima. DNA yang berhasil Leon kumpulkan dari lab, walaupun kami belum mempunyai DNA milik Bren sebagai pembanding.”

“Bagaimana kalau dia pelaku? Bagaimana kalau semua ini direncanakan?”

Keheningan yang mengganggu hadir di tengah kami, selalu begitu setiap kali kami berusaha membenturkan argumen masing-masing.

“Kau sudah mewawancarainya ‘kan? Menurutmu dia berkata jujur?”

“Aku belum memberitahu Leon, tapi ya, dia jujur. Dan itu yang kutakutkan.”

“Apa maksudmu?”

The snowball. Pertama, Bren akan didakwa dengan tuduhan pemerkosaan, tapi itu hanya jika kepolisian mendukung klaim gadis itu. Aku menduga kepolisian takut pada ibu Bren. Mereka akan membantah bahwa hal itu pernah terjadi, bahwa gadis itu berbohong untuk tujuan politis, untuk menjatuhkan wakil gubernur yang sekarang. Kedua, ayahmu akan mengerahkan semua bawahannya di kejaksaan untuk tetap menggiring Bren ke meja hijau, untuk membalas dendam karena bibimu pernah dimadu. Wakil gubernur kita akan mendorong anaknya menuntut balik gadis yang kau sebut sebagai korban atas dasar fitnah dan pencemaran nama baik.”

“Jika itu terjadi, maka kukira Ali akan menjadi pengacara pembela baginya?”

“Iya, itu skenario yang Leon rancang.”

“Tapi …?”

“Tapi jika kau terlibat, jika Jakarta Herald terlibat, semuanya akan jadi jauh lebih pelik. Untuk menjatuhkan Bren, kau perlu pemberitaan. Koranmu kecil dan terhitung baru, tapi kau tidak dipandang sebelah mata. Dari kemarin aku memikirkan seberapa besar kerusakan yang akan kau derita jika kau dan Leon salah langkah. Satu kesalahan, satu keteledoran, dan nyawa adalah taruhannya.”

“Semua itu hanya rumor. Tentang ibu Bren yang mencoba membunuh ibu Leon ketika dia diduakan ….”

“Tidak, itu kebenaran. Aku pernah berada di sana bersama Tessa.” Jantungku mencelus ketika aku berbicara lagi. “Dia memang sekejam itu. Dia bisa membunuh dengan darah dan kepala dingin.”

Suasana canggung menyelimuti kami dan berakhir ketika kudengar Lira terbahak-bahak. Dia melirikku sambil dengan hati-hati menghapus air mata yang menitik karena dia tertawa terlalu keras.

“Lima tahun lalu kusangka kita tidak akan pernah bertemu lagi, tapi sekarang kau di sini, membicarakan strategi pemberitaan yang seharusnya kudiskusikan dengan editor in chief dan Leon.”

“Aku pun tak menyangka akan terlibat,” desahku. “Kayaknya ini gara-gara sofa merah.”

Sorry?

“Ah, tidak, hanya terpikir kata-kata komandanku beberapa waktu lalu.”

Alarm handphone-ku berbunyi dan aku segera bangkit berdiri. “Aku harus kembali ke kantor. Aku masih bekerja di kepolisian dan lama-kelamaan akan ada orang yang mencurigai semua pertemuanku di luar.”

“Kau mungkin berkhianat.”

“Pada kantorku atau pada kalian? Aku benar-benar tak yakin saat ini aku berada di pihak siapa,” ucapku sambil mengedikkan bahu. “Sebenarnya, aku melakukan ini untuk Tessa.”

“Mantan kekasihmu?” tanyanya sambil menyuap es krim yang terakhir.

Aku melirik cup es krim yang sudah kosong, semuanya dia makan selama kami bercakap-cakap. Aku menyeringai padanya. “Tessa bersama suaminya, Ali, adalah sahabatku. Es krim sepertinya tidak cukup buatmu, ya. Lain kali kutraktir kau makan di rooftop restaurant deh.”

Lira cemberut. “Jangan janji kalau tidak bisa kau tepati.”

“Aku janji!” seruku sambil berjalan ke arah pintu darurat. Aku menoleh ketika kudengar Lira memanggilku.

“Hei!”

“Ya?”

“Kukira aku sahabatmu. Kau pernah bilang begitu.”

Hatiku yang sempat hangat kembali mendingin, teringat tahun-tahun ketika aku hanya bisa memandangnya dari jauh, menginginkannya melihatku lebih dari seorang teman, menderita karena dia hanya datang padaku ketika Ardi mengecewakannya.

“Pada suatu masa kau segalanya bagiku,” bisikku tanpa berharap dia bisa mendengarku atau membaca gerak bibirku.

“Hei!” panggilnya lagi.

Aku membuat sebuah isyarat “Aku kirim teks nanti” dan berbalik pergi. Tanpa melihat pun aku tahu, matanya tetap mengikuti sampai aku hilang dari pandangannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s