Kenangan

Hubunganku dengan Tessa adalah sesuatu di antara kata rumit dan sederhana.

Aku pertama kali melihatnya ketika sedang magang di sebuah klinik yang dikepalai oleh dosen pembimbing tugas akhirku. Seperti kebanyakan mahasiswa jurusan psikologi lainnya, aku sedang berada di persimpangan jalan: apakah harus melanjutkan pendidikan ke profesi psikologi atau bekerja di ranah lain.

Dosenku yang sangat keibuan, walaupun dia tidak memiliki anak sendiri, mengajakku ke klinik itu suatu hari. Dia tidak menerima usahaku menolak dengan halus karena aku sedang tidak berminat mendengarkan masalah dan keluh kesah orang lain.

Buat tambah wawasan saja, dia mengatakan kalimat itu berulang-ulang sepanjang perjalanan kami dengan mobil dari Depok ke Jakarta Selatan.

Akhirnya aku menyerah hanya supaya tidak direcoki lagi olehnya. Aku tahu mengapa aku yang dipilih. Dari antara sekian banyak mahasiswanya, aku adalah orang yang paling baik.

Pasien pertama seorang mahasiswa jurusan psikologi adalah dirinya sendiri. Lewat setiap kelas yang diikuti, setiap textbook yang ia baca, tujuannya hanyalah satu: mengenali dirinya dan issue-nya sendiri sebelum berusaha membantu orang lain mengatasi isssue mereka.

Aku tidak memiliki trauma, tidak memiliki masalah pengasuhan orangtua, tidak memiliki inner child yang masih harus kupuaskan keinginannya. Aku terampil dalam menguasai diri dan emosiku. Pada usia 22 tahun aku adalah seorang pria berkarakter baik tanpa beban masa lalu.

Orang yang tepat untuk menjadi pengamat yang netral, begitu kata Bu Dosen sambil manggut-manggut. Mahasiswa lain dengan masalah psikologis tanpa disadari akan memiliki bias ketika menerima konseling. Kamu tidak akan, karena kamu dalam keadaan baik.

Dari satu sesi ke sesi berikutnya aku duduk di pojok ruangan dalam diam. Kepada pasien-pasiennya Ibu memperkenalkanku sebagai “mahasiswa yang sudah seperti anak saya sendiri”.

Beberapa orang pasien menjadi defensif dan menolak berbicara banyak, tidak seperti biasanya, sepertinya. Ada juga pasien yang begitu bersemangat melibatkan aku dalam konseling itu, mengungkapkan hal-hal pribadi yang tidak ingin kuketahui dan menyelidiki asal-usulku sampai aku berkali-kali menguap karena bosan ditanya-tanya hal yang sama.

Setelah hampir delapan jam berlalu, tengkukku tegang seperti benang layangan yang nyaris putus dan migrain mulai mengintai keningku yang sebelah kiri. Tepat ketika kukira tidak akan ada pasien lagi, seorang wanita muda menerobos masuk begitu saja.

“Ibu, maaf saya terlambat,” katanya sambil terengah-engah.

Bu Dosen membuka tangannya untuk merengkuh bahu wanita itu. Senyum hangatnya merekah. Dia lebih seperti menyambut seorang kemenakan daripada seorang pasien.

“Tessa,” jawabnya manis. “Ayo, duduk, duduk, bagaimana keadaanmu minggu ini?”

Dia tidak menyadari mulutku yang menganga ketika aku tanpa sungkan memandangi perawakannya yang mungil dan kurus seperti lidi. Sepasang mata berwarna cokelat muda yang terlalu besar di atas kedua pipinya yang cekung, dan rambut panjangnya yang melambai-lambai di sekitar pinggangnya. Dengan santai dia mengacuhkan kehadiranku, seakan-akan aku hanyalah hantu di dalam ruangan itu.

“Berat badan kamu naik,” gumam Ibu sambil membolak-balik rekam medis wanita itu.

“Iya, Bu. Sudah naik dua kilo jadi tiga puluh kilo.”

Aku mengernyit. Berat badan hanya tiga puluh kilogram untuk wanita berusia awal dua puluhan? Anoreksia. Bulimia.

“Masih susah tidur?”

“Iya, tapi saya coba tidak pakai obat tidur. Saya lari lima kilometer setiap malam supaya saya capek dan cepat tidur. Sejauh ini lumayan berhasil.”

“Kebiasaan yang bagus, Tessa. Nah, coba ceritakan apa yang terjadi padamu sejak sesi kita yang terakhir.”

Dari mulutnya meluncur kalimat demi kalimat yang membuatku menganga. Sungguh di luar dugaanku akan seorang wanita yang tampaknya berasal dari kelas sosial atas dengan semua privilege yang menyertainya.

Semua barang yang dia kenakan bermerk, jenis barang yang tidak akan kita temui tiruannya, di Mangga Dua sekalipun. Namun, yang dia utarakan adalah kegetiran dan duka yang membebaninya sampai ia memilih untuk mati saja.

Ketakutan yang dia rasakan setiap kali dia mencoba mengiris pergelangan tangannya. Bagaimana kalau sayatannya tidak cukup dalam dan saya tidak jadi mati? Saya tidak mau kulit saya penuh luka.

Kekhawatirannya akan reaksi keluarganya jika dia membunuh diri. Ibu saya pasti ingin mati juga. Hidupnya tidak bahagia, saya adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya bertahan.

Kehampaan yang menggelayuti hatinya, yang membuatnya memasukkan jari ke dalam kerongkongan untuk memuntahkan apa pun yang dia makan. Saya mencari sebuah tujuan. Memandang tubuh yang ideal di depan cermin adalah sesuatu yang membuat saya bersemangat bangun di pagi hari.

Pada akhir sesi, migrain yang tadinya mengintai telah berubah menjadi sakit kepala yang mengguncang otakku. Wanita ini … bagaimana bisa? Tidakkah ia bersyukur? Tidakkah dia menyadari berapa beruntungnya dia dibandingkan banyak wanita muda lain di luar sana?

Setelah wanita yang bernama Tessa itu meninggalkan ruangan, aku tertunduk dengan kedua tangan mengepal di atas lututku. Aku begitu … emosional.

Aku tidak terima dengan keadaannya. Aku heran mengapa aku begitu kecewa padanya, seseorang yang merupakan orang asing bagiku? Mengapa aku begitu marah karena dia tidak cukup kuat untuk melawan keinginannya untuk mati? Mengapa dia begitu nrimo dengan semua abnormalitasnya yang orang normal bisa lihat dengan sekali pandang?

Dan yang terutama, di tengah kemarahanku aku ingin bertemu dengannya lagi.

Mungkin dosenku mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri. Dia tidak menanyakan kesanku membayanginya bekerja selama satu hari penuh di klinik. Dia pun dengan percaya diri menawariku untuk kembali lagi pada hari yang sama minggu depannya. Dia tahu benar aku tidak akan menolak.

Terkadang pasien-pasien pada hari itu berbeda-beda, tetapi lebih sering sama, termasuk Tessa yang selalu melenggang masuk pada pukul empat sore kurang sedikit.

Dia mengabaikanku, aku tahu, dan Ibu tidak repot-repot saling memperkenalkan kami. Butuh waktu tiga bulan, dua belas kali sesi konseling, sampai Tessa memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat ke arahku ketika Ibu menanyakan pendapatku. Tessa tidak benar-benar memandangku, tapi aku tahu aku tidak lagi invisible di hadapannya.

Ternyata kami kuliah di jurusan yang berbeda di kampus yang sama, dan dia berusia satu tahun lebih muda dariku. Dengan sengaja aku mencarinya, mendekatinya, berusaha tahu lebih banyak tentang kepribadian dan pergumulan hidupnya.

Pertemanan aneh di antara kami terjalin begitu saja, tanpa prasangka, tanpa usaha yang teramat keras. Bahkan ketika aku melanjutkan studi di luar negeri, dia tetap menjadi teman ke mana aku selalu dapat kembali. Seakan-akan jarak dan perbedaan zona waktu antara Jakarta dan Melbourne tak berarti apa-apa.

Tessa menerimaku dengan hati yang terbuka. Pada dasarnya dia baik dan mudah menerima orang lain. Aku sangat yakin kami memang sudah ditakdirkan untuk berada di dalam kehidupan masing-masing.

Apa kau melihatku sebagai pasien yang perlu dipelajari atau sebagai Tessa, tanyanya kerap kali, seakan-akan dia takut suatu saat aku tidak mau berteman lagi dengan dirinya yang “aneh”.

Sebagai Tessa, jawabku mantap.

Itu pula yang Tessa tanyakan padaku ketika Ali, sahabatku sejak SMP yang kukenalkan padanya tanpa sengaja, meminangnya karena jatuh cinta pada pandangan pertama. Sambil tertawa, dia bertanya apakah aku akan mulai melihatnya sebagai calon istri Ali atau sebagai Tessa, temanku.

Sebagai Tessa, aku meyakinkannya. Selalu sebagai Tessa. Selalu temanku.

Banyak orang skeptis dengan hubungan yang terjalin antara aku, Ali, dan Tessa. Lebih banyak orang lagi mengira aku belum, atau tidak menikah, karena aku mendambakan istri orang lain.

Kubiarkan semua orang berspekulasi dan bergunjing. Aku tidak pernah merasa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun yang tidak kuanggap penting.

Aku menyayangi Tessa, sama seperti seorang kakak menyayangi seorang adik yang dia tidak pernah punya. Sebagai anak tunggal, aku mengerti kesendirian. Aku merangkulnya dan aku risih jika sering ditemani, jika ada orang lain di orbitku. Namun, Tessa sangat suka menemaniku, sampai-sampai aku merasa ada yang hilang ketika dia tidak ada.

Ketika dia menjalin hubungan dengan Ali, aku adalah orang yang paling berbahagia karena aku tidak lagi harus menghabiskan waktu bersama salah satu dari mereka secara terpisah. Aku kira mereka berdua akan saling tidak cocok. Ternyata dugaanku salah dan aku menyaksikan mereka melangkah ke pelaminan dengan hati yang yang membuncah oleh rasa bangga dan haru yang teramat sangat.

Sejujurnya, aku tidak tahu banyak tentang diri Tessa selain apa yang dia bersedia bagikan. Aku tahu siapa ayahnya, seorang menteri yang berpengaruh di republik kami. Kiprah politiknya telah dimulai sejak dia duduk di bangku kuliah. Jejak petualangan asmaranya juga tak kalah dahsyat.

Aku tahu dari media bahwa Tessa adalah anak dari pernikahan ketiga ayahnya dan dia memiliki seorang adik laki-laki. Semua pernikahan ayahnya selalu dimulai dengan pernikahan di bawah tangan sebelum perceraian resmi dengan istri sebelumnya.

Suatu kali aku bertanya apakah namanya berarti sesuatu. Apakah nama panjangnya Tessalonika atau Thessaloniki, sebuah kota besar di Yunani yang memajang sisa-sisa peradaban Kerajaan Romawi.

Katanya, Thessaloniki, tempat aku dibuahi pada bulan madu Ayah dan Ibuku setelah mereka menikah.

Aku dan seluruh rakyat Indonesia yang memiliki akses terhadap surat kabar tahu pasti bahwa itu tidak benar. Kedua orangtua Tessa menikah di catatan sipil ketika Tessa sudah berusia lewat dua tahun. Foto dirinya yang gembil sewaktu kecil, berjalan malu-malu di samping ibunya yang memakai kebaya putih yang sia-sia menyembunyikan kandungannya yang kedua, menghiasi halaman pertama koran-koran besar selama beberapa hari.

Aku tidak mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Yang penting adalah aku dan Tessa, bukan aku dengan cerita asal-usulku dan Tessa dengan cerita asal-usulnya.

Jadi, aku cukup terkejut ketika Ali meneleponku dan berkata adik Tessa yang bernama Leon membutuhkan bantuan. Adik laki-laki yang tidak datang ke pernikahan kakak satu-satunya karena tidak tahan melihat kehadiran ayah kandung mereka. Adik laki-laki yang menerima semua uang pemberian ayah mereka, tapi begitu getir dan pahit dalam menilai pernikahan dan keluarga.

Rasanya tak percaya, hari itu akhirnya datang juga. Tessa membuka sebuah bagian lain dari kehidupannya. Adiknya, keluarganya selain Ali. Bagian yang sudah lama tersembunyi dariku selama satu dekade terakhir.

“Batang kamboja yang kau kasih kapan hari sudah berakar dan bertunas.”

Aku menoleh kepadanya dan nyengir. Tessa sedang berdiri di sampingku. Jari-jemarinya yang ramping sibuk mengguntingi ranting pohon anggur. Rambutnya yang dulu panjang kini dipotong sebahu. Aku bisa melihat beberapa helai rambut menjuntai dari balik topi lebarnya.

“Baguslah. Aku sudah memberimu kamboja warna merah, pink, dan putih. Tinggal warna kuning dan aroma Bali hadir lengkap di teras rumah barumu.”

“Hmmm …. Can’t wait,” timpalnya dengan senyum mengembang.

Aku bergerak ke deretan pohon mawar dan membungkuk untuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela pot. Selain pohon kamboja, anggur, dan mawar, pekarangan belakang rumahku dipenuhi oleh berbagai macam tanaman: bunga, sayur, dan buah. Tessa dan Ali datang seminggu sekali untuk membantuku mengurusnya.

Bangunan rumahku kecil, hanya enam puluh meter persegi dengan dua kamar tidur, tapi ia menempati tanah seluas dua ratus meter persegi. Aku memanfaatkan kelebihan tanah itu untuk mengembangkan keluargaku sendiri, pohon-pohon yang kupandang sebagai anak-anak. Kutumbuhkan dari benih, kujaga supaya kelangsungan hidupnya. Aku memberi mereka ruang untuk hidup, mereka memberiku kepuasan menjadi orangtua.

“Kepanasan?” tanyaku. Aku pergi ke dapur yang berbatasan dengan taman untuk memutar kipas angin supaya mengarah padanya.

“Tidak juga.” Dia mendongak ke langit dan bergumam. “Gerah sekali. Katanya akan ada hujan angin sekitar jam dua. Aku harap begitu. Jakarta terlalu panas akhir-akhir ini.”

“Politik juga sedang panas.” Aku sengaja menghentikan kegiatanku untuk melihat reaksinya. Sudah kuduga, Tessa hanya menatapku balik dengan sorot mata tenang.

“Mantan istri ayahmu mau maju lagi jadi calon gubernur. Trik yang sudah diduga, tapi tetap dicibir banyak orang. Cukup satu periode sebagai wakil gubernur sebelum kembali ke arena Pemilu. Selalu tampilkan diri di depan publik, jangan pernah kehilangan pamor. Dia selalu ada untuk rakyatnya, apalagi jika gubernur kita terlalu sibuk main medsos.”

Tessa tidak menanggapi ocehanku. Dia malah berjongkok dan mulai mencabuti tanaman putri malu yang tumbuh bandel di sela-sela paving stone.

“Apa yang dia lakukan bukan urusanku.”

“Akan menjadi urusanmu jika Leon nekat dengan rencananya.”

Tak kusangka dia akan menghela napas berat-berat, seakan-akan ada beban tak terkatakan menghimpit dadanya. “Leon itu masih kecil. Dia anak kecil yang gelap mata, ingin membalas dendam, ingin menyakiti ayah kami dengan segala cara. Dia tidak mau mendengar nasihatku, padahal sudah jelas siapa pemenang pertarungan ini.”

“Mantan istri ayahmu akan melakukan apa pun untuk menutup mulut Rani. Dia mungkin akan membujuk, menawarkan imbalan, tapi kita berdua tahu rekam jejaknya. Bisa-bisa kita menemukan mayat gadis itu mengambang di kali yang tertutup jaring.”

“Tidak akan ada orang menyangka ada mayat, apalagi jika bau busuk sampah dari kali sebelas-dua belas dengan bau makhluk hidup yang terdekomposisi.”

“Betul sekali.” Aku mengambil karung berisi media tanam dan mengopernya ke Tessa yang duduk di depan beberapa pot, hendak memisah-misahkan akar lidah mertua.

“Kau sudah mewawancarainya kemarin, kan? Rani.”

“Sudah.”

“Bagaimana menurutmu? Apa dia berkata jujur? Semuanya terlalu kebetulan, terlalu rapi. Usaha pemerkosaan. Dompet milik Bren. Ceritanya terlalu mulus. Sejak dia datang ke rumah kami, aku mencurigainya. Tapi Leon …, Leon ….”

Leon is smitten.”

“Itu benar, dia benar-benar terpesona,” akunya dengan nada getir. “Ironis, bukan? Gara-gara ini aku melihatnya sangat mirip dengan Ayah.”

“Dia sekarang tinggal bersama kalian, ya?”

“Iya, Leon juga pindah ke rumah kami. Leon bilang rumah kos tempat gadis itu tinggal pasti diintai preman. Dia juga merasa mobilnya diuntit dan ada orang-orang mencurigakan berkeliaran di lobi apartemennya.”

“Setidaknya kalian bisa menyewa jasa pengawalan. Melawan Bren hanya soal menyewa preman untuk melawan preman.”

Tessa cemberut. “Jangan menyindir. Kau tahu apa yang uang bisa beli.”

Aku hanya mengedikkan bahu. “Can’t help it. Adikmu sadar betul apa yang dia bisa lakukan dengan uangnya. Dan dia pikir sekarang dia berbuat kebaikan untuk semua orang. Untuk gadis itu, untuk orang-orang yang dirugikan oleh ayahmu dan keluarganya. Tapi …,” jedaku, “keluarga ayahmu adalah keluargamu juga.”

“Waktu Anton menikah, kami semua harus ikut mengurus. Ayah mengumpulkan kedua mantan istri dan ibu kami untuk urun rembuk. Kami harus bersandiwara kami adalah keluarga yang rukun bahagia dengan anak-anak yang saling menyayangi. Setiap hari aku dan Leon meriang dan muntah,” keluhnya.

Anton adalah anak dari mantan istri pertama. Bren, yang Rani tuduh sebagai pelaku pemerkosaan, adalah anak dari mantan istri kedua, wakil gubernur Jakarta saat ini. Tessa dan Leon adalah anak-anak dari istri ketiga, istri yang sekarang.

Seakan bisa membaca pikiranku, Tessa berkata, “Ayah sudah berselingkuh lagi dan mungkin sudah memiliki anak lagi. Ibu tahu, kami semua tahu, tapi Ibu tidak mau bercerai.”

“Uang bukan masalah, kukira? Kudengar ayahmu menafkahi semua mantan istri dan anak-anaknya.”

“Iya, tapi mantan-mantan istri Ayah berasal dari keluarga terpandang. Anak pengusaha batu bara, anak mantan jenderal. Ibu berbeda. Dia hanya gadis desa yang kebetulan menarik mata Ayah ketika pernikahan sebelumnya mendingin. Dia tidak akan punya apa-apa lagi begitu menjadi mantan istri. Dia tidak akan punya status, kedudukan, apa pun yang mendatangkan hormat dari orang lain. Ibuku tidak mau kehilangan itu semua.”

Aku berhenti meratakan tanah dan menoleh padanya. Temanku Tessa, wanita tabah yang selalu bisa bercerita tentang kehidupannya dengan penuh jarak, seakan-akan semua itu terjadi pada orang lain.

“Polisi akan memihak Bren. Mereka takut pada ibu tirimu.”

“Aku sudah menduganya. Waktu Ayah datang minggu lalu, aku menguping pembicaraannya dengan dia di telepon. Ayah berjanji akan membereskannya. Media tidak akan tahu, dan semua orang yang terlanjur tahu akan dibayar supaya tutup mulut.”

“Apa yang uang bisa beli ….”

“Akan membeli apa yang perlu.” Dia menatapku lekat-lekat. “Itu duniaku. Realitaku. Kau tidak bisa mengubahnya, meskipun kau sangat membencinya.”

Aku tidak menjawabnya. Alih-alih aku berpikir bagaimana memberitahu Tessa tentang apa yang kuamati selama wawancara dengan Rani. Gadis itu lebih dari tubuh ringkih, wajah pucat, dan suara yang tersendat-sendat, penuh ketakutan. Gadis itu ambisius; gadis itu punya tujuannya sendiri.

“Kanan atau kiri?”

Aku tahu apa yang Tessa tanyakan. Arah bola mata ketika berbicara menentukan apakah seseorang berkata jujur atau bohong. Kami sering memakai cara ini untuk menilai ketulusan orang-orang yang berelasi dengan kami.

“Kiri. Setiap saat.”

Tessa terperangah. “Kau bercanda, kan?”

“Tidak. Sepanjang wawancara dia hanya melihat ke kiri.”

“Apa Leon tahu?”

“Belum. Aku tidak berencana memberitahunya sebelum aku bertemu Lira minggu depan.”

This is big,” desahnya. “Lebih dari yang bisa adikku hadapi.”

Aku hendak mengatakan sesuatu, tapi tetes hujan keburu turun. “Ayuk,” kataku sambil menggamit lengannya. “Ali sepertinya sudah selesai dengan conference call-nya. Kita minum teh dan mengobrol saja di dalam.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s