Pertemuan Pertama

Sinar yang membutakan menyergapku begitu aku melewati pintu masuk kafe itu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali sebelum aku menyadari apa yang kuhadapi.

Ah, sebuah cermin besar berbentuk matahari yang memantulkan cahaya dari luar.

Entah siapa yang memiliki ide konyol menempatkan matahari di dalam kafe yang temaram ini. Bukankah itu sebuah kontras yang tidak pada tempatnya?

Langkahku tertahan oleh orang-orang yang mengantri di depan kasir. Sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana, pandanganku menyapu ke sekeliling ruangan.

Deretan kursi tinggi dengan meja kayu yang menghadap ke jalan raya. Beberapa kumpulan sofa kulit berwarna cokelat tanah tersebar di beberapa pojok. Langit-langit bercat hitam dengan lampu kuning temaram.

Mereka yang datang ke kafe ini sibuk dengan urusan masing-masing, terpaku pada layar dalam genggaman mereka. Tidak akan ada orang yang iseng menguping pembicaraan orang lain.

Tak butuh lama untuk mengenali orang yang seharusnya kutemui siang hari ini.

Sebelum aku mencapai kursi yang dia tempati, dia memalingkan wajah dan menatapku lekat, seakan-akan sudah mengendus kedatanganku dari jauh. Mungkin namanya atau rambutnya yang membuatnya berinsting kuat. Aku menduga, namanya.

“Leon?”

Dia berdiri dan menjabat tanganku erat. Dari sudut mataku aku dapat melihat seseorang duduk di seberang kursinya, mengucilkan diri di sudut yang tidak disinari lampu.

“Terima kasih sudah datang,” jawabnya dan mempersilakanku duduk.

Aku mengambil kursi di sampingnya dan terang-terangan menghadap orang yang Leon ajak pada pertemuan kami. Seorang gadis berambut sebahu duduk terpekur memandangi tas dekil yang dia taruh di pangkuannya.

Gadis itu tidak mengangkat wajahnya atau memberi salam padaku. Tingkahnya yang serba salah membuatku menduga dia enggan berada di situ, saat itu dengan kami.

“Terima kasih sudah menemui saya hari ini. Maaf, kalau ini terlalu mendadak.”

Aku mengibaskan tangan. “Tidak usah minta maaf. Aku pasti datang kalau Ali yang meminta.”

“Kalian sudah lama bersahabat?”

“Sejak SMP, tapi kita tidak akan bernostalgia sekarang. Apa yang bisa kubantu?”

“Saya perlu bantuan. Dengan dia.” Leon menggunakan jempolnya untuk menunjuk gadis itu; sebuah cara kuno yang sudah lama tak kulihat, apalagi di tengah kehidupan perkotaan.

“Apa yang terjadi?”

“Seseorang mencoba memerkosanya ketika dia pulang kerja dari klub malam. Saat itu pukul tiga pagi. Dia melawan dan berhasil mendapatkan dompet dari pelakunya.”

Sesuatu dari cara Leon menjelaskan urutan peristiwa membuat radarku tergelitik. Mendapatkan dompet? Mengapa aku merasa seakan-akan dompet itu sudah diincar sebelumnya?

“Leon, kau tahu, aku bukan polisi.”

“Saya tahu, saya tahu itu. Saya perlu bantuan Anda untuk menenangkannya. Dia ketakutan. Dia trauma. Ini bukan sesuatu yang saya bisa lakukan sendiri dan dia sulit memercayai orang selain saya.”

Aku bersedekap dan memandangi mereka bergantian. Seperti Leon, gadis itu pun mengenakan baju hitam. Bekas luka menghiasi kedua lengannya yang berwarna sawo matang. Bahkan dari kejauhan aku dapat melihat lebam di sepanjang dahi dan pipinya. Bagian atas bibirnya sedikit sobek dan ada goresan panjang melintang di atas hidungnya.

Pasti dia merasakan sakit yang luar biasa, batinku.

“Kapan kejadiannya?”

“Dua hari lalu. Pelakunya berhasil kabur. Dia segera melapor ke kantor polisi terdekat, tetapi mereka mengabaikan laporannya begitu mereka melihat KTP di dalam dompet itu.”

“Siapa nama yang tertera di sana?”

Leon menyebutkan satu nama dan aku terkekeh. “Nak, kau mengembik di depan kandang singa yang salah.”

“Namaku Leon,” tukasnya keras kepala.

“Dan apakah kau lahir sepanjang pertengahan bulan Juli sampai pertengahan bulan Agustus?”

Dia perlahan menggeleng. “Tidak, saya lahir pada bulan Januari.”

“Namamu tidak menggambarkan apa pun tentang kepribadianmu. Akal sehat dan tindakanmu yang melakukan itu. Mundurlah, sebelum keadaan memburuk.”

“Pelakunya adalah kakak tiri saya,” imbuhnya dengan kenekatan yang aku tahu terlahir dari kenaifan akan cara dunia nyata bekerja.

“Aku tahu. Kau pikir aku tak tahu apa-apa tentang istri Ali? Tessa adalah temanku juga. Aku tahu semua tentang sejarah keluargamu.”

“Kasus ini penting bagi saya.”

“Untuk membalas dendam pribadimu atau untuk memuaskan hasratmu bermain-main menjadi wartawan?”

“Saya tidak pernah menganggap enteng pekerjaan saya,” bentaknya.

Aku menghela napas. Sungguh ini bukan situasi yang ideal, mencoba membuat seseorang sadar akan kebodohannya justru ketika perutku keroncongan. Aku menyesal tadi tidak mampir ke restoran burger di sebelah kafe ini.

“Saya bisa membayar, berapa pun tarif yang Anda pasang.”

Kali ini aku mencibir. Sumpah mati aku benci orang-orang yang mengira bisa menyelesaikan segala urusan dengan uang.

“Aku masih tidak mengerti, apa yang kau mau aku lakukan?”

“Bicaralah padanya. Tenangkan dia. Bantu dia mengingat-ingat lagi peristiwa jahanam itu.” Leon melirik gadis itu dan berdehem. “Namanya Rani. Dia ingin polisi menangkap penjahatnya. Dia ingin keadilan. Aku akan membantu membuat ceritanya didengar.”

“Kau bilang polisi sendiri sudah mengabaikannya. Barang bukti apa yang sudah kau punya untuk menangkap kakakmu?”

“Kakak tiri,” dengan kasar dia meralat kata-kataku. “Rani sempat mengambil SIM dari dalam dompet itu sebelum polisi menyitanya. Setelah kami bertemu, saya membawanya ke rumah sakit untuk mengambil DNA yang terkumpul di ujung kukunya.”

Cerdas, batinku. Kelewat cerdas.

“DNA? Itu idemu atau idenya?”

“Ide saya. Saya pernah bekerja untuk kolom kriminal di surat kabar di Chicago. Saya tahu prosedurnya.”

Lagi. Lagi-lagi dia mengumbar pengalamannya yang dapat dibeli selama dia punya uang. Wartawan mana di Jakarta yang bisa berseloroh pernah bekerja di Amerika Serikat sebelum menjadi budak harian dari panas terik dan kejamnya ibu kota?

“Aku tidak bekerja sampingan. Dan jika, kutekankan sekali lagi, jika aku membantumu, akan ada konflik kepentingan. Saat ini aku masih bekerja untuk kepolisian. Kau tidak seharusnya memercayaiku begitu saja.”

“Ali berkata sebaliknya. Dia bilang Anda adalah orang paling objektif yang dia kenal. Dia yakin Anda akan membantu saya karena Anda sendiri sangat menjunjung tinggi keadilan.”

“Ali terlalu melebih-lebihkan. Aku memang orang yang lurus, tapi aku sayang nyawaku sendiri. Membantumu sama dengan menyerahkan jantungku di atas piring perak kepada ayahmu. Kakak tirimu itu anak kesayangannya.”

“Benar. Dan saya berniat mengguncangnya juga. Kejahatan keluarga ini membuat saya muak.”

“Keluargamu –“

“Harus membayar setiap kesalahan yang kami buat. Saya tidak terkecuali.”

“Ibumu tidak pernah diceraikan, bukan?” selidikku.

Aku mengamat-amati perawakan Leon yang jauh dari citra wartawan sebagai pengais berita. Kaos yang dia kenakan keluaran sebuah kafe dengan waralaba yang mendunia. Sepatunya adalah sneakers yang dijual terbatas. Di pergelangan tangan kanannya melingkar jam otomatis bermerk Rado. Kulitnya tidak legam disengat matahari.

Wajahnya yang cukup tampan melukiskan tekad bajanya. Kedua alisnya bertaut tegang. Rahangnya terkatup rapat. Dahinya berkerut-kerut dan bola matanya yang berwarna cokelat muda menatapku dengan kesungguhan yang melunakkan hatiku.

“Tidak,” tukasnya setelah beberapa saat. “Status ibu saya tetap sebagai istri ketiga dari ayah saya.”

Terlepas dari skeptismeku bahwa Leon hanya anak orang kaya yang berlagak menjadi aktivis HAM, ada sesuatu di dalam jawaban-jawabannya yang begitu jujur, begitu langka di tengah dunia yang porak-poranda ini.

“Apa kata Lira tentang hal ini?”

“Bagaimana Anda –“

“Dunia ini sempit, Leon, apalagi Jakarta. Kami saling mengenal, mungkin jauh sebelum kau lahir.”

“Itu tidak mungkin. Lira hanya beberapa tahun lebih tua dari saya.”

Aku terkekeh. “Aku hanya bercanda, tidak usah terlalu serius. Yang aku ingin tahu, apakah dia sudah setuju kau mengerjakan berita ini.”

Wajahnya kini bersemu merah. “Saya belum memberitahunya.”

“Lakukan itu sebelum kau menemuiku lagi. Lira harus aware. Dia harus setuju dulu. Angin yang hendak kau tabur akan menjadi badai yang memorak-porandakan keluarganya juga.”

“Saya tahu.”

Kami berdua terdiam beberapa saat. Batinku penuh pergulatan tentang keputusan yang akan aku ambil.

Menggali penyebab stres dan memberikan solusi atasnya adalah pekerjaanku sehari-hari di kepolisian. Aku bisa melakukannya sambil menutup mata; pekerjaan itu sudah menjadi sebuah rutinitas yang terlalu mudah bagiku.

Jika aku mengambil kasus ini, bila aku membantu Leon dan gadis itu, Rani, aku bisa dipanggil sebagai saksi oleh pengadilan. Institusi tempatku bekerja akan mencapku sebagai antek-antek media. Terlebih dari itu, mereka akan mencapku sebagai pengkhianat.

“Kasus rumah nomor 27 ….”

“Kenapa dengannya?”

“Bagaimana Anda bisa menebak pelakunya adalah si anak bungsu?”

Aku menatap langit-langit kafe yang berwarna hitam, sekelam ingatanku akan hari itu. Sampai sekarang aku masih tidak percaya bahwa manusia adalah makhluk hidup paling kejam yang tega membunuh keluarganya sendiri.

“Naluri seorang ibu dan seorang kakak adalah melindungi anggota keluarga yang paling lemah.”

Aku memutar bahu, membayangkan kasus itu tidak lagi menjadi beban bagiku. Sebuah ilusi, sebuah usaha sia-sia untuk menipu diriku sendiri. Setiap malam aku masih bisa membayangkan keculasan pada wajah tiga orang tetangga yang tidak pernah kukenal sebelum pagi yang naas itu.

“Tidak sulit membayangkan mereka itu orang-orang seperti apa,” ujarku. “Cukup dengan mengobrol beberapa kalimat.” Aku dapat merasakan kepahitan di ujung lidahku ketika aku mengatakannya.

“Tetap saja, itu mengagumkan.”

Menyambung pujian dari Leon, Rani menatapku sebelum kembali menundukkan kepala. “Terima kasih,” bisiknya lirih.

“Hei, aku belum berjanji akan melakukan apa pun.”

“Lira pasti setuju.”

“Keyakinanmu membuktikan bahwa kau tidak mengenalnya dengan baik. Surat kabar tempatmu bekerja adalah segalanya bagi Lira. Hidupnya, reputasinya, perjuangannya. Dia tidak akan rela berkorban banyak, meskipun dia sangat menyayangimu.”

“Saya tahu itu. Saya akan membujuknya.”

Jam pada dinding di atas kepalaku berdentang satu kali dan membuatku meringis. Aku benar-benar tidak suka kafe ini.

Aku bangkit berdiri begitu melihat rombongan pengunjung baru celingak-celinguk di dekat pintu masuk. Mereka akan segera membutuhkan kursi-kursi yang kami duduki.

“Hubungi aku lewat Ali. Dan bilang Lira untuk meneleponku juga.”

Aku melangkah pergi sebelum Leon dapat berkata apa-apa lagi. Sedetik mataku bersibobrok dengan mata gadis yang bernama Rani.

Ada iblis yang terlahir belia. Ada iblis yang terkunci rapat di dalam hati.

Yang manakah dia?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s