Pembunuhan di Rumah Nomor 27

Pagi ini aku bangun dengan perasaan terkejut. Suara ambulans, atau mobil polisi entahlah, bertalu-talu memekakkan telinga. Aku bergegas menuju ke pintu depan dan mendorong pintu kawat yang membatasi ruang tamu tempatku berdiri dan teras rumah yang kini dipenuhi oleh banyak orang.

Di depanku berdiri ibu tetangga, penghuni rumah nomor 27 kalau tidak salah. Selama belasan tahun tinggal di jalan yang sama, kami hanya bertegur sapa beberapa kali dan aku tahu sangat sedikit tentang dia dan keluarganya.

Mobilnya ada dua buah, sebuah sedan berwarna hitam dan sebuah mobil compact berwarna merah menyala. Anaknya juga ada dua orang, yang pertama perempuan dan adiknya seorang laki-laki. Sekitar dua bulan lalu rumahnya kemasukan pencuri ketika anak yang bungsu sedang dirawat di rumah sakit dan sekeluarga ikut menginap untuk menemani.

Berhubung aku tidak menikah, aku bukan jenis orang yang bisa menjalin relasi dengan tetangga yang berkeluarga, apalagi anak-anak mereka. Informasi tentang pencurian itu pun kuperoleh dari grup chatting di kompleks.

Sang ibu menatapku nanar, seakan menungguku untuk mengatakan sesuatu. Kausnya yang berwarna putih tidak basah oleh keringat, ingus, ataupun air mata. Warnanya masih putih bersih, seperti baru saja dikenakan. Akan tetapi, di ujung kuku-kukunya ada bekas merah samar.

Apakah itu darah? Keningku berkerut memikirkan kemungkinan itu.

Tangan sang ibu mencengkeram kuat bahu anak laki-lakinya yang memelototiku tanpa sungkan. Anak perempuannya sebaliknya, ia sibuk memperhatikan mobil polisi dan orang-orang yang mulai mengerubungi rumahnya sambil menggigiti bibirnya yang pecah-pecah. Sedikit pun ia tidak melirik padaku.

“Ada apa ini?” tanyaku singkat. Please, biarkan aku segera mendapat jawaban supaya aku bisa segera memulai hariku sendiri.

“Lapor, Pak,” seorang satpam kompleks menghampiriku sambil memberi hormat. “Ada pembunuhan di rumah nomor 27. Ibu ini membunuh suaminya dan berusaha membuatnya seperti upaya bunuh diri dengan kain seprei.”

Aku menelan ludah dan celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, menatap beberapa pasang mata yang menungguku dengan penuh harap.

Apa-apaan ini? Dia bercanda, ‘kan? Mengapa memberitahu informasi seperti itu kepadaku yang bukan polisi? Aku bekerja di kepolisian sebagai psikolog untuk membantu para polisi mengatasi stres akibat pekerjaan, tak lebih dan tak kurang. Aku tak sudi berurusan dengan kejahatan.

“Pak ….”

“Tunggu.” Aku mengulurkan kedua tanganku untuk mencegah satpam itu mendekat. Aku perlu jarak, aku perlu waktu untuk mencerna apa yang kudengar. “Polisi sungguhan, mana polisi sungguhan?”

“Mereka sedang memroses TKP. Saya disuruh ke sini sama komandan Bapak.”

“Saya tidak punya komandan,” tukasku ketus. “Ini absurd,” keluhku lagi. Aku baru bangun dan sungguh tidak siap menghadapi kehebohan yang telah terjadi.

“Pak …”

“Apa!” bentakku.

Akan tetapi, kali ini sang ibu berwajah pucat yang memanggilku. Bibirnya bergetar hebat. Tidak, tak hanya bibirnya, seluruh tubuhnya gemetar. Aku tahu dia sudah memasuki fase syok, sebentar lagi dia bisa pingsan di kaki kami semua. “Saya tidak melakukannya …,” lanjutnya lirih.

Aku balas memandangi kedua anaknya yang berdiri dengan pandangan terpaku ke lantai terasku yang bermotif batu.

“Ibu melakukannya,” kata anaknya yang perempuan.

“Iya, benar,” imbuh adiknya.

“Ayah yang mulai. Ayah sering memukuli Ibu. Ibu pasti tidak tahan.”

Aku menyelidiki lengan, tungkai, dan wajahnya yang mulus khas kulit yang mendapat perawatan rutin. Tidak ada memar, tidak ada luka, tidak ada lebam. Orang-orang ini bicara omong kosong apa, sih?

“Ibu kehabisan akal, makanya dia coba melilin seprei untuk menjerat leher ayah. Setelah itu Ibu menyeret Ayah ke kamar mandi, mau bikin kesan Ayah gantung diri. Tidak mungkin bisa, Ibu tidak akan cukup kuat.”

“Kakak benar. Usaha Ibu itu konyol. Pasti langsung ketahuan kalau Ayah ga bunuh diri.”

“Diamlah. Ibu hanya berusaha menyelamatkan kalian.”

“Menyelamatkan gimana? Kami baik-baik saja meskipun Ayah begitu. Yah, kadang dia galak, kadang dia marah-marah, sering dia membanting piring, tapi dia okelah. Aku heran mengapa Ibu yang tidak tahan.”

“Rumah kita bagus. Kita punya mobil. Kata Ayah, kita punya banyak uang di bank. Aku selalu punya mainan terbaru. Aku baik-baik saja.”

“Ayah hanya marah kalau Ibu membangkang –“

“Ayah selalu memarahi apa pun yang kulakukan! Masakanku selalu salah, rumah selalu kurang bersih, kalian selalu kurang tertib –“

“Wajar Ayah marah, itu ‘kan memang tugas Ibu. Lagian Ibu ngapain aja sih seharian di rumah?”

“Tivi. Ibu terlalu suka menonton tivi,” timpal si anak bungsu.

“Keluarga di tivi selalu bahagia.”

“Itu akting, Bu. Cuma khayalan, imajinasi. Nyatanya tidak ada keluarga yang sebahagia itu.”

“Aku berusaha –“

“Pak polisi, Ibu salah karena telah membunuh Ayah, tapi kami tidak punya siapa-siapa lagi. Tolong jangan penjara Ibu kami.”

“Aku tidak bisa hidup di panti asuhan. Aku tidak mau makan masakan orang lain selain Ibu.”

“Lebih baik Ibu yang mengurus uang Ayah daripada orang lain, orang yang tidak kami kenal.”

“Baru sekarang kamu menghargai jerih-payah Ibu, ya? Baru sekarang kamu menghargai keberadaan Ibu?!” Suara melengking itu terdengar getir.

Tidak hanya aku yang menonton percakapan itu dengan terkesima, demikian juga dengan satpam dan beberapa orang tetangga yang tanpa malu datang mendekat.

“Panggil komandan yang di sana, suruh mereka membawa borgol,” suruhku pada satpam yang tampak kebingungan.

“Tapi, Pak ….”

“Ga ada tapi-tapi. Cepat!” Cepat, sebelum sang ibu dan kedua anaknya melarikan diri dengan lihainya, batinku.

Begitu sedikitkah orang di kantor sehingga mereka tidak terpikir untuk menahan dulu sang ibu dan kedua anaknya? Apa gunanya membawa saksi atau terduga pelaku ke rumahku, seorang psikolog yang tidak pernah membuat profil penjahat?

Keterangan. Mungkin ada yang bisa kugali dari keterangan para saksi ini.

Satu hal aneh yang kuamati, mereka bertiga tidak terlihat terkejut dengan kematian suami dan ayah mereka. Seakan-akan mereka sudah mengantisipasi hal itu. Seakan-akan mereka sudah tahu, ia akan mati.

Dan ia akan mati pada pagi hari ini.

Dengan sopan kuminta mereka masuk ke dalam rumahku. Lebih baik ikut bersandiwara bahwa aku memercayai mereka. Aku mengendus sebuah kegilaan ketika sebuah pembunuhan dipercakapkan seperti orang mempercakapkan masakan yang memakai resep yang salah.

Harusnya tadi kamu memasukkan satu sendok teh garam.

Tidak, pasti kurang asin. Satu sendok makan lebih pas.

Dan begitulah mereka saling menyalahkan, dengan begitu terbuka dan di depanku. Seakan-akan mereka meremehkan kemampuanku menemukan motif dan bukti jika mereka maju sebagai saksi.

Aku hanya psikolog biasa. Aku tahu apa?

“Mari masuk,” ajakku. Ibu dan anak-anaknya mengekorku masuk ke dalam ruang tamu yang hanya diisi oleh sebuah sofa berwarna merah dan sebuah meja kopi pendek berwarna cokelat tua. Seluruh dinding dipenuhi oleh foto-foto diriku dengan orang-orang penting.

“Kapolri, Menteri, Presiden …,” gumam sang ibu.

“Om ini orang hebat.”

“Gimana kamu tahu itu bukan hasil photoshop?”

“Benar juga.”

“Sofa merah. Hmmm ….” Dari sudut mataku aku melihat anak yang perempuan termangu di depan sofa bututku, mengamat-amatinya seperti orang mengamat-amati bangkai tikus.

“Om suka darah?”

“Tentu tidak,” tukasku. Ini jalanku untuk masuk. “Kamu? Suka, ya?”

“Biasa saja,” jawabnya sambil mengedikkan bahu. “Aku biasa lihat darah di game. Tapi itu ‘kan game, ga real.”

“Om pengen pingsan kalau lihat darah.”

“Bohong. Buktinya sofa ini.” Kali ini ibunya yang berbicara. Ia menatapku lekat seakan-akan mencoba membongkar permainanku, padahal akulah yang sedang berusaha membongkar triknya.

“Darah beneran dan sofa itu beda jauh banget,” elakku sambil tersenyum simpul. Pada saat bersamaan ada pesan masuk dari ketua RW.

Ga ada wartawan, Mas. Aman.

Pesan kedua masuk lima detik sesudahnya. Pukulan benda tajam, bukan lilitan seprei.

Dengan cepat aku mengetik pertanyaan selanjutnya. Satpam itu?

Kami sengaja memberikan informasi yang salah.

Kenapa?

Seperti yang kuduga, komandan tidak membalas lagi pesanku. Selama ini dia selalu berpendapat pekerjaanku terlalu santai. Usahanya menjadikanku profiler penjahat sepertinya akan berhasil dalam waktu dekat. Aku terlalu penasaran untuk tidak menyelidiki kasus ini.

“Siapa yang paling membenci suami Ibu?”

“Pertanyaan yang aneh, saya baru saja kehilangan suami!”

“Tapi Ibu yang membunuhnya.”

“Dia mengancam nyawa saya duluan.”

“Kalau begitu anak Ibu yang mana yang melakukannya?”

“Jangan konyol! Tutup mulut, brengsek!” teriak anaknya yang laki-laki.

“Kotak game console kalau dipukulkan ke kepala bisa mengakibatkan luka fatal.” Aku melirik anaknya yang perempuan yang sibuk mencabuti benang yang menjuntai dari sela-sela jahitan sofa.

“Tidak ada bukti –“

“Ibu tidak berpikir polisi adalah sekumpulan orang bodoh, ‘kan? Karena itu menghina sekali.”

“Mereka bodoh karena menolak melihat bukti kejahatan, walaupun kami sering menyodorkannya ke depan muka mereka.” Masih sang ibu yang berbicara. Sudah jelas dia ingin melindungi seseorang.

“Jadi …, dia?” Aku terang-terangan menunjuk si anak perempuan.

“Kami tidak akan mengatakan apa-apa lagi,” balas orang yang kutunjuk. Dengan satu tangan ia menyibakkan rambutnya yang panjang. Wajahnya menyeringai puas, menantangku untuk membuat satu hipotesa lagi.

Kapan, kapan iblis berusia belia ini terlahir, tanyaku pada diri sendiri.

Tak ada tanda-tanda penyesalan pada dirinya. Ibu dan adiknya pun bersikap biasa saja, seakan-akan tidak ada kejadian luar biasa yang baru terjadi pada keluarga mereka, yang menghancurkan kehidupan mereka.

“Aku haus. Punya Coca-Cola ga, Om?”

“Aku mau teh manis.”

“Saya air putih saja.”

Orang-orang gila. Aku mengembuskan napas lega ketika akhirnya komandanku mengetuk kaca jendela depan.

“Sudah?”

Aku mengangguk dan menelengkan kepala ke arah para saksi. “Tidak segampang itu, tapi ada petunjuk.”

“Baiklah.” Dengan satu isyarat, beberapa orang polisi memborgol tangan ketiga orang tamuku dan menutup kepala mereka dengan handuk hitam.

Setelah mereka berlalu dengan mobil polisi, aku berbisik pada komandanku. “Aku punya dugaan, tapi investigasinya akan sulit. Mereka terlalu erat, susah untuk mendapatkan motif.”

“Percayakan saja pada kami. Kamu kira kami ini polisi kemarin sore?”

“Aku tidak mengira akan ada TKP di dekat rumahku.”

“Rumah mereka bernomor bagus, dua puluh tujuh, kelipatan sembilan. Sayangnya hanya tragedi yang terjadi di sana.”

“Jadi, ini bukan kasus pertama kali?”

Komandan tersenyum tipis. “Kami telah menerima banyak laporan sebelumnya. Dari rumah bernomor dua puluh tujuh.”

Aku menggaruk-garuk kepala. “Aneh. Selama ini aku tidak tahu.”

“Memangnya kamu bergaul dengan tetangga-tetanggamu?”

Aku mengangkat bahu. “Tidak, kalau tidak perlu-perlu amat.”

“Aku pergi dulu, sampai ketemu di kantor. By the way ….” Sebelum komandan menutup pintu kawat yang sudah berlubang di sana-sini, ia melirik ke arah sofa merahku.

“Tolonglah ganti kulitnya dengan warna lain. Merah darah. Kamu seperti mengundang kejahatan masuk.”

“Heh?”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s