Kesan Pertama Drama Korea: Racket Boys

Setelah menonton drama Korea “Racket Boys” atau “Racket Sonyeondan” sepanjang lima dari total enam belas episode, saya tiba pada sebuah kesimpulan:

hati saya hangat, sungguh hangat.

Terus terang, saya menonton drama ini hanya karena tergugah oleh akting Tang Joon Sang di dalam serial pendek “Move to Heaven” (Netflix, akhir Mei 2021) yang dia bintangi bersama Lee Je Hoon.

Saya tidak menyangka Tang Joon Sang yang memerankan Geum Eun Dong yang culun, salah seorang anak buah Kapten Ri Jeong Hyeok dalam “Crash Landing on You” (2019-2020), bisa tampil begitu berbeda sebagai Han Geu Ru, seorang pengidap Sindrom Asperger berusia 20 tahun.

Keterkejutan saya tidak berhenti sampai di situ. Di “Racket Boys”, Tang Joon Sang bertransformasi menjadi karakter yang lain sama sekali, sangat bertolak belakang dengan peran-perannya sebelumnya.

Geum Eun Dong yang polos, Han Geu Ru yang sangat kikuk, tiba-tiba pale in comparison dengan Yoon Hae Kang yang berisik, kepedean, dan sering merasa superior terhadap teman-teman sebayanya.

Menariknya, beberapa kontradiksi dalam karakter Yoon Hae Kang ditampilkan dengan sangat baik oleh Tang Joon Sang.

Berisik, tapi sebenarnya suka merenung.

Terlihat tidak peduli dengan apa yang teman-temannya lakukan, tapi sebenarnya sangat memperhatikan mereka.

Awalnya pura-pura tidak bisa supaya melebur dengan lingkungannya, tapi sebenarnya sangat mahir bermain bulu tangkis.

Dan seterusnya.

Baru berusia 17 tahun dan sudah bereksperimen sedemikian rupa dengan seni peran? Daebak!

Saya akan memberikan kesan singkat dari lima episode pertama yang saya sudah tonton.

Sebenarnya pada akhir episode kedua saya sudah mau drop drama ini. Akting-akting pemainnya terlalu … mentah, terlalu terasa sebagai drama yang diisi oleh aktor-aktor pemula yang belum terasah.

Akting ayah dari Hae Kang, pelatih Yoon Hyeon Jong memperparah kesan “kurang” yang saya tangkap pada dua episode pertama.

Terlalu slapstick, terlalu memaksakan lucu, terlalu … seperti Jim Carrey yang saya kurang sukai. Apalagi karakternya sama sekali tidak menunjukkan kompetensi sebagai seorang ayah dan pelatih bulu tangkis.

Untunglah semua “kekurangan” itu mulai diperbaiki ketika setting berganti dari Kota Seoul ke Desa Haenam yang begitu tenang, damai, dengan sedikit orang, dan penduduk yang baik hati dan polos.

Tang Joon Sang sebagai Yoon Hae Kang langsung bersinar sebagai male lead.

Aktor-aktor pendukung lainnya, para atlet bulu tangkis di sekolah Hae Kang yang bernama Woo Chan, Yong Tae, dan Yoon Dam, pada awalnya tampil tidak meyakinkan.

Akan tetapi, seiring dengan progress setiap episode, chemistry di antara keempatnya terjalin dengan sangat baik. Saya jadi tidak bisa membayangkan keberadaan salah satu dari empat sekawan ini tanpa sisa tiga orang lagi. Akting mereka sangat natural sebagai teman dan kompetitor di dalam klub kecil sekolah mereka.

Entah pada episode ke-2 atau ke-3 para atlet bulu tangkis dari sekolah Hae Kang tinggal di bawah satu atap dengan dua atlet wanita di bawah binaan Pelatih Ra, ibu dari Hae Kang.

Keberadaan Han Se Yoon dan Han Sol menambah ramai rumah yang sudah ditempati oleh orangtua Hae Kang, adik perempuan Hae Kang yang masih kecil (tidak ditunjukkan di poster untuk mempromosikan drama), Hae Kang, Woo Chan, Yong Tae, dan Yoon Dam.

Wih, penuh sekali, ya. Satu rumah ditempati oleh sembilan orang, benar-benar full house.

Ide tinggal bersama-sama di satu tempat sepanjang episode dengan berbagai alasan memang bukan sebuah hal baru bagi drama Korea. Maklum, jumlah setting yang sedikit dapat menghemat biaya produksi, hehe.

Permainan bulu tangkis Hae Kang dan kawan-kawan terlihat sangat meyakinkan, tidak seperti akting sama sekali. Meskipun kamera lebih sering menyorot dari dekat dan berpindah-pindah antar lapangan, serta sangat jarang menyorot hasil pukulan dari jarak jauh, itu tidak mengurangi aura keseriusan dari setiap adegan pertandingan.

Sedikit catatan dari saya tentang episode kelima dimana Han Se Yoon diceritakan mengikuti pertandingan di Jakarta, Indonesia.

Saya merasa terbelah.

Di satu sisi, sebagai penonton drama saya seharusnya bersikap objektif terhadap jalan cerita dan semua elemen yang menyertainya (setting, alur, casting, dan sebagainya).

Di sisi lain, sebagai orang Indonesia saya tidak menerima penggambaran mereka akan Jakarta, atlet, dan penonton pertandingan olahraga di negara kita.

Di episode kelima digambarkan bahwa panitia pertandingan di Jakarta bekerja dengan sangat kacau and the locals were so difficult. Mungkin ada kekeliruan penejemahan dari bahasa Korea ke bahasa Inggris yang saya baca subtitle-nya di Netflix, entahlah.

Akan tetapi, yang membuat hati saya pedih adalah ketika Se Yoon meraih nilai lebih banyak dari Ivana Putri, karakter pemain bulu tangkis dari Indonesia yang bertanding dengannya, seisi stadion akan berteriak “Booo” pada Se Yoon.

Menyoraki, meremehkan, dan dengan sengaja menurunkan moral bertanding dari pemain tamu.

Begitukah yang ditangkap orang Korea, atau setidaknya produser dari drama ini, akan orang Indonesia dan segala kebiasaannya yang berkaitan dengan pertandingan olahraga?

Terlepas dari episode kelima yang mengganjal, alur cerita drama ini masih bisa dinikmati. Apalagi akan ada perkembangan hubungan yang melibatkan percintaan manis khas anak remaja pada episode-episode selanjutnya.

All in all, saya masih tertarik mengikuti drama Korea “Racket Boys”.

Bagaimana dengan kamu?

PS: Review finalnya bisa dibaca di sini.

2 thoughts on “Kesan Pertama Drama Korea: Racket Boys

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s