Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi?

Sejak McDonald’s meluncurkan BTS Meal pada tanggal 9 Juni lalu, dunia maya kita hiruk pikuk oleh berbagai opini yang berseberangan.

Yang mengaku ARMY (sebutan bagi para fans BTS) berlomba-lomba mengunggah foto mereka dengan BTS Meal beserta caption yang menunjukkan kebahagiaan dan kelegaan mereka karena sudah berhasil mendapatkan meal fenomenal tersebut.

Termasuk saya.

Yang mengaku bukan ARMY atau hanya pengamat sosial juga berlomba-lomba menganalisa, mengkritik, melabeli para ARMY yang begitu berdedikasi pada idolanya dengan berbagai sebutan:

mengidap halusinasi, gangguan mental, dan sebagainya.

Cukuplah dua artikel soal ini yang saya baca di media mainstream karena saya langsung tiba pada sebuah kesimpulan.

Sini yang happy, kok situ yang rese?

Seriously.

Seperti rasa benci, rasa cinta pun tak butuh alasan.

Benci ya benci, cinta ya cinta saja.

Coba kamu ditanya, mengapa kamu mencintai pasanganmu yang sekarang. Kamu mungkin menjawab, karena dia baik, perhatian, kaya, pintar, dan seterusnya, dan sebagainya.

Saya mungkin menyanggah: tapi ada banyak sekali pria yang lebih baik/perhatian/kaya/pintar/dan seterusnya di luar sana. Jadi, mengapa cinta kamu hanya untuk dia seorang?

Di situlah logika bahwa cinta tidak perlu alasan bisa diterima. Wong urusannya dengan hati, kok, bukan dengan perhitungan untung-rugi seperti di jurnal akuntansi.

Cinta ya cinta saja.

Saya ogah menaikkan traffic artikel-artikel yang menyindir mulai dari cara paling halus sampai cara paling kasar tentang mengapa ARMY bisa menyukai dan mendukung BTS dengan sepenuh hati.

Begitu saya menyebarkan link dari artikel yang sebenarnya tidak saya sukai, traffic ke situs-situs itu akan naik. Ini berimbas pada naiknya eksposur terhadap iklan yang dipasang, yang pada akhirnya menambah pundi-pundi dari pemilik status.

Ogah bener.

Cara terbaik menghadapi berbagai tudingan adalah dengan mendiamkan saja. Meskipun saya menyukai BTS (lagu-lagunya, dan tidak ambil pusing dengan kehidupan personelnya), saya juga menjaga diri untuk tidak cepat tersulut ketika banyak pihak menyudutkan ARMY dengan siapa saya mengasosiasikan diri.

Perlukah balik memarahi dan menggerakkan massa untuk memboikot situs-situs yang menyudutkan ARMY? Apa bedanya tindakan itu dengan perundungan? Saya teramat yakin values yang BTS junjung sangat jauh dari itu

Biar karya yang berbicara. Apakah situs-situs itu sudah mendapat pengakuan internasional dan memiliki fans berdedikasi seperti ARMY? Kalau tidak, ya buat apa di-waro? Hanya buang-buang waktu, tenaga, dan kuota kita saja.

Ini yang saya herankan dari keberadaan internet dan dunia maya yang tercipta karenanya: manusia jadi begitu mudah terpolarisasi.

Untuk setiap isu di dunia nyata yang dibawa ke dunia maya, dan sebaliknya, apakah harus selalu ada kelompok AKU dan BUKAN-AKU?

Seakan-akan jika kita tidak satu opini dengan satu kelompok (karena kita memiliki opini lain, misalnya), maka itu berarti kita otomatis menjadi musuh dari kelompok yang lain.

‘Kan tidak sesederhana itu, Esmeralda.

Warna abu-abu itu ada karena tidak semua hal bisa dikelompokkan menjadi hitam dan putih. Opini X tidak harus memiliki antitesis Opini Y. Bisa saja ada variasi lain mulai dari A sampai Z, dengan perkecualian X dan Y.

Dunia maya dan warganet akhir-akhir ini tidak bisa menerima hal antara, kotak abu-abu itu, entah karena alasan apa. Semuanya harus dihadapi dengan attitude saya lawan dia, kita lawan mereka. Seakan-akan dengan begitu dunia lebih simple and manageable.

Betapa melelahkan dan betapa kelirunya ekspektasi itu.

Malam ini saya dan suami berdiskusi panjang kali lebar tentang kecenderungan polarisasi itu. Suami saya yang juga menyukai BTS dan memaklumi kegemaran saya akan segala hal yang berbau Korea, sampai pada sebuah kesimpulan yang menohok, tapi jujur adanya.

Polarisasi terbentuk karena manusia semakin enggan berpikir.

Kelompok-kelompok, dengan berbagai alasan, terbentuk karena manusia menggunakan hak eksklusifnya untuk melakukan reasoning. Tidak ada makhluk hidup lain di muka bumi yang bisa melakukan reasoning seperti manusia.

Manusia berpikir, menganalisa, mendeduksi, mengambil kesimpulan, dan pada akhirnya berpendapat. Pendapatnya itulah yang membawanya kepada satu kelompok atau golongan.

Dengan adanya hitam dan putih, pendapat jadi dengan mudah dibedakan menjadi pendapat saya dan BUKAN pendapat saya. Walaupun melibatkan reasoning, membagi diri menjadi kelompok A dan BUKAN kelompok A adalah tindakan yang terlampau sederhana.

Yang rumit dan memerlukan pemikiran lebih lanjut adalah ketika memposisikan diri di antara hitam dan putih itu, di antara kelompok A dan BUKAN kelompok A itu.

Apakah perlu? Tentu saja, sebab satu isu saja bisa melibatkan banyak sudut pandang jika dilihat oleh banyak orang. Misalnya saya menyetujui hanya beberapa aspek dari pendapat A dan beberapa aspek dari pendapat B. Itu tidak serta-merta berarti saya adalah musuh dari pendapat A atau musuh dari pendapat B.

Lagi-lagi, tidak sesederhana itu, Kawan.

Untuk memilih posisi di antara, diperlukan keterampilan berpikir yang lebih, yang sekali lagi melibatkan proses menganalisa, mendeduksi, mengambil kesimpulan, dan pada akhirnya berpendapat.

Manusia jaman now entah enggan atau malas melakukannya karena memang lebih mudah memilih kutub yang berseberangan, daripada berdiri dengan posisi ketiga.

Contohnya saja negara-negara nonblok setelah Perang Dunia ke-2 yang menengahi antara Blok Barat dan Blok Timur. Grup nonblok ini pernah diperhitungkan sebagai suara lain yang eksis di kancah politik, dan tidak sekedar mengekor salah satu blok yang berkuasa.

Jadi, bagi mereka yang menghujat dedikasi ARMY pada BTS dan BTS Meal, atau para ARMY yang membela BTS habis-habisan dan menyerang balik mereka yang tidak bisa (atau tidak mau) mengerti artinya menyukai dan mendukung idola, saya hanya mau bilang satu hal:

“Take the chill pill.”

Dunia tidak selebar perang antarkelompok yang mendukung/menyerang suatu isu. Hari gini trennya adalah berkolaborasi dan bukan berkompetisi. Kok kita masih rela terpolarisasi oleh isu remeh-temeh yang tidak mendorong kita berpikir lebih panjang dan jauh?

Apalagi hanya soal BTS dan BTS Meal ….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s