Review Drama Korea: Law School

Saya belum pernah menemukan ending drama Korea yang berjalan dengan mulus.

Episode terakhir selalu saja ditutup dengan terburu-buru dengan cerita yang disimpulkan dalam beberapa menit atau timeline yang loncat ga kira-kira, mulai dari 1 tahun kemudian sampai sometime in the future.

That’s it.

Pokoknya penonton dipaksa harus menerima bahwa dalam rentang waktu tertentu semua masalah bisa diselesaikan dan semua karakter sedang berjalan menuju penutup yang membahagiakan.

Mulai dari drama hits semacam “Crash Landing on You”, “Descendants of the Sun”, sampai “Start-Up”, ending-nya pakai model begitu.

Satu-satunya drakor yang saya ingat menyelesaikan semua konflik pada masa kini dan penonton diajak untuk mendoakan kebahagiaan pasangan lead-nya di masa depan hanyalah “Weightlifting Fairy Kim Bok Joo”(2016).

Masak cuma satu drama? Ya, entah saya belum menonton cukup banyak drama atau ending model lompatan waktu yang dirasa paling aman oleh seluruh pelaku industri drakor.

Drama Korea “Law School” sangat mengecewakan dari sisi ending. Seusai menonton episode 16 saya cuma membatin:

Hah, udah? Gitu doang?

Dan saya belum pernah merasa tertipu oleh premis sebuah drakor seperti “Law School” menipu saya.

Premis “Law School” bukan tentang Profesor Yang Jong Hoon yang berusaha membuktikan bahwa dia tidak membunuh Profesor Seo Byeong Ju, yeoreobun.

Tidak sama sekali. Premis utama dari drama ini hanya berpusat pada satu karakter:

Assemblyman Ko Hyeong Su, yang diperankan oleh Jung Won Joong, aktor senior berusia 60 tahun yang sudah berkiprah lebih dari 20 tahun lamanya.

Setelah drama berakhir dan saya berpikir-pikir, barulah saya merasa kecele.

Kang Dan, saudara kembar Kang Sol A, kabur ke Amerika Serikat karena menghindari siapa?

Ko Hyeong Su.

Siapa yang menyuruh Seo Byeong Ju untuk meninggalkan korban tabrak lari yang dia lakukan?

Ko Hyeong Su.

Siapa yang menghibahkan tanah kepada Seo Byeong Ju untuk menutup mulut tentang tabrak lari itu?

Ko Hyeong Su.

Siapa yang perlahan tapi pasti mengubah Seo Byeong Ju yang tadinya seorang jaksa yang jujur menjadi seorang profesor hukum yang korup, manipulatif, dan akhirnya mencandu narkoba untuk menekan rasa bersalahnya?

Ko Hyeong Su.

Siapa ayah dari pacar Ye Seul, teman Kang Sol A, yang sangat abusif?

Ko Hyeong Su.

Siapa yang memerintahkan pembunuhan atas Seo Byeong Ju, Yangcrates, Lee Man Ho, dan James anak Lee Man Ho?

Ko Hyeong Su.

Siapa yang memerintahkan rekayasa komentar di internet untuk menjatuhkan lawan politiknya, termasuk Joon Hwi and the gang?

Ko Hyeong Su.

Sudah ada tujuh pertanyaan dan jawaban dari semuanya adalah Ko Hyeong Su. Dia adalah orang jahatnya, otaknya, dan semua kejadian di dalam drama sebenarnya berpusat pada dirinya dan usaha untuk menjebloskannya ke dalam penjara.

Maaf, Profesor Yang, ternyata drama “Law School” ini bukan tentang kamu. Hiks. Namun, saya keki banget sama karakter Ko Hyeong Su, jadi saya lebih memilih memajang foto dirimu.

Keunggulan dari drama ini hanya satu, guys: akting yang tak bercela.

Mulai dari Kim Bum yang terakhir kali saya lihat sebagai keset kaki sahabat karakter yang diperankan oleh Lee Min Ho, pemeran Kang Sol B yang selalu tampil cadas seperti di dalam drama “Where the Stars Land” (2018), sampai pemeran Seo Ji Ho yang tampil beda banget dengan waktu di drama “Bring It On, Ghost” (2016), semuanya tampil pas tak bercela.

Jangan ragukan lagi kualitas ahjumma sejuta drama Lee Jeong Eun yang memerankan Profesor Kim Eun Sook. Aura keibuannya tidak meniadakan kompetensi yang terpancar dari seorang mantan hakim yang kemudian menjadi dosen di School of Law, Hankuk University.

Pada episode pertama waktu dia muncul bersama dengan karakter Profesor Seo Byeong Ju, saya sempat siwer. Eh, wait, ini drama “Law School” atau “Light in Your Eyes” punya Han Ji Min dan Nam Joo Hyuk, ya? Karena mereka berdua tampil sebagai pasangan suami dan istri di dalam drama “Light in Your Eyes” itu. Hehehe.

Yang mengejutkan dari drama ini adalah penampilan aktor Kim Myung Min sebagai Yangcrates dengan suara dalam dan beratnya, sikap songongnya, dan kepintarannya yang sangat jauh di atas rata-rata.

Saya tekun mengikuti “Law School” bukan karena Kim Bum, tapi karena Kim Myung Min, seperti gambar di bawah ini.

Ya ampun, Kim Myung Min. Btw, apa kamu punya rekomendasi dramanya yang lain? He’s my new favorite ahjussi.

Para aktor yang memerankan anggota kelompok belajar berakting dengan cemerlang. Pasti tidak mudah menghafalkan skrip berisi seribu satu kitab dan pasal, but they nailed it. Pembawaan dan interaksi antarmereka sudah seperti mahasiswa sekolah hukum beneran, termasuk pengacara konyol Park Geun Tae.

Sebagai episode ke-16, apakah semua konflik terselesaikan dan semua pertanyaan terjawab?

Ya dan tidak. Ya, terselesaikan dan terjawab sih, tapi caranya tidak asyik dan banyak kekurangan di sana-sini.

Saya bikin daftarnya, ya:

  1. Kang Dan yang sudah pindah ke Amerika Serikat dan berganti nama menjadi Erica Shin benar-benar datang dan membantu Prof. Yang menangkap Ko Hyeong Su. Katanya Erica Shin kena usus buntu dan tidak bisa terbang ke Korea Selatan, sehingga Kang Sol A menyamar menjadi Kang Dan untuk mengelabui Assemblyman Ko. Yang perlu dipertanyakan di sini adalah timeline-nya. Memangnya operasi usus buntu tidak memerlukan pemulihan? Tapi Erica Shin kelihatan baik-baik saja, padahal sudah menempuh penerbangan yang pasti menguras tenaga. Aneh. Selain itu hubungan antarsaudara kembar ini tidak ditunjukkan mendingin, padahal awalnya dikisahkan Kang Dan kabur dari rumah dan keluarganya sangat mencemaskannya. Percakapan antarmereka berdua ga ada kikuk-kikuknya acan. Ga bisa dipercaya.
  2. Keberadaan romance. Huh, apa itu romance di drakor ini? Nol besar sampai akhir. Walaupun Joon Hwi dan Kang Sol A dekat, tapi tidak ada tanda-tanda jadian. Mereka akrab, tapi terlalu berasa seperti teman. Saya sampai setengah berharap Kang Sol B juga menyukai Joon Hwi supaya ada cerita cinta segitiga to spice up things a little bit. Joon Hwi sampai akhir juga tidak mengakui Kang Sol mana yang dia sebenarnya pedulikan. Frustrating.
  3. Keluarga Kang Sol B menjalani terapi. Yang ini ga masuk akal banget. Kamu yang udah nonton maknya Kang Sol B segila dan seobsesif apa sama perkuliahan anaknya, sama cita-cita biar Kang Sol B jadi hakim menggantikan suaminya, Kang Joo Man, yang gagal, pasti ga percaya dia mau ikut terapi keluarga. Bersedia mengerjakan studi kasus, diobservasi, dan dikritik sama psikiater? Wih, hilang dong sense of control-nya? Dan apalah arti hidup emak dari Kang Sol B kalau bukan untuk mengendalikan orang lain? Bagian terapi keluarga ini menurut saya impossible.
  4. Almarhum Prof. Seo Byeong Ju pada akhirnya digambarkan sebagai orang baik yang … salah jalan. I totally disagree. Orang menjadi baik dan jahat karena jalan yang mereka pilih. Omong kosonglah pamannya Joon Hwi ini orang baik kalau dia sudah melakukan begitu banyak kejahatan/kesalahan dan tidak berusaha mengoreksinya. Pohon terong tidak mungkin menghasilkan buah anggur. Orang yang hatinya jahat tidak mungkin menghasilkan perbuatan baik.
  5. Begitu mudahnya Joon Hwi dan Sol A sukses menjadi jaksa dan pengacara dalam hitungan a few years later. Begitulah kalau pake metode lompat waktu untuk mengakhiri drama. Penonton dipaksa menelan bulat-bulat kesimpulan yang dibuat oleh penulis naskah, tanpa sedikit pun terlibat dalam waktu yang “hilang” sebelum kata-kata “the end” itu muncul. Cara mudah yang tidak kreatif. Melihat mereka berdua dan Yangcrates melangkah menjauhi patung dewi keadilan, berjalan seakan-akan menyongsong masa depan dengan monolog internal dari Yangcrates tentang makna hukum, makna keadilan, bla bla bla, sukses membuat saya cringing. Udah? Gitu doang? Yang bener? Rasanya ingin teriak begitu ke depan layar TV.

Kekurangan drama ini cukup saya list lima saja ya karena all in all, saya suka kok drama “Law School”. Konfliknya padat, ilmu hukumnya dapat, persahabatannya mengharukan, relasi baik antara guru dan murid membuat kangen masa-masa sekolah.

Sedikit disclaimer: menonton “Law School” tidak otomatis menjadikanmu mahasiswa jurusan hukum atau pakar hukum, apalagi lokasi negara asal hukumnya berbeda, satu di Korea Selatan sono dan satu lagi di Indonesia sini.

Hati-hati dengan involvement dan emotional engagement yang biasanya ditawarkan oleh drama Korea. Saking ngefansnya, kita bisa merasa seolah-olah kita adalah para karakter di dalam drama yang kompeten dan ahli di bidangnya.

Tentu saja tidak, chingudeul.

Saya kasih 4 dari maksimum 5 bintang untuk drakor “Law School”. Sebenarnya bisa dapat 4.5 bintang sih kalau bukan karena ending-nya yang dipaksakan selesai dan cari aman. #masihkesel

Kamu berminat nonton drama ini, ga? “Law School” sudah ditayangkan lengkap di Netflix.

Baca juga: kesan pertama drama Korea: Law School.

9 thoughts on “Review Drama Korea: Law School

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s