Manfaat dari Ilmu “Sekalian”

Tahu arti kata “sekalian” ‘kan?

Itu lho, sesuatu yang dikerjakan sambil mengerjakan hal lain yang lebih utama. Jadi kegiatan “sekalian” ini bernilai minor dan ga penting-penting amat. Bagus jika dilakukan, tapi tidak mengganggu kalau tidak dilakukan.

Contohnya begini.

Saya mau ke Indoapril, terus adik saya lewat. Saya ingat dia lagi pengen makan cokelat kapan hari. Saya pun bertanya padanya:

“Eh, mau nitip cokelat ga? Sekalian gua ke Indoapril.”

Jelas, ya? Nah sekarang kita masuk ke definisi ilmu “sekalian”.

Pertama-tama, ini bukan definisi yang pakem, ini cuma definisi yang saya buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi.

Ilmu “sekalian” adalah ilmu yang kebetulan didapat akibat mengejar ilmu yang lebih utama, lebih penting, lebih diniatkan, dan pastinya lebih direncanakan.

Seumur hidup sepertinya saya sering banget mendapat ilmu “sekalian” model begini.

Waktu saya kuliah di Tokyo, akhir pekan saya sering kosong dan tanpa kegiatan, apalagi pada tanggal-tanggal tua dan uang beasiswa belum masuk ke rekening. Jalan-jalan ‘kan perlu fulus, hehehe.

Mumpung saya sedang berada di sana, sekalian saja saya kerja part-time mencari JPY (bukan USD of course karena saya sedang tinggal di Jepang). 

Toh sebagai mahasiswa asing saya diperbolehkan oleh kampus bekerja maksimal 20 jam seminggu, tentu saja dengan seijin Sensei profesor yang membimbing penelitian saya.

Akhirnya saya pun kerja sambilan jadi waitress di sebuah restoran Indonesia bernama “Surabaya”. Siapa sangka saya menikah dengan orang asli Surabaya.

Waktu kami berwisata ke Jepang, saya mengajak keluarga mampir sebentar ke restoran itu. Manajer dan rekan-rekan saya tentu saja sudah tidak bekerja lagi di sana.

Mumpung saya sedang penelitian dan kuliah dengan jam yang jauh lebih sedikit dari di ITB, sekalian saja saya belajar bahasa Jepang, di dalam dan di luar kampus.

Ada banyakkkk sekali ibu-ibu rumah tangga yang volunteer mengajar bahasa Jepang ke orang asing. Biasanya mereka pernah merantau ke luar Jepang dan tidak ingin melupakan kemampuan berbahasa Inggris mereka.

Salah satu guru bahasa Jepang saya bahkan menjadi seperti keluarga. Pada akhir pekan saya sering menginap di rumahnya yang hanya ditempati oleh Sensei dan suaminya. Anak-anak mereka sudah lama menetap di New York dan kehadiran saya menghibur mereka.

Setelah itu ada banyak lagi ilmu “sekalian” yang saya peroleh selama perjalanan hidup. 

Waktu anak saya belajar piano, saya pikir sekalian saja saya juga belajar. Tujuannya sih waktu itu cuma satu, supaya bisa membantu proses belajar anak saya. Syukur-syukur bisa mengajar anak orang lain suatu hari nanti.

Eh, tak disangka sekarang saya sudah Grade 4 piano, sedikit lagi sebelum dinyatakan qualified untuk mengajar piano bagi pemula (Grade 5).

Dari kata “sekalian” malah sekarang saya menapaki kemungkinan karir di masa depan. Justru pada usia saya yang tidak lagi muda.

Saya suka sekali menonton drama Korea. Suka banget-banget karena sebagai penulis fiksi saya bisa belajar banyak darinya, sekaligus terhibur oleh parade visual yang memanjakan mata. Benar apa betul? Hehehe.

Nah, apa enaknya terus-menerus menonton sambil melihat subtitle? Kalau bisa, lebih baik mulai belajar bahasa Korea, yekan? Sama seperti saya dulu mulai belajar bahasa Inggris.

Pada kurun waktu yang bersamaan, anak saya yang sulung mulai bergabung dengan akademi taekwondo yang diasuh oleh orang Korea. Waktu saya mendaftarkan si Kakak, mbak admin di situ menawarkan:

“Mau belajar taekwondo juga ga, Mam? Ada kelas buat ibu-ibu, lho.”

Wih, kesempatan bagus nih buat dapat ilmu “sekalian”. Mumpung anak-anak masuk sekolah pagi, sekalian saja saya bergabung dengan kelas ibu-ibu yang diadakan tiga kali seminggu dengan durasi 1 jam masing-masing.

Tak disangka kelas taekwondo untuk ibu-ibu sama seriusnya dengan untuk anak-anak.

Kami tetap harus menjalani level demi level, harus ujian, harus memenuhi semua persyaratan untuk berganti sabuk, meskipun badan tidak selentur dulu dan kalau menendang tidak bisa tinggi-tinggi amat.

Sayang sekali pandemi merebak dan kelas buat ibu-ibu ditutup, soalnya ibu-ibu sibuk menemani anak-anaknya belajar di rumah.

Kalau, seandainya, seumpama saya masih melanjutkan, mungkin sekarang saya sudah memegang sabuk hitam. Sedih ….

Sebagai kesimpulan, belajar bahasa Korea dipicu oleh keinginan untuk mengerti drama Korea dan bisa bercakap-cakap dengan guru dan senior di akademi taekwondo.

Gara-gara suka, gara-gara butuh segala sesuatu yang kokoriyaan, sekalian saja saya belajar bahasanya dan di tempat yang serius.

Mulai bulan Februari lalu saya mengikuti kelas di King Sejong Institute dan saya baru menyelesaikan ujian akhirnya minggu lalu.

Hati masih nelangsa nih merindukan rutinitas belajar dua kali seminggu. Hari Rabu dan Jumat siang saya akan kosong sampai bulan Agustus ketika semester baru dimulai. Semoga saja kelasnya masih akan dilangsungkan secara online.

Karena menggemari drama dan kebudayaan Korea, sekalian saja saya ikut mendirikan Drakor Class bersama 20 orang teman dari komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Mulai besok kami akan rutin siaran di Johayo Show 96.3 RPK FM setiap Sabtu pukul 14.00. Dengerin, ya!

Mumpung beraktivitas dan berelasi di KLIP, sekalian saja saya mencoba menjadi host untuk acara Ruang Berbagi KLIP, dan di situlah saya mendarat malam ini.

Waktu Erna, ketua kelas KLIP, menanyakan kesediaan saya menjadi host untuk acara Ruang Berbagi, terus terang saya kaget. Soalnya saya tidak ingat mengisi kolom peminatan itu.

Akan tetapi, mari sambar setiap penawaran.

Ambil setiap kesempatan.

Dan cari ilmu dari semua kebetulan dan kondisi “sekalian”.

Mumpung jadi host untuk acara Ruang Berbagi tadi, sekalian saja saya jadi belajar banyak sekali tentang tugas editor dari Mbak Wika, narasumber acara tadi.

Acara yang berjudul “101 Tugas Editor, A-Z, Z-A, dan Semua yang di Antaranya” menghadirkan Mbak Satwika C. H. dan berlangsung selama 1 jam 10 menit.

Mbak Wika, sapaan akrabnya, adalah mantan editor di Elex Media Komputindo, sebuah perusahaan yang berada di bawah kelompok penerbitan Gramedia.

Di dalam Ruang Berbagi tadi, Mbak Wika menceritakan dapurnya seorang editor, jenis-jenis naskah yang perlu editing, sampai memberi contoh mengapa seorang penulis memerlukan editor.

Bukan cuma ngedit doank.

Itu yang Mbak Wika tekankan berulang kali. Editor itu bukan cuma perbaiki typo, ya, Kawan-kawan, pekerjaannya jauh lebih menyeluruh dari itu.

Dia memperbaiki diksi, mengatur logika dan sistematika bercerita, dan sebenarnya pekerjaannya tidak dimulai ketika dia duduk dan mengedit.

Pekerjaan seorang editor dimulai jauh sebelum itu, yaitu ketika dia berburu naskah.

Kamu mungkin berpikir, berburu naskah cincaylah. Banyak kok penulis yang berebut memasukkan naskahnya, yang berhasrat ingin menerbitkan karyanya.

Berburu naskah itu tidak semudah pesan Gopud, Guys. Pencarian naskah dimulai dari begini:

  1. Kelompok buku putih (yang hanya kata-kata) dan komik.
  2. Kelompok buku putih dibagi lagi menjadi fiksi dan nonfiksi.
  3. Kelompok nonfiksi (yang di-handle Mbak Wika) dibagi lagi by genre. Yang Mbak Wika tangani adalah buku-buku manajemen, bisnis, self-help, dan motivasi.
  4. Sekarang ke persoalan lokasi. Lokasi naskah yang lokal atau terjemahan dari bahasa lain.

Ngebayangin proses berburu naskahnya saja sudah bikin saya mumet. Kalau di matematika, itu perhitungannya udah dua pangkat berapa, coba?

Setelah berburu naskah, Mbak Wika melanjutkan dengan mengkurasi naskah. Naskah mana nih yang mau ditindaklanjuti sampai “turun” ke proses cetak dan terbit?

Baru setelah itu bagian mengeditnya yang terdiri dari: membaca, mengedit, proofreading, yang sering kali melibatkan lagi penulisnya dan menambah waktu editing.

Apakah cukup sekali melakukan ketiga langkah tersebut?

Tentu saja tidak, Esmeralda, minimal dua kali untuk naskah dengan tingkat kesulitan ringan. Sayangnya selama 10 tahun berkarir Mbak Wika lebih sering menemui naskah dengan tingkat kesulitan sedang ke berat, heuheu.

Menjadi editor di perusahaan penerbitan 10 tahun lalu saja sudah membuat Mbak Wika wajib involved sampai memastikan buku yang dicetak semuanya habis terjual.

Mbak Wika ikut turun tangan dalam pembuatan layout dan kover buku, mengatur strategi marketing, mendorong penjualan, dsb, dst, yang kalau di-breakdown lagi ada kali 101 pekerjaan yang dilakukan oleh seorang editor.

Apalagi di era media sosial ini, kata Mbak Wika, dimana editor harus jauh lebih terlibat untuk memastikan buku seorang penulis itu laku.

Kata saya, pantesan kalau jam 7 atau 8 malam notifikasi IG Live dari akun-akun penerbit pada bunyi. Muncullah editor dengan penulis dan buku yang mereka bantu hadirkan ke pasar, mencoba membangkitkan minat beli baca khalayak.

Pekerjaan editor jaman now sepertinya 24/7, ya ….

Dengan begitu banyaknya tugas editor, apalagi editor yang bekerja di penerbitan bekerja lebih berat daripada editor freelance, mengapa Mbak Wika masih menekuni bidang ini?

Karena passion dan motivasi internal, kata Mbak Wika.

Beliau meyakini bahwa kata-kata yang bermakna dan yang baik perlu disampaikan karena sifatnya adalah self-fulfilling prophecy.

Mbak Wika ingin membantu orang-orang yang dia yakini ide dan naskahnya baik untuk bisa menyampaikan pesan mereka.

Jleb banget, nendang banget bagian ini buat saya. Mengingatkan saya lagi tentang kebermanfaatan kita bagi sesama manusia selama kita masih hidup, selama kita masih punya waktu.

Ah, ada banyak sekali ilmu yang saya dapat malam hari ini sekalian ngemsi, tentang profesi editor, tugas-tugasnya, dan terutama terkait hubungan timbal-baliknya dengan penulis.

Saya juga sangat senang karena time keeping berjalan baik. Menjaga durasi dan alur supaya tidak melebar ke mana-mana adalah tantangan tersendiri bagi saya yang gemar mengobrol dan menggali informasi dari orang lain (bukan cuma kepo, lho, hahaha).

Untunglah tadi semua materi selesai dalam tepat satu jam. Saya memang harus belajar banyak untuk menjadi host.

Terima kasih KLIP dan Mbak Wika yang sudah memberikan saya kesempatan belajar.

Kalau kamu, ilmu “sekalian” apa yang kamu dapat baru-baru ini? Share, yuk. 🙂

One thought on “Manfaat dari Ilmu “Sekalian”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s