Review Drama Korea: Vincenzo

Kalau saja cerita drama Korea “Vincenzo” berakhir di Vincenzo Cassano (Song Joong Ki) dan kawanannya berhasil menghentikan kejahatan terorganisir yang dilakukan oleh Perusahaan Babel, mungkin saya tidak akan sekecewa ini.

Akan tetapi, ending-nya semakin memperkuat kecurigaan saya bahwa drakor ini bertujuan mengedepankan semua kejahatan yang dapat muncul di hati manusia yang berdosa.

Pengabaian.

Pembunuhan.

Penyiksaan.

Penipuan.

Mementingkan diri sendiri.

Keegoisan.

Ketamakan.

Penyimpangan orientasi seksual.

Pencurian.

Kebohongan.

Pencemaran nama baik.

Kekejaman.

Kesadisan.

Fitnah.

Mempermalukan orang lain.

Kebejatan.

Kebengisan.

Kebrutalan.

anda the list goes on …

Pada akhir episode ke-20 saya hanya bisa menghela napas dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: sudah sebegitu bobrokkah manusia sehingga dunia yang kita tinggali sepertinya tidak berpengharapan?

Karakter Vincenzo Cassano yang sedari awal selalu bertindak di daerah abu-abu, selalu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan yang baik menurut pandangannya sendiri, terbukti sampai akhir tidak memiliki moral compass yang benar.

Saya bahkan ragu apakah ia juga memiliki hati nurani.

Kalau sudah begini, apa manfaat yang bisa diambil dari menonton drama Korea “Vincenzo”?

Apakah ketampanan dan kemampuan akting Song Joong Ki yang paripurna tak bercela tiada tanding tiada banding semakin matang itu cukup untuk saya mengatakan saya sangat menikmati menonton drama ini?

TERNYATA TIDAK.

Vincenzo adalah seorang consigliere, seorang pengacara untuk keluarga mafia di Italia. Dia adalah seorang Korea yang terlahir dengan nama Park Joo Hyung dan diadopsi oleh pasangan dari Italia ketika dia berusia 5 tahun.

Di manakah orang tua kandung Vincenzo? Ibunya meninggalkannya di panti asuhan, sedangkan catatan tentang ayahnya tidak pernah ditemukan.

Orangtua angkat Vincenzo dibunuh tak lama setelah ia dibawa ke Italia. Setelah itu ia diangkat anak oleh keluarga Cassano, keluarga mafia di Italia.

Sebagai consigliere, Vincenzo mewakili bosnya untuk melakukan berbagai urusan, termasuk mengancam dan membunuh. Pada episode pertama ditunjukkan bagaimana dia tidak ragu membakar seluruh kebun anggur (!) karena orang yang dia datangi tidak mau tunduk pada bosnya.

Kematian ayah angkatnya yang merupakan kepala keluarga mafia Cassano menentukan nasib Vincenzo selanjutnya. Vincenzo tidak cocok dengan Paolo, anak kandung si ayah angkat dan pemimpin baru Keluarga Cassano.

Dalam usahanya membela diri Vincenzo membunuh banyak orang yang menjadi pengikut bos baru Keluarga Cassano. Saat membunuh wajahnya terlihat begitu keji, tidak sedikit pun terlihat raut penyesalan.

Vincenzo kemudian kabur ke Korea Selatan. Dia berniat pensiun dini dengan cara menguasai tumpukan emas batangan yang ditinggal mati oleh mantan kliennya, seorang pengusaha dari Cina.

Bagaimana bisa Vincenzo berurusan dengan emas?

Jawabannya ternyata akibat sebuah kebetulan. Suatu hari di Milan, Vincenzo menyelamatkan seorang Korea bernama Cho. Nah, Cho inilah yang memperkenalkan Vincenzo pada si pengusaha dari Cina yang hendak menyembunyikan harta berupa emas batangan di suatu tempat di Korea.

Vincenzo menyuruh Manager Cho membeli Geumga Plaza. Emas batangan sebanyak 1.5 ton disimpan di basement plaza itu dan hanya bisa dibuka dengan pindai retina mata si mendiang pengusaha. Manager Cho “kebetulan” memiliki data pindainya.

Tidak ada yang kebetulan di drama Korea.

Pertemuan dan perkenalan antara Vincenzo dan Manager Cho sudah diatur sebelumnya. Apalagi hubungan bisnis antara Vincenzo dan si pengusaha. Semuanya sudah diatur, semuanya sudah direkayasa, tidak ada yang terjadi secara kebetulan.

Si pengusaha menguasai Guillotine File, sebuah USB yang berisi data pengusaha, politisi, dan orang-orang kotor di Korea Selatan beserta daftar kejahatan mereka.

File tersebut juga disembunyikan bersama emas di basement Geumga Plaza. Tujuan Manager Cho adalah menemukan file tersebut karena dia sebenarnya adalah … agen dari International Security Intelligence Service yang sedang menyamar.

Tuh ‘kan, tidak ada yang kebetulan di drama Korea.

“Kebetulan” lain yang kurang halus penggarapannya adalah bagaimana Vincenzo dapat berkenalan dengan Hong Yoo Chan (Yoo Jae Myung), pengacara dari Kantor Hukum Jipuragi yang berlokasi di Geumga Plaza, yang juga menangani kasus yang menjebloskan ibu kandung Vincenzo ke penjara.

Ketika Vincenzo tiba di Seoul, Geumga Plaza sedang menghadapi kasus sengketa pelik dengan Perusahaan Babel yang dipimpin oleh Jang Han Seo (Kwak Dong Yeon).

Babel hendak membeli dan merobohkan Geumga Plaza dan mendirikan gedung mewah Babel Tower di atasnya. Wih, nama gedungnya Babel Tower, penggambaran yang tepat untuk ambisi dan keserakahan manusia.

Para tenant di Geumga Plaza yang sudah lama tinggal dan membuka usaha di situ tidak mau pindah/dipindahkan. Manager Cho sebagai pemilik Geumga Plaza di atas kertas juga sudah berjanji tidak akan menjual plaza itu ke Babel.

Apa daya, seal stamp (dojang) milik Manager Cho dapat dirampas oleh preman sewaan Babel. Manager Cho terpaksa menandatangani perjanjian jual-beli di bawah tekanan dan ancaman keluarganya akan dibunuh.

Dojang yang berfungsi seperti tanda tangan di negara lain

Vincenzo tentu tidak tinggal diam. Fokus utamanya adalah menyelamatkan emas yang dia pikir adalah miliknya, jadi dia sangat menjaga supaya Geumga Plaza tidak berpindah tangan.

Saya sungguh heran, bagaimana bisa mencuri dari orang yang sudah meninggal bisa tidak dianggap sebagai pencurian?

Bagaimana bisa ada logika bahwa barang yang ditemukan menjadi milik dari orang yang menemukan, tanpa memedulikan hak pemilik aslinya dan/atau hak ahli waris dari si pemilik asli?

Kematian Pengacara Hong menyadarkan Vincenzo bahwa Perusahaan Babel ini tidak main-main. Mereka bermain kotor, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Geumga Plaza.

Praktek bisnis mereka pun dilakukan dengan tidak etis. Banyak pegawai Babel yang meninggal akibat lingkungan kerja yang tidak aman. Babel tak ragu menyuap hakim, jaksa, pokoknya siapa saja yang menghalangi mereka.

Woosang Law Firm adalah kaki tangan Perusahaan Babel. Pengacara Han Seung Hyuk, pengacara Choi Myung Hee, dan pengacara Hong Cha Young melakukan semua pekerjaan kotor yang diperintahkan oleh Chairman Babel, Jang Han Seo.

Jang Han Seo – Choi Myung Hee – Han Seung Hyuk

Satu “kebetulan” lagi adalah Hong Cha Young dari Woosang Law Firm adalah anak perempuan dari Hong Yoo Chan dari Kantor Hukum Jipuragi. Jadi, ayah dan anak ceritanya berada di pihak yang berseberangan, yang sedihnya tidak dapat berbaikan sampai kematian Hong Yoo Chan oleh orang suruhan Choi Myung Hee.

Mungkin kamu bertanya-tanya, di mana posisi Ok Taecyeon di dalam drama ini? Apakah sebagai good guy atau villain?

Vincenzo – Hong Cha Young – Jang Han Seok

Kalau kamu melihat poster di atas, mungkin kamu kecele seperti saya. Penampilan Jang Jun Woo/Jang Han Seok sebagai anak intern yang culun, murah senyum, pecicilan, dan sangat akrab dengan Hong Cha Young mungkin membuat kamu mengira mereka bertiga adalah good guys yang terlibat cinta segitiga.

Ya, tidak salah juga sih. Jun Woo memang menaruh hati pada Cha Young, sedangkan Cha Young menaruh hati pada Vincenzo. Untunglah Vincenzo tidak menaruh hati pada Jun Woo untuk melengkapi siklus cinta segitiga ini.

Mengingat episode ke berapa tuh dimana Vincenzo menjadi umpan untuk mendapatkan informasi dari seorang anak pemilik bank yang menyukai sesama jenis, saya sempat khawatir tone ini akan dibahas habis-habisan dalam drakor “Vincenzo”, seperti halnya dalam sejuta drakor lain yang diproduksi oleh Netflix.

Sebuah tren yang sungguh mengkhawatirkan.

Ok Taecyeon berperan sebagai seorang villain yang tak berperikemanusiaan, Saudara-saudara. Dia seorang psikopat. Dia sadis dan tidak bermoral. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.

Yang terlintas di benak saya ketika Jang Jun Woo mengakui identitas aslinya sebagai Jang Han Seok adalah: betapa mengerikannya dunia ini jika orang-orang seperti Jang Han Seok benar-benar ada.

Dia membunuh tanpa pandang bulu, memukuli orang sampai mati tanpa berpikir dua kali. Sebagaimanapun hebatnya akting Ok Taecyeon, saya penasaran apakah jiwanya tidak ikut terguncang ketika harus memerankan karakter yang sesadis itu.

Vincenzo juga tidak kalah jahat. Perkembangan karakternya sepanjang 20 episode menunjukkan dengan jelas campur tangan Netflix dan pendiktean rasa Hollywood di dalam drama Korea yang satu ini.

Penembakan massal dan pembunuhan dengan begitu mudahnya?

CHECKED.

Persis seperti di film-film Hollywood dimana semua orang bisa dan harus mati dalam sekejap. Tak peduli cara menyingkirkan mayat-mayat yang terus menumpuk, tak peduli siapa keluarga yang ditinggalkan dan berduka.

Vincenzo boleh saja memakai topeng dirinya adalah seorang pria bercitarasa tinggi yang menyukai musik klasik, dan memiliki kecerdasan super yang mengibaratkan pertempuran melawan Babel sebagai permainan catur.

Namun, mata tidak bisa berbohong. Di balik topeng kebaikan hatinya dan tekadnya yang kuat untuk membalas perbuatan Babel terlihat motifnya yang sebenarnya.

Nafsu untuk membunuh. Jiwa yang haus darah. Mengerikan, ini sungguh mengerikan.

Song Joong Ki dan Ok Taecyeon sukses berat menampilkan iblis berwajah malaikat. Akan tetapi, jenis buah harus sinkron dengan jenis pohonnya. Tidak ada pohon tomat yang menghasilkan anggur. Sama halnya dengan tidak ada orang jahat yang bisa menghasilkan perbuatan baik.

Sampai akhir episode ke-20 saya melihat karakter Vincenzo sangat gila dan sangat jahat. Caranya membunuh Choi Myung Hee dengan membakarnya hidup-hidup, caranya membunuh Jang Han Seok dengan perlahan-lahan mengebor dadanya dan membiarkan mayatnya dimakan burung bangkai, lebih dari cukup untuk membuat saya merasa ngeri.

Drama apa ini? Cerita macam apa ini? Plot macam apa ini? Ending macam apa ini?

Saya menyesal sudah mengikuti drakor “Vincenzo” sejak awal. Saya sempat berharap Vincenzo akan menegakkan hukum saat berhadapan dengan Babel, walaupun dia bertindak sebagai vigilante.

Kenyataannya, Vincenzo adalah orang jahat yang berkedok baik. Ketiadaan hati nurani dan kompas moral membuatnya rentan melakukan perbuatan jahat.

Karakternya hanya akan menjadi baik selama dia memandang perbuatan baik itu mendatangkan keuntungan, dari segi materi ataupun nonmateri. Jika dia dirugikan, maka dia tidak akan segan berubah 180 derajat, dari baik menjadi jahat.

Begitu saja, dan dalam sekejap mata.

Yang membuat saya meringis di akhir drama adalah kenyataan bahwa Vincenzo, Cha Young, Manager Nam, si hacker, dan kedua biksu dari Kuil Nanyak mengambil semua emas itu untuk diri mereka sendiri.

Para tenant Geumga Plaza adalah keluarga yang bersatu menghadapi segala tantangan?

Babel yang rakus dan preman-premannya akan mereka lawan tanpa ragu?

Vincenzo dan usahanya membalas dendam pada Jang Han Seok yang telah membunuh ibu kandungnya akan mereka dukung tanpa pamrih?

Semua itu tidak ada artinya, Bro and Sis, kalau Vincenzo and his gang lupa membagikan hal paling penting yang membuat Geumga Plaza sedemikian berharga.

Emas. Seberat 1.5 ton. Senilai 965 juta USD.

Tidak ada seupil pun dari emas itu yang dibagikan kepada orang-orang di Geumga Plaza selain Cha Young, Manager Nam, si hacker/guru piano, dan dua orang biksu. Diingat pun naga-naganya tidak.

Jadi, apa artinya foto yang menunjukkan kekompakan penghuni Geumga Plaza semacam foto ini?

Para tenant Geumga Plaza

NADA. NIHIL. NOL BESAR. TIDAK ADA ARTINYA SAMA SEKALI.

Foto di atas tidak berarti apa-apa begitu Vincenzo melihat emas, uang, dan harta. Yang dia pikirkan hanyalah keuntungan diri dan kawanan terdekatnya. Yah, apa yang mau diharapkan dari karakter sekorup itu? Donasi dan pengakuan dosa? Mustahil.

Bagaimana dengan cerita cinta di dalam drakor “Vincenzo”? Adakah?

Kalau dua kali kisseu, yang pertama karena kondisi terdesak dan disorot orang lain dan yang kedua tanpa komitmen atau kejelasan hubungan macam apa yang dijalani oleh Vincenzo dan Cha Young, dianggap sebagai cerita cinta, bagaimana pula kita sebut romansa membara ala Romeo dan Juliet?

Semoga Song Joong Ki Oppa memilih proyek berikutnya yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih bermakna bagi penonton sekritis saya.

Baca juga: kesan pertama drama Korea “Vincenzo” di blog ini.

12 thoughts on “Review Drama Korea: Vincenzo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s