Kesan Pertama Drama Korea: Law School

Drama Korea “Law School” baru saja menyelesaikan episode ke-13 dari total 16 episode. Tulisan kesan pertama ini mungkin sudah sangat terlambat, tapi yah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Drama Korea “Law School” diproduksi oleh stasiun televisi JTBC dan ditayangkan juga di platform Netflix. Drama yang mulai ditayangkan pada pertengahan bulan April lalu langsung dimulai dengan konflik utama.

Seorang mantan jaksa yang sekarang berprofesi sebagai profesor di Hankuk University School of Law, Seo Byun Ju, ditemukan tewas terbunuh.

Di antara para dosen, mahasiswa, dan orang-orang lain yang berada di sekitar korban pada hari itu, siapakah yang menjadi pembunuh sebenarnya, dan mengapa?

Sejak kasus pembunuhan itu ditayangkan di layar, saya langsung menangkap inti dari drama Korea “Law School”.

Untuk semua hal di dunia ini, cukup temukan dua hal saja, motif dan barang bukti.

Entah itu perbuatan baik ataupun perbuatan jahat di muka bumi pasti memiliki kedua hal ini.

Motif, mengapa ia dilakukan.

Barang bukti, apa buktinya bahwa ia telah dilakukan.

Misalnya, saya menerima hadiah cincin dari suami saya.

Mengapa ia dilakukan, apa yang menjadi motifnya? Misalnya (eh pastinya ya) jawabannya adalah cinta.

Apa buktinya kalau ia mencintai saya? Barang buktinya ya cincin tadi. Hadiah berupa barang adalah salah satu bukti dari perasaan cinta selain pengakuan cinta, tindakan, perlindungan, dan seterusnya, dan lain sebagainya.

Profesor Seo Byung Ju (Ahn Nae Sang) ditemukan meninggal dengan kandungan obat terlarang meth di dalam darahnya. Pada hari itu ada beberapa orang yang menemuinya:

  1. Profesor Yang Jong Hoon (Kim Myung Min): sesama mantan jaksa yang merupakan junior dari almarhum Prof. Seo, mengajar mata kuliah criminal law (hukum pidana), dan dijuluki sebagai Yangcrates.
  2. Profesor Kim Eun Sook (Lee Jung Eun): mantan hakim yang mengajar mata kuliah civil law (hukum perdata), teman baik Yang Jong Hoon.
  3. Han Joon Hwi (Kim Bum): mahasiswa tingkat satu, super cerdas, menyembunyikan fakta bahwa ia adalah keponakan kandung dari Prof. Seo.
  4. Seo Ji Ho (Lee David): teman sekamar Joon Hwi yang mengkonfrontasi Prof. Seo sebagai orang yang membocorkan info kasus korupsi yang diduga dilakukan oleh mendiang ayahnya. Penghakiman publik dan media massa membuat sang ayah bunuh diri dengan cara membakar tubuhnya, meskipun kebenaran kasusnya belum terungkap. Ji Ho yang trauma masuk ke Hankuk University School of Law untuk membalas dendam.
  5. Kang Sol B (Lee Soo Kyung): mahasiswa tingkat satu yang memplagiat paper karya Prof. Seo waktu masih duduk di bangku SMA atas suruhan ibunya. Sebelum meninggal dunia, Prof. Seo bertekad Sol B dihukum sesuai peraturan yang berlaku.
  6. Kang Joo Man (Oh Man Seok): ayah kandung Sol B yang menjabat sebagai wakil dekan di School of Law. Ibu Sol B memilih menikahinya dibandingkan menikahi Prof. Seo. Akan tetapi, sang ibu tidak pernah berhenti membanding-bandingkan kedua pria ini begitu Joo Man tidak berhasil menjadi hakim, padahal seluruh anggota keluarganya adalah hakim. Ibu Sol B membebani anaknya dengan cita-cita menjadi hakim. Sol B berusaha menjauhi ibunya dengan tinggal di asrama dan sekamar dengan Kang Sol A. Joo Man menemui Prof. Seo untuk memohon supaya plagiasi oleh Kang Sol B tidak diproses secara hukum.
  7. Jeon Ye Seul (Go Yoon Jung): mahasiswa tingkat pertama yang berperan sebagai petugas pengadilan di simulasi peradilan yang sedang berlangsung. Ia yang menemukan Prof. Seo meninggal dunia di ruang kerjanya. Ia bergabung dalam kelompok belajar yang sama dengan Han Joon Hwi dan Seo Ji Ho.
  8. Lee Man Ho (Jo Jae Ryong): mantan narapidana yang dipekerjakan oleh Prof. Seo sebagai supirnya. Di episode-episode berikutnya akan terungkap bahwa Prof. Seo menarik Lee Man Ho supaya selalu berada di dekatnya untuk menutupi kasus tabrak lari yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun.

Para mahasiswa yang waktu itu sedang melakukan simulasi peradilan di dekat ruang kerja Prof. Seo adalah:

  1. Kang Sol A (Ryu Hye Young): satu dari dua Kang Sol di angkatan mereka. Memiliki saudara kembar bernama Kang Dan yang telah lebih dulu belajar di Hankuk University dan kemudian melarikan diri ke Amerika Serikat. Sewaktu masih duduk di bangku SMA ia pernah ditolong oleh Jaksa Yang Jong Hoon supaya tidak masuk ke penjara. Kang Sol A ditangkap karena telah membela Kang Dan dari perundung dan penyiksanya.
  2. Min Bok Gi (Lee Kang Ji): satu kelompok belajar dengan Kang Sol A, Kang Sol B, Joon Hwi, dan lain-lain.
  3. Jo Ye Beom (Kim Min Seok): memiliki kelompok belajar yang berbeda, tetapi sangat akrab dengan Bok Gi dan selalu mengikuti Bok Gi ke mana pun ia pergi.
Kelompok Belajar Idaman Hankuk University School of Law

Dari sekian banyak orang yang menemui Prof. Seo pada hari itu dan memiliki potensi sebagai tersangka, mengapa polisi hanya mengerucutkan penyelidikan pada Prof. Yang?

Ada delapan orang saksi dan ada kemungkinan delapan orang tersangka, tapi sedari awal polisi hanya memusatkan perhatian pada Prof. Yang.

Di mana dia berada pada perkiraaan waktu kejadian kematian Prof. Seo?

Apa alibi Prof. Yang? Siapa yang bisa membuktikan alibi tersebut?

Pada barang bukti yang ditemukan di ruang kerja Prof. Seo, adakah bukti sidik jari atau helai rambut atau apapun milik Prof. Yang?

BIAS.

Hanya itulah alasan mengapa polisi sangat berfokus pada mendapatkan pengakuan bersalah dari Prof. Yang dan dengan sengaja mengabaikan kekurangan barang bukti.

Polisi sedari awal mengira bahwa mereka sudah memegang motif dari pembunuhan yang dilakukan oleh Prof. Yang (kalaupun benar dia yang melakukannya).

Polisi dengan sengaja mengabaikan barang bukti yang tidak memadai, atau bahkan tidak ada, sehingga menimbulkan reasonable doubt, keraguan beralasan.

Memangnya apa yang diduga menjadi motif dari Prof. Yang?

Dugaan lho ya, semua masih dugaan, karena pengadilan di Korea Selatan sama seperti di Amerika Serikat dan di Indonesia yang mengedepankan asas praduga tak bersalah selama belum ada keputusan pengadilan oleh hakim.

Walaupun demikian, kita hidup di jaman internet dan anonimitas, dimana semua orang bebas berkomentar seenak perut meskipun tidak memiliki kapasitas dan berita bohong yang diulang terus-menerus lama kelamaan akan diterima sebagai kebenaran.

Kasus Prof. Yang yang diduga membunuh Prof. Seo di-blow up habis-habisan oleh media. Perselisihan mereka di masa lalu dianggap sebagai motif yang cukup untuk melakukan pembunuhan.

By the way, memangnya apa yang terjadi di antara Prof. Seo dan Prof. Yang? Bukankah mereka pernah sama-sama bekerja sebagai jaksa?

Orang boleh saja berprofesi sama, tapi selama values, nilai-nilai hidup yang dipegang berbeda pasti mereka akan berselisih dan berpisah jalan.

Prof. Yang sangat menentang donasi moot court untuk simulasi peradilan yang diberikan oleh Prof. Seo ke Hankuk University School of Law.

Apa pasal? Uang untuk membangun moot court itu adalah hasil penjualan sebidang tanah bernilai mahal yang dihibahkan oleh Assemblyman Ko kepada Prof. Seo.

Wah, murah hati sekali, ya. Lagi-lagi, apa yang menjadi motif dari perbuatan “baik” Assemblyman Ko itu sampai-sampai meninggalkan barang bukti pemberian sebidang tanah?

Kata Assemblyman Ko, ia hanya memberi hadiah bagi sahabatnya. Kata Prof. Yang, Assemblyman Ko berusaha menarik Prof. Seo yang berprofesi sebagai jaksa berpengaruh ke lingkaran dalamnya untuk mendukung karirnya sebagai politisi.

Prof. Yang mendefinisikan tindakan Assemblyman Ko sebagai penyuapan, tapi penafsiran hukum tidak mendukung argumennya itu. Akhirnya Prof. Seo tidak dihukum dan Prof. Yang Jong Hoon yang terlanjur kecewa kemudian meninggalkan kejaksaan.

Bagaimana kelanjutan kasus ini? Apakah benar Prof. Yang benar memiliki motif yang cukup kuat untuk membunuh Prof. Seo?

Kesan pertama saya akan drama ini adalah lagi-lagi drama Korea menunjukkan keunggulannya dalam menampilkan sebuah profesi. Penulis skrip drama Korea juga sangat memperhatikan detail keseharian dari profesi itu.

Dokter bukan sekedar orang yang memakai jas putih dan membawa stetoskop ke mana-mana.

Pengacara bukan sekedar orang bersetelan rapi, necis, dan datang dengan mobil mewah ke pengadilan (memangnya Vincenzo? Haishh …).

Mahasiswa hukum bukan sekedar orang yang hanya belajar, tapi juga menghadapi kasus-kasus yang akan melatih nalar mereka sebelum menjadi profesional di bidang hukum suatu hari nanti. Belajar itu tidak hanya di sekolah, tapi juga dari pengalaman hidup.

Sedari episode pertama saya sangat antusias mengikuti drama ini, apalagi setelah beberapa episode saya menyadari premis utama dari drama Korea “Law School”.

Usaha Prof. Yang Jong Hoon membuktikan bahwa dia bukan pembunuh Prof. Seo Byung Ju.

Oleh karenanya saya memajang foto Yangcrates di awal artikel ini.

Masih ada tiga episode sebelum drama seru nan serius “Law School” berakhir. Nonton yuk, di Netflix setiap Rabu dan Kamis pukul 21.00 WIB.

Para pemeran drakor “Law School”

Psst, review lengkapnya ada di sini, Kawan.

2 thoughts on “Kesan Pertama Drama Korea: Law School

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s