Grow, Baby, Grow

Hey, random people. Good morning, selamat pagi. Apa kabar semuanya?

Pagi ini saya Rijo hendak menyapa kamu sebelum memulai hari.

Libur Lebaran baru dilewati. Sebentar lagi anak-anak akan menjalani libur panjang dalam rangka kenaikan kelas. Wah tak terasa ya satu tahun lagi sudah hampir berlalu, satu tahun lagi di tingkat pendidikan.

Bagaimana sekolah anak-anak? Apakah masih penuh tantangan seperti di awal pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)? Semoga tidak, ya. Jika ya, maka ingatlah, this too shall pass. Semua pasti berlalu. Apa yang sulit hari ini, bisa jadi sepele besok, tidak penting lusa, tidak lagi diingat minggu depan.

Jangan patah semangat jika menghadapi masalah. Ambil napas, pikirkan baik-baik, lakukan apa yang kamu bisa.

Bicara tentang anak-anak, bicara tentang sekolah mereka, mau ga mau kita bicara juga tentang pertumbuhan mereka. Their growth over the year. Biasanya pada akhir tahun ajaran ketika menerima rapot anak, orangtua sering otomatis berpikir: “Anakku sudah besar.”

Yang pastinya lebih besar dari tahun lalu Tidak hanya soal fisik, tapi juga dari segi intelektual, spiritual, emosional, dan karakter, kita mengharapkan anak-anak kita tumbuh. Tidak lucu jika anak-anak tetap menjadi anak-anak selama berpuluh-puluh tahun. Anak-anak harus melalui proses menjadi remaja, pemuda, sampai akhirnya menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

Hidup dan proses biologis mempersiapkan mereka untuk itu. Tugas kita sebagai orangtua adalah mendampingi, mengarahkan mereka ke jalan yang benar, dan menjadi teman berdiskusi.

Melihat anak-anak kita hari ini pasti diliputi dengan rasa tidak percaya. “Kayaknya baru kemarin dia lahir deh. Baru kemarin ditimang-timang. Baru kemarin belajar jalan. Baru kemarin minta diajari berenang.”

Untuk keluarga saya sendiri, dua belas tahun pertumbuhan anak kami yang sulung berlalu dengan sangat cepat. Si Sulung yang fotonya masih mendominasi dinding-dinding di rumah kami tiba-tiba tubuhnya sudah tinggi menjulang. Lengan dan tungkainya panjang. Ia berjalan dengan penuh kepercayaan diri menghadapi hari-hari remajanya.

Ke manakah tahun-tahun itu berlalu? Dalam ingatan saya masih samar terbayang hari pertamanya di bangku Sekolah Dasar. Beberapa bulan lagi ia akan memulai lembaran baru di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Saya masih ingat malu-malunya ia ketika berkenalan dengan orang baru. Di usia remaja ia mudah bergaul, tapi tidak pernah merasa ada masalah jika sendirian.

Ini yang sedari dulu saya tekankan: perdamaian pertama adalah dengan Tuhan, mengakui keterbatasan diri sebagai makhluk ciptaan-Nya yang memerlukan-Nya setiap hari.

Perdamaian kedua adalah dengan diri sendiri. Mengetahui kelebihan diri, mengakui dan memperbaiki kekurangan diri, tidak delusional menganggap ada yang seharusnya tidak ada, tidak menjadikan orang lain sebagai standar untuk memperbaiki diri.

Jika cinta pada Tuhan dan pada diri sendiri itu sudah beres, maka tidak akan ada masalah dengan hubungan seorang anak dengan orang lain.

Ibarat tempayan dari tanah liat yang dipakai untuk membawa air, mau bagaimana mengalirkan air itu, manfaat itu kepada orang lain jika tempayannya bocor di sana-sini? Demikian pula orang yang tahu betul cintanya pada Tuhan dan dirinya sendiri adalah ibarat tempayan yang utuh, yang mampu menampung dan mengalirkan cinta yang sama kepada sesamanya.

Tentu saja semua hal yang mudah dikatakan tak akan semudah itu untuk dilakukan. Cinta pada Tuhan dan diri sendiri akan selalu diuji dari seorang anak. Akan ada masa dan manusia yang membuatnya merasa tidak cukup baik, entah karena sengaja atau dalam konteks bercanda.

Perjalanan mencintai Tuhan dan mencintai diri sendiri itu adalah perjalanan yang naik turun lembah dan gunung, berliku-liku, tidak mulus, dan selalu diuji setiap hari. Dan tugas kita sebagai orangtua yang sudah lebih dulu melalui jalan itu untuk menjadi teman bicara bagi anak.

Tanpa prejudice, tanpa meremehkan dengan berkata: “Kok gitu aja bete?” “Kok gitu aja sedih?” “Kok gitu aja marah?” Apa yang “kok gitu aja” buat kita adalah segalanya untuk anak kita pada saat ini.

Misalnya suatu saat anak kita sedih karena sahabatnya memilih untuk berteman dengan orang lain. Kalimat seperti “Tenang aja, masih banyak ikan di laut, masih banyak orang yang bisa dijadikan teman di dunia” hanya akan didengar seperti menyepelekan pikiran dan perasaannya.

“Memang benar banyak ikan di laut, banyak orang yang bisa dijadikan teman di dunia. Tapi sahabatku cuma satu itu, dan aku ingin perhatiannya tak terbagi untuk orang lain. Perhatiannya hanya untuk diriku saja.”

Ada garis tipis antara mendengarkan anak dan membuatnya merasa sebagai pusat semesta yang harus selalu kita perhatikan kebutuhan, kepentingan, dan maunya. Mendengarkan anak adalah langkah pertama yang harus diikuti dengan langkah selanjutnya. Apakah itu?

Move on.

Berfokus pada solusi. Tidak terus-menerus merajuk dan mengeluh. Mampu melihat bigger picture dari sebuah isu. Memusatkan perhatian pada hal-hal lain yang lebih berguna, terutama hal-hal lain yang bermanfaat bagi sesama.

Bersedih untuk kurun waktu tertentu itu boleh. Akan tetapi, sesudah itu apa? Inilah bagian dari growth anak yang mesti kita dampingi prosesnya. Kita berusaha untuk tidak bersikap judgmental terhadap pergumulan batin anak, apa pun itu, sesepele apa pun menurut kita. Kita berusaha bersikap suportif supaya dia bisa melatih dirinya keluar dari masalah dan hidup dengan efektif lagi.

PR yang berat ya, random people? PR yang mustahil dilakukan sendiri oleh orangtua. Ini PR yang perlu kekuatan dari Tuhan dan dukungan penuh dari support system. It takes a village to raise a child. Apalagi kalau anak kita bersekolah di institusi formal, tugas membesarkan anak itu kita bagi bebannya dengan sekolah dan guru.

Saya pernah menulis di awal tahun ini apa saja hal yang perlu dipertimbangkan ketika memilih sekolah untuk anak. Hal yang pertama, cek dulu apa yang diajar di sana. Hal yang kedua, siapa yang mengajarnya. Hal yang ketiga, baru cek infrastruktur dan fasilitas penunjang lainnya.

Apa yang diajar. Ini yang paling krusial. Misalnya keluarga kita mementingkan ibadah harian untuk anak-anak. Jangan masukkan anak ke sekolah yang menempatkan agama lebih rendah posisinya di bawah sains, misalnya. Pilihlah sekolah yang visi dan misinya sesuai dengan visi dan misi kita sebagai keluarga.

Setelah firm dengan apa yang diajar, cek siapa yang mengajar. Guru yang mengajar sesuai dengan pendidikan keguruan yang mereka tempuh tentu akan lebih qualified dibandingkan mereka yang berpendidikan nonkeguruan dan mengajar mata pelajaran yang tidak linear dengan bidang studi/bidang keilmuan mereka. Jangan ragu untuk menanyakan kualifikasi dari tenaga pengajar dari sekolah yang sedang kita jajaki.

Yang terakhir, cek infrastruktur dan fasilitas penunjang yang disediakan. Apakah sekolah tersebut memiliki visi menghasilkan siswa-siswi yang fasih berbahasa Inggris? Coba cek apakah mereka menyediakan lab bahasa, bagaimana kualitas perpustakaan dan buku-buku mereka. Apakah ekstensif atau justru seadanya?

Apakah sekolah tersebut memiliki visi menghasilkan siswa-siswi yang selalu bugar? Sekolah yang tidak memiliki lapangan olahraga dan membiarkan siswanya melakukan senam di trotoar jalan raya tentunya tidak patut dipertimbangkan untuk anak kita.

Growth, pertumbuhan anak-anak kita tidak terlepas dari pengaruh teman sebaya. Satu hal yang saya pribadi tekankan selama membesarkan si Sulung selama dua belas tahun ini adalah mengelilingi keluarga kami dengan keluarga-keluarga, dengan teman-teman yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang sama.

Pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik.

Sebagaimanapun baik kita berusaha mendidik anak-anak kita di rumah, begitu mereka keluar dari rumah, mereka seperti masuk ke kandang singa. Ada begitu banyak bahaya, kesempatan untuk menjadi tidak baik di luar sana. Kita sebagai orangtua hanya bisa memohon belas kasihan Tuhan Yang Mahahadir untuk menjaga anak-anak kita saat kita tidak berada di samping mereka.

Saya mengakui saya membuat podcast ini dengan rasa haru, mengingat-ingat enam tahun yang panjang yang saya dan suami habiskan untuk mendampingi si Sulung menempuh pendidikan di SD.

Semua benih yang baik telah kami tabur dengan mencucurkan air mata. Bulan depan saatnya kami menuai dengan bersorak-sorai, bergembira atas kerja keras, kesusahan, air mata, dan penderitaan yang kami boleh alami sebagai orangtua saat mendampingi anak kami bertumbuh.

Kami bersyukur untuk semua perselisihan, ketidaksepahaman, dan pemberontakan yang terjadi selama enam tahun ini yang menyadarkan kami akan satu hal, menyadarkan kami berulang-ulang: menjadi orangtua adalah anugerah, berfungsi sebagai orangtua adalah berkat yang harus dipertanggungjawabkan.

Grow, our baby, grow.

Masa depan terbentang di hadapannya dan juga di hadapan anak-anak Anda semua. Ajari ia berbuat baik hari ini supaya masa lalunya tidak penuh penyesalan dan masa depannya cerah. Ajari anak-anak kita untuk menghitung hari supaya hati mereka bijaksana dalam menyikapi hidup.

Untuk Anda yang anaknya akan memasuki jenjang pendidikan baru yang lebih tinggi, dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA, SMA ke universitas, misalnya: selamat!

Kita berada pada tahun kedua pandemi di mana upacara kelulusan secara langsung ditiadakan. Semuanya digantikan menjadi upacara secara online dan itu tidak apa-apa. Diselenggarakan secara daring ataupun luring kita tidak kehilangan makna upacaranya.

Mengucap syukur untuk tahun-tahun yang telah berlalu dan memohon kekuatan untuk tahun-tahun yang akan datang.

Fokus kita sekarang adalah pada kesehatan dan keamanan dari keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Tak masalah merayakan kelulusan melalui aplikasi Zoom jika itu pilihan terbaik untuk kita saat ini di tengah pandemi. Kita selalu dapat berharap kembali ke keadaan normal sebelum Covid-19 merebak. Akan tetapi, sebelum pandemi mereda, tak ada salahnya kita beradaptasi dan mengupayakan yang terbaik dari yang kita miliki.

Random people, apakah Anda memiliki usulan tema lain seputar parenting? Silakan tinggalkan komentar atau usul melalui email di randomness.inside.myhead@gmail.com.

Minggu depan kita ngobrol-ngobrol lagi, ya. Talk to you later, random people.

Have a blessed day!

Tulisan ini dapat didengarkan di Spotify dengan akun Randomness Inside My Head.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s